Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

Rabu, tanggal 26 Oktober 2011, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(7064-1331 / 6050-1331)

buas22@yahoo.com

 

II Petrus 3:1-18(6)

 

Ay 17: Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh.

 

1)         Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya..

 

a)   Kata ‘kamu’ ditekankan.

Pulpit Commentary: The pronoun ‘ye’ is emphatic; others have gone astray; ‘continue ye faithful.’ (= Kata ganti orang ‘kamu’ ditekankan; orang-orang lain telah sesat; ‘kamu teruslah setia’).

Penerapan: jaman ini, makin banyak ajaran sesat, dan selalu ada banyak orang yang mau mengikutinya, tak peduli bagaimanapun gilanya ajaran itu, dan betapapun bertentangannya ajaran itu dengan Firman Tuhan / Alkitab! Jangan kita mengikuti orang-orang itu!

 

b)   Apa yang dimaksud dengan ‘hal ini’?

 

1.         Kata-kata ‘hal ini’ sebetulnya tidak ada.

Dalam terjemahan KJV diterjemahkan ‘these things’ (= hal-hal ini), dan dicetak dengan huruf miring, untuk menunjukkan bahwa sebetulnya kata-kata itu tidak ada, dan kata-kata itu ditambahkan hanya untuk memperjelas kalimat.

 

Pulpit Commentary: The construction is participial, and there is no expressed object; literally, ‘knowing before,’ i.e., that false teachers will arise (= Konstruksi / susunannya bersifat participle, dan di sana tidak ada obyek yang dinyatakan / jelas; secara hurufiah, ‘mengetahui sebelumnya’, yaitu bahwa guru-guru palsu akan muncul).

Catatan: ‘participle’ merupakan bentuk ‘kata kerja + ing’, seperti ‘preaching’, ‘going’, ‘walking’, dan sebagainya.

 

2.   Kata-kata itu bisa menunjuk pada kedatangan Kristus yang keduakalinya, penghancuran / pembaharuan langit dan bumi dan sebagainya, yang telah ia bicarakan dalam ay 10-13 (penafsiran Pulpit Commentary di bawah), tetapi bisa juga menunjuk pada apa yang baru dibicarakan oleh Petrus dalam ay 15-16, tentang orang-orang yang memutar-balikkan tulisan-tulisan Paulus dan bagian-bagian Alkitab yang lain, sehingga menyesatkan dan menghancurkan diri mereka sendiri (penafsiran Albert Barnes di bawah).

 

Pulpit Commentary: “‘Ye therefore, beloved, knowing these things beforehand, beware lest, being carried away with the error of the wicked, ye fall from your own steadfastness.’ What they knew beforehand was what Paul and Peter said about the second coming. The conclusion of the verse points especially to the foretold appearance of errorists before the coming. These were condemned by their lawless conduct. Let them not, then, as they valued his love in the gospel, be carried away with their error” (= ‘Karena itu, kamu saudara-saudara yang kekasih, mengetahui hal-hal ini sebelumnya, waspadalah supaya jangan, diseret oleh kesalahan dari orang-orang jahat, kamu jatuh dari kesetiaanmu sendiri’. Apa yang mereka ketahui sebelumnya adalah apa yang Paulus dan Petrus katakan tentang kedatangan yang keduakalinya. Kesimpulan dari ayat ini menunjuk khususnya pada pemunculan yang diramalkan tentang orang-orang yang salah / sesat sebelum kedatangan itu. Orang-orang ini dikecam / dikutuk oleh tingkah laku mereka yang tak peduli hukum. Maka, karena mereka menghargai kasihnya dalam / kepada injil, janganlah kiranya mereka diseret oleh kesalahan / kesesatan mereka).

 

Barnes’ Notes: ‘Seeing that ye know these things before.’ Being aware of this danger, and knowing that such results may follow. People should read the Bible with the feeling that it is POSSIBLE that they may fall into error, and be deceived at last. This apprehension will do much to make them diligent, and candid, and prayerful, in studying the Word of God (= ‘Melihat / mengetahui bahwa kamu tahu hal-hal ini sebelumnya’. Sadar akan bahaya ini, dan tahu bahwa hasil-hasil seperti itu akan menyusul. Orang-orang harus membaca Alkitab dengan perasaan bahwa adalah MUNGKIN bahwa mereka bisa jatuh ke dalam kesalahan, dan ditipu pada akhirnya. Pengertian ini akan melakukan banyak hal untuk membuat mereka rajin / tekun, dan jujur / tidak memihak, dan banyak berdoa, dalam mempelajari Firman Allah).

 

Penerapan: memang kesombongan, dalam hal merasa diri sudah tahu / mengerti Firman Tuhan, apalagi dalam hal merasa diri tidak mungkin bisa salah dalam mengerti / mengajarkan Firman Tuhan, justru akan membawa kita pada kejatuhan (pengertian yang salah / sesat).

Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:

·         1Kor 10:12 - “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!”.

·         Amsal 16:18 - “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan”.

 

2)   Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh.

KJV: beware lest ye also, being led away with the error of the wicked, fall from your own stedfastness (= waspadalah supaya jangan kamu juga, karena diseret oleh kesalahan / kesesatan dari orang-orang jahat, jatuh dari kesetiaanmu sendiri).

 

a)   Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret.

 

Pulpit Commentary: Beware lest ye also, being led away with the error of the wicked, fall from your own steadfastness; ... It is interesting to notice that the word rendered ‘led or carried away’ is used by St. Paul, in Gal 2:13, of St. Barnabas, who, along with St. Peter himself, was then ‘carried away’ with the dissimulation of the Judaizers (= ‘waspadalah supaya jangan kamu juga, karena diseret oleh kesalahan / kesesatan dari orang-orang jahat, jatuh dari kesetiaanmu sendiri’; ... Adalah menarik untuk memperhatikan bahwa kata yang diterjemahkan ‘diseret’ digunakan oleh Santo Paulus, dalam Gal 2:13, tentang Santo Barnabas, yang bersama-sama dengan Santo Petrus sendiri, pada saat itu ‘diseret’ oleh kemunafikan dari orang-orang Yudaisme).

 

Gal 2:11-14 - “(11) Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. (12) Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat (orang-orang non Yahudi), tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat (orang-orang Yahudi). (13) Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka. (14) Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: ‘Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?’”.

 

Saya berpendapat bahwa Petrus sebetulnya tidak terseret. Orang-orang Yahudi memang mempunyai pandangan bahwa mereka tak boleh bergaul dengan orang-orang non Yahudi. Itu menyebabkan Petrus, yang tadinya mau bergaul dengan orang-orang non Yahudi (yang telah menjadi Kristen), menjadi takut ketika orang-orang Yahudi datang, dan ia lalu menjauhi orang-orang non Yahudi Kristen itu. Kesalahan, atau kemunafikan, dari Petrus inilah yang menyeret Barnabas dan orang-orang Yahudi yang lain, sehingga ikut-ikutan menjauhi orang-orang non Yahudi Kristen itu.

Text ini memberi suatu pelajaran yang sangat penting. Jangan ikut-ikutan pandangan atau tingkah laku orang lain, tak peduli siapa orang itu. Juga kalau orang seperti Barnabas bisa terseret oleh kesalahan Petrus, maka itu menunjukkan bahwa orang sehebat, serohani dan sesaleh apapun, bisa terseret oleh kesalahan orang lain.

 

b)   ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh.

KJV: with the error of the wicked, fall from your own stedfastness (= oleh kesalahan / kesesatan dari orang-orang jahat, jatuh dari kesetiaanmu sendiri).

 

Pulpit Commentary: The word rendered ‘wicked,’ rather ‘lawless,’ is used elsewhere in the New Testament only in chapter 2:7. The word for ‘steadfastness’ (sthrigmo/$) occurs only here (= Kata yang diterjemahkan ‘jahat’, lebih tepat ‘tak peduli hukum’, digunakan di tempat lain dalam Perjanjian Baru hanya dalam pasal 2:7. Kata untuk ‘kesetiaan’ (sthrigmo/$ / STERIGMOS) muncul hanya di sini].

2Pet 2:7 - “tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja”.

 

Ay 18: Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. BagiNya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.

 

1)         Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia.

 

a)   Apa artinya bertumbuh dalam kasih karunia?

The Biblical Illustrator (New Testament): GRACE, in its strict sense, is the free favour of God to the unworthy. The grace of God toward men produces piety; grace is the cause, piety the effect. 1. To grow in grace is to grow in virtue, faith, meekness, gentleness, patience, a spirit of forgiveness, usefulness. 2. In this growth of all right principles there will be going on at the same time in the soul the weakening and decay of all wrong principles (= KASIH KARUNIA, dalam arti yang ketat, adalah kebaikan cuma-cuma / gratis dari Allah bagi orang yang tak berlayak. Kasih karunia Allah kepada / terhadap manusia menghasilkan kesalehan; kasih karunia adalah penyebabnya, kesalehan adalah akibat / hasilnya. 1. Bertumbuh dalam kasih karunia berarti bertumbuh dalam kebaikan / sifat baik, iman, kelembutan, kelemah-lembutan / keramahan, kesabaran, suatu roh pengampunan, kebergunaan. 2. Dalam pertumbuhan dari semua elemen penting yang benar ini pada saat yang sama akan berlangsung dalam jiwa pelemahan dan pembusukan dari semua elemen yang salah).

Penerapan: perhatikan bagian akhir dari kutipan di atas ini! Tidak mungkin ada pertumbuhan dalam hal-hal yang baik tanpa disertai dengan pengurangan dari hal-hal yang buruk. Sebaliknya juga berlaku!

 

The Biblical Illustrator (New Testament): WHAT IS MEANT BY GROWING IN GRACE? To grow in grace is to increase in a spirit of conformity to the will of God, and to govern our conduct more and more by the same principles that God does (= Apa yang dimaksudkan dengan bertumbuh dalam kasih karunia? Bertumbuh dalam kasih karunia berarti bertambah dalam suatu roh / kecondongan untuk menyesuaikan dengan kehendak Allah, dan untuk makin memerintah tingkah laku kita oleh prinsip-prinsip yang sama seperti yang Allah lakukan).

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: To grow in grace means to become more like the Lord Jesus Christ, from whom we receive all the grace that we need (John 1:16) [= Bertumbuh dalam kasih karunia berarti menjadi lebih mirip dengan Tuhan Yesus Kristus, dari mana kita menerima semua kasih karunia yang kita butuhkan (Yoh 1:16)].

Yoh 1:16 - “Karena dari kepenuhanNya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia”.

 

b)   Seseorang harus hidup secara rohani, baru bisa bertumbuh dalam kasih karunia.

The Biblical Illustrator (New Testament): “‘Grow in grace.’ What is this? It must be in the outset implied that we have been quickened by grace. Dead things cannot grow. Growth shall prove your life (= ‘Bertumbuhlah dalam kasih karunia’. Apa artinya ini? Ditunjukkan secara implicit, mula-mula haruslah bahwa kita telah dihidupkan oleh kasih karunia. Hal-hal yang mati tidak bisa bertumbuh. Pertumbuhan membuktikan kehidupanmu).

 

The Biblical Illustrator (New Testament): The foundation must be laid before the building can rise. No digging about and enriching, no ever so auspicious alternation of sun and shower can bring forward a plant which has no life in it. Yet in morals this is what some are endeavouring to do; they would feed death and cultivate sterility. The sinner must pass from the state of nature to that of grace before he can grow in grace (= Fondasi harus diletakkan sebelum bangunan bisa berdiri. Tak ada penggalian di sekeliling dan penyuburan, tak pernah ada pergantian yang menguntungkan dari matahari dan hujan bisa menumbuhkan suatu tanaman yang tidak mempunyai kehidupan di dalamnya. Tetapi dalam hal moral ini adalah apa yang sebagian orang berusaha untuk melakukannya; mereka memberi makan kematian dan mengolah tanah yang mandul. Orang berdosa harus pindah dari keadaan alamiah pada keadaan dari kasih karunia sebelum mereka bisa bertumbuh dalam kasih karunia).

 

Penerapan: bagian ini perlu diperhatikan oleh:

1.   Para pimpinan gereja / persekutuan / lembaga Kristen apapun. Kita harus tahu bagaimana keadaan rohani dari ‘jemaat’ kita. Kalau mereka belum percaya, jangan memberikan bahan-bahan untuk menumbuhkan mereka, tetapi berikan Injil kepada mereka!

2.   Orang-orang Kristen yang mendapat berkat dari pelajaran-pelajaran tingkat tinggi seperti Allah Tritunggal, predestinasi, dan sebagainya. Jangan berikan / ajarkan itu kepada orang-orang lain yang belum Kristen, bahkan jangan kepada orang-orang Kristen bayi! Kepada orang-orang yang belum Kristen, apakah mereka kafir atau orang kristen KTP, beritakanlah Injil. Sedangkan kepada orang-orang Kristen bayi, berikan susu, bukan makanan keras!

 

Bdk. 1Kor 2:1-2 - “(1) Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. (2) Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.

1Kor 1:22-23 - “(22) Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, (23) tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan”.

 

Pada saat Paulus pertama datang ke Korintus, ia berhadapan dengan orang-orang Korintus, yang adalah orang-orang kafir. Karena itu, ia tidak mau tahu apa-apa selain Yesus Kristus. Dengan kata lain, ia tidak mau memberitakan apapun yang lain selain Injil! Dan tidak peduli berita apa yang diinginkan oleh para pendengarnya, ia bukan memberitakan apa yang mereka inginkan, tetapi apa yang mereka butuhkan, yaitu Injil!

 

c)   Kita bukan hanya / sekedar harus tetap dalam kasih karunia, tetapi kita harus bertumbuh dalam kasih karunia.

Pulpit Commentary: “The Apostle Paul is recorded to have enjoined his converts to ‘continue in the grace of God.’ And this is necessary to the Christian life, but it is not all that is necessary. To abide is not to be stationary. The Apostle Peter here instructs us that it is required of Christians that they not only continue in grace, but grow in grace” (= Rasul Paulus dicatat telah memerintahkan petobat-petobatnya untuk ‘tetap / terus dalam kasih karunia Allah’. Dan ini perlu bagi kehidupan orang Kristen, tetapi ini bukanlah semua yang perlu. ‘Tinggal’ bukanlah menjadi diam / tak bergerak / tak berubah. Rasul Petrus di sini menginstruksikan kita bahwa diwajibkan / diharuskan untuk orang-orang Kristen bahwa mereka bukan hanya tetap / terus dalam kasih karunia, tetapi bertumbuh dalam kasih karunia).

Bdk. Kis 13:43 - “Setelah selesai ibadah, banyak orang Yahudi dan penganut-penganut agama Yahudi yang takut akan Allah, mengikuti Paulus dan Barnabas; kedua rasul itu mengajar mereka dan menasihati supaya mereka tetap hidup di dalam kasih karunia Allah.

KJV: ‘to continue in the grace of God’ (= untuk tetap / terus ada di dalam kasih karunia Allah).

 

d)   Mengapa kita harus bertumbuh dalam kasih karunia?

 

The Biblical Illustrator (New Testament): There is no such thing as standing still in religion (= Tidak ada hal seperti berdiri diam dalam agama).

 

Pulpit Commentary: Growth is necessary for steadfastness; we cannot persevere unless we continually advance in faith (comp. 1 Peter 1:5-7; 2:2). ... St. Peter insists on the knowledge of Christ as essential for growth in grace, at the beginning, as at the end, of this Epistle [= Pertumbuhan adalah perlu untuk kesetiaan; kita tidak bisa bertekun kecuali kita terus menerus maju dalam iman (bdk. 1Pet 1:5-7; 2:2). ... Santo Petrus berkeras tentang pengetahuan / pengenalan tentang Kristus sebagai sesuatu yang penting / hakiki untuk pertumbuhan dalam kasih karunia, pada awal, seperti pada akhir, dari surat ini].

Catatan: saya kira ada salah cetak di sini, mungkin sekali yang dimaksudkan bukan 1Pet 1:5-7 tetapi 2Pet 1:5-7. Dan perintah untuk bertumbuh dalam kasih karunia pada akhir dari surat 2Petrus ini, memang jelas sangat berhubungan dengan perintah untuk bertumbuh dalam 2Pet 1:5-7 yang ada pada awal dari surat 2Petrus ini.

2Pet 1:5-7 - “(5) Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, (6) dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, (7) dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang”.

1Pet 2:2 - “Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan”.

 

The Biblical Illustrator (New Testament): Lastly, WHAT HAPPENS TO US IF WE DO NOT GROW? My text begins with a ‘but,’ and that throws us back to what goes before. The connection which is thus established is very noteworthy and monitory. ‘Beware lest ye also... fall from your own steadfastness; but grow.’ So, then, the only way to prevent falling is growth; and if you are not growing, you are certainly falling (= Yang terakhir, apa yang terjadi pada kita jika kita tidak bertumbuh? Text saya mulai dengan suatu kata ‘tetapi’, dan kata itu melemparkan kita kembali pada apa yang ada di depan. Hubungan yang dibuat / ditegakkan sangat perlu diperhatikan dan bersifat memperingatkan. ‘Waspadalah supaya jangan kamu juga ... jatuh dari kesetiaanmu sendiri; tetapi bertumbuhlah’. Maka, satu-satunya jalan untuk mencegah kejatuhan adalah pertumbuhan; dan jika engkau tidak sedang bertumbuh, engkau pasti sedang jatuh).

Bdk. 2Pet 1:8-11 - “(8) Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. (9) Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. (10) Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. (11) Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus”.

 

The Biblical Illustrator (New Testament): The growth of grace will hinder the growth of corruption (= Pertumbuhan kasih karunia akan menghalangi pertumbuhan kejahatan).

 

e)   Kita harus selalu / terus menerus bertumbuh.

 

Bible Knowledge Commentary: The verb ‘grow’ is a present imperative, which could be rendered ‘be continually growing.’ (= Kata kerja ‘bertumbuhlah’ merupakan kata perintah bentuk present, yang bisa diterjemahkan ‘selalulah bertumbuh’).

 

The Biblical Illustrator (New Testament): Such as do not grow in grace, decay in grace. ‘Not to advance in the path of life is to return.’ (= Orang-orang yang tidak bertumbuh dalam kasih karunia, membusuk dalam kasih karunia. ‘Tidak maju dalam jalan kehidupan berarti kembali / mundur’).

 

Dalam faktanya kita tidak selalu bertumbuh. Pada saat kita sedang sakit secara rohani, pertumbuhan bisa terhenti, bahkan bisa saja terjadi kemunduran.

 

 

Catatan: merupakan sesuatu yang diperdebatkan apakah orang kristen yang sejati bisa mengalami kemunduran (back sliding). Orang Reformed tak percaya hal itu, berdasarkan Ro 8:28. Tetapi saya beranggapan ini tergantung dari sudut pandang siapa kita melihat hal itu. Dari sudut pandang Tuhan memang tidak bisa. Kalau Ia memang melakukan segala sesuatu bagi kebaikan kita, seperti yang dikatakan dalam Ro 8:28, bagaimana mungkin kita bisa mundur? Tetapi dari sudut pandang manusia, jelas kemunduran ini, apalagi hanya sekedar ketidak-majuan, bisa terjadi.

 

The Biblical Illustrator (New Testament): But do ye inquire why and wherefore we should thus grow in grace? Let us say that if we do not advance in grace it is a sorrowful sign. It is a mark of unhealthiness. It is an unhealthy child that grows not, a cankered tree that sends forth no fresh shoots (= Tetapi apakah kamu bertanya mengapa dan untuk apa kita harus bertumbuh dalam kasih karunia? Biarlah kita katakan bahwa jika kita tidak maju dalam kasih karunia itu merupakan suatu tanda yang menyedihkan. Itu adalah tanda dari ketidak-sehatan. Merupakan anak yang tidak sehat jika ia tidak bertumbuh, suatu pohon yang membusuk yang tidak mengeluarkan tunas yang baru).

 

The Biblical Illustrator (New Testament): When I say that every true believer grows in grace, it is not meant that he doth so every moment or every hour of his life. As it is in the natural body, there may be some disease or malady that will retard the growth for a time (= Ketika saya berkata bahwa setiap orang percaya yang sejati bertumbuh dalam kasih karunia, itu tidak berarti bahwa ia melakukan itu setiap saat atau setiap jam dari hidupnya. Seperti halnya dalam tubuh alamiah / jasmani, bisa ada beberapa penyakit yang akan menghambat pertumbuhan untuk sementara waktu).

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : buas22@yahoo.com

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali