Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Rabu, tanggal 28 Nopember 2012, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(0819-455-888-55)

buas22@yahoo.com

 

II Timotius 1:1-18(3)

 

Ay 6: “Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.”.

 

1)         “Karena itulah kuperingatkan engkau”.

NIV/NASB: ‘For this reason I remind you (= Untuk alasan ini kuingatkan engkau).

 

Matthew Henry: Here is an exhortation and excitation of Timothy to his duty (v. 6): ‘I put thee in remembrance.’ The best men need remembrancers; what we know we should be reminded of [= Di sini ada suatu desakan dan pembangkitan gairah terhadap Timotius kepada kewajibannya (ay 6): ‘Aku mengingatkan engkau’. Orang-orang yang terbaik perlu pengingatan; apa yang kita tahu, kita harus diingatkan tentangnya].

 

2)         “untuk mengobarkan karunia Allah”.

 

Bdk. 1Tim 4:14 - Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua.”.

 

Pulpit Commentary: “‘Stir up.’ (a)nazwpurei=n); here only in the New Testament, but found in the LXX. of Gen 45:27 and I Macc. 13:7, in an intransitive sense, ‘to revive.’ In both passages it is contrasted with a previous state of despondency (Gen 45:26) or fear (1 Macc. 13:2). We must, therefore, conclude that St. Paul knew Timothy to be cast down and depressed by his own imprisonment and imminent danger, and therefore exhorted him to revive ‘the spirit of power, and of love, and of a sound mind,’ which was given him at his ordination.” [= ‘Mengobarkan’. (a)nazwpurei=n / ANAZOPUREIN); hanya di sini dalam Perjanjian Baru, tetapi ditemukan dalam Septuaginta dari Kej 45:27 dan 1Makabe 13:7, dalam arti intransitif, ‘hidup / bangkit / segar kembali’. Dalam kedua text, itu dikontraskan dengan keadaan putus asa sebelumnya (Kej 45:26) atau takut (1Makabe 13:2). Karena itu, kita harus menyimpulkan bahwa Santo Paulus tahu Timotius kecil hati / sedih dan tertekan oleh pemenjaraannya dan bahaya yang dekat, dan karena itu mendesaknya untuk menghidupkan kembali ‘roh kekuatan, dan kasih, dan pikiran yang sehat’, yang diberikan kepadanya pada pentahbisannya.].

Kej 45:26-27 - “(26) Mereka menceritakan kepadanya: ‘Yusuf masih hidup, bahkan dialah yang menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir.’ Tetapi hati Yakub tetap dingin, sebab ia tidak dapat mempercayai mereka. (27) Tetapi ketika mereka menyampaikan kepadanya segala perkataan yang diucapkan Yusuf, dan ketika dilihatnya kereta yang dikirim oleh Yusuf untuk menjemputnya, maka bangkitlah kembali semangat Yakub, ayah mereka itu.”.

1Makabe 13:3,7 - “(2) Ia melihat pula bahwa rakyat bergetar ketakutan. Maka naiklah ia ke Yerusalem dan dikerahkannyalah segenap rakyat. ... (7) Demi perkataan ia didengar oleh rakyat maka berkobar-kobarlah semangat mereka karenanya.”.

Catatan: 1Makabe termasuk dalam Apocrypha / Deuterokanonika dan tidak kita akui sebagai Alkitab / Firman Tuhan, tetapi digunakan hanya sebagai suatu buku kuno, dan dalam hal arti kata masih bisa dipakai, sekalipun jelas otoritasnya berbeda dengan Alkitab / Firman Tuhan.

 

The Biblical Illustrator (New Testament): The apostle puts Timothy in rememberance ‘that he stir up the gift of God which is in him.’ Again and again he insists on this and similar counsels (see vers. 8, 14, 2:8, 15, 3:14). And then, as the letter draws to a close, he speaks in still more solemn tones of warning (2 Tim 4:1,2,5). Evidently the apostle is anxious lest even the rich gifts with which Timothy is endowed should be allowed to rust through want of use. Timidity and weakness may prove fatal to him and his work, in spite of the spiritual advantages which he has enjoyed. [= Sang rasul mengingatkan Timotius ‘supaya ia mengobarkan karunia Allah yang ada dalam dia’. Berulang-ulang ia berkeras tentang hal ini dan nasehat-nasehat yang serupa (lihat ayat-ayat 8,14, 2:8,15, 3:14). Dan lalu, pada saat surat itu hampir sampai pada akhirnya, ia berbicara dengan nada peringatan yang lebih khidmat (2Tim 4:1,2,5). Jelas bahwa sang rasul kuatir bahwa bahkan karunia-karunia yang kaya dengan mana Timotius diberkati dibiarkan berkarat karena tidak digunakan. Ketakutan dan kelemahan bisa terbukti fatal baginya dan pekerjaannya, sekalipun ada keuntungan-keuntungan rohani yang telah ia nikmati.].

2Tim 1:8 - “Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi InjilNya oleh kekuatan Allah.”.

2Tim 1:14 - “Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakanNya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita.”.

2Tim 2:8 - “Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku.”.

2Tim 2:15 - “Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.”.

2Tim 3:14 - “Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.”.

 

Adam Clarke: “‘Stir up the gift of God, which is in thee.’ The gift which Timothy had received was the Holy Spirit; and through him, a particular power to preach and defend the truth. This gift is represented here, under the notion of a fire, which, if it be not frequently stirred up, and fresh fuel added to it, will go out. This is the precise idea which the apostle had in his mind; hence, the term ‎anazoopurein‎, which signifies to stir up the fire; to add fresh fuel to it. From this it plainly appears, that if Timothy had not continued to be a daily worker with God, he would have received the grace of God in vain. (= ‘Kobarkanlah karunia Allah, yang ada di dalam engkau’. Karunia yang telah Timotius terima adalah Roh Kudus; dan melalui Dia, suatu kuasa khusus untuk memberitakan dan mempertahankan kebenaran. Karunia ini digambarkan di sini, di bawah gagasan / gambaran suatu api, yang jika tidak secara sering dikobarkan, dan ditambahkan bahan bakar / bensin tambahan padanya, akan mati. Ini persis merupakan gagasan yang sang rasul punyai dalam pikirannya; karena itu digunakan istilah anazoopurein‎, yang berarti mengobarkan api; menambahkan bahan bakar / bensin tambahan padanya. Dari sini dengan jelas terlihat, bahwa jika Timotius tidak terus menerus menjadi seorang pekerja harian dengan Allah, ia akan menerima kasih karunia Allah dengan sia-sia.).

Catatan: saya tak mengerti mengapa Adam Clarke menafsirkan kata-kata ‘karunia Allah’ sebagai Roh Kudus. Saya kira seharusnya menunjuk pada ‘karunia Allah’ itu sendiri.

 

The Biblical Illustrator (New Testament): Be diligent in the discharge of thy duty; avoid idleness in thy calling. (= Rajinlah dalam penunaian kewajibanmu; hindarkanlah kemalasan dalam panggilanmu.).

 

Jamieson, Fausset & Brown: “‘Stir up,’ (‎anazoopurein) - ‘kindle up:’ fan into a flame: the opposite of ‘quench,’ or extinguish (1 Thess 5:19). Paul does not doubt Timothy’s faith; but, just because of his ‘persuasion’ of its reality, urges him to put it in full exercise. Timothy probably had become dispirited by the long absence and imprisonment of his spiritual father. [= ‘mengobarkan’, (‎anazoopurein) - ‘mengobarkan’; mengipasi menjadi nyala api: lawan kata dari ‘memadamkan’, atau mematikan (1Tes 5:19). Paulus tidak meragukan iman Timotius; tetapi justru karena kepercayaannya tentang realitanya, mendesak dia untuk menggunakannya dengan sepenuhnya. Timotius mungkin telah menjadi kecil hati / putus asa oleh absen dan pemenjaraan yang lama dari bapa rohaninya.].

1Tes 5:19 - “Janganlah padamkan Roh,”.

 

William Hendriksen: Paul knew that the fire of Timothy’s charisma (the gift of God’s grace which enabled the younger man to become the apostle’s chosen representative) was burning low. Once before, in the earlier letter, the apostle had written, ‘Do not grow careless about the gift that is within you, which was granted to you by prophetic utterance with the laying on of the hands of the presbytery’ (I Tim. 4:14; see on that passage). The repetition, in slightly altered form, of this exhortation is really not surprising. We should bear in mind the following: a. Timothy was handicapped by frequent physical ailments (I Tim. 5:23). b. He was naturally timid (‘Now if Timothy comes, see to it that he is with you without fear,’ I Cor. 16:10). c. He was, in a sense, ‘a young man’ (I Tim. 4:12; cf. II Tim. 2:22). d. The Ephesian errorists who opposed him were very determined (I Tim. 1:3–7, 19, 20; 4:6, 7; 6:3–10; II Tim. 2:14–19, 23). e. Believers were being persecuted by the State. Think of Paul (I Tim. 4:6). Of course, we do not know whether all or only some of these factors contributed to the expressed result, namely, that the flame of Timothy’s ministerial office needed attention, nor do we know to what extent each contributed. The main idea, however, is clear. So Paul, having carefully selected the most gentle verb, reminds Timothy to ‘stir (up) into a living flame’ the divine gift of ordination. The flame had not gone out, but it was burning slowly and had to be agitated to white heat. The times were serious. Paul was about to depart from the scene of history. Timothy must carry on where Paul was about to leave off. The gift of the Spirit must not be quenched (cf. I Thess. 5:19). [= Paulus tahu bahwa api dari KHARISMA Timotius (karunia dari kasih karunia Allah yang memampukan orang yang lebih muda ini untuk menjadi wakil pilihan dari sang rasul) sudah menyala dengan lemah. Sekali sebelumnya, dalam surat yang terdahulu, sang rasul telah menulis, ‘Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua’ (1Tim 4:14; lihat tentang text itu). Pengulangan, dalam bentuk yang diubah sedikit, dari desakan / nasehat ini betul-betul tidak mengejutkan. Kita harus mencamkan hal-hal berikut ini: a. Timotius dihalangi / dirintangi oleh penyakit fisik yang sering (1Tim 5:23). b. Ia secara alamiah adalah penakut (‘Jika Timotius datang kepadamu, usahakanlah supaya ia berada di tengah-tengah kamu tanpa takut’, 1Kor 16:10). c. Ia adalah, ‘seorang muda’ (1Tim 4:12; bdk. 2Tim 2:22). d. Orang-orang sesat Efesus yang menentang dia sangat tekun / berketetapan hati (1Tim 1:3–7,19,20; 4:6,7; 6:3–10; 2Tim 2:14–19,23). e. Orang-orang percaya sedang dianiaya oleh pemerintah. Pikirkan tentang Paulus (I Tim 4:6). Tentu kita tidak tahu apakah semua atau hanya sebagian / beberapa dari faktor-faktor ini memberikan kontribusi pada hasil yang dinyatakan, yaitu bahwa nyala api dari tugas pelayanan Timotius membutuhkan perhatian, juga kita tidak tahu sampai tingkat apa masing-masing memberi kontribusi. Tetapi gagasan utamanya adalah jelas. Demikianlah Paulus, setelah dengan hati-hati memilih kata kerja yang paling lembut, mengingatkan Timotius untuk ‘mengobarkan menjadi nyala api yang hidup’ karunia ilahi dari pentahbisan. Nyala api itu belum mati, tetapi itu sedang membakar dengan lambat dan harus digerakkan / dirangsang pada panas yang membara. Masa itu adalah masa yang serius. Paulus sedang mau meninggalkan kancah sejarah. Timotius harus melanjutkan dimana Paulus akan berhenti. Karunia dari Roh tidak boleh dipadamkan (bdk. 1Tes 5:19).].

1Tim 5:23 - “Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah.”.

1Tim 4:12 - “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.”.

2Tim 2:22 - “Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.”.

1Tim 1:3-7 - “(3) Ketika aku hendak meneruskan perjalananku ke wilayah Makedonia, aku telah mendesak engkau supaya engkau tinggal di Efesus dan menasihatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain (4) ataupun sibuk dengan dongeng dan silsilah yang tiada putus-putusnya, yang hanya menghasilkan persoalan belaka, dan bukan tertib hidup keselamatan yang diberikan Allah dalam iman. (5) Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. (6) Tetapi ada orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam omongan yang sia-sia. (7) Mereka itu hendak menjadi pengajar hukum Taurat tanpa mengerti perkataan mereka sendiri dan pokok-pokok yang secara mutlak mereka kemukakan.

 

Calvin: This exhortation is highly necessary; for it usually happens, and may be said to be natural, that the excellence of gifts produces carelessness, which is also accompanied by sloth; and Satan continually labors to extinguish all that is of God in us. We ought, therefore, on the other hand, to strive to bring to perfection everything that is good in us, and to kindle what is languid; for the metaphor, which Paul employs, is taken from a fire which was feeble, or that was in course of being gradually extinguished, if strength and flame were not added, by blowing upon it and by supplying new fuel. Let us therefore remember that we ought to apply to use the gifts of God, lest, being unemployed and concealed, they gather rust. Let us also remember that we should diligently profit by them, lest they be extinguished by our slothfulness. (= Desakan / nasehat ini sebagai dibutuhkan; karena yang biasanya terjadi, dan bisa dikatakan sebagai alamiah, bahwa keunggulan dari karunia-karunia menghasilkan kecerobohan, yang juga disertai dengan kemalasan; dan Iblis secara terus menerus berjerih payah untuk memadamkan semua hal yang dari Allah dalam diri kita. Karena itu, kita harus, sebaliknya, berjuang untuk membawa kepada kesempurnaan segala sesuatu yang baik dalam diri kita, dan mengobarkan apa yang lesu / tak bersemangat; karena kiasan yang Paulus gunakan, diambil dari api yang lemah, atau yang secara perlahan-lahan mau padam, jika kekuatan dan nyala tidak ditambahkan, dengan mengipasinya dan menambahkan bahan bakar / bensin yang baru. Karena itu hendaklah kita mengingat bahwa kita harus menggunakan karunia-karunia dari Allah, supaya jangan, karena tak digunakan dan disembunyikan, karunia-karunia itu berkarat. Hendaklah kita juga mengingat bahwa kita harus secara rajin mendapatkan manfaat oleh karunia-karunia itu, supaya jangan mereka dipadamkan oleh kemalasan kita.).

 

The Biblical Illustrator (New Testament): HOW WE ARE TO STIR UP OUR GIFTS. 1. First, we should do it by examination to see what gifts we really have. ... 2. The next mode of stirring up our gift is to consider to what use we could put the talents we possess. ... 3. But, next, stir it up not merely by consideration and examination, but by actually using it. 4. And then, in addition to using our gift, every one of us should try to improve it. 5. And then pray over your gifts: (= Bagaimana kita harus mengobarkan karunia-karunia kita. 1. Pertama, kita harus melakukannya dengan pemeriksaan untuk melihat karunia-karunia apa yang kita betul-betul punyai. ... 2. Mode selanjutnya tentang pengobaran karunia-karunia adalah mempertimbangkan penggunaan apa yang bisa kita lakukan dengan talenta-talenta yang kita punyai. ... 3. Tetapi selanjutnya, kobarkanlah itu bukan hanya dengan pertimbangan dan pemeriksaan, tetapi dengan sungguh-sungguh menggunakannya. 4. Dan lalu, sebagai tambahan pada penggunaan karunia-karunia kita, setiap orang dari kita harus berusaha untuk meningkatkannya. 5. Dan lalu berdoalah untuk karunia-karuniamu:).

 

2)         yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu..

Bdk. 1Tim 4:14 - “Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua.”.

 

Ada penafsir yang mempunyai pandangan bahwa pada jaman itu memang penumpangan tangan dari rasul itu yang menyebabkan terjadinya pemberian karunia, tetapi itu hanya bisa terjadi pada jaman itu. Kita tidak bisa dan tidak boleh menirunya, karena kita tidak diberi hak / otoritas dalam hal itu.

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: Paul reminded Timothy of the time God called him into service and the local church ordained him. Paul had laid his hands on Timothy (1 Tim 4:14). Through Paul, God had imparted to Timothy the spiritual gift he needed for His ministry. The laying on of hands was a common practice in apostolic days (Acts 6:6; 13:3), but no believer today has the same authority and privileges that the Apostles did. Today, when we lay hands on people for the ministry, it is a symbolic act and does not necessarily impart any special spiritual gifts to them. [= Paulus mengingatkan Timotius tentang saat Allah memanggilnya ke dalam pelayanan dan gereja lokal mentahbiskannya. Paulus telah meletakkan tangannya pada Timotius (1Tim 4:14). Melalui Paulus, Allah telah memberikan kepada Timotius karunia rohani yang ia butuhkan untuk pelayananNya. Penumpangan tangan merupakan praktek yang umum / biasa pada jaman rasuli (Kis 6:6; 13:3), tetapi tidak ada orang percaya jaman sekarang yang mempunyai otoritas dan hak yang sama dengan para rasul. Jaman sekarang, pada waktu kita meletakkan / menumpangkan tangan atas orang-orang untuk pelayanan, itu merupakan suatu tindakan simbolis dan tidak harus memberikan karunia-karunia rohani khusus kepada mereka.].

Kis 6:6 - “Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itupun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka.”.

Kis 13:3 - Maka berpuasa dan berdoalah mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi..

 

Tetapi kebanyakan penafsir tidak berpandangan bahwa Timotius menerima karunia oleh nubuat ataupun penumpangan tangan.

 

Vincent (tentang 1Tim 4:14): “‘By prophecy,’ (dia profeeteias). ... The meaning is ‘by the medium of prophecy.’ The reference is to prophetic intimation given to Paul concerning the selection of Timothy for the ministerial office. These prophecies were given by the Holy Spirit who bestowed the ‘gift’; so that the gift itself and the prophecy concurred in attesting the candidate for ordination” [= ‘Oleh nubuat’, (dia profeeteias). ... Artinya adalah ‘oleh / dengan perantaraan nubuat’. Ini menunjuk pada pemberitahuan yang bersifat nubuat yang diberikan kepada Paulus berkenaan dengan pemilihan Timotius untuk tugas / jabatan pendeta. Nubuat-nubuat ini diberikan oleh Roh Kudus yang memberikan ‘karunia’ itu; sehingga karunia itu sendiri dan nubuatnya setuju dalam menyokong sang calon untuk pentahbisan].

Catatan: kata kerja ‘to concur’ bisa berarti ‘setuju’, tetapi bisa juga berarti ‘terjadi pada saat yang sama’ (Webster’s New World Dictionary).

 

A. T. Robertson (tentang 1Tim 4:14): “‘By prophecy.’ (dia profeeteias). Accompanied by prophecy (1 Tim. 1:18), not bestowed by prophecy” [= ‘Oleh nubuat’. (dia profeeteias). Disertai oleh nubuat (1Tim 1:18), bukan diberikan oleh nubuat].

1Tim 1:18 - “Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni”.

 

A. T. Robertson (tentang 1Tim 4:14): “‘With the laying on of the hands of the presbytery.’ (meta epitheseoos ton cheiroon tou presbuteriou). In Acts 13:2f, when Barnabas and Saul were formally set apart to the mission campaign (not then ordained as ministers, for they were already that), there was the call of the Spirit and the laying on of hands with prayer. Here again meta does not express instrument or means, but merely accompaniment. In 2 Tim. 1:6 Paul speaks only of his own laying on of hands, but the rest of the presbytery no doubt did so at the same time and the reference is to this incident” [= ‘Dengan penumpangan tangan sidang penatua’. (meta epitheseoos ton cheiroon tou presbuteriou). Dalam Kis 13:2-dst, pada waktu Barnabas dan Saulus secara formil dipisahkan untuk kampanye missi (bukan ditahbiskan sebagai pendeta / pelayan pada saat itu, karena mereka sudah adalah pendeta / pelayan), di sana ada panggilan dari Roh dan penumpangan tangan dengan doa. Di sini lagi-lagi kata Yunani META tidak menyatakan alat atau cara / jalan, tetapi semata-mata penyertaan. Dalam 2Tim 1:6 Paulus berbicara hanya tentang penumpangan tangannya, tetapi sisa dari penatua tak diragukan juga melakukannya pada saat yang sama dan bagian ini menunjuk pada peristiwa ini].

2Tim 1:6 - “Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.”.

Kis 13:2-3 - “(2) Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: ‘Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.’ (3) Maka berpuasa dan berdoalah mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi.”.

 

Jadi, jelas bahwa baik Vincent maupun A. T. Robertson mengatakan bahwa penumpangan tangan itu bukan alat / cara / jalan yang menyebabkan Timotius menerima karunia. Tetapi penumpangan tangan itu hanya menyertai pemberian karunia kepada Timotius. Pemberi karunia itu sendiri pasti adalah Roh Kudus / Tuhan sendiri.

Bdk. 1Kor 12:11 - “Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya.

 

Karena itu, jangan menggunakan ayat ini sebagai dasar ajaran / praktek bahwa dengan menumpangkan tangan, seorang pendeta / hamba Tuhan bisa memberikan karunia tertentu kepada seseorang (biasanya karunia bahasa Roh). Ini omong kosong. Kalau itu tetap terjadi, perlu dipertanyakan:

a)   Karunianya asli atau palsu?

b)   Siapa yang memberi karunia itu, Tuhan, setan, atau orang itu sendiri?

 

William Hendriksen: Let Timothy remember, then, that at the time of his ordination Paul’s hands, too, had rested upon him as a symbol of the impartation of the Spirit’s gift! (= Maka, hendaklah Timotius ingat, bahwa pada saat pentahbisannya tangan Paulus juga diletakkan atasnya sebagai suatu simbol dari pemberian karunia Roh!).

 

Calvin: it is asked, ‘Was grace given by the outward sign?’ To this question I answer, whenever ministers were ordained, they were recommended to God by the prayers of the whole Church, and in this manner grace from God was obtained for them by prayer, and was not given to them by virtue of the sign, although the sign was not uselessly or unprofitably employed, but was a sure pledge of that grace which they received from God’s own hand. That ceremony was not a profane act, invented for the sole purpose of procuring credit in the eyes of men, but a lawful consecration before God, which is not performed but by the power of the Holy Spirit. Besides, Paul takes the sign for the whole matter or the whole transaction; for he declares that Timothy was endued with grace, when he was offered to God as a minister. Thus in this mode of expression there is a figure of speech, in which a part is taken for the whole (= ditanyakan, ‘Apakah kasih karunia diberikan oleh tanda lahiriah?’ Terhadap pertanyaan ini saya menjawab, kapanpun pendeta-pendeta ditahbiskan, mereka diserahkan kepada Allah oleh doa-doa dari seluruh Gereja, dan dengan cara ini kasih karunia dari Allah didapatkan bagi mereka oleh doa, dan tidak diberikan kepada mereka oleh kebaikan dari tanda, sekalipun tanda itu tidaklah digunakan / dipakai secara tak berguna atau secara tak bermanfaat, tetapi merupakan suatu tanda / jaminan yang pasti bahwa kasih karunia itu mereka terima dari tangan Allah sendiri. Upacara itu bukanlah suatu tindakan biasa / duniawi, ditemukan / diciptakan dengan tujuan satu-satunya untuk mendapatkan penghargaan / pujian di mata manusia, tetapi suatu pentahbisan yang sah di hadapan Allah, yang tidak dilakukan kecuali oleh kuasa dari Roh Kudus. Disamping, Paulus mengartikan tanda itu untuk seluruh persoalan atau seluruh transaksi; karena ia menyatakan bahwa Timotius diberi kasih karunia, pada waktu ia dipersembahkan kepada Allah sebagai seorang pendeta. Karena itu, dalam cara menyatakan ini ada suatu gaya bahasa, dalam mana sebagian diartikan sebagai seluruhnya).

 

Calvin: But we are again met by another question; for if it was only at his ordination that Timothy obtained the grace necessary for discharging his office, of what nature was the election of a man not yet fit or qualified, but hitherto void and destitute of the gift of God? I answer, it was not then so given to him that he had it not before; for it is certain that he excelled both in doctrine and in other gifts before Paul ordained him to the ministry. But there is no inconsistency in saying, that, when God wished to make use of his services, and accordingly called him, he then fitted and enriched him still more with new gifts, or doubled those which he had previously bestowed. It does not therefore follow that Timothy had not formerly any gift, but it shone forth the more when the duty of teaching was laid upon him (= Tetapi kita menemui pertanyaan yang lain lagi; karena jika hanya pada saat pentahbisannya Timotius mendapatkan kasih karunia yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas / jabatannya, jenis pemilihan apa pemilihan dari seorang manusia yang belum cocok atau memenuhi syarat, tetapi sampai saat ini tidak mempunyai karunia Allah? Saya menjawab, itu bukannya diberikan kepadanya seakan-akan ia belum mempunyainya sebelumnya; karena adalah pasti bahwa ia menonjol baik dalam doktrin / ajaran maupun dalam karunia-karunia lain sebelum Paulus mentahbiskannya pada pelayanan. Tetapi di sana tidak ada ketidak-konsistenan dalam mengatakan bahwa pada waktu Allah menginginkan untuk menggunakan pelayanannya, dan karena itu memanggilnya, Ia lalu menyesuaikan dan memperkaya dia lebih lagi dengan karunia-karunia yang baru, atau menggandakan karunia-karunia yang sebelumnya sudah Ia berikan. Karena itu, tidak berarti bahwa Timotius sebelumnya tidak mempunyai karunia apapun, tetapi itu makin bersinar pada waktu kewajiban pengajaran diletakkan kepadanya).

 

 

 

-bersambung-

 

      

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : buas22@yahoo.com

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali