Pemahaman Alkitab
(Rungkut
Megah Raya, blok D no 16)
Rabu,
tanggal 12 Maret 2014, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
II Timotius 2:1-26(16)
2Tim 2:14-26
- “(14) Ingatkanlah dan
pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan
Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak
berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya. (15) Usahakanlah supaya
engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu,
yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. (16) Tetapi
hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah
kefasikan. (17) Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara
mereka termasuk Himeneus dan Filetus, (18) yang telah menyimpang dari
kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan
dengan demikian merusak iman sebagian orang. (19) Tetapi dasar yang diletakkan
Allah itu teguh dan meterainya ialah: ‘Tuhan mengenal siapa kepunyaanNya’
dan ‘Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan
kejahatan.’ (20) Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari
emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk
maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia. (21) Jika
seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot
rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai
tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia. (22) Sebab itu
jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai
bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.
(23) Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau
tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, (24) sedangkan seorang
hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang.
Ia harus cakap mengajar, sabar (25) dan dengan lemah lembut dapat menuntun
orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada
mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran,
(26) dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari
jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.”.
Ay 22: “Sebab
itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai
bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.”.
William
Hendriksen: “The
way to cleanse oneself is to become detached
from that which is evil and attached
to that which is good. Hence, Paul continues: ‘But from the desires of youth flee away, and run after righteousness,
faith, love, peace with those who call upon the Lord out of pure hearts.’”
(= Cara / jalan untuk membersihkan diri sendiri adalah dengan memisahkan dari
apa yang jahat dan melekatkan pada apa yang baik. Maka, Paulus melanjutkan:
‘Tetapi larilah dari keinginan-keinginan orang muda, dan kejarlah kebenaran,
kesetiaan, kasih, damai dengan mereka yang memanggil Tuhan dari hati yang
murni.’).
1)
“Sebab itu jauhilah nafsu
orang muda,”.
Kata
‘nafsu’.
KJV/NASB:
‘lusts’ (= nafsu-nafsu).
RSV:
‘passions’ (= nafsu-nafsu /
keinginan-keinginan).
NIV:
‘desires’ (= keinginan-keinginan).
Kata
‘jauhilah’.
RSV:
‘shun’ (= hindarilah / jauhilah).
KJV/NIV/NASB/ASV/NKJV:
‘flee’ (= larilah).
Yang
terakhir ini menurut saya merupakan terjemahan yang lebih tepat.
Timotius
harus menjauhi / lari dari hal-hal yang negatif.
Mengapa
Paulus mengatakan ‘nafsu orang muda’?
Calvin:
“By this term he does not mean either
a propensity to uncleanness, or any of those licentious courses or sinful lusts
in which young men frequently indulge, but any impetuous passions to which the
excessive warmth of that age is prone. If some debate has arisen, young men more
quickly grow warm, are more easily irritated, more frequently blunder through
want of experience, and rush forward with greater confidence and rashness, than
men of riper age. With good reason, therefore, does Paul advise Timothy, being a
young man, to be strictly on his guard against the vices of youth, which
otherwise might easily drive him to useless disputes.”
(= Dengan istilah ini ia tidak memaksudkan atau suatu kecenderungan pada
kenajisan, atau apapun dari jalan-jalan yang tidak mempedulikan hukum atau
nafsu-nafsu yang berdosa, dalam mana orang-orang muda sering memuaskan diri, tetapi
nafsu / keinginan yang tergesa-gesa / tak sabar pada mana kehangatan yang
berlebihan dari usia itu condong. Jika suatu perdebatan muncul,
orang-orang muda menjadi panas dengan lebih cepat, lebih mudah jengkel, lebih
sering melakukan blunder karena kurangnya pengalaman, dan maju dengan gegabah
dengan keyakinan yang lebih besar dan kegegabahan, dari pada orang dengan
usia yang lebih matang. Karena itu, dengan alasan yang baik Paulus menasihati
Timotius, yang adalah seorang muda, untuk secara ketat berjaga-jaga terhadap
kejahatan-kejahatan dari orang muda, yang kalau tidak, bisa dengan mudah
mendorong dia pada pertengkaran yang sia-sia.).
Saya
meragukan penafsiran Calvin tentang hal ini. Alasan saya, kalau hanya untuk hal
seperti itu, mengapa Paulus menggunakan istilah yang begitu keras, yaitu ‘flee’ (= larilah)? Bandingkan dengan komentar-komentar Albert
Barnes di bawah ini.
Barnes’
Notes:
“‘Flee also youthful
lusts.’ Such passions as youth are subject to. On the word ‘flee,’ and the
pertinency of its use in such a connection, see the notes at 1 Cor 6:18. Paul
felt that Timothy, then a young man, was subject to the same passions as other
young men; and hence, his repeated cautions to him to avoid all those things,
arising from his youth, which might be the occasion of scandal; ... It is to be
remembered that this Epistle is applicable to other ministers, as well as to
Timothy; and, to a young man in the ministry, no counsel could be more
appropriate than to ‘FLEE from youthful lusts;’ not to indulge for a moment
in those corrupt passions to which youth are subject,” (= ‘Larilah juga dari nafsu-nafsu orang muda’. Nafsu-nafsu seperti
itu terhadap mana orang muda condong. Tentang kata ‘larilah’, dan kecocokan
dari penggunaannya dalam hubungan seperti itu, lihat catatan pada 1Kor 6:18.
Paulus merasa bahwa Timotius, yang pada saat itu adalah seorang muda, condong
pada nafsu-nafsu yang sama seperti orang-orang muda yang lain; dan karena itu ia
memberinya peringatan berulang-ulang untuk menghindari semua hal-hal itu,
yang muncul dari kemudaannya, yang bisa menjadi penyebab dari skandal; ...
Harus diingat bahwa Surat ini berlaku untuk pendeta-pendeta lain, maupun untuk
Timotius; dan bagi seorang muda dalam pelayanan, tak ada nasehat yang bisa lebih
cocok dari pada untuk ‘lari
dari nafsu-nafsu orang muda’; tidak memuaskan diri sesaatpun dalam nafsu-nafsu
yang rusak / jahat itu pada mana orang muda condong,).
Barnes’
Notes (tentang 1Kor 6:18): “There
is force and emphasis in the word ‘flee’ feugate.
Man should ESCAPE from it; he should not stay to REASON about it; to debate
the matter; or even to CONTEND with his propensities, and to try the strength of
his virtue. There are some sins which a man can RESIST; some about which he can
reason without danger of pollution. But this is a sin where a man is SAFE only
when he flies; free from pollution only when he refuses to entertain a thought
of it; secure when he seeks a victory by flight, and a conquest by retreat. Let
a man turn away from it without reflection on it and he is safe. Let him think,
and reason, and he may be ruined.” (= Ada kekuatan dan
penekanan dalam kata ‘larilah’ FEUGATE. Orang harus LOLOS darinya; ia tidak
boleh tinggal untuk BERARGUMENTASI tentangnya; memperdebatkan persoalan itu;
atau bahkan menentang / melawannya dengan kecondongan-kecondongannya, dan
mencoba / menguji kekuatan dari kebaikannya. Ada beberapa dosa-dosa yang
orang bisa TAHAN; beberapa tentang mana ia bisa berargumentasi tanpa bahaya dari
polusi. Tetapi ada suatu dosa dimana seseorang AMAN hanya kalau ia terbang /
lari; bebas dari polusi hanya kalau ia menolak untuk mengenangnya; aman kalau ia
mencari suatu kemenangan dengan lari, dan suatu penaklukan dengan mundur.
Biarlah seseorang berbalik darinya tanpa pemikiran tentangnya dan ia aman.
Biarlah ia berpikir, dan berargumentasi, dan ia bisa / mungkin dihancurkan.).
Bdk.
Kej 39:7-12 - “(7) Selang beberapa waktu isteri
tuannya memandang Yusuf dengan berahi, lalu katanya: ‘Marilah tidur dengan
aku.’ (8) Tetapi Yusuf menolak dan berkata kepada isteri tuannya itu:
‘Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan
ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku, (9) bahkan di rumah ini
ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya
kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin
aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?’ (10)
Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak
mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia.
(11) Pada suatu hari masuklah Yusuf ke dalam rumah untuk melakukan pekerjaannya,
sedang dari seisi rumah itu seorangpun tidak ada di rumah. (12) Lalu perempuan
itu memegang baju Yusuf sambil berkata: ‘Marilah tidur dengan aku.’ Tetapi
Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar.”.
William
Hendriksen: “The
word ‘desire’ that is used
in the original, whether in a favorable or unfavorable sense, always indicates strong
yearning. As the footnote indicates, it is used far more often in an
unfavorable than in a favorable sense. In the present passage, it is definitely sinful desire that is meant (‘From the desires of youth flee
away’). Such sinful desires, as the footnote also proves, can be
classified more or less after the manner of modern psychology (though here
these yearnings would hardly be called sinful),
as follows: (1). Pleasure, etc.,
the inordinate craving for the satisfaction of the physical appetites: the
‘lust’ for food and drink, pleasure-madness, uncontrolled sexual desire
(Rom. 1:24; Rev. 18:14, etc.) (2). Power,
etc., the ungoverned passion to be Number 1, the lust to ‘shine’ or be
dominant. This results in envy, quarrelsomeness, etc. This sinful tendency is
included prominently in such references as Gal. 5:16, 24; II Peter 2:10, 18;
Jude 16, 18. (3). Possessions,
etc., uncontrolled yearning for material possessions and for the ‘glory’
that goes with them (see I Tim. 6:9 in its context).”
[= Kata ‘keinginan’ yang digunakan dalam bahasa aslinya, apakah dalam arti
yang baik atau tidak baik, selalu menunjukkan hasrat yang kuat. Seperti
ditunjukkan dalam catatan kaki, itu digunakan jauh lebih sering dalam arti yang
tidak baik dari pada dalam arti yang baik. Dalam text saat ini, jelas keinginan
berdosa yang dimaksudkan (‘Dari keinginan-keinginan orang muda larilah’).
Keinginan-keinginan berdosa seperti itu, seperti juga dibuktikan pada catatan
kaki, bisa digolongkan lebih kurang seperti cara dari psikologi modern (sekalipun
di sini hasrat-hasrat ini hampir tak bisa disebut berdosa), sebagai berikut:
(1.) Kesenangan, dsb., kebutuhan yang sangat banyak untuk pemuasan dari
nafsu-nafsu / keinginan-keinginan fisik: ‘nafsu’ untuk makanan dan minuman,
kegilaan terhadap kesenangan, keinginan sex yang tak terkontrol (Ro 1:24; Wah
18:14, dsb.) (2.) Kekuasaan, dsb., nafsu / keinginan yang tak terkuasai untuk
menjadi yang nomor satu, nafsu untuk ‘bersinar’ atau menjadi dominan. Ini
menghasilkan iri hati, kesukaan bertengkar, dsb. Kecenderungan berdosa ini
termasuk secara menyolok dalam referensi-referensi seperti Gal 5:16,24; 2Pet 2:10,18; Yudas 16,18.
(3.) Milik, dsb., hasrat yang tidak terkendali untuk kepemilikan materi dan
untuk ‘kemuliaan’ yang berjalan bersama mereka (lihat 1Tim 1:9 dalam
kontextnya).].
Catatan:
saya tak mengerti bagian yang saya garis-bawahi, bagaimana mungkin William
Hendriksen mengatakan bahwa itu hampir tak bisa disebut berdosa.
Ro
1:24 - “Karena
itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran,
sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.”.
Wah 18:14
- “Dan mereka akan berkata: ‘Sudah
lenyap buah-buahan yang diingini hatimu, dan segala yang mewah dan indah telah
hilang dari padamu, dan tidak akan ditemukan lagi.’”.
Gal
5:16,24 - “(16)
Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan
daging. ... (24) Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan
daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.”.
2Pet
2:10,18 - “(10)
terutama mereka yang menuruti hawa nafsunya karena ingin mencemarkan diri dan
yang menghina pemerintahan Allah. Mereka begitu berani dan angkuh, sehingga
tidak segan-segan menghujat kemuliaan, ... (18) Sebab mereka mengucapkan
kata-kata yang congkak dan hampa dan mempergunakan hawa nafsu cabul untuk
memikat orang-orang yang baru saja melepaskan diri dari mereka yang hidup
dalam kesesatan.”.
Yudas
16,18 - “(16)
Mereka itu orang-orang yang menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, hidup
menuruti hawa nafsunya, tetapi mulut mereka mengeluarkan perkataan-perkataan
yang bukan-bukan dan mereka menjilat orang untuk mendapat keuntungan. ... (18)
Sebab mereka telah mengatakan kepada kamu: ‘Menjelang akhir zaman akan
tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan
mereka.’”.
1Tim
1:9 - “yakni
dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar,
melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang
berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, bagi pembunuh bapa dan
pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya,”.
Catatan:
saya berpendapat 2 ayat pertama di atas tidak cocok untuk dijadikan referensi,
dan demikian juga dengan ayat yang terakhir.
William
Hendriksen: “Since
these inordinate desires often assert themselves more turbulently in youth than
in old age - as he grows older a Christian rises above them through the
sanctifying grace of the Holy Spirit, bringing him gradually to spiritual maturity
-, they are here fittingly called ‘the desires of
youth’”
[= Karena keinginan-keinginan yang banyak itu sering menyatakan diri mereka
sendiri dengan lebih bergolak pada usia muda dari pada pada usia tua - pada
waktu ia menjadi lebih tua, seorang Kristen naik di atas mereka melalui kasih
karunia yang menguduskan dari Roh Kudus, membawanya secara perlahan-lahan pada
kematangan rohani -, mereka di sini secara cocok dikatakan
‘keinginan-keinginan dari orang muda’].
2) “kejarlah
keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang
berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.”.
KJV/RSV/NIV/NASB:
‘righteousness, faith’ (=
kebenaran, iman / kesetiaan).
Calvin:
“‘With all that call on the
Lord.’ Here, by a figure of speech, in which a part is taken for the whole,
‘calling on God’ is taken generally for worship, if it be not thought
preferable to refer it to profession. But this is the chief part of the worship
of God, and for that reason ‘calling on God’ often signifies the whole of
religion or the worship of God.” (= ‘Bersama dengan semua orang yang berseru
kepada Tuhan’. Di sini suatu kiasan, dalam mana sebagian digunakan untuk
seluruhnya, ‘berseru kepada Allah’ biasanya digunakan untuk penyembahan /
ibadah, jika itu tidak dianggap lebih menunjuk pada pengakuan. Tetapi ini adalah
bagian utama dari penyembahan / ibadah kepada Allah, dan untuk alasan itu
‘berseru kepada Allah’ sering berarti seluruh agama atau penyembahan kepada
Allah.).
Calvin:
“But when he bids him seek ‘peace
with all that call upon the Lord,’ it is doubtful whether, on the one hand, he
holds out all believers as an example, as if he had said, that he ought to
pursue this in common with all the true worshippers of God, or, on the other
hand, he enjoins Timothy to cultivate peace with them. The latter meaning
appears to be more suitable.” (= Tetapi pada waktu ia meminta mereka
mencari ‘damai bersama semua orang yang berseru kepada Tuhan’, merupakan
sesuatu yang meragukan apakah, di satu sisi, ia menahan semua orang-orang
percaya sebagai suatu contoh, seakan-akan ia berkata, bahwa ia harus mengejar
ini bersama-sama dengan semua penyembah-penyembah Allah yang sejati, atau, di
sisi lain, ia memerintahkan Timotius untuk mengembangkan damai bersama / dengan
mereka. Arti yang belakangan kelihatannya lebih cocok.).
Bible
Knowledge Commentary: “While
Timothy must oppose the false teachers, he was to be at peace with his brethren
who were honest before God. The clear implication is that the false teachers
were dishonest before God (cf. 1 Tim 1:5; 4:2; 6:3-5).” [= Sementara Timotius
harus menentang guru-guru / pengajar-pengajar palsu, ia harus ada dalam damai
dengan saudara-saudaranya yang jujur di hadapan Allah. Kesan yang jelas adalah
bahwa guru-guru / pengajar-pengajar palsu tidak jujur di hadapan Allah (bdk. 1Tim 1:5; 4:2; 6:3-5).].
Catatan:
penafsir ini mengartikan hati nurani yang murni sebagai jujur. Mungkin tulus
lebih cocok.
1Tim 1:5
- “Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang
suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.”.
1Tim
4:2 - “oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya
memakai cap mereka.”.
1Tim
6:3-5 - “(3) Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut
perkataan sehat - yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus - dan tidak menurut
ajaran yang sesuai dengan ibadah kita, (4) ia adalah seorang yang berlagak tahu
padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat
kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, (5) percekcokan antara
orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang
mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan.”.
Penerapan:
karena itu hati-hati dengan nabi-nabi palsu, karena mereka pada umumnya
kelihatan penuh dengan kasih, sabar dsb, tetapi mereka tidak jujur / tulus!
Dengan kata lain, mereka hanya bersikap munafik!
William
Hendriksen: “From
the sinful tendencies of youth flee away, and run after (steadily pursue) the following: a. that state of heart
and mind which is in harmony with God’s law (‘righteousness’); b. humble
and dynamic confidence in God (‘faith’); c. deep personal affection for the
brothers, including in your benevolent interest even the enemies (‘love’);
and d. undisturbed, perfect understanding (‘peace’) with all Christians
(those who in prayer and praise ‘call upon’ the Lord Jesus Christ - cf. Joel
2:32; Rom. 10:12; I Cor. 1:2 - out of pure hearts). The ‘pure hearts’ ...
are the inner personalities of those who ‘stand aloof from unrighteousness’
(verse 19) and ‘have effectively cleansed themselves’ (verse 21).”
[= Dari kecenderungan-kecenderungan berdosa dari orang-orang muda, larilah, dan
kejarlah (kejarlah secara terus menerus) hal-hal yang berikut: a. keadaan hati
dan pikiran itu yang sesuai dengan hukum Allah (‘kebenaran’); b. keyakinan
yang rendah hati dan dinamis / bersemangat kepada Allah (‘iman’); c. rasa
sayang yang dalam dan bersifat pribadi untuk saudara-saudara, termasuk
kepedulianmu yang penuh kebajikan bahkan untuk musuh-musuh (‘kasih’); dan,
d. persetujuan timbal balik yang tak terganggu, sempurna (‘damai’) dengan
semua orang-orang Kristen (mereka yang dalam doa dan pujian ‘berseru kepada’
Tuhan Yesus Kristus - bdk. Yoel 2:32; Ro 10:12; 1Kor 1:2 - dari hati yang
murni). ‘Hati yang murni’ ... adalah kepribadian-kepribadian di dalam dari
mereka yang ‘berdiri jauh dari ketidak-benaran’ (ayat 19) dan ‘secara
efektif telah membersihkan diri mereka sendiri’ (ayat 21).].
Yoel
2:32 - “Dan
barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan, sebab di gunung
Sion dan di Yerusalem akan ada keselamatan, seperti yang telah difirmankan
TUHAN; dan setiap orang yang dipanggil TUHAN akan termasuk orang-orang yang
terlepas.’”.
Ro
10:12 - “Sebab
tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang
satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru
kepadaNya.”.
1Kor
1:2 - “kepada
jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan
yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat,
yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan
Tuhan kita.”.
Ay 19,21:
“(19)
Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: ‘Tuhan
mengenal siapa kepunyaanNya’ dan ‘Setiap orang yang menyebut nama Tuhan
hendaklah meninggalkan kejahatan.’ ... (21) Jika seorang menyucikan dirinya
dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang
mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan
untuk setiap pekerjaan yang mulia.”.
Kekristenan
memang bukan hanya mengharuskan kita untuk meninggalkan hal-hal yang buruk,
tetapi pada saat yang sama juga mengharuskan kita untuk mengejar / mengusahakan
hal-hal yang baik.
Kalau
yang pertama bersifat negatif, maka yang kedua bersifat positif. Kedua bagian
dari sanctification (= pengudusan) ini
tidak dilakukan secara berurutan, tetapi secara berbarengan.
Louis
Berkhof:
“The two parts of
sanctification are represented in Scripture as: a. The mortification of the old man, the body of sin. ... b. The
quickening of the new man, created in Christ Jesus unto good works. While
the former part of sanctification is negative in character, this is positive.
... The old structure of sin is gradually torn down, and a
new structure of God is reared in its stead. These two parts of
sanctification are not successive but contemporaneous. Thank God, the
gradual erection of the new building need not wait until the old one is
completely demolished. If it had to wait for that, it could never begin in this
life. With the gradual dissolution of the old the new makes its appearance.” (=
Kedua bagian dari pengudusan yang digambarkan dalam Kitab Suci sebagai: a.
Pematian / tindakan mematikan manusia lama, tubuh dosa. ... b. Tindakan
menghidupkan manusia baru, diciptakan dalam Kristus Yesus pada
perbuatan-perbuatan baik. Sementara bagian terdahulu dari pengudusan bersifat
negatif, yang ini bersifat positif. ... Struktur lama dari dosa perlahan-lahan
dirobohkan, dan suatu struktur yang baru dari Allah dibangun di tempatnya. Kedua
bagian dari pengudusan ini tidak berurutan / berturut-turut tetapi ada / terjadi
secara bersamaan. Syukur kepada Allah, pembangunan perlahan-lahan dari
bangunan yang baru tidak perlu menunggu sampai bangunan yang lama dihancurkan
secara total. Seandainya itu harus menunggu hal itu, itu tidak pernah bisa
dimulai dalam hidup ini. Bersama dengan penghancuran perlahan-lahan dari yang
lama, yang baru muncul / menampilkan diri.)
- ‘Systematic Theology’, hal 533.
Ay 23: “Hindarilah
soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak.
Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran,”.
Dalam
terjemahan Kitab Suci Indonesia digunakan 3 kata sifat, padahal seharusnya hanya
ada 2. Entah dari mana muncul kata-kata ‘yang dicari-cari’
itu. Juga kata ‘tidak
layak’ salah
terjemahan.
KJV:
‘But foolish and unlearned
questions avoid, knowing that they do gender strifes.’ (= Tetapi
hindarilah pertanyaan-pertanyaan yang tolol dan bodoh / tidak
terpelajar, mengetahui bahwa mereka menimbulkan pertengkaran.).
RSV:
‘Have nothing to do with stupid, senseless
controversies; you know that they breed quarrels.’ (= Jangan berurusan
dengan kontroversi-kontroversi yang bodoh dan tolol; kamu tahu
bahwa mereka membiakkan pertengkaran.).
NIV:
‘Don’t have anything to do with foolish
and stupid arguments, because you know they produce quarrels.’ (=
Jangan berurusan dengan argumentasi-argumentasi yang bodoh dan tolol,
karena kamu tahu mereka menghasilkan pertengkaran.).
NASB:
‘But refuse foolish and ignorant
speculations, knowing that they produce quarrels.’ (= Tetapi tolaklah
spekulasi-spekulasi yang tolol dan bodoh, mengetahui bahwa mereka
menghasilkan pertengkaran-pertengkaran.).
Penjelasan
tentang dua kata sifat ini:
1) Kata yang pertama.
Kata
‘bodoh’ / ‘foolish’ diterjemahkan dari kata Yunani MORAS, yang berasal
dari MOROS. Bandingkan dengan kata bahasa Inggris ‘moron’ (= dungu).
2)
Kata yang kedua.
Barnes’
Notes:
“The word ‘unlearned,’ here, means
‘trifling; that which does not tend to edification; stupid.’ The Greeks and
the Hebrews were greatly given to controversies of various kinds, and many of
the questions discussed pertained to points which could not be settled, or
which, IF settled, were of no importance.” (= Kata ‘bodoh / tidak terpelajar’ di sini berarti ‘remeh; hal
yang tidak punya kecenderungan pada pendidikan; tolol’. Orang-orang Yunani dan
Ibrani sangat diserahkan pada kontroversi-kontroversi dari bermacam-macam jenis,
dan banyak dari pertanyaan-pertanyaan berkenaan dengan hal-hal yang tidak bisa
dijawab / diselesaikan, atau yang, JIKA dijawab / diselesaikan, merupakan
sesuatu yang tidak penting.).
William
Hendriksen: “Not
only must Timothy refrain from waging thoroughly useless word-battles (verse
14), but he should even refuse, politely but definitely, to bother with the well-known ... enquiries
that would result in such word-battles. Such enquiries are foolish.
They are senseless, the kind of investigations which one associates with morons.
They are ignorant,
‘uneducated’ or ‘uninstructed’; that is, they are the work and the mark
of ignorant men. The person who has been properly
educated in God’s redemptive truth is able to distinguish between the
worth-while and the worthless, and does not conduct such worse than useless
enquiries (into genealogical and other Jewish-tradition lore).”
[= Timotius bukan hanya harus menahan diri dari berperang dalam pertempuran kata
yang sama sekali tak berguna (ayat 14), tetapi ia bahkan harus menolak, dengan
sopan tetapi pasti, untuk menghiraukan penyelidikan-penyelidikan yang terkenal
akan menghasilkan pertempuran kata seperti itu. Penyelidikan-penyelidikan
seperti itu tolol. Penyelidikan-penyelidikan itu bodoh, jenis penyelidikan yang
orang hubungkan dengan orang-orang dungu. Penyelidikan-penyelidikan itu bodoh,
‘tak terpelajar’ atau ‘tak diajar / diperintahkan’; artinya, mereka
adalah pekerjaan dan tanda dari orang bodoh. Orang yang telah dididik secara
benar dalam kebenaran yang bersifat menebus dari Allah bisa membedakan antara
penyelidikan yang berharga / bermanfaat dan yang tak berharga / tak bermanfaat,
dan tidak mengadakan penyelidikan-penyelidikan yang lebih-buruk-dari-tak-berguna
seperti itu (ke dalam silsilah-silsilah dan adat tradisi-Yahudi yang lain).].
Catatan:
a) Tentu tidak semua pelajaran tentang silsilah dan adat
Yahudi itu salah. Menyelidiki silsilah yang ada dalam Alkitab, dan menyelidiki
tradisi Yahudi yang berhubungan dengan pengertian suatu ayat Alkitab, tentu
merupakan sesuatu yang perlu.
b) Juga menurut saya tidak selalu kita tidak boleh menjawab
serangan yang bodoh. Bandingkan dengan text di bawah ini:
Amsal 26:4-5
- “(4) Jangan menjawab orang bebal
menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia. (5) Jawablah
orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak.”.
Dua
ayat ini bukan bertentangan. Kadang-kadang kita harus memilih ay 4,
kadang-kadang ay 5. Mintalah pimpinan Tuhan saudara harus melakukan yang mana.
Bible
Knowledge Commentary:
“Timothy must refuse to get
caught up in foolish and stupid arguments (zeteseis,
‘debates’; cf. 1 Tim 6:4; Titus 3:9) which only produce quarrels.” [= Timotius harus
menolak untuk tergoda dalam argumentasi-argumentasi yang bodoh dan tolol
(ZETESEIS, ‘debat-debat’; bdk. 1Tim 6:4; Tit 3:9) yang hanya menghasilkan
pertengkaran-pertengkaran.].
Calvin: “But avoid foolish and uninstructive questions.
He calls them foolish, because they are uninstructive; that is, they contribute
nothing to godliness, whatever show of acuteness they may hold out. When we are
wise in a useful manner, then alone are we truly wise.”
(= Tetapi hindarilah pertanyaan-pertanyaan yang bodoh dan tak mengandung
pelajaran. Ia menyebutnya bodoh, karena mereka tak mengandung pelajaran; artinya
mereka tidak memberi sumbangsih pada kesalehan, pertunjukan ketajaman pikiran
apapun yang mereka tawarkan. Pada waktu kita bijaksana dalam suatu cara yang
berguna, maka hanya pada saat itu kita benar-benar adalah bijaksana.).
Barclay:
“Christian leaders
must not get involved in senseless controversies which are the curse of the
Church. In the modern Church, Christian arguments are usually particularly
senseless, for they are seldom about great matters of life and doctrine and
faith, but almost always about unimportant and trivial things.” (= Pemimpin-pemimpin
Kristen tidak boleh terlibat dalam kontroversi-kontroversi yang bodoh, yang
merupakan kutuk dari Gereja. Dalam Gereja modern, argumentasi-argumentasi
Kristen biasanya adalah luar biasa bodoh, karena argumentasi-argumentasi itu
jarang berkenaan dengan persoalan-persoalan besar tentang kehidupan dan doktrin
dan iman, tetapi hampir selalu tentang hal-hal yang tidak penting dan remeh.).
Bandingkan
dengan:
1Tim
6:4 - “ia adalah
seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah
mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah,
curiga,”.
Tit 3:9
- “Tetapi
hindarilah persoalan yang dicari-cari dan yang bodoh, persoalan silsilah,
percekcokan dan pertengkaran mengenai hukum Taurat, karena semua itu tidak
berguna dan sia-sia belaka.”.
1Tim 1:4
- “ataupun
sibuk dengan dongeng dan silsilah yang tiada putus-putusnya, yang hanya
menghasilkan persoalan belaka, dan bukan tertib hidup keselamatan yang diberikan
Allah dalam iman.”.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : buas22@yahoo.com
e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali