Pemahaman
Alkitab
(Jl. Dinoyo
19b, lantai 3)
Jumat, tanggal
26 Februari 2010, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331 /
6050-1331)
2Pet 1:10-21 - “(10) Karena itu, saudara-saudaraku,
berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab
jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. (11) Dengan
demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan
kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. (12) Karena
itu aku senantiasa bermaksud mengingatkan kamu akan semuanya itu, sekalipun
kamu telah mengetahuinya dan telah teguh dalam kebenaran yang telah kamu
terima. (13) Aku menganggap sebagai kewajibanku untuk tetap mengingatkan kamu
akan semuanya itu selama aku belum menanggalkan kemah tubuhku ini. (14) Sebab
aku tahu, bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku ini, sebagaimana
yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. (15) Tetapi
aku akan berusaha, supaya juga sesudah kepergianku itu kamu selalu mengingat
semuanya itu. (16) Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol
manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita,
Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaranNya.
(17) Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari
Allah Bapa, ketika datang kepadaNya suara dari Yang Mahamulia, yang
mengatakan: ‘Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.’ (18)
Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia
di atas gunung yang kudus. (19) Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh
firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu
memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat
yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam
hatimu. (20) Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam
Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, (21) sebab tidak
pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus
orang-orang berbicara atas nama Allah”.
Ay 10: “Karena
itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan
pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah
tersandung”.
Ay
10a merupakan argumentasi ketiga dan ay 10b merupakan argumentasi keempat
mengapa kita harus melakukan semua hal dalam ay 5-7.
Alexander Nisbet:
“Follows
the third and fourth motives to diligence and growth in grace. The one is, the
more of these a Christian attains to, the more shall be his clearness and
certainty that he was from eternity chosen to life and is, in time, effectually
called. The other is, that by this means he shall be kept from apostasy and
yielding to temptations by the way” (=
Berikutnya alasan ketiga dan keempat pada kerajinan dan pertumbuhan dalam kasih
karunia. Yang satu adalah, makin banyak yang dicapai oleh orang Kristen dalam
hal-hal ini, makin jelas dan pasti baginya bahwa ia dari kekekalan telah dipilih
pada kehidupan dan dalam waktu ia dipanggil secara efektif. Yang lain adalah
bahwa dengan cara ini ia akan dijaga dari kemurtadan dan penyerahan pada
pencobaan di jalan) - hal 231.
1)
“Karena
itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan
pilihanmu makin teguh”.
KJV:
‘Wherefore the rather, brethren, give diligence to make your calling and
election sure’ (= Karena
itu lebih baik saudara-saudara, berikan kerajinan untuk membuat panggilan dan
pemilihanmu pasti).
RSV:
‘Therefore, brethren, be the more zealous to confirm your call and
election’ (= Karena
itu, saudara-saudara, makin bersemangatlah untuk meneguhkan panggilan dan
pemilihanmu).
NIV:
‘Therefore,
my brothers, be all the more eager to make your calling and election sure’
(= Karena
itu, saudara-saudaraku, makin sungguh-sungguhlah membuat panggilan dan
pemilihanmu pasti).
NASB:
‘Therefore,
brethren, be all the more diligent to make certain about His calling and
choosing you’ (= Karena itu, saudara-saudara, makin rajinlah untuk membuat pasti tentang
panggilan dan pemilihanNya terhadap kamu).
Catatan:
saya berpendapat bahwa terjemahan ‘pemilihan’ lebih tepat dari
‘pilihan’.
a)
Panggilan dan pemilihan.
The
Bible
Exposition Commentary: New Testament: “Peter
pointed out that ‘calling’ and ‘election’ go together. The same God who
elects His people also ordains the means to call them. The two must go together,
as Paul wrote to the Thessalonians: ‘God hath from the beginning chosen you to
salvation.... Whereunto He called you by our Gospel’ (2 Thess 2:13-14). We
do not preach election to unsaved people; we preach the Gospel. But God uses
that Gospel to call sinners to repentance, and then those sinners discover that
they were chosen by God!” [= Petrus menunjukkan bahwa ‘panggilan’ dan ‘pemilihan’ berjalan
bersama-sama. Allah yang sama yang memilih umatNya juga menentukan cara / jalan
untuk memanggil mereka. Keduanya harus berjalan bersama-sama, seperti Paulus
menulis kepada orang-orang Tesalonika: ‘Allah dari mulanya telah memilih
kamu untuk diselamatkan ... Untuk itulah Ia telah memanggil kamu oleh Injil yang
kami beritakan’ (2Tes 2:13-14). Kita tidak memberitakan pemilihan
kepada orang-orang yang belum diselamatkan; kita memberitakan Injil. Tetapi Allah
menggunakan Injil itu untuk memanggil orang-orang berdosa pada pertobatan, dan
lalu orang-orang berdosa itu menemukan / mendapati bahwa mereka telah dipilih
oleh Allah!].
2Tes 2:13-14
- “(13) Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena
kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah
memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam
kebenaran yang kamu percayai. (14) Untuk itulah Ia telah memanggil kamu oleh
Injil yang kami beritakan, sehingga kamu boleh memperoleh kemuliaan Yesus
Kristus, Tuhan kita”.
b)
Mengapa panggilan didahulukan dari pemilihan.
Calvin:
“He mentions ‘calling’
first, though the last in order. The
reason is, because ‘election’ is of greater weight or importance; and it is
a right arrangement of a sentence to subjoin what preponderates. The meaning
then is, labor that you may have it really proved that you have not been called
nor elected in vain. At the same time he speaks here of calling as the effect
and evidence of election. If any one prefers to regard the two words as meaning
the same thing, I do not object; for the Scripture sometimes merges the
difference which exists between two terms. I have, however, stated what seems to
me more probable”
(= Ia menyebutkan ‘panggilan’ lebih dulu, sekalipun
itu adalah yang belakangan dalam urut-urutan. Alasannya adalah, karena
‘pemilihan’ merupakan sesuatu yang lebih penting; dan merupakan suatu
pengaturan yang baik / benar dari suatu kalimat untuk menambahkan belakangan
sesuatu yang lebih penting. Maka artinya adalah, berusahalah supaya kamu bisa
sungguh-sungguh membuktikan bahwa kamu tidak dipanggil ataupun dipilih dengan
sia-sia. Pada saat yang sama di sini ia berbicara tentang panggilan sebagai
hasil dan bukti dari pemilihan. Jika siapapun lebih memilih untuk menganggap
kedua kata itu sebagai mempunyai arti yang sama, saya tidak keberatan; karena
Kitab Suci kadang-kadang menggabungkan perbedaan yang ada di antara kedua
istilah itu. Tetapi saya telah menyatakan apa yang kelihatannya lebih
memungkinkan bagi saya).
Jamieson, Fausset & Brown: “We
know His calling before His election; therefore calling is put first” (=
Kita mengetahui panggilanNya sebelum pemilihanNya; karena itu panggilan
diletakkan di tempat pertama).
c)
Penafsiran Arminian tentang bagian ini.
Adam
Clarke: “‘And election.’
Your being chosen, in consequence of obeying the heavenly calling, to be the
people and church of God” (= ‘Dan pemilihan’.
Kamu dipilih sebagai konsekwensi / akibat dari mentaati panggilan surgawi, untuk
menjadi umat dan gereja Allah).
Catatan:
penafsiran Arminian ini ingin membengkokkan arti dari kata ‘pemilihan’ itu.
Adalah lucu untuk mengatakan bahwa kita dipilih sebagai akibat dari ketaatan
kita terhadap panggilan surgawi. Sebaliknyalah yang benar. Karena kita dipilih,
maka kita percaya / taat pada panggilan Allah itu.
Bandingkan
dengan:
·
Kis 13:48 - “Mendengar
itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan
firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal,
menjadi percaya”.
·
Ef 1:4-5 - “(4) Sebab di
dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus
dan tak bercacat di hadapanNya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari
semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan
kehendakNya”.
·
Ro 8:29-30 - “(29) Sebab
semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukanNya dari semula
untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi
yang sulung di antara banyak saudara. (30) Dan mereka yang ditentukanNya dari
semula, mereka itu juga dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilNya, mereka
itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga
dimuliakanNya”.
d)
Kata-kata tambahan.
Adam
Clarke, Albert Barnes dan Calvin mengatakan bahwa ada beberapa manuscript yang
menambahkan kata-kata ‘oleh perbuatan baikmu’. Jadi, ay 10a menjadi sebagai
berikut: “Karena
itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya oleh perbuatan
baikmu panggilan dan pilihanmu makin teguh”.
Adam
Clarke: “This clause is found
in the edition of Colinaeus, Paris, 1534; and has been probably omitted by more
recent editors on the supposition that the edition does not make a very orthodox
sense. But on this ground there need be no alarm, for it does not state that the
good works thus required merit either the calling and election, or the eternal
glory, of God. He who does not by good works confirm his calling and election,
will soon have neither; and although no good works ever did purchase or ever can
purchase the kingdom of God, yet no soul can ever scripturally expect to see God
who has them not” (= Anak kalimat ini ditemukan
dalam edisi dari Colinaeus, Paris,
1534; dan mungkin telah dihapuskan oleh editor-editor yang lebih baru
berdasarkan anggapan bahwa edisi itu tidak membuat suatu arti ortodox yang baik.
Tetapi berdasarkan hal ini tidak perlu ada rasa takut, karena anak kalimat itu
tidak menyatakan bahwa perbuatan baik merupakan jasa yang diharuskan /
diwajibkan untuk panggilan dan pemilihan, atau kemuliaan kekal, dari Allah. Ia
yang tidak meneguhkan panggilan dan pemilihannya dengan perbuatan baik, segara
akan tidak mempunyai yang manapun dari mereka; dan sekalipun perbuatan baik
tidak pernah membeli atau bahkan bisa membeli kerajaan Allah, tetapi tidak ada
jiwa bisa secara Alkitabiah berharap untuk melihat Allah kalau tidak
mempunyainya).
Barnes’ Notes: “The Syriac, the Vulgate, and
some Greek manuscripts, insert here the expression ‘by your good works;’
that is, they were to make their calling sure ‘by’ their good works, or by
holy living. This clause, as Calvin remarks, is not authorized by the best
authority, but it does not materially affect the sense” (= Manuscript-manuscript Syria, Latin / Vulgate, dan beberapa manuscript
Yunani, memasukkan di sini ungkapan ‘oleh perbuatan baikmu’; artinya, mereka
harus membuat panggilan mereka pasti ‘oleh’ perbuatan baik mereka, atau oleh
kehidupan yang kudus. Anak kalimat ini, seperti dikatakan Calvin, tidak
dibenarkan / disahkan oleh otoritas-otoritas / manuscript-manuscript yang
terbaik, tetapi secara secara pokok tidak mempengaruhi artinya).
e)
Pemilihan (predestinasi) bukan alasan untuk menjadi malas / pasif,
apalagi hidup seenaknya sendiri.
Selalu
menjadi tuduhan dari orang-orang Arminian, bahwa kalau kita memang dipilih oleh
Allah, maka itu menyebabkan kita hidup seenaknya sendiri. Tetapi Kitab Suci
maupun Calvinisme tidak pernah mengajarkan seperti itu. Dan sebetulnya kalau
kita menyadari bahwa kita diselamatkan karena pemilihan Allah, itu menyebabkan
kita makin merasakan kasih Allah, dan juga sebaliknya, membuat kita makin
mengasihi Allah. Dan ini tidak mungkin menyebabkan kita hidup seenaknya.
The
Bible
Exposition Commentary: New Testament: “Peter
also pointed out that election is no excuse for spiritual immaturity or for lack
of effort in the Christian life. Some believers say, ‘What is going to be is
going to be. There is nothing we can do.’ But Peter admonishes us to ‘be
diligent.’ This means ‘make every effort.’ (He used this same verb in 2
Peter 1:5.) While it is true that God must work in us before we can do His will
(Phil 2:12-13), it is also true that we must be willing for God to work, and we
must cooperate with Him. Divine election must never be an excuse for human
laziness” [= Petrus juga menunjukkan bahwa pemilihan bukanlah alasan untuk
ketidak-matangan rohani atau kurangnya usaha dalam kehidupan Kristen. Beberapa
orang percaya berkata: ‘Apa yang akan terjadi, akan terjadi. Tidak ada apapun
yang bisa kita lakukan’. Tetapi Petrus menasehati kita untuk ‘menjadi
rajin’. Ini berarti ‘melakukan setiap usaha’. (Ia menggunakan kata kerja
yang sama dalam 2Pet 1:5). Sementara merupakan sesuatu yang benar bahwa Allah
harus bekerja di dalam kita sebelum kita bisa melakukan kehendakNya (Fil
2:12-13), juga merupakan sesuatu yang benar bahwa kita harus menghendaki Allah untuk bekerja, dan kita harus bekerja
sama dengan Dia. Pemilihan ilahi tidak pernah boleh menjadi alasan untuk
kemalasan manusia].
Fil
2:12-13 - “(12) Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat;
karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja
seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak
hadir, (13) karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun
pekerjaan menurut kerelaanNya”.
Calvin:
“The import of what is said is, that the children of God are
distinguished from the reprobate by this mark, that they live a godly and a holy
life, because this is the design and end of election. Hence it is evident how
wickedly some vile unprincipled men prattle, when they seek to make gratuitous
election an excuse for all licentiousness; as though, forsooth! we may sin with
impunity, because we have been predestinated to righteousness and holiness!”
(= Maksud dari apa yang dikatakan adalah, bahwa
anak-anak Allah dibedakan dari orang-orang yang ditentukan untuk binasa oleh
tanda ini, bahwa mereka menjalani suatu kehidupan yang saleh dan kudus, karena
ini merupakan rancangan dan tujuan dari pemilihan. Jadi, adalah jelas bagaimana
dengan jahat beberapa orang busuk dan tidak mempunyai prinsip moral mengoceh,
pada waktu mereka berusaha untuk membuat pemilihan yang murah hati sebagai suatu
alasan untuk semua ketidak-bermoralan; seakan-akan, memang, kita boleh berdosa
tanpa mendapat hukuman, karena kita telah dipredestinasikan pada kebenaran dan
kekudusan!).
Barclay:
“In view of all this, Peter urges his people to make every effort to
confirm their calling by God. Here is a most significant demand. In one way all
is of God; it is God’s call which gives us entry into the fellowship of his
people; without his grace and his mercy we could do nothing and could expect
nothing. But that does not absolve us from every possible effort. ... God has
called us in his free mercy and his unmerited grace; but at the same time we
have to bend every effort to toil upwards and onwards on the way” (= Mengingat
semua ini, Petrus mendesak umatnya untuk melakukan setiap usaha untuk meneguhkan
panggilan mereka oleh Allah. Di sini ada suatu tuntutan yang paling penting. Di
satu sisi semua adalah dari Allah; panggilan Allahlah yang memberi kita jalan
masuk ke dalam persekutuan umatNya; tanpa kasih karuniaNya dan belas kasihanNya
kita tidak bisa melakukan apa-apa dan tidak bisa mengharapkan apa-apa. Tetapi
itu tidak membebaskan kita dari setiap usaha yang memungkinkan. ... Allah telah
memanggil kita dalam belas kasihanNya yang cuma-cuma dan kasih karunia yang
tidak layak kita dapatkan; tetapi pada saat yang sama kita harus mengarahkan
setiap usaha untuk bekerja keras ke arah atas dan maju ke depan di jalan)
- hal 306.
f) Kehidupan yang baik merupakan bukti
pemilihan dan panggilan Allah.
Calvin:
“He draws this conclusion, that it is one proof that we have been really
elected, and not in vain called by the Lord, if a good conscience and integrity
of life correspond with our profession of faith” (= Ia
menarik kesimpulan ini, bahwa merupakan salah satu bukti bahwa kita telah
sungguh-sungguh dipilih, dan tidak dengan sia-sia dipanggil oleh Tuhan, jika
suatu hati nurani yang baik dan kelurusan hidup sesuai dengan pengakuan iman
kita).
Calvin:
“Now a question arises, Whether the stability of our calling and
election depends on good works, for if it be so, it follows that it depends on
us. But the whole Scripture teaches us, first, that God’s election is founded
on his eternal purpose; and secondly, that calling begins and is completed
through his gratuitous goodness. ... God effectually calls whom he has
preordained to life in his secret counsel before the foundation of the world;
and he also carries on the perpetual course of calling through grace alone. But
as he has chosen us, and calls us for this end, that we may be pure and spotless
in his presence; purity of life is not improperly called the evidence and proof
of election” (= Sekarang suatu pertanyaan muncul,
Apakah kestabilan dari panggilan dan pemilihan kita tergantung pada perbuatan
baik, karena jika demikian, maka itu tergantung pada kita. Tetapi seluruh Kitab
Suci mengajar kita, pertama, bahwa pemilihan Allah didasarkan pada rencana
kekalNya; dan kedua, bahwa panggilan mulai dan diselesaikan melalui kebaikanNya
yang murah hati / bersifat kasih karunia. ... Allah memanggil secara efektif
orang-orang yang telah ia tentukan lebih dulu pada kehidupan dalam rencana
rahasiaNya sebelum penciptaan dunia / alam semesta; dan Ia juga melanjutkan
jalan yang kekal dari panggilan itu melalui kasih karunia saja. Tetapi karena Ia
telah memilih kita, dan memanggil kita untuk tujuan ini, supaya kita bisa murni
dan tak bercacat di hadapanNya; kemurnian hidup secara benar disebut sebagai
bukti dari pemilihan).
Barnes’ Notes: “It was undoubtedly by their
‘good works’ in the sense of holy living, or of lives consecrated to the
service of God, that they were to obtain the evidence that they were true
Christians; that is, that they had been really called into the kingdom of God,
for there is nothing else on which we can
depend for such evidence. ... We can rely on no voice, or vision, or new
revelation, to prove that it is so. No internal feeling of itself, no raptures,
no animal excitement, no confident persuasion in our own minds that we are
elected, can be proof in the case; and the only certain EVIDENCE on which we can
rely is that which is found in a life of sincere piety” [= Memang tak diragukan bahwa oleh ‘perbuatan baik’ mereka, dalam arti
‘kehidupan yang kudus’, atau kehidupan yang dibaktikan pada pelayanan Allah,
mereka harus mendapatkan bukti bahwa mereka adalah orang-orang Kristen yang
sejati; artinya, bahwa mereka telah sungguh-sungguh dipanggil ke dalam kerajaan
Allah, karena tidak ada hal lain pada mana kita
bisa mempercayai / mengandalkan bukti seperti itu. ... Kita tidak bisa
bersandar pada suara, atau penglihatan, atau wahyu yang baru, untuk membuktikan
bahwa itu memang begitu. Tak ada perasaan di dalam dari dirinya sendiri, tak ada
pengangkatan / rapture, tak ada
kegembiraan binatang / daging (?), tak ada bujukan yang meyakinkan dalam pikiran
kita bahwa kita dipilih, bisa menjadi bukti dalam kasus ini; dan satu-satunya
BUKTI yang pasti pada mana kita bisa bersandar adalah bukti yang ditemukan dalam
suatu kehidupan dari kesalehan yang sungguh-sungguh].
Penerapan:
bandingkan dengan Yesaya Pariadji yang yakin namanya tercatat di kitab kehidupan
karena ia diangkat ke surga dan melihat sendiri dalam kitab kehidupan itu.
Catatan:
pada saat yang sama, saya tidak sepenuhnya setuju dengan kata-kata Albert Barnes
pada bagian yang saya beri garis bawah ganda, karena adanya Ro 8:16 yang
berbunyi: “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah
anak-anak Allah”.
Calvin (tentang Ro
8:16): “Paul means, that the
Spirit of God gives us such a testimony, that when he is our guide and teacher,
our spirit is made assured of the adoption of God: for our mind of its own self,
without the preceding testimony of the Spirit, could not convey to us this
assurance” (= Paulus memaksudkan, bahwa Roh Allah
memberi kita kesaksian sedemikian rupa, sehingga pada waktu Ia adalah pembimbing
dan pengajar / guru kita, roh kita dibuat yakin tentang pengadopsian dari Allah:
karena pikiran kita dari dirinya sendiri, tanpa kesaksian yang lebih dulu dari
Roh, tidak bisa memberi kepada kita keyakinan ini).
Charles Hodge: “‘Beareth witness to,’
means ‘confirms’ or ‘assures.’
‘The Spirit of God produces in our
spirit the assurance that we are the children of God.’” (= ‘Memberi
kesaksian kepada’, berarti ‘meneguhkan’ atau ‘meyakinkan’. ‘Roh
Allah menghasilkan dalam roh kita keyakinan bahwa kita adalah anak-anak Allah’) - ‘Romans’,
hal 414.
Jadi,
saya berpendapat bahwa orang kristen yang sejati bisa yakin bahwa ia sudah
selamat, dan dengan demikian, ia dipilih oleh Allah, karena mendapatkan
keyakinan ini dari Roh Kudus. Tetapi orang yang yakin keselamatannya, belum
tentu mendapatkan keyakinan itu dari Roh Kudus. Bisa saja ia yakin dari dirinya
sendiri, dan berdasarkan sesuatu yang salah.
2)
“Sebab
jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung”.
Dalam
bahasa Yunani digunakan ‘double negatives’ (= 2 x kata ‘tidak’) untuk menekankan
ketidak-mungkinan jatuh / tersandung.
a)
Penafsiran-penafsiran yang salah tentang bagian ini.
1.
Orang-orang Arminian menafsirkan dari bagian ini bahwa keselamatan bisa
hilang.
Adam
Clarke: “If ye be careful and
diligent to work out your own salvation, through the grace which ye have already
received from God; ye shall never fall, ou-mee
ptaiseete pote,
‘ye shall at no time stumble or fall;’ as the Jews have done, and lost their
election, Rom. 11:11, where the same word is used, and as apostates do, and
lose their peace and salvation. We find, therefore, that they who do not
these things shall fall; and thus we see that there is nothing absolute and
unconditional in their election” (= Jika
engkau hati-hati dan rajin mengerjakan keselamatanmu, melalui kasih karunia yang
telah engkau terima dari Allah; engkau tidak akan pernah jatuh / tersandung,
OU-MEE PTAISEETE POTE, ‘pada saat manapun engkau tidak akan tersandung atau
jatuh’; seperti orang-orang Yahudi telah lakukan, dan kehilangan pemilihan
mereka, Ro 11:11, dimana kata yang sama digunakan, dan seperti orang-orang
murtad lakukan, dan kehilangan damai dan keselamatan mereka. Karena itu,
kita mendapati bahwa mereka yang tidak melakukan hal-hal ini akan jatuh; dan
maka kita melihat bahwa tidak ada yang mutlak dan tak bersyarat dalam
pemilihan mereka).
Ro
11:11 - “Maka aku bertanya: Adakah mereka tersandung dan harus jatuh?
Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai
kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka cemburu”.
Tanggapan
saya:
Ini
omong kosong, karena:
a.
Bangsa Israel / Yahudi kehilangan pemilihan dalam arti yang berbeda
dengan kita. Mereka dipilih secara kolektif, jelas bukan dalam arti bahwa semua
mereka akan diselamatkan. Karena itu muncul kata-kata “Sebab tidak semua
orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel” (Ro 9:6b). Hal ini
juga terlihat dari fakta bahwa banyak dari bangsa Israel / Yahudi yang tidak
selamat. Tetapi bagi orang-orang Yahudi yang betul-betul dipilih untuk
diselamatkan, berlaku ayat-ayat lain dalam Ro 11, seperti Ro
11:1-2,5-6,23,25-26,28-29 - “(1) Maka aku bertanya: Adakah Allah mungkin
telah menolak umatNya? Sekali-kali tidak! Karena aku sendiripun orang
Israel, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin. (2) Allah tidak menolak
umatNya yang dipilihNya. Ataukah kamu tidak tahu, apa yang dikatakan Kitab
Suci tentang Elia, waktu ia mengadukan Israel kepada Allah: ... (5) Demikian
juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia.
(6) Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena
perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih
karunia. ... (23) Tetapi merekapun akan dicangkokkan kembali, jika mereka
tidak tetap dalam ketidakpercayaan mereka, sebab Allah berkuasa untuk
mencangkokkan mereka kembali. ... (25) Sebab, saudara-saudara, supaya kamu
jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini:
Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari
bangsa-bangsa lain telah masuk. (26) Dengan jalan demikian seluruh Israel
akan diselamatkan, seperti ada tertulis: ‘Dari Sion akan datang Penebus,
Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub. ... (28) Mengenai Injil
mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan mereka
adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang. (29) Sebab Allah tidak menyesali
kasih karunia dan panggilanNya”.
b.
Adam Clarke mengatakan bahwa orang-orang yang tidak melakukan ay 5-7 itu
akan jatuh, dan sama seperti orang-orang Yahudi itu, kehilangan pemilihan
mereka, dan juga sama seperti
orang-orang yang murtad, yang kehilangan damai dan keselamatan mereka. Tetapi
jelas bahwa baik orang-orang Yahudi itu, maupun orang-orang yang murtad, dan
orang-orang yang tidak melakukan ay 5-7 itu adalah orang-orang kristen KTP, yang
bukannya kehilangan keselamatannya, karena mereka tidak pernah mempunyainya!
Karena itu, kesimpulan akhir yang diberikan oleh Clarke dimana ia berkata “dan
maka kita melihat bahwa tidak ada yang mutlak dan tak bersyarat dalam
pemilihan mereka” adalah omong kosong!
Lenski:
“stumble so as to fall and lose salvation. The Christian sins daily even
when his calling and election are sure to him in the gospel manner. This reminds
him of his danger. Such sins are not the fatal stumbling of which Peter speaks.
When they hold fast the former cleansing (v. 9), this cleansing is renewed daily
by daily forgiveness” [= tersandung sehingga
jatuh dan kehilangan keselamatan. Orang-orang Kristen berdosa setiap hari bahkan
pada waktu panggilan dan pemilihannya adalah pasti baginya dengan cara injil.
Ini mengingatkan dia tentang bahayanya. Dosa-dosa seperti itu bukanlah
tersandung yang fatal tentang mana Petrus berbicara. Pada waktu mereka berpegang
teguh pada pembersihan yang terdahulu (ay 9), pembersihan ini diperbaharui
setiap hari oleh pengampunan setiap hari] -
hal 277.
Lenski:
“There is an implied warning: those who fail to do these things
will, indeed, stumble decidedly (aorist) and fatally. Whether they will be again
be raised up to faith God alone knows. Many that stumble in this way are lost
forever. The German theologians call them DIE ZEITGLAEUBIGEN, those who believe
for a time and then fall away” [= Di sana ada
suatu peringatan secara implicit: mereka yang gagal untuk melakukan
hal-hal ini memang akan tersandung secara pasti (aorist / lampau) dan secara
fatal. Apakah mereka akan diangkat lagi oleh Allah pada iman, hanya Allah
sendiri yang tahu. Banyak yang tersandung dengan cara ini terhilang
selama-lamanya. Ahli-ahli theologia Jerman menyebut mereka DIE ZEITGLAEUBIGEN, mereka yang percaya untuk suatu waktu / sementara
waktu dan lalu murtad] - hal
277.
Ini
jelas pandangan Arminian. Ia mengambil arti implicit tanpa peduli bahwa arti ini
bertentangan dengan kata-kata explicit dari banyak ayat seperti Yoh 10:27-29
1Yoh 2:18-19 Yoh 8:31 dsb.
Bdk.
Mat 13:3-8,18-23 - “(3) Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan
kepada mereka. KataNya: ‘Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. (4) Pada
waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah
burung dan memakannya sampai habis. (5) Sebagian jatuh di tanah yang
berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh,
karena tanahnya tipis. (6) Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan
menjadi kering karena tidak berakar. (7) Sebagian lagi jatuh di tengah semak
duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. (8) Dan
sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada
yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. ... (18) Karena itu,
dengarlah arti perumpamaan penabur itu. (19) Kepada setiap orang yang mendengar
firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan
merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di
pinggir jalan. (20) Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah
orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. (21)
Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau
penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad. (22) Yang
ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu
kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak
berbuah. (23) Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar
firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat,
ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.’”.
Bdk.
Luk 8:13 - “Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang
setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu
tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan
mereka murtad”.
Orang
yang percaya sebentar saja termasuk tanah berbatu, dan itu jelas bukan orang
kristen yang sejati, karena dari 4 golongan tanah dalam perumpamaan itu hanya
tanah subur yang benar-benar menunjuk kepada orang kristen yang sejati.
2.
Kata ‘tersandung’ diartikan ‘jatuh ke dalam dosa’.
Matthew
Henry: “‘By this you will be
kept from falling, and that at all times and seasons, even in those hours of
temptation that shall be on the earth.’ When others shall fall into heinous
and scandalous sin, those who are thus diligent shall be enabled to walk
circumspectly and keep on in the way of their duty; and, when many fall into
errors, they shall be preserved sound in the faith, and stand perfect and
complete in all the will of God” (= ‘Oleh hal
ini engkau akan dijaga dari kejatuhan, dan itu pada setiap saat dan musim,
bahkan dalam saat-saat dari pencobaan itu yang akan terjadi di bumi’. Pada
saat orang-orang lain akan jatuh ke dalam dosa yang mengerikan dan memalukan /
bersifat skandal, mereka yang rajin seperti itu akan dimampukan untuk berjalan
dengan sangat berhati-hati dan tetap ada di jalan kewajiban mereka; dan, pada
saat banyak orang jatuh ke dalam kesalahan-kesalahan, mereka akan dijaga sehat
dalam iman, dan berdiri sempurna dan lengkap dalam semua kehendak Allah).
Bible
Knowledge Commentary: “This
word ‘stumble’ does not suggest that a believer loses his salvation, for
salvation does not depend on one’s spiritual growth. The Greek word for
‘stumble’ means ‘to trip up’ or ‘to experience a reversal.’
Certainly one who is maturing in Christ will not trip up in his spiritual life
as readily as one who is immature and nearsighted” (= Kata
‘tersandung’ tidak berarti bahwa seorang percaya kehilangan keselamatannya,
karena keselamatan tidak tergantung pada pertumbuhan rohani seseorang. Kata
Yunani untuk ‘tersandung’ berarti ‘tersandung / membuat kesalahan’ atau
‘mengalami suatu pembalikan’. Pastilah seseorang yang matang dalam Kristus
tidak akan tersandung / membuat kesalahan dalam kehidupan rohaninya sama mudah /
cepatnya dengan seseorang yang tidak matang dan hanya bisa melihat dekat).
Saya
memang tak percaya bahwa seorang Kristen yang sejati bisa kehilangan
keselamatannya, tetapi apakah yang dibicarakan di sini adalah orang kristen yang
sejati? Kalau ia tidak melakukan hal-hal dalam ay 5-7, ia bukan orang kristen
yang sejati. Jadi, kalau ia tidak selamat, itu tidak berarti bahwa ia kehilangan
keselamatannya, karena ia memang tidak / belum pernah diselamatkan.
Menafsirkan
bahwa kata ‘jatuh / tersandung’ berarti ‘jatuh ke dalam dosa’ merupakan
sesuatu yang menurut saya tidak memungkinkan, karena sehebat apapun kerajinan
seorang Kristen untuk maju dalam kerohaniannya, itu tetap membuat ia kebal
terhadap dosa. Dan kalau dikatakan bahwa yang tidak mungkin bukanlah jatuh ke
dalam dosa, tetapi jatuh ke dalam dosa yang besar / hebat / memalukan,
maka perlu dipertanyakan, apa standardnya untuk menentukan apakah suatu dosa itu
besar atau kecil, dan dimana batasannya? Dan apa dasarnya mengatakan untuk bahwa
orang Kristen yang sungguh-sungguh berusaha untuk maju dalam kerohanian itu
mungkin jatuh dalam dosa, tetapi tidak mungkin jatuh dalam dosa besar saja?
b)
Penafsiran yang benar tentang bagian ini.
Kata
‘tersandung’ diartikan murtad / kehilangan keselamatan.
Saya
menerima pandangan ini karena menurut saya, lanjutan dari ay 10, yaitu ay 11,
sesuai dengan penafsiran ini.
Ay 10-11:
“(10) Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya
panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak
akan pernah tersandung. (11) Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak
penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita,
Yesus Kristus”.
Barnes’ Notes: “‘Ye shall never fall.’
You shall never fall into perdition. That is, you shall certainly be saved”
(= ‘Engkau tidak akan pernah jatuh’. Engkau tidak akan pernah jatuh ke
dalam kehancuran / penghukuman / neraka. Artinya, engkau pasti akan
diselamatkan).
Calvin:
“‘For
if ye do these things.’ Peter seems again to ascribe to the merits of works, that God furthers
our salvation, and also that we continually persevere in his grace. But the
explanation is obvious; for his purpose was only to shew that hypocrites have in
them nothing real or solid, and that, on the contrary, they who prove their
calling sure by good works, are free from the danger of falling, because sure
and sufficient is the grace of God by which they are supported. Thus the
certainty of our salvation by no means depends on us, as doubtless the cause of
it is beyond our limits”
(= ‘Karena jika engkau melakukan hal-hal ini’.
Petrus kelihatannya lagi-lagi menganggap bahwa karena jasa perbuatan baik maka
Allah memajukan / melanjutkan keselamatan kita, dan juga kita terus menerus
bertekun dalam kasih karuniaNya. Tetapi penjelasannya jelas; karena tujuannya
hanya untuk menunjukkan bahwa orang-orang munafik tidak mempunyai apapun dalam
diri mereka yang betul-betul nyata dan kokoh, dan bahwa sebaliknya, mereka yang
membuktikan panggilan mereka pasti dengan perbuatan baik, bebas dari bahaya
kejatuhan, karena pasti dan cukuplah kasih karunia Allah dengan mana mereka
ditopang. Karena itu, kepastian dari keselamatan kita sama sekali tidak
tergantung kepada kita, seperti tak diragukan bahwa penyebab dari keselamatan
kita melampaui batasan-batasan kita).
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : buas22@yahoo.com
e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali