Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

Rabu, tanggal 19 Oktober 2011, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(7064-1331 / 6050-1331)

buas22@yahoo.com

 

II Petrus 3:1-18(5)

 

Ay 15: Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya.

 

1)         Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat.

 

Pulpit Commentary: “The apostle is referring to verse 9. Scoffers count the delay of the judgment slackness; the Christian should count it salvation; it is for the salvation of the elect that the judgment tarrieth” (= Sang rasul menunjuk pada ay 9. Pengejek-pengejek menganggap penundaan itu sebagai kelambatan / kelalaian penghakiman; orang Kristen harus menganggapnya sebagai keselamatan; adalah untuk keselamatan dari orang-orang pilihan maka penghakiman berlambat-lambat).

 

Bdk. Ro 2:4-5 - “(4) Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahanNya, kesabaranNya dan kelapangan hatiNya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan? (5) Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan”.

 

Tetapi dalam faktanya, yang sering terjadi bukanlah pertobatan tetapi justru kejahatan yang bertambah!

Bdk. Pkh 8:11 - “Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat”.

 

2)   seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya.

 

Bible Knowledge Commentary: Interestingly Peter called Paul ‘our dear (‎agapetos‎, ‘beloved’; cf. vv. 1,8,14,17) brother’. Years before Paul had severely rebuked Peter (Gal 2:11-14), but this did not sever their love and respect for each other [= Merupakan sesuatu yang menarik bahwa Petrus menyebut Paulus ‘saudara kita yang kekasih’ (AGAPETOS, ‘kekasih’; bdk. ay 1,8,14,17). Bertahun-tahun sebelumnya Paulus telah menegur Petrus dengan keras (Gal 2:11-14), tetapi ini tidak memutuskan kasih dan hormat mereka satu terhadap yang lain].

 

Gal 2:11-14 - “(11) Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. (12) Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. (13) Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka. (14) Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: ‘Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?’”.

 

Matthew Henry: (1.) He calls him brother, ... (2.) He calls him beloved; ... (3.) He mentions Paul as one who had an uncommon measure of wisdom given unto him. ... How desirable is it that those who preach the same gospel should treat one another according to the pattern Peter here sets them! It is surely their duty to endeavour, by proper methods, to prevent or remove all prejudices that hinder ministers’ usefulness, and to beget and improve the esteem and respect in the minds of people towards their ministers that may promote the success of their labours [= (1.) Ia menyebutnya saudara, ... (2.) Ia menyebutnya kekasih; ... (3.) Ia menyebut Paulus sebagai seseorang yang mempunyai takaran hikmat yang luar biasa yang diberikan kepadanya. ... Alangkah diinginkannya bahwa mereka yang memberitakan / mengkhotbahkan injil yang sama memperlakukan satu sama lain sesuai dengan pola yang dibuat di sini oleh Petrus! Jelas merupakan kewajiban mereka untuk berusaha, dengan metode-metode yang benar, untuk mencegah atau menghilangkan semua prasangka-prasangka yang menghalangi kebergunaan pendeta-pendeta / pelayan-pelayan, dan untuk menghasilkan dan meningkatkan penghargaan dan hormat dalam pikiran orang-orang terhadap pendeta / pelayan mereka sehingga bisa meningkatkan sukses dari pekerjaan / jerih payah mereka].

Bandingkan dengan Pdt. Sutjipto Subeno dan Pdt. Rudy Gunawan dari GRII yang ‘sangat rajin dan tekun’ dalam memfitnah saya. Mereka pasti lebih rajin dalam memfitnah saya dari pada dalam belajar Firman Tuhan! Juga banyak pendeta-pendeta dari kalangan GRII yang memfitnah saya sebagai Hyper-Calvinist!

Karena saya mengadakan seminar secara rutin di Medan, maka ada satu pendeta yang melarang para pelayannya untuk menghadiri seminar saya, dengan ancaman mereka akan dipecat kalau tetap menghadirinya! Ia juga menyebut saya sebagai sesat, tanpa pernah menunjukkan dalam hal apa saya sesat! Hanya orang Kristen yang bodoh yang mau mentaati larangan yang tidak Alkitabiah seperti ini!

Juga ada pengkhotbah yang dalam berkhotbah selalu menggunakan bahan-bahan / tulisan-tulisan saya, tetapi pada saat yang sama selalu menjelek-jelekkan saya! Betul-betul luar biasa!

Memang kebanyakan pendeta-pendeta jaman sekarang, menganggap pendeta / gereja lain, bahkan yang menurut mereka ajarannya benar / tidak sesat, bukan sebagai partner dalam melayani Tuhan, tetapi sebagai saingan. Tidak heran mereka menjelek-jelekkan pendeta / gereja lain. Mereka bersikap sebagai orang yang ‘buka warung’ yang pasti akan menganggap warung lain sebagai saingan! Banyak pendeta tak peduli kalau ada mesjid atau wihara baru yang dibuka, tetapi marah kalau ada gereja baru dibuka! Ini hanya bisa terjadi karena mereka melayani dengan motivasi / ambisi yang egois, dan bukan bertujuan untuk memuliakan Allah! Bdk. 1Kor 10:31 - “Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah”.

Catatan: ini berbeda dengan saya pada waktu saya menyerang gereja-gereja / pendeta-pendeta yang memang sesat. Saya mengatakan mereka sesat, dan saya juga menunjukkan bukti-bukti mengapa mereka saya anggap sesat. Dan saya memberitakan di mimbar dan di internet, supaya orang-orang Kristen tidak mengikuti kesesatan mereka. Tak ada anggapan bahwa mereka adalah saingan dalam diri saya. Saya mencintai kebenaran, dan karena itu saya membenci kesesatan, dan saya menyerangnya!

 

Matthew Henry: The excellent wisdom that was in Paul is said to be given him. The understanding and knowledge that qualify men to preach the gospel are the gift of God. We must seek for knowledge, and labour to get understanding, in hopes that it shall be given us from above, while we are diligent in using proper means to attain it (= Hikmat yang sangat bagus yang ada dalam diri Paulus dikatakan sebagai ‘dikaruniakan kepadanya’. Pengertian dan pengetahuan yang menyebabkan orang-orang memenuhi syarat untuk memberitakan Injil merupakan karunia dari Allah. Kita harus mencari pengetahuan, dan berjerih payah untuk mendapat pengertian, dalam pengharapan bahwa itu akan dikaruniakan kepada kita dari atas, sementara kita rajin dalam menggunakan cara-cara yang benar untuk mencapainya).

 

Penerapan: orang-orang Kristen harus berusaha untuk mendapatkan pengertian tentang Firman Tuhan. Tak ada jalan pintas! Harus berusaha dengan rajin dan tekun! Harus mau mencarinya di luar gereja mereka, kalau gereja mereka sendiri ternyata tidak memberikan pelajaran Firman Tuhan yang baik!

Kalau orang Kristen awam harus demikian, apalagi pendeta-pendeta! Tetapi mayoritas pendeta-pendeta jaman sekarang, adalah pendeta-pendeta yang tidak belajar! Mereka hanya mendongeng, melawak, memenuhi khotbah dengan lelucon, tetapi nyaris atau betul-betul tidak ada Firman Tuhan di dalam khotbah-khotbah mereka! Mengapa? Karena mereka tidak belajar! Ada juga yang terus mencari contekan di internet, sehingga mereka tidak perlu berjerih payah dalam belajar! Pada suatu hari kelak, pelayan-pelayan Tuhan  yang malas seperti ini harus memberikan pertanggung-jawaban kepada Tuhan!

 

Ay 16: Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.

 

1)   Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami.

 

Barnes’ Notes: “With what propriety can the pretended successor of Peter - the pope - undertake to expound those difficult doctrines in the writings of Paul, when even Peter himself did not undertake it, and when he did not profess to be able to comprehend them? Is the Pope more skilled in the knowledge of divine things than the apostle Peter? Is he better qualified to interpret the sacred writings than an inspired apostle was?” (= Dengan kecocokan apa / yang bagaimana orang-orang yang berpura-pura menjadi pengganti-pengganti dari Petrus - sang Paus - berusaha untuk menjelaskan ajaran-ajaran yang sukar dalam tulisan-tulisan Paulus itu, pada waktu bahkan Petrus sendiri tidak mengusahakannya, dan pada waktu ia tidak mengaku bisa mengertinya? Apakah Paus lebih ahli dalam pengetahuan tentang hal-hal ilahi dari pada rasul Petrus? Apakah ia lebih memenuhi syarat untuk menafsirkan tulisan-tulisan kudus dari pada seorang rasul yang diilhami?).

Catatan: ay 16 ini tidak mengatakan bahwa Petrus tidak berusaha mengerti tulisan-tulisan Paulus. Juga tidak mengatakan bahwa Petrus tidak mengertinya. Petrus, dalam ay 16 ini, hanya mengatakan bahwa dalam tulisan-tulisan Paulus ada hal-hal yang sukar difahami. Tetapi memang merupakan sesuatu yang menggelikan kalau Petrus sendiri mengatakan adanya hal-hal yang sukar difahami dalam surat-surat Paulus sementara Gereja Roma Katolik menganggap / menyatakan diri sebagai penafsir-penafsir yang tidak bisa salah dari seluruh Firman Tuhan!

 

Calvin: “It may, however, be asked, Whence is this obscurity, for the Scripture shines to us like a lamp, and guides our steps? To this I reply, that it is nothing to be wondered at, if Peter ascribed obscurity to the mysteries of Christ’s kingdom, and especially if we consider how hidden they are to the perception of the flesh. However the mode of teaching which God has adopted, has been so regulated, that all who refuse not to follow the Holy Spirit as their guide, find in the Scripture a clear light. At the same time, many are blind who stumble at mid-day; others are proud, who, wandering through devious paths, and flying over the roughest places, rush headlong into ruin” (= Tetapi bisa ditanyakan, dari mana kekaburan / ketidak-jelasan ini, karena Kitab Suci bersinar bagi / kepada kita seperti sebuah lampu, dan membimbing langkah-langkah kita? Terhadap ini saya menjawab, bahwa tidak ada yang perlu diherankan, jika Petrus menganggap kekaburan / ketidak-jelasan sebagai milik dari misteri dari kerajaan Kristus, dan khususnya jika kita mempertimbangkan betapa tersembunyinya mereka dari pengertian daging. Tetapi cara pengajaran yang telah diambil / dipakai oleh Allah telah diatur sedemikian rupa, sehingga semua yang tidak menolak untuk mengikuti Roh Kudus sebagai pembimbing mereka, menemukan dalam Kitab Suci suatu terang yang jelas. Pada saat yang sama, banyak orang buta yang tersandung pada tengah hari; orang-orang lain bangga / sombong, yang mengembara melalui jalan-jalan yang berliku-liku, dan terbang melalui tempat-tempat yang paling berat / sukar, terburu-buru menuju ke dalam kehancuran).

 

Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:

 

Penerapan: setiap kali saudara mau membaca / mendengar / belajar Firman Tuhan, jangan lupa berdoa untuk meminta pencerahan dari Roh Kudus, dan tak peduli betapa sering saudara menaikkan doa seperti itu, jangan berdoa secara asal-asalan / sambil lalu saja tetapi berdoalah dengan sungguh-sungguh.

 

2)         sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya.

KJV: ‘which they that are unlearned and unstable’ (= yang mereka yang adalah orang-orang yang bodoh / tidak belajar / tidak terpelajar dan tidak stabil).

RSV: ‘which the ignorant and unstable’ (= yang orang-orang yang bodoh dan tidak stabil).

NIV: ‘which ignorant and unstable people’ (= yang orang-orang bodoh dan tidak stabil).

NASB: ‘which the untaught and unstable’ (= yang orang-orang yang tidak diajar dan tidak stabil).

Kata-kata ‘tidak teguh imannya’ dalam Kitab Suci Indonesia seolah-olah menunjuk kepada orang-orang yang sungguh-sungguh beriman, hanya saja imannya tidak teguh. Tetapi bukan itu yang dimaksudkan oleh Petrus. Seluruh anak kalimat ini menunjuk kepada orang-orang yang tidak belajar dengan baik, bodoh dalam hal rohani. Kata-kata ‘tidak stabil’ dalam terjemahan Kitab Suci bahasa Inggris menunjuk kepada orang-orang yang terombang-ambing.

Bdk. Ef 4:11-16 - “(11) Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, (12) untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, (13) sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, (14) sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, (16) tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala”.

 

Barnes’ Notes: ‘Which they that are unlearned.’ The evil here adverted to is that which arises in cases where those without competent knowledge undertake to become expounders of the word of God. ... the danger is, that without proper views of interpretation, of language, and of ancient customs, they might be in danger of perverting and abusing certain portions of the writings of Paul (= ‘Yang mereka yang adalah orang-orang yang tidak belajar / terpelajar’. Kejahatan yang ditunjuk di sini adalah kejahatan yang muncul dalam kasus-kasus dimana mereka yang tidak mempunyai pengetahuan yang memenuhi syarat berusaha untuk menjadi orang-orang yang menjelaskan firman Allah. ... bahayanya adalah, bahwa tanpa pandangan-pandangan yang benar tentang penafsiran, tentang bahasa, dan tentang kebiasaan-kebiasaan / tradisi-tradisi kuno, mereka bisa ada dalam bahaya menyimpangkan dan menyalah-gunakan bagian-bagian tertentu dari tulisan-tulisan Paulus).

 

Jamieson, Fausset & Brown: “‘Unlearned’. - not those wanting human learning, but lacking the learning imparted by the Spirit. The humanly learned have been often deficient in spiritual learning, and originated most heresies” (= ‘bodoh / tidak belajar’. - bukan mereka yang kekurangan pelajaran manusia, tetapi kekurangan pelajaran yang diberikan oleh Roh. Orang-orang yang terpelajar secara manusia sering kurang dalam pelajaran rohani, dan yang memulai kebanyakan bidat / ajaran sesat).

 

Barnes’ Notes: ‘And unstable.’ Who have no settled principles and views. The evil here adverted to is that which arises where those undertake to interpret the Bible who have no established principles. .... They have no stability in their character, and of course nothing can be regarded as settled in their methods of interpreting the Bible. They are under the control of feeling and emotion, and are liable to embrace one opinion to-day, and another directly opposite to-morrow. But the way to prevent THIS evil is not by attempting to give to a community an authoritative interpretation of the Bible; it is to diffuse abroad just principles, that men may obtain from the Bible an intelligent view of what it means (= ‘Dan orang yang tidak stabil’. Yang tidak mempunyai prinsip-prinsip dan pandangan-pandangan yang tetap / teguh. Kejahatan yang ditunjuk di sini adalah kejahatan yang muncul dimana mereka yang berusaha untuk menafsirkan Alkitab tidak mempunyai prinsip-prinsip yang tetap / teguh. ... Mereka tidak stabil dalam karakter mereka, dan jelas tak ada apapun yang bisa dianggap sebagai tetap / teguh dalam metode-metode penafsiran Alkitab mereka. Mereka ada di bawah kendali dari perasaan dan emosi, dan besar kemungkinannya untuk memeluk / mempercayai satu pandangan hari ini, dan pandangan lain yang bertentangan frontal besok. Tetapi jalan untuk menghindari kejahatan ini bukanlah dengan berusaha untuk memberikan kepada suatu komunitas suatu penafsiran Alkitab yang berotoritas, tetapi dengan menyebarkan prinsip-prinsip yang benar, supaya orang-orang bisa mendapatkan dari Alkitab suatu pandangan yang cerdas tentang arti Alkitab).

 

3)         memutarbalikkannya.

 

Barnes’ Notes: ‘Wrest.’ Pervert - ‎streblousin‎. The word here used occurs nowhere else in the New Testament. It is derived from a word meaning a windlass, winch, instrument of torture (streblee), and means to roll or wind on a windlass; then to wrench, or turn away, as by the force of a windlass; and then to wrest or pervert. It implies a turning out of the way by the application of force. Here the meaning is, that they apply those portions of the Bible to a purpose for which they were never intended. It is doubtless true that this may occur. Men may abuse and pervert anything that is good [= ‘membengkokkan / memutar’. Menyimpangkan / menyesatkan / menyelewengkan - streblousin‎. Kata yang digunakan di sini tidak muncul di tempat lain manapun dalam Perjanjian Baru. Kata itu diturunkan dari suatu kata yang berarti mesin kerek, mesin derek, alat penyiksaan (streblee), dan berarti menggulung atau memutar suatu mesin kerek; lalu memuntir, atau memutar, seperti dengan kekuatan dari suatu mesin kerek; dan lalu membengkokkan atau menyimpangkan / menyesatkan / menyelewengkan. Ini secara tak langsung menunjuk pada suatu tindakan mengusir dari jalan / mengeluarkan dari jalan dengan penggunaan kekuatan / paksaan. Di sini artinya adalah, bahwa mereka menerapkan bagian-bagian dari Alkitab itu pada suatu maksud / tujuan untuk mana bagian-bagian itu tidak pernah dimaksudkan. Tak diragukan bahwa ini bisa terjadi. Orang-orang bisa menyalah-gunakan dan membengkokkan / menyelewengkan apapun yang baik].

 

Alexander Nisbet: “To wrest Scriptures is to endeavour to force them to speak contrary to the intent of the Spirit that indited them, in defence of vile errors or profane practices; for there is a metaphor in the word which is translated ‘wrest,’ taken from those who by tortures labour to compel the innocent to speak against their mind” (= Membengkokkan Kitab Suci artinya berusaha untuk memaksa mereka untuk berbicara bertentangan dengan maksud dari Roh yang menyatakannya kepada mereka, untuk mempertahankan / membela kesalahan-kesalahan yang buruk atau praktek-praktek yang kotor / duniawi; karena disana ada suatu kiasan dalam kata yang diterjemahkan ‘membengkokkan’, yang diambil dari mereka, yang dengan menggunakan penyiksaan-penyiksaan, bekerja keras untuk memaksa orang-orang yang tak bersalah untuk berbicara bertentangan dengan pikiran mereka) - hal 296.

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: Most heresies are the perversion of some fundamental doctrine of the Bible. False teachers take verses out of context, twist the Scriptures, and manufacture doctrines that are contrary to the Word of God. Peter probably had the false teachers in mind, but the warning is good for all of us. We must accept the teaching of the Scriptures and not try to make them say what we want them to say (= Kebanyakan bidat merupakan penyimpangan-penyimpangan dari beberapa / sebagian doktrin dasar dari Alkitab. Guru-guru palsu mengambil ayat keluar dari kontextnya, membengkokkan Kitab Suci, dan menghasilkan doktrin-doktrin / ajaran-ajaran yang bertentangan dengan Firman Allah. Petrus mungkin mempunyai guru-guru palsu dalam pikirannya, tetapi peringatan ini baik / bagus untuk kita semua. Kita harus menerima ajaran dari Kitab Suci dan tidak membuat / memaksa mereka mengatakan apa yang kita ingin mereka katakan).

 

The Biblical Illustrator (New Testament): though controversy has its evils, it has also its uses. It is not the stagnant water which is generally the purest. We hold that heresies have been of vast service to the Church, in that they have caused truth to be more thoroughly scanned, and all its bearings and boundaries explored with a most painstaking industry. It is astonishing how apt men are to rest in general and ill-defined notions. If never called to defend the truth the Church would comparatively lose sight of what truth is (= sekalipun kontroversi mempunyai kejahatan-kejahatannya, tetapi itu juga mempunyai kegunaan. Bukan air yang tetap diam / tak bergerak yang biasanya merupakan air yang paling murni. Kita menganggap / percaya bahwa bidat-bidat telah menjadi / memberikan pelayanan yang sangat luas / banyak bagi Gereja, dalam hal dimana mereka telah menyebabkan kebenaran makin ditinjau / diamati dengan lebih seksama / teliti, dan semua hubungan-hubungannya dan batasan-batasannya diselidiki / diperiksa dengan kerajinan yang paling sungguh-sungguh / seksama. Merupakan sesuatu yang mengherankan betapa orang-orang condong untuk berhenti / bersandar pada ide / gagasan / pikiran yang bersifat umum dan didefinisikan dengan buruk. Jika tidak pernah dipanggil untuk mempertahankan kebenaran, maka Gereja secara relatif akan kehilangan pandangan tentang apa kebenaran itu).

 

Matthew Henry: Among the variety of subjects treated of in scripture, some are not easy to be understood ... And here the unlearned and unstable make wretched work; for they wrest and torture the scriptures, to make them speak what the Holy Ghost did not intend. Those who are not well instructed and well established in the truth are in great danger of perverting the word of God. Those who have heard and learned of the Father are best secured from misunderstanding and misapplying any part of the word of God; and, where there is a divine power to establish as well as to instruct men in divine truth, persons are effectually secured from falling into errors. ... Let us therefore earnestly pray for the Spirit of God to instruct us in the truth, that we may know it as it is in Jesus, and have our hearts established with grace, that we may stand firm and unshaken, even in the most stormy times, when others are tossed to and fro with every wind of doctrine (= Di antara bermacam-macam pokok yang dibahas dalam Kitab Suci, beberapa / sebagian tidak mudah untuk dimengerti. ... Dan disini orang-orang yang tidak belajar / terpelajar dan tidak stabil melakukan pekerjaan yang buruk; karena mereka memuntir dan menyelewengkan / menyimpangkan firman Allah. Mereka yang telah mendengar dan belajar dari Bapa adalah yang paling aman dari kesalah-mengertian dan kesalah-penerapan dari bagian manapun dari firman Allah; dan dimana di sana ada kuasa ilahi untuk meneguhkan maupun mengajar manusia dalam kebenaran ilahi, orang-orang sepenuhnya aman dari kejatuhan ke dalam kesalahan-kesalahan. ... Karena itu, hendaklah kita berdoa dengan sungguh-sungguh supaya Roh Allah mengajar kita dalam kebenaran, sehingga kita bisa mengetahui / mengenalnya sebagaimana kebenaran itu ada dalam Yesus, dan hati kita diteguhkan dengan kasih karunia, sehingga kita bisa berdiri teguh dan tak tergoyahkan, bahkan dalam saat-saat yang paling berangin keras, pada saat orang-orang lain terombang-ambing oleh setiap angin pengajaran).

 

Pulpit Commentary: “False teachers distort the meaning of Holy Scripture; they wander far from the truth; they are self-willed, lawless, disobedient to the Law of God written in the heart, revealed in his Word. Therefore Christians must be on their guard; they must ‘not believe every spirit, but try the spirits, whether they be of God: because many false prophets are gone out into the world.’” (= Guru-guru palsu menyimpangkan arti dari Kitab Suci yang Kudus; mereka mengembara / tersesat jauh dari kebenaran; mereka semaunya sendiri, tak peduli hukum, tidak taat pada hukum Allah yang tertulis dalam hati, dinyatakan dalam FirmanNya. Karena itu orang-orang Kristen harus berjaga-jaga; mereka ‘tidak boleh percaya kepada setiap roh, tetapi menguji roh-roh itu, apakah mereka datang dari Allah: karena banyak nabi-nabi palsu telah pergi ke dalam dunia’).

1Yoh 4:1 - “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia”.

 

4)         menjadi kebinasaan mereka sendiri.

 

Barnes’ Notes: “‘Unto their own destruction.’ By embracing false doctrines. Error destroys the soul; and it is very possible for a man so to read the Bible as only to confirm himself in error. He may find passages which, by a perverted interpretation, shall seem to sustain his own views; and, instead of embracing the truth, may live always under delusion, and perish at last. It is not to be inferred that every man who reads the Bible, or even every one who undertakes to be its public expounder, will certainly be saved (= ‘menjadi kebinasaan mereka sendiri’. Dengan memeluk / mempercayai doktrin-doktrin yang salah. Kesalahan menghancurkan jiwa; dan adalah sangat mungkin bagi seseorang untuk membaca Alkitab sedemikian rupa hanya untuk meneguhkan dirinya sendiri dalam kesalahan. Ia bisa mendapatkan text-text yang, oleh suatu penafsiran yang dibengkokkan / diselewengkan, akan terlihat mendukung pandangan-pandangannya; dan, bukannya memeluk / mempercayai kebenaran, tetapi bisa hidup di bawah suatu khayalan, dan akhirnya binasa. Tidak boleh diduga / disimpulkan bahwa setiap orang yang membaca Alkitab, atau bahkan setiap orang yang berusaha untuk menjadi orang yang menjelaskan Alkitab secara umum, akan pasti diselamatkan).

 

Pulpit Commentary: “The written Word is a most precious gift; but no outward privilege can save us. Nay, awful as it seems, men may wrest it, and do wrest it, to their own destruction. Receive it in simplicity and faith, and it will save the soul. God reveals its deep holy meaning to babes in Christ. But if men with perverse ingenuity will use it as the weapon of party strife, and twist its sacred words to suit their selfish purposes, then it may - alas! that it should be so - increase their condemnation” (= Firman tertulis adalah pemberian yang paling berharga; tetapi tidak ada hak lahiriah yang bisa menyelamatkan kita. Tidak, sekalipun kelihatannya mengerikan / sangat buruk, manusia bisa memuntirnya, dan memang memuntirnya, menjadi kebinasaan mereka sendiri. Terimalah itu dengan kesederhanaan dan iman, dan itu akan menyelamatkan jiwa. Allah menyatakan artinya yang kudus dan dalam kepada bayi-bayi dalam Kristus. Tetapi jika orang-orang dengan akal bulus / kelicikan yang jahat menggunakannya sebagai senjata dari percekcokan antar golongan, dan memuntir kata-kata firman kudus untuk menyesuaikan dengan tujuan-tujuan egois mereka, maka itu bisa - astaga! bahwa itu harus demikian - menambah penghukuman mereka).

 

5)         sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.

KJV/RSV/NIV/NASB: the other scriptures (= Kitab Suci - Kitab Suci yang lain).

Ini menunjuk pada bagian-bagian lain dari Kitab Suci (selain tulisan-tulisan dari Paulus).

 

a)   Ini menunjukkan bahwa Petrus menganggap tulisan-tulisan Paulus sebagai Kitab Suci / Firman Tuhan, yang setingkat dengan Perjanjian Lama.

Barnes’ Notes: ‘As they do also the other scriptures.’ This is an unequivocal declaration of Peter that he regarded the writings of Paul as a part of the holy Scriptures, and of course that he considered him as inspired. The word ‘Scriptures,’ as used by a Jew, had a technical signification - meaning the inspired writings, and was the common word which was applied to the sacred writings of the Old Testament. As Peter uses this language, it implies that he regarded the writings of Paul as on a level with the Old Testament (= ‘Seperti yang juga mereka buat dengan Kitab Suci - Kitab Suci yang lain’. Ini merupakan suatu pernyataan jelas dari Petrus bahwa ia menganggap tulisan-tulisan Paulus sebagai suatu bagian dari Kitab Suci yang kudus, dan tentu ia menganggapnya sebagai diilhami. Kata ‘Kitab Suci’, seperti yang digunakan oleh seorang Yahudi, mempunyai suatu arti tehnis - berarti tulisan-tulisan yang diilhamkan, dan merupakan kata yang umum yang diterapkan pada tulisan-tulisan kudus Perjanjian Lama. Karena Petrus menggunakan bahasa / kata ini, itu secara implicit menunjukkan bahwa ia menganggap tulisan-tulisan Paulus sebagai setingkat dengan Perjanjian Lama).

 

b)   Sebagaimana mereka memuntir tulisan-tulisan Paulus sehingga menjadi ajaran sesat, maka mereka juga memuntir bagian-bagian lain dari Kitab Suci.

Alexander Nisbet: “They that wrest one place of Scripture will readily wrest many more, there being a conncetion between one error and another, as there is between one truth and another” (= Mereka yang memuntir satu tempat dari Kitab Suci akan dengan siap memuntir lebih banyak lagi, karena ada suatu hubungan antara satu kesalahan dengan kesalahan yang lain, seperti ada hubungan antara satu kebenaran dengan kebenaran yang lain) - hal 296.

Kalau kita memaksakan suatu pandangan ke dalam Kitab Suci, maka kita harus memuntir ayat-ayat yang menentang pandangan tersebut, dan setelah kita memuntir suatu ayat, maka akan ada ayat-ayat lain yang akan menentang ayat yang telah kita puntir tadi, sehingga ayat-ayat lain itu harus kita puntir juga. Ini menyebabkan kita menjadi makin lama makin jauh dari kebenaran, atau makin lama makin sesat!

Karena itu, biasanya yang terjadi adalah: sekali seseorang benar, maka makin lama ia akan menjadi makin benar; dan sebaliknya, sekali seseorang salah / sesat, maka ia akan menjadi makin lama makin salah / sesat. Hukum yang terakhir ini khususnya berlaku untuk orang-orang yang tegar tengkuk, tidak tulus dalam belajar Kitab Suci, tetap mempertahankan pandangannya yang salah / sesat sekalipun sudah dibuktikan secara jelas dari Kitab Suci bahwa pandangannya salah / sesat!

Bdk. 2Tim 3:13 - “sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan”.

 

c)   Bagian ini bukan alasan untuk melarang orang Kristen awam untuk membaca Kitab Suci.

Adam Clarke: We find, lastly, that those who wrest such portions, are those who wrest the other scriptures to their destruction; therefore they are no patterns, nor can such form any precedent for withholding the Scriptures from the common people, most of whom, instead of wresting them to their destruction, would become wise unto salvation by reading them. We may defy the Romish church to adduce a single instance of any soul that was perverted, destroyed, or damned, by reading of the Bible; and the insinuation that they may is blasphemous. I may just add that the verb ‎streblooo‎, which the apostle uses here, signifies to distort, to put to the rack, to torture, to overstretch and dislocate the limbs; and hence, the persons here intended are those who proceed according to no fair plan of interpretation, but force unnatural and sophistical meanings on the word of God: a practice which the common simple Christian is in no danger of following (= Akhirnya, kita mendapati bahwa mereka yang memuntir bagian-bagian seperti itu, adalah mereka yang memuntir Kitab Suci - Kitab Suci yang lain menjadi kebinasaan / kehancuran mereka sendiri; karena itu mereka bukanlah pola-pola, juga kata-kata seperti itu tidak bisa membentuk suatu alasan untuk menahan Kitab Suci dari orang-orang umum / awam, kebanyakan dari siapa, bukannya memuntir mereka menjadi kehancuran / kebinasaan mereka sendiri, tetapi menjadi bijaksana kepada / menunju keselamatan dengan membacanya. Kita bisa menantang gereja Roma untuk mengemukakan satu contoh dari jiwa manapun yang disimpangkan, dihancurkan, atau dihukum / dikutuk, oleh pembacaan Alkitab; dan tuduhan bahwa mereka yang membaca Alkitab bisa sesat merupakan tuduhan yang bersifat menghujat. Saya bisa menambahkan bahwa kata kerja SREBLOOO, yang digunakan sang rasul di sini, berarti mengubah / menyimpangkan, menyiksa dengan menariknya, menyiksa / membengkokkan, menarik / merentangkan kelewat batas dan membuat anggota-anggota badan terkilir; dan karena itu, orang-orang yang dimaksudkan di sini adalah mereka yang maju / berjalan tanpa kesesuaian dengan rencana penafsiran yang adil / jujur, tetapi memaksakan arti-arti yang tidak wajar dan pandai tetapi tidak sehat pada firman Allah; suatu praktek yang orang Kristen umum yang sederhana / tulus tidak berada dalam bahaya untuk mengikuti).

Catatan: dulu Gereja Roma Katolik memang melarang orang awam memiliki, apalagi membaca, Alkitab.

 

Calvin: “But we must observe, that we are not forbidden to read Paul’s Epistles, because they contain some things hard and difficult to be understood, but that, on the contrary, they are commended to us, provided we bring a calm and teachable mind. For Peter condemns men who are trifling and volatile, who strangely turn to their own ruin what is useful to all. Nay, he says that this is commonly done as to all the Scripture: and yet he does not hence conclude, that we are not to read it, but only shews, that those vices ought to be corrected which prevent improvement, and not only so, but render deadly to us what God has appointed for our salvation” (= Tetapi kita harus memperhatikan, bahwa kita tidak dilarang untuk membaca surat-surat Paulus, karena mereka mengandung hal-hal yang keras dan sukar untuk dimengerti, tetapi bahwa sebaliknya, surat-surat itu dipercayakan kepada kita, asal kita membawa pikiran yang tenang dan bisa diajar. Karena Petrus mengecam orang-orang yang dangkal dan plin plan / mudah berubah, yang secara aneh membelokkan pada kehancuran mereka sendiri apa yang berguna bagi semua. Tidak, ia berkata bahwa ini dilakukan secara umum seperti pada seluruh Kitab Suci: tetapi ia tidak menyimpulkan karena hal itu, bahwa kita tidak boleh membacanya, tetapi hanya menunjukkan, bahwa keburukan / kejahatan yang mencegah kemajuan itu seharusnya dikoreksi, dan bukan hanya demikian, tetapi menterjemahkan secara mematikan bagi kita apa yang Allah telah tetapkan bagi keselamatan kita).

 

6)   Supaya kita tidak meniru orang-orang sesat ini dalam memuntir Kitab Suci sehingga menjadi kebinasaan bagi diri mereka sendiri, apa yang harus kita lakukan dalam membaca / mempelajari Kitab Suci? Perhatikan beberapa hal ini:

 

a)   Jadikan Roh Kudus sebagai pembimbing dalam mengerti Kitab Suci.

The Biblical Illustrator (New Testament): The chief means, most assuredly, of avoiding such a guilt as this, is to pray for the Spirit as our Guide and Interpreter in reading His own Book (= Jelas bahwa cara yang terutama untuk menghindari kesalahan seperti ini adalah berdoa untuk mendapatkan Roh sebagai Pembimbing / Pemimpin dan Penafsir kita dalam membaca BukuNya sendiri).

 

b)   Buang semua prasangka.

The Biblical Illustrator (New Testament): it is a great point to study Holy Scripture in simplicity of mind without any prejudice or bias (= merupakan suatu hal yang besar untuk mempelajari Kitab Suci yang Kudus dalam kesederhanaan pikiran tanpa prasangka atau sikap memihak apapun).

 

c)   Datanglah pada Kitab Suci dengan kerendahan hati, dan sikap mau / bisa diajar.

Barnes’ Notes: the humble inquirer after truth may find enough in the Bible to guide his feet in the paths of salvation. No one ever approached the sacred Scriptures with a teachable heart, who did not find them ‘ABLE to make him wise unto salvation.’ (= orang-orang yang dengan rendah hati menyelidiki / menanyakan tentang kebenaran bisa mendapatkan cukup dalam Alkitab untuk membimbing kakinya dalam jalan keselamatan. Tak seorangpun pernah mendekati Kitab Suci kudus dengan hati yang bisa diajar, yang tidak mendapatkan bahwa Kitab Suci itu ‘BISA membuatnya bijaksana untuk keselamatan’).

Bdk. 2Tim 3:15 - “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus”.

Penerapan: jangan belajar Alkitab, mendengar khotbah, membaca buku rohani dengan pemikiran ‘aku sudah tahu’. Kesombongan seperti itu menyebabkan saudara tidak akan mendapatkan apa-apa! Kerendahan hati, dan kebersandaran kepada Tuhan untuk bisa mengerti Alkitab, merupakan hal-hal yang mutlak perlu dalam belajar Alkitab!

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : buas22@yahoo.com

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali