Pemahaman
Alkitab
(Rungkut Megah
Raya, blok D no 16)
Rabu, tanggal 5
Oktober 2011, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331
/ 6050-1331)
II Petrus 3:1-18(4)
Ay 10-14: “(10)
Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti
pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan
unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di
atasnya akan hilang lenyap. (11) Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur
secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup (12) yaitu kamu yang
menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan
binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. (13) Tetapi
sesuai dengan janjiNya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di
mana terdapat kebenaran. (14) Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil
menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat
dan tak bernoda di hadapanNya, dalam perdamaian dengan Dia”.
1)
“Tetapi
hari Tuhan akan tiba seperti pencuri” (ay 10a).
Bagian
ini tidak menyamakan Yesus dengan pencuri, tetapi hanya menyamakan /
mengibaratkan kedatanganNya seperti kedatangan seorang pencuri, yaitu tidak
terduga, mendadak, dan tanpa pemberitahuan.
Ini
menyebabkan kita harus siap setiap saat menghadapi kedatanganNya.
2)
Langit dan bumi akan dimusnahkan dan lalu diciptakan yang baru, atau
hanya diperbaharui?
Ay
10-13:
“(10) Tetapi hari Tuhan akan tiba
seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat
dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada
di atasnya akan hilang lenyap. (11) Jadi, jika segala sesuatu ini akan
hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup (12) yaitu
kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit
akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya.
(13) Tetapi sesuai dengan janjiNya, kita menantikan langit yang baru dan bumi
yang baru, di mana terdapat kebenaran”.
Ada
pro kontra yang luar biasa hebatnya tentang pandangan bahwa langit dan bumi
(alam semesta) ini akan dimusnahkan, lalu diciptakan yang baru, atau bahwa
langit dan bumi (alam semesta) ini hanya akan diperbaharui / dimurnikan.
Mengingat hebatnya, rumitnya dan banyaknya argumentasi-argumentasi yang pro
maupun yang kontra tentang bagian ini, saya meletakkkan pembahasan tentang hal
ini di bagian akhir dari pembahasan 2Petrus ini (setelah pembahasan ay 18).
3)
“betapa
suci dan salehnya kamu harus hidup” (ay 11b).
Bdk.
ay 14: “Sebab
itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus
berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapanNya,
dalam perdamaian dengan Dia”.
Saya
kira ini sebetulnya lebih penting dari pada pembahasan apakah alam semesta ini
akan dihancurkan dan lalu diciptakan yang baru, atau hanya sekedar dimurnikan.
Kalaupun kita mau mengambil pandangan kedua, harus diingat bahwa pemurnian itu
tetap dilakukan dengan api (ay 10,12b), sehingga nanti semua hal-hal
duniawi yang kita dapatkan, tidak ada gunanya lagi, karena semua akan dibakar /
dihancurkan.
Bible
Knowledge Commentary:
“Scoffers,
questioning the Lord’s coming with its ensuing judgment on them, lead ungodly
lives (2:7,10,12-15,18-20; 3:3). By contrast, Jesus’ followers, anticipating
His return, are to be godly (v. 14; cf. Titus 2:12-14; 1 John 3:3)”
[= Pengejek-pengejek, yang mempertanyakan kedatangan Tuhan dengan penghakiman
yang terjadi terhadap mereka, menjalani kehidupan yang jahat (2:7,10,12-15,18-20;
3:3). Sebagai kontrasnya, pengikut-pengikut Yesus, yang mengantisipasi
kembalinya Dia, harus menjadi saleh (v. 14; bdk. Titus 2:12-14; 1Yoh 3:3)].
1Yoh 3:2-3
- “(2) Saudara-saudaraku yang kekasih,
sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak;
akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diriNya, kita akan
menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaanNya yang
sebenarnya. (3) Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepadaNya, menyucikan
diri sama seperti Dia yang adalah suci”.
Calvin:
“This has been added, that the faithful might be always watching, and
not promise tomorrow to themselves. For we all labor under two very different
evils - too much haste, and slothfulness. We are seized with impatience for the
day of Christ already expected; at the same time we securely regard it as afar
off. As, then, the Apostle has before reproved an unreasonable ardor, so he now
shakes off our sleepiness, so that we may attentively expect Christ at all
times, lest we should become idle and negligent, as it is usually the case. For
whence is it that flesh indulges itself except that there is no thought of the
near coming of Christ?” (= Bagian ini telah ditambahkan, supaya
orang-orang yang setia / beriman bisa selalu berjaga-jaga, dan tidak menjanjikan
hari esok kepada diri mereka sendiri. Karena kita semua bekerja / berjerih payah
di bawah dua kejahatan yang sangat berbeda - terlalu tergesa-gesa, dan
kemalasan. Kita dicengkeram dengan ketidak-sabaran untuk hari Kristus yang telah
diharapkan; pada saat yang sama kita dengan aman menganggapnya sebagai masih
jauh. Karena sebelumnya sang Rasul telah mencela / memarahi suatu semangat yang
tidak masuk akal, maka sekarang ia melepaskan / menghilangkan rasa mengantuk
kita, sehingga kita bisa dengan penuh perhatian mengharapkan Kristus pada setiap
saat, supaya jangan kita menjadi malas dan lalai / sembrono, seperti yang
biasanya terjadi. Karena dari mana daging itu menuruti nafsunya sendiri kecuali
bahwa di sana tidak ada pemikiran tentang kedatangan yang dekat dari Kristus?).
Matthew
Henry: “And
now who can but observe what a difference there will be between the first coming
of Christ and the second! Yet that is called the great and dreadful day of the
Lord, Mal. 4:5. How much more dreadful must this coming to judgment be! May we
be so wise as to prepare for it, that it may not be a day of vengeance and
destruction unto us. O! what will become of us, if we set our affections on this
earth, and make it our portion, seeing all these things shall be burnt up? Look
out therefore, and make sure of a happiness beyond this visible world, which
must all be melted down” (= Dan sekarang siapa yang bisa tidak
memperhatikan perbedaan apa yang akan ada di sana antara kedatangan pertama dari
Kristus dan kedatangan yang kedua! Tetapi itu disebut hari Tuhan yang besar dan
menakutkan, Mal 4:5. Betapa pasti lebih menakutkannya kedatangan untuk
penghakiman ini! Kiranya kita menjadi begitu bijaksana sehingga mempersiapkan
untuk itu, sehingga itu tidak menjadi suatu hari pembalasan dan penghancuran
bagi kita. Oh! apa yang akan terjadi dengan kita jika kita mengarahkan kasih
kita kepada bumi / dunia ini, dan membuatnya sebagai bagian kita, mengingat
bahwa semua hal-hal ini akan dibakar? Karena itu berhati-hatilah, dan
pastikanlah tentang suatu kebahagiaan yang melampaui dunia yang kelihatan ini,
yang semuanya harus mencair / meleleh).
Mal
4:5 - “Sesungguhnya Aku akan mengutus
nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu”.
Bdk.
Wah 6:15-17 - “(15) Dan raja-raja di bumi dan pembesar-pembesar serta
perwira-perwira, dan orang-orang kaya serta orang-orang berkuasa, dan semua
budak serta orang merdeka bersembunyi ke dalam gua-gua dan celah-celah batu
karang di gunung. (16) Dan mereka berkata kepada gunung-gunung dan kepada
batu-batu karang itu: ‘Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap
Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu.’ (17) Sebab
sudah tiba hari besar murka mereka dan siapakah yang dapat bertahan?”.
Matthew
Henry: “Seeing
all these things must be dissolved, how holy should we
be, that are assured of it, departing from and dying to sin, that has so
corrupted and defiled all the visible creation that there is an absolute need of
its dissolution! All that was made for man’s use is subject to vanity by
man’s sin: and if the sin of man has brought the visible heavens, and the
elements and earth, under a curse, from which they cannot be freed without being
dissolved, what an abominable evil is sin, and how much to be hated by us! And,
inasmuch as this dissolution is in order to their being restored to their
primitive beauty and excellency, how pure and holy should we be, in order to our
being fit for the new heaven and new earth, wherein dwelleth righteousness!”
(= Mengingat bahwa semua hal-hal ini harus hilang / musnah, betapa kita, yang
yakin tentangnya, harus kudus, memisahkan diri dari dan mati terhadap dosa, yang
telah begitu merusak dan mengotori / menodai seluruh ciptaan sehingga di sana
ada suatu kebutuhan mutlak untuk mengakhirinya! Semua yang dibuat untuk
penggunaan manusia tunduk pada kesia-siaan oleh dosa manusia: dan jika dosa
manusia telah membawa langit yang kelihatan, dan elemen-elemen dan bumi, di
bawah suatu kutuk, dari mana mereka tidak bisa dibebaskan tanpa dihilangkan /
dimusnahkan, maka dosa betul-betul merupakan kejahatan yang menjijikkan, dan
betapa kita harus membencinya! Dan, karena penghancuran ini adalah untuk
pemulihan mereka pada keindahan dan kebaikan, betapa kita harus murni dan kudus,
supaya keberadaan kita cocok untuk langit dan bumi yang baru, dimana terdapat
kebenaran!).
The
Bible Exposition Commentary: New Testament:
“Of
course, this great explosion and conflagration will not touch the ‘heaven of
heavens’ where God dwells. It will destroy the earth and the atmospheric
heavens around it, the universe as we know it; this will make room for the new
heavens and earth (2 Peter 3:13; Rev 21:1ff). Man’s great works will also be
burned up! All of the things that man boasts about - his great cities, his
great buildings, his inventions, his achievements - will be destroyed in a
moment of time. When sinners stand before the throne of God, they will have
nothing to point to as evidence of their greatness. It will all be gone.
This is certainly a solemn truth, and we dare not study it in cavalier fashion.
In the remaining verses of his letter, Peter will apply this truth to our daily
living. But it would be wise for us to pause now and consider: where will I be
when God destroys the world? Is what I am living for only destined to go up in
an atomic cloud, to vanish forever? Or am I doing the will of God so that my
works will glorify Him forever? Make your decision now - before it is too late”
[= Tentu saja, ledakan yang besar ini, dan kebakaran besar itu, tidak akan
menyentuh ‘langit dari langit’ dimana Allah tinggal. Itu akan menghancurkan
bumi dan atmosfir di sekitarnya, alam semesta seperti yang kita kenal; ini akan
menyediakan tempat untuk langit dan bumi yang baru (2Pet 3:13; Wah 21:1-dst).
Pekerjaan-pekerjaan yang besar dari manusia juga akan terbakar! Semua hal-hal
yang dibanggakan oleh manusia - kota-kotanya yang besar, bangunan-bangunannya
yang besar, penemuan-penemuannya, pencapaian-pencapaiannya - akan dihancurkan
dalam waktu yang singkat. Pada waktu orang-orang berdosa berdiri di hadapan
takhta Allah, mereka tidak akan mempunyai apa-apa untuk ditunjuk sebagai bukti
dari kebesaran mereka. Itu semua akan hilang / musnah. Ini pasti adalah
kebenaran yang kudus, dan kita tidak berani mempelajarinya dengan
cara yang sombong. Dalam ayat-ayat yang tersisa dalam suratnya, Petrus
menerapkan kebenaran ini kepada kehidupan kita sehari-hari. Tetapi adalah
bijaksana bagi kita untuk berhenti sebentar sekarang dan merenungkan: dimana aku
akan ada pada saat Allah menghancurkan dunia? Apakah hal-hal untuk apa aku hidup
hanya ditakdirkan untuk naik ke atas dalam suatu awan atom, untuk hilang
selama-lamanya? Atau apakah aku sedang melakukan kehendak Allah sehingga
pekerjaan-pekerjaanku akan memuliakan Dia selama-lamanya? Buatlah keputusanmu
sekarang - sebelum terlambat].
Catatan:
ingat bahwa dalam Alkitab ada bermacam-macam arti untuk kata ‘langit’.
‘Langit’ yang dihancurkan itu memang tidak menunjuk pada surga, tempat
dimana Allah tinggal, tetapi menunjuk pada atmosfir dan tempat benda-benda
langit. Jadi, ‘langit dan bumi’ yang dihancurkan harus diartikan sebagai
‘alam semesta’.
The
Bible Exposition Commentary: New Testament:
“This
expectant attitude ought to make a difference in our personal conduct (2 Peter
3:11). The word translated ‘manner’ literally means ‘exotic, out of this
world, foreign.’ Because we have ‘escaped the corruption that is in the
world’ (2 Peter 1:4), we must live differently from the people in the world.
To them, we should behave like ‘foreigners.’ Why? Because this world is not
our home! We are ‘strangers and pilgrims’ (1 Peter 2:11) headed for a better
world, the eternal city of God. Christians should be different, not odd. When
you are different, you attract people; when you are odd, you repel them”
[= Sikap mengharapkan ini harus membuat suatu perbedaan dalam tingkah laku
pribadi kita (2Pet 3:11). Kata yang diterjemahkan ‘manner’
(= jenis) secara hurufiah berarti ‘aneh / luar biasa, di luar dari dunia ini,
asing’. Karena kita telah lolos dari kerusakan / kejahatan yang ada dalam
dunia ini’ (2Pet 1:4), kita harus hidup secara berbeda dari orang-orang dalam
dunia. Bagi mereka kita harus menjadi ‘orang-orang asing’. Mengapa? Karena
dunia ini bukanlah rumah kita! Kita adalah ‘orang-orang asing dan peziarah’
(1Pet 2:11) yang menuju suatu dunia yang lebih baik, kota yang kekal dari Allah.
Orang-orang Kristen harus berbeda, bukan aneh. Pada waktu kamu berbeda, kamu
menarik orang-orang; pada waktu kamu aneh, kamu menolak mereka].
Catatan:
kata ‘manner’ merupakan terjemahan dari KJV.
2Pet 3:11
- “Jadi, jika segala sesuatu ini akan
hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup”.
KJV:
‘Seeing then that all these
things shall be dissolved, what manner of persons ought ye to be in all
holy conversation and godliness’ (= Maka, mengingat bahwa semua hal-hal ini
akan dihancurkan, kamu harus menjadi jenis orang yang bagaimana, dalam
semua tingkah laku kudus dan kesalehan).
2Pet
1:4 - “Dengan jalan itu Ia telah
menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar,
supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari
hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia”.
1Pet 2:11
- “Saudara-saudaraku yang kekasih, aku
menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan
diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa”.
Bdk.
Ro 12:2 - “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi
berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah
kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”.
Calvin:
“He, then, who waits for new heavens, must begin with renewal as to
himself, and diligently aspire after it; but they who cleave to their own filth,
think nothing, it is certain, of God’s kingdom, and have no taste for anything
but for this corrupt world” (= Maka, ia yang menunggu langit yang baru,
harus mulai dengan pembaharuan berkenaan dengan dirinya sendiri, dan dengan
rajin menginginkannya; tetapi adalah pasti bahwa mereka yang bepegang erat-erat
pada kekotoran mereka, tidak memikirkan apa-apa tentang kerajaan Allah, dan
tidak mencicipi apapun kecuali dunia yang rusak / jahat ini).
Barnes’
Notes: “In
holy conduct and piety. That is, this fact ought to be allowed to exert a deep
and abiding influence on us, to induce us to lead holy lives. We should feel
that there is nothing permanent on the earth; that this is not our abiding home;
and that our great interests are in another world. We should be serious,
humble, and prayerful; and should make it our great object to be prepared for
the solemn scenes through which we are soon to pass. An habitual contemplation
of the truth, that all that we see is soon to pass away, would produce a most
salutary effect on the mind. It would make us serious. It would repress
ambition. It would lead us not to desire to accumulate what must so soon be
destroyed. It would prompt us to lay up our treasures in heaven”
(= Dalam tingkah laku yang kudus dan kesalehan. Artinya, fakta ini seharusnya
diijinkan untuk mengerahkan suatu pengaruh yang dalam dan menetap kepada diri
kita, untuk menyebabkan kita menjalani kehidupan yang kudus. Kita harus
merasa bahwa tidak ada yang permanen / kekal di bumi; bahwa ini bukanlah rumah
kita yang kekal; dan bahwa kepentingan kita yang besar ada di dunia yang lain.
Kita harus serius, rendah hati, dan banyak berdoa; dan harus membuatnya sebagai
tujuan kita yang besar untuk disiapkan bagi suasana yang keramat / kudus melalui
mana kita akan segera lewat. Suatu kebiasaan perenungan tentang kebenaran, bahwa
semua yang kita lihat akan segera hilang / mati, akan menghasilkan suatu
pengaruh yang paling menyehatkan / bermanfaat pada pikiran. Itu akan membuat
kita menjadi serius. Itu akan menekan ambisi. Itu akan membimbing kita untuk
tidak menginginkan untuk menimbun apa yang pasti akan segera dihancurkan. Itu
akan mendorong kita untuk menimbun harta kita di surga).
Bdk.
Mat 6:19-21 - “(19) ‘Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat
dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. (20) Tetapi
kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak
merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. (21) Karena di mana
hartamu berada, di situ juga hatimu berada”.
Pulpit
Commentary (bagian ‘homiletics’): “Christians
should look for the city that hath foundations. The cities of this world have no
sure foundation, for the earth on which they are built must pass away; it has
within itself the element which is to cause its dissolution; the germs of that
dissolution are working even now. Then wise men must not lay up for themselves
treasures upon earth; they must not live as if this changeful, dying world was
to be their home for ever; they must set their affections on things above; they
must remember that Christian men are citizens of the heavenly country,
fellow-citizens with the saints. Therefore they must adopt the modes of life
which are characteristic of that heavenly country; their conduct as they move
about among men must be holy in all the relations of life; they must live in the
habitual pursuit of godliness in all its aspects. These things are of true,
lasting moment. The prizes of this world, even those which seem to us the
greatest and most to be desired, are but vanity, vanity of vanities, compared
with the great realities of the spiritual life” (= Orang-orang Kristen
harus mencari kota yang mempunyai dasar. Kota-kota dari dunia ini tidak
mempunyai dasar yang pasti, karena bumi dimana mereka dibangun harus hilang; itu
mempunyai dalam dirinya sendiri elemen yang merupakan penyebab dari
penghancurannya; benih dari penghancuran itu sedang bekerja bahkan pada saat
ini. Karena itu orang-orang yang bijaksana tidak boleh menimbun bagi diri mereka
sendiri harta di bumi; mereka tidak boleh hidup seakan-akan dunia yang terus
berubah dan sekarat ini akan menjadi rumah mereka selama-lamanya; mereka harus
meletakkan kasih mereka pada hal-hal di atas; mereka harus ingat bahwa
orang-orang Kristen adalah warga negara dari negeri surgawi; sesama warga negara
dengan orang-orang kudus. Karena itu mereka harus mengadopsi cara kehidupan yang
merupakan ciri khas dari negeri surgawi itu; tingkah laku mereka pada waktu
mereka bergerak di antara orang-orang harus kudus dalam semua hubungan-hubungan
dari kehidupan; mereka harus hidup dalam kebiasaan mengejar kesalehan dalam
semua aspeknya. Hal-hal ini adalah dari kepentingan yang benar dan kekal.
Hadiah-hadiah dari dunia ini, bahkan mereka yang bagi kita kelihatannya adalah
yang terbesar dan paling diinginkan, adalah kesia-siaan, kesia-siaan dari
kesia-siaan, dibandingkan dengan realita-realita besar dari kehidupan rohani)
- hal 74-75.
UBS
New Testament Handbook Series (tentang ay 14):
“‘Be
zealous’ is the same verb translated ‘hastening’ in verse 12. It may also
be ‘do your best’ (TEV), ‘make every effort,’ ‘do your utmost,’
‘make certain,’ ‘strive,’ ‘be diligent.’ The word speaks of intense
effort” [= ‘Bersemangatlah’ (ay 14)
adalah kata kerja yang sama yang diterjemahkan ‘mempercepat’ dalam ay 12.
Itu juga bisa diartikan ‘lakukanlah yang terbaik’ (TEV), ‘lakukanlah semua
usaha’, ‘lakukanlah sampai pada tingkat yang tertinggi’, ‘buatlah
pasti’, ‘berusahalah / berjuanglah’, ‘rajinlah’. Kata itu berbicara
tentang usaha yang hebat / bersemangat.].
Calvin:
“It may be asked, how any one can be found blameless by Christ, when we
all labor under so many deficiencies. But Peter here only points out the mark at
which the faithful ought all to aim, though they cannot reach it, until having
put off their flesh they become wholly united to Christ” (= Bisa
dipertanyakan, bagaimana siapapun bisa didapati tak bercacat oleh Kristus, pada
waktu kita semua berjerih payah di bawah begitu banyak kekurangan-kekurangan.
Tetapi di sini Petrus hanya menunjukkan sasaran yang harus dituju oleh semua
orang yang setia / percaya, sekalipun mereka tidak bisa mencapainya, sampai
setelah melepaskan daging mereka mereka menjadi sepenuhnya dipersatukan dengan
Kristus).
4)
“yaitu
kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah” (ay
12a).
UBS
New Testament Handbook Series: “‘Hastening’
can also be ‘earnestly desiring’ (RSV footnote), ‘striving for,’
‘looking for,’ ‘waiting for.’ ... The main question here is whether
Christians can cause the day of the Lord to come more quickly by their actions
(in this case, by living godly and holy lives), or whether this is solely in the
hands of God, and the only thing that Christians can do is to longingly expect
it. The verb allows for either possibility; background literature, however,
favors the interpretation hastening. In Rabbinic literature there are references
attesting to the belief that repentance does bring in the end. A passage from 2
Clement (12:6) cites a statement from Jesus to the effect that when Christians
live godly lives and refrain from sexual impurities, then the kingdom of God
will come. Connected with this, of course, is the delay of the Parousia, which
is motivated by God’s desire for people to repent; in the light of this,
repentance may be said to ultimately affect the eventual return of the Lord.
Most translations prefer this second possibility” [=
‘Mempercepat’ juga bisa berarti ‘menginginkan dengan sungguh-sungguh’
(catatan kaki RSV), ‘berusaha / berjuang untuk’, ‘mencari’,
‘menantikan’. ... Pertanyaan utama di sini adalah, apakah orang-orang
Kristen bisa menyebabkan hari Tuhan datang dengan lebih cepat oleh
tindakan-tindakan mereka (dalam kasus ini, oleh hidup yang saleh dan kehidupan
yang kudus), atau apakah ini semata-mata terletak di tangan Allah, dan
satu-satunya hal yang bisa dilakukan orang-orang Kristen adalah mengharapkannya
dengan kerinduan. Kata kerjanya mengijinkan kemungkinan yang manapun; tetapi
latar belakang pustaka, menyokong penafsiran ‘mempercepat’. Dalam literatur
rabi-rabi ada referensi-referensi yang menyokong kepercayaan bahwa pertobatan
memang menghasilkan akhir. Sebuah text dari 2 Clement (12:6) mengutip suatu
pernyataan dari Yesus yang berarti bahwa pada waktu orang-orang Kristen
menjalani kehidupan yang kudus dan menahan dari kekotoran sexual, maka kerajaan
Allah akan datang. Berhubungan dengan ini, tentu saja, adalah penundaan dari
PAROUSIA (= kedatangan), yang
disebabkan oleh keinginan Allah supaya orang-orang bertobat; dalam terang dari
hal ini, pertobatan bisa dikatakan akhirnya mempengaruhi kembalinya Tuhan.
Kebanyakan terjemahan lebih memilih kemungkinan kedua ini].
Catatan:
a)
Penafsir ini menggunakan literatur rabi-rabi dan surat 2 Clement (ini
termasuk tulisan Apocrypha yang dianggap berasal dari Clement, seorang uskup
dari Roma pada akhir abad pertama Masehi) sebagai dasar! Ini sama sekali tidak
Alkitabiah!
b)
Memang kebanyakan terjemahan memilih terjemahan ini (‘mempercepat’)
tetapi tidak berarti harus diartikan seperti itu. Hari Tuhan sudah ditetapkan
oleh Tuhan, dan dalam arti sesungguhnya tidak bisa diubah / dipercepat oleh
apapun.
Bdk.
Kis 17:31 - “Karena Ia telah menetapkan
suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh
seorang yang telah ditentukanNya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang
suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang
mati.’”.
Jamieson,
Fausset & Brown: “not
that God’s time is changeable, but God appoints us as instruments of
accomplishing those events which must be first before the day can come. By
praying for His coming, furthering the preaching of the Gospel for a witness to
all nations, and bringing in those whom ‘the long-suffering of God’ waits to
save, we hasten the coming of the day of God” (= bukan bahwa waktu Allah
itu bisa diubah, tetapi Allah menetapkan kita sebagai alat-alat untuk mencapai
peristiwa-peristiwa itu, yang harus terjadi dahulu sebelum hari itu bisa datang.
Dengan berdoa untuk kedatanganNya, melanjutkan pemberitaan Injil sebagai suatu
kesaksian bagi semua bangsa-bangsa, dan membawa masuk mereka yang
‘kepanjang-sabaran Allah’ tunggu untuk menyelamatkan, kita ‘mempercepat’
kedatangan hari Allah).
Lebih
jelas lagi, kata ‘mempercepat’ ini hanya berdasarkan sudut pandang manusia.
Dari sudut pandang Allah tidak mungkin hari itu dipercepat.
Hal
yang sama terjadi dengan ayat-ayat yang seolah-olah menunjukkan bahwa umur
manusia bisa bertambah panjang / pendek karena ia melakukan hal-hal tertentu.
Misalnya:
Kel
20:12 - “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya
lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu”.
Amsal 3:1-2
- “(1) Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah
hatimu memelihara perintahku, (2) karena panjang umur dan lanjut usia serta
sejahtera akan ditambahkannya kepadamu”.
Pkh
8:13 - “Tetapi orang yang fasik tidak
akan beroleh kebahagiaan dan seperti bayang-bayang ia tidak akan panjang umur,
karena ia tidak takut terhadap hadirat Allah”.
Padahal
dalam ayat-ayat yang lain jelas dikatakan bahwa umur manusia sudah ditentukan
oleh Allah, misalnya:
Maz 39:5-6
- “(5) ‘Ya TUHAN, beritahukanlah
kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku!
(6) Sungguh, hanya beberapa telempap saja Kautentukan umurku; bagiMu
hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan!
Sela”.
Mat 6:27
- “Siapakah di antara kamu yang karena
kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?”.
Jadi,
inipun hanya bisa ditafsirkan dari sudut pandang manusia saja. Kalau seseorang
berbuat jahat, dan Allah lalu menghukum dia dengan hukuman mati, maka
seolah-olah kejahatannya memperpendek umurnya, dan sebaliknya. Tetapi dari sudut
Tuhan, segala sesuatu sudah ditetapkan dan pasti terjadi seperti hal-hal itu
ditetapkan. Rencana Allah tidak bisa gagal.
Ayub
42:1-2 - “(1) Maka jawab Ayub kepada
TUHAN: (2) ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak
ada rencanaMu yang gagal”.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : buas22@yahoo.com
e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali