(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Rabu, tgl 11 April 2012, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP: 7064-1331 / 6050-1331)
1) Adanya Predestinasi.
Adanya Predestinasi tidak memungkinkan Allah melakukan penebusan terhadap semua orang, karena memang bukan kehendak / rencanaNya untuk menyelamatkan semua orang.
Loraine Boettner: “It will be seen at once that this doctrine necessarily follows from the doctrine of election. If from eternity God has planned to save one portion of the human race and not another, it seems to be a contradiction to say that His work has equal reference to both portions, or that He sent His Son to die for those whom He had predetermined not to save, as truly as, and in the same sense that He was sent to die for those whom He had chosen for salvation. These two doctrines must stand or fall together. We cannot logically accept one and reject the other. If God has elected some and not others to eternal life, then plainly the primary purpose of Christ’s work was to redeem the elect” (= Akan langsung terlihat bahwa doktrin ini merupakan akibat yang pasti dari doktrin tentang pemilihan / predestinasi. Jika dari kekekalan Allah telah merencanakan untuk menyelamatkan sebagian umat manusia dan tidak menyelamatkan sebagian yang lainnya, maka kelihatannya merupakan suatu kontradiksi untuk mengatakan bahwa pekerjaanNya mempunyai hubungan yang sama dengan kedua golongan itu, atau bahwa Ia mengirimkan AnakNya untuk mati bagi mereka yang telah Ia tentukan untuk tidak diselamatkan, sama benarnya seperti, dan dalam arti yang sama seperti, dimana Ia dikirim untuk mati untuk mereka yang telah Ia pilih untuk keselamatan. Kedua doktrin ini harus berdiri atau jatuh bersama-sama. Kita tidak bisa secara logis menerima yang satu dan menolak yang lain. Jika Allah telah memilih sebagian dan bukan yang lain untuk hidup yang kekal, maka jelaslah bahwa tujuan utama pekerjaan Kristus adalah untuk menebus orang pilihan) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 151.
Charles Hodge: “The one doctrine necessarily involves the other. If God from eternity determined to save one portion of the human race and not another, it seems to be a contradiction to say that the plan of salvation had equal reference to both portions; that the Father sent his Son to die for those whom He had predetermined not to save, as truly as, and in the same sense that He gave Him up for those whom He had chosen to make the heirs of salvation” (= Doktrin yang satu pasti melibatkan yang lain. Jika dari kekekalan Allah telah menentukan untuk menyelamatkan sebagian umat manusia dan tidak menyelamatkan sebagian yang lainnya, maka kelihatannya merupakan suatu kontradiksi untuk mengatakan bahwa rencana keselamatan mempunyai hubungan yang sama dengan kedua golongan itu, atau bahwa Ia mengirimkan AnakNya untuk mati bagi mereka yang telah Ia tentukan untuk tidak diselamatkan, sama benarnya seperti, dan dalam arti yang sama seperti, bahwa Ia menyerahkanNya bagi mereka yang telah Ia pilih untuk menjadi ahli waris keselamatan) - ‘Systematic Theology’, vol II, hal 548.
2) Ajaran bahwa ‘Kristus mati untuk semua orang’ menimbulkan ajaran sesat / salah.
Kalau Kristus mati untuk semua orang, maka hanya ada 2 kemungkinan:
a) Kristus / Allah berhasil mencapai tujuanNya, dan ini menghasilkan Universalisme (= ajaran yang mengatakan bahwa pada akhirnya nanti semua orang akan selamat / masuk ke surga).
b) Kristus / Allah gagal mencapai tujuan / rencanaNya, karena dalam faktanya nanti akan ada banyak orang yang masuk ke neraka.
Kedua kemungkinan di atas ini sama-sama tidak mungkin, karena:
1. Universalisme jelas merupakan ajaran sesat dan bertentangan dengan banyak ayat Kitab Suci yang jelas menunjukkan adanya banyak orang yang masuk ke neraka, seperti Mat 7:13, Luk 16:23-24.
2. Banyak ayat-ayat Kitab Suci yang mengatakan bahwa rencana Allah tidak mungkin gagal, seperti:
a. Ayub 42:2 - “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal”.
b. Maz 33:10-11 - “(10) TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; (11) tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hatiNya turun-temurun”.
c. Yes 14:24,26-27 - “(24) TUHAN semesta alam telah bersumpah, firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: ... (26) Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bangsa. (27) TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?”.
d. Yes 46:10-11 - “(10) yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan, (11) yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya”.
John Murray: “it is inconceivable that the purpose for which he came was frustrated or could be frustrated” (= tak dapat dibayangkan bahwa tujuan untuk mana Ia datang digagalkan atau bisa digagalkan) - ‘Collected Writings of John Murray’, vol 1, hal 75.
Jadi seharusnya tidak ada orang kristen yang alkitabiah / injili yang boleh menerima yang manapun dari 2 kemungkinan di atas ini.
John Owen mengomentari Ro 4:25 yang berbunyi “yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita”, dengan komentar sebagai berikut:
“For whose offences he died, for their justification he rose; - and therefore, if he died for all, all must also be justified, or the Lord faileth in his aim and design, both in the death and resurrection of his Son; which though some have boldly affirmed, yet for my part I cannot but abhor the owning of so blasphemous a fancy” (= Untuk pelanggaran-pelanggaran siapa Ia mati, untuk pembenaran mereka Ia bangkit; - dan karena itu, jika Ia mati untuk semua, semua harus juga dibenarkan, atau Tuhan gagal dalam tujuan dan rencanaNya, baik dalam kematian dan kebangkitan AnakNya; yang sekalipun sebagian orang menegaskan secara berani, tetapi bagi saya, saya hanya bisa merasa jijik untuk mempunyai khayalan yang begitu bersifat menghujat) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, ‘The Death of Christ’, hal 182.
Kalau kedua kemungkinan di atas sama-sama tidak mungkin, maka jelas bahwa kita harus membuang teori yang mengatakan bahwa Yesus mati untuk semua orang.
Saya ingin memberikan sedikit komentar dari seseorang tentang buku John Owen yang berjudul ‘The Death of Death in The Death of Christ’ (= Kematian dari Kematian dalam Kematian Kristus), yang lalu dimasukkan ke dalam ‘The Works of John Owen’, vol 10, dari mana saya baru saja mengambil kutipan di atas.
John Piper: “One example of a difficult but compelling book is ‘The Death of Death in the Death of Christ,’ probably his most famous and most influential book. It was published in 1647 when Owen was thirty-one years old. It is the fullest and probably the most persuasive book ever written on the doctrine sometimes called ‘limited atonement,’ or better called ‘definite atonement’ or ‘particular redemption.’” (= Satu contoh dari suatu buku yang sukar tetapi memaksa / mendesak adalah ‘Kematian dari Kematian dalam Kematian Kristus’, mungkin merupakan bukunya yang paling terkenal dan paling berpengaruh. Buku itu dipublikasikan pada tahun 1647 pada waktu Owen berusia 31 tahun. Buku itu adalah buku yang paling penuh / lengkap dan mungkin yang paling meyakinkan yang pernah ditulis tentang doktrin yang kadang-kadang disebut ‘Penebusan Terbatas’, atau lebih baik disebut ‘Penebusan Tertentu’ atau ‘Penebusan Khusus’.) - ‘Contending For Our All’, hal 77.
3) Kalau Kristus mati untuk semua orang, maka orang yang tidak percaya yang akhirnya masuk ke neraka, dosanya dihukum 2 x. Ini tidak adil!
Loraine Boettner mengutip kata-kata Charles Haddon Spurgeon:
“If Christ has died for you, you can never be lost. God will not punish twice for one thing. If God punished Christ for your sins He will not punish you. ‘Payment God’s justice cannot twice demand; first, at the bleeding Saviour’s hand, and then again at mine.’ How can God be just if he punished Christ, the substitute, and then man himself afterwards?” (= Jika Kristus telah mati untuk kamu, kamu tidak pernah bisa terhilang. Allah tidak akan menghukum dua kali untuk satu hal. Jika Allah menghukum Kristus untuk dosa-dosamu Ia tidak akan menghukummu. ‘Pembayaran keadilan Allah tidak bisa menuntut dua kali; pertama, pada tangan Kristus yang berdarah, dan lalu lagi pada tanganku’. Bagaimana Allah bisa adil jika Ia menghukum Kristus, sang Pengganti, dan lalu manusia itu sendiri setelahnya?) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 155.
Loraine Boettner: “If the suffering and death of Christ was a ransom for all men rather than for the elect only, then the merits of His work must be communicated to all alike and the penalty of eternal punishment cannot be justly inflicted on any. God would be unjust if He demanded this extreme penalty twice over, first from the substitute and then from the persons themselves” (= Jika penderitaan dan kematian Kristus merupakan penebusan untuk semua orang dan bukannya untuk orang pilihan saja, maka manfaat / jasa dari pekerjaanNya harus diberikan kepada semua dan hukuman kekal tidak bisa secara adil diberikan kepada siapapun. Allah itu tidak adil jika Ia menuntut hukuman yang hebat ini dua kali, pertama dari sang Pengganti dan lalu dari orang-orang itu sendiri) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 155.
Charles Haddon Spurgeon: “Memory looks back on past sins with deep sorrow for the sin, but yet with no dread of any penalty to come; for Christ has paid the debt of His people to the last jot and tittle, and received the divine receipt; and unless God can be so unjust as to demand double payment for one debt, no soul for whom Jesus died as a substitute can ever be cast into hell. It seems to be one of the very principles of our enlightened nature to believe that God is just; we feel that it must be so, and this gives us our terror at first; but is it not marvelous that this very same belief that God is just, becomes afterwards the pillar of our confidence and peace! If God is just, I, a sinner alone and without a substitute, must be punished; but Jesus stands in my stead and is punished for me; and now, if God is just, I, a sinner, standing in Christ, can never be punished” (= Ingatan melihat ke belakang kepada dosa-dosa yang lalu dengan kesedihan yang dalam untuk dosa, tetapi tanpa rasa takut terhadap hukuman yang akan datang; karena Kristus telah membayar hutang umatNya sampai pada hal yang paling kecil / remeh, dan telah menerima kwitansi ilahi; dan kecuali Allah itu bisa begitu tidak adil / benar sehingga menuntut pembayaran dobel untuk satu hutang, tidak ada jiwa, untuk siapa Yesus mati sebagai pengganti, bisa dicampakkan ke dalam neraka. Kelihatannya merupakan satu prinsip dari diri kita yang sudah diterangi untuk percaya bahwa Allah itu adil / benar; kita merasa bahwa haruslah demikian, dan ini mula-mula memberikan kita rasa takut; tetapi tidakkah merupakan sesuatu yang mengagumkan bahwa kepercayaan yang sama bahwa Allah itu adil / benar, setelah itu lalu menjadi pilar / tonggak dari keyakinan dan damai kita! Jika Allah itu adil / benar, saya, seorang yang berdosa, sendirian dan tanpa seorang pengganti, harus dihukum; tetapi Yesus telah menggantikan saya dan dihukum untuk saya; dan sekarang, jika Allah itu adil / benar, saya, seorang yang berdosa, berdiri dalam Kristus, tidak pernah bisa dihukum) - ‘Morning and Evening’, September 25, morning.
Charles Haddon Spurgeon: “If Jesus paid my debt, and he did if I am a believer in him, then I am out of debt. If Jesus bore the penalty of my sin, and he did if I am a believer, then there is no penalty for me to pay, ... If Christ has borne my punishment, I shall never bear it” (= Jika Yesus membayar hutangku, dan Ia memang membayar hutangku jika aku adalah orang percaya dalam Dia, maka aku tidak mempunyai hutang. Jika Yesus memikul / menanggung hukuman dosaku, dan Ia memang memikul / menanggung dosaku jika aku adalah seorang percaya, maka di sana tidak ada hukuman bagiku yang harus aku bayar, ... Jika Kristus telah memikul / menanggung hukumanku, aku tidak akan pernah memikul / menanggungnya) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of Our Lord’, vol 6, hal 477.
Alkitab sendiri memang menggambarkan ‘dosa’ sebagai ‘hutang’, yaitu dalam:
a) Mat 6:12 (KJV).
b) Mat 18:21-35.
c) Luk 7:36-50.
d) Kata-kata ‘hutang darah’ yang menunjuk kepada ‘dosa’ sangat sering muncul dalam Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Lama.
Bdk. Maz 103:10 dan 1Yoh 1:9.
Maz 103:10 - “Tidak dilakukanNya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalasNya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita”.
Bdk. Ro 2:6 - “Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya”.
1Yoh 1:9 - “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”.
Bukankah aneh bahwa ayat ini menekankan ‘adil’ dan bukannya ‘kasih’ padahal ini mempersoalkan pengampunan dosa?
Ayat-ayat ini (Maz 103:10 dan 1Yoh 1:9) hanya bisa cocok, karena adanya penebusan Kristus untuk orang-orang pilihan. Penebusan Kristus ‘mengharuskan’ Allah untuk tidak membalas orang setimpal dengan perbuatannya, dan ‘mengharuskan’ Allah untuk mengampuni dosa orang-orang percaya (kalau tidak, Ia tidak adil).
Ada cara lain untuk menyatakan hal ini. Pada waktu menderita dan mati di salib, Yesus adalah ‘subsitute’ (= pengganti) kita. Kalau kita yang Ia gantikan tetap dihukum, maka tidak ada penggantian, atau, Ia bukan pengganti kita!
Bdk. 2Kor 5:21 - “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita (Yunani: HUPER HUMON), supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah”.
KJV/NIV: ‘for us’ (= untuk kita).
RSV: ‘For our sake’ (= Demi kita).
NASB: ‘on our behalf’ (= untuk / demi kepentingan kita).
Charles Hodge (tentang 2Kor 5:21): “The apostle says Christ: was made sin ‘for us,’ uJpe<r hJmw~n, i.e. ‘in our stead,’ because the idea of substitution is involved in the very nature of the transaction. The victim was the substitute for the offender. It was put in his place. So Christ was our substitute, or, was put in our place. This is the more apparent from the following clause, which teaches the design of this substitution. He was made sin, that we might be made righteous. He was condemned, that we might be justified. The very idea of substitution is that what is done by one in the place of another, avails as though that other had done it himself. The victim was the substitute of the offerer, because its death took the place of his death. If both died there was no substitution. So if Christ’s being made sin does not secure our being made righteousness, he was not our substitute.” [= Sang rasul berkata Kristus dibuat dosa ‘untuk kita’, uJpe<r hJmw~n (HUPER HUMON), yaitu, ‘di tempat kita / sebagai pengganti kita’, karena gagasan penggantian terlibat dari sifat dasar dari transaksi ini. Korban adalah pengganti untuk si pelanggar. Korban itu diletakkan di tempatnya. Demikianlah Kristus adalah substitute / pengganti kita, atau diletakkan di tempat kita. Ini lebih terlihat lagi dari anak kalimat selanjutnya, yang mengajarkan rancangan dari penggantian ini. Ia dibuat menjadi dosa, supaya kita bisa dibuat menjadi benar. Ia dihukum, supaya kita bisa dibenarkan. Gagasan dari penggantian adalah bahwa apa yang dilakukan oleh satu orang di tempat dari orang lain, berguna seakan-akan orang lain itu telah melakukannya sendiri. Korban adalah pengganti dari si pelanggar, karena kematian korban mengambil tempat dari kematian si pelanggar. Jika keduanya mati, di sana tidak ada penggantian. Jadi, jika dibuatnya Kristus menjadi dosa tidak memastikan dibuatnya kita menjadi benar, Ia bukan pengganti kita].
4) Keberadaan 2 kelompok orang yang membuktikan kebenaran doktrin ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas) ini.
2 kelompok orang itu adalah:
a) Orang-orang yang sudah mati dalam dosa sebelum Kristus mati menebus dosa; mereka ini sudah ada di dalam neraka, pada saat Kristus mati disalib.
R. L. Dabney: “A large part of the human race were already in hell before the atonement was made” (= Suatu bagian besar dari umat manusia sudah ada dalam neraka sebelum penebusan dibuat) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 522.
Misalnya:
1. Orang kaya dalam Luk 16:19-31.
Catatan: berkenaan dengan Luk 16:19-31, saya mengikuti pandangan Calvin yang menganggap cerita ini bukan sebagai suatu perumpamaan, tetapi cerita yang sungguh-sungguh terjadi.
2. Orang-orang Sodom dan Gomora.
Yudas 7 - “sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang”.
Jelas bahwa Kristus tidak mati untuk menebus dosa orang-orang yang sudah ada di dalam neraka ini.
b) Orang-orang yang mati tanpa pernah diberi kesempatan untuk mendengar Injil.
Kalau Kristus memang mati untuk mereka, mengapa Allah dalam providensiaNya membiarkan mereka mati tanpa pernah mendengar Injil?
R. L. Dabney: “Another large part never hear of it. But ‘faith cometh by hearing.’ (Rom. 10), and faith is the condition of its application. Since their condition is determined intentionally by God’s providence, it could not be His intention that the atonement should avail for them equally with those who hear and believe” [= Suatu bagian besar yang lain tidak pernah mendengarnya (tentang penebusan). Tetapi ‘iman timbul karena pendengaran’ (Ro 10), dan iman merupakan syarat dari penerapan penebusan itu. Karena keadaan mereka ditentukan secara sengaja oleh providensia Allah, maka tidak bisa merupakan maksudNya bahwa penebusan mempunyai nilai yang sama untuk mereka dibandingkan dengan orang-orang yang mendengar dan percaya] - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 522.
John Owen: “If the Lord intended that he should, and [he] by his death did, procure pardon of sin and reconciliation with God for all and every one, to be actually enjoyed upon condition that they do believe, then ought this good-will and intention of God, with this purchase in their behalf by Jesus Christ, to be made known to them by the word, that they might believe; ‘for faith cometh by hearing, and hearing by the word of God,’ Romans 10:17: for if these things be not made known and revealed to all and every one that is concerned in them, namely, to whom the Lord intends, and for whom he hath procured so great a good, then one of these things will follow; - either, first, That they may be saved without faith in, and the knowledge of, Christ (which they cannot have unless he be revealed to them), which is false, and proved so; or else, secondly, That this good-will of God, and this purchase made by Jesus Christ, is plainly in vain, and frustrate in respect of them, yea, a plain mocking of them, that will neither do them any good to help them out of misery, nor serve the justice of God to leave them inexcusable, for what blame can redound to them for not embracing and well using a benefit which they never heard of in their lives? Doth it become the wisdom of God to send Christ to die for men that they might be saved, and never cause these men to hear of any such thing; and yet to purpose and declare that unless they do hear of it and believe it, they shall never be saved? What wise man would pay a ransom for the delivery of those captives which he is sure shall never come to the knowledge of any such payment made, and so never be the better for it? Is it answerable to the goodness of God, to deal thus with his poor creatures? to hold out towards them all in pretense the most intense love imaginable, beyond all compare and illustration, - as his love in sending his Son is set forth to be, - and yet never let them know of any such thing, but in the end to damn them for not believing it? Is it answerable to the love and kindness of Christ to us, to assign unto him at his death such a resolution as this: - ‘I will now, by the oblation of myself, obtain for all and every one peace and reconciliation with God, redemption and everlasting salvation, eternal glory in the high heavens, even for all those poor, miserable, wretched worms, condemned caitiffs, that every hour ought to expect the sentence of condemnation; and all these shall truly and really be communicated to them if they will believe. But yet, withal, I will so order things that innumerable souls shall never bear one word of all this that I have done for them, never be persuaded to believe, nor have the object of faith that is to be believed proposed to them, whereby they might indeed possibly partake of thesethings?’ Was this the mind and will, this the design and purpose, of our merciful high priest? God forbid. It is all one as if a prince should say and proclaim, that whereas there be a number of captives held in sore bondage in such a place, and he hath a full treasure, he is resolved to redeem them every one, so that every one of them shall come out of prison that will thank him for his goodwill, and in the meantime never take care to let these poor captives know his mind and pleasure; and yet be fully assured that unless he effect it himself it will never be done. Would not this be conceived a vain and ostentatious flourish, without any good intent indeed towards the poor captives? Or as if a physician should say that he hath a medicine that will cure all diseases, and he intends to cure the diseases of all, but lets but very few know his mind, or any thing of his medicine; and yet is assured that without his relation and particular information it will be known to very few. And shall he be supposed to desire, intend, or aim at the recovery of all? ... yet now also Scripture and experience do make it clear that many are passed by, yea, millions of souls, that never bear a word of Christ, nor of reconciliation by him; of which we can give no other reason, but, “Even so, Father, for so it seemed good in thy sight,” Matthew 11:26” (= belum diterjemahkan ) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 238-239,240.
Mat 11:25-26 - “(25) Pada waktu itu berkatalah Yesus: ‘Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. (26) Ya Bapa, itulah yang berkenan kepadaMu”.
John Owen: “If every one in the world be intended, why doth not the Lord, in the pursuit of this love, reveal Jesus Christ to every one whom he so loved? Strange! that the Lord should so love men as to give his only-begotten Son for them, and yet not once by any means signify this his love to them, as to innumerable he doth not! - that he should love them, and yet order things so, in his wise dispensation, that this love should be altogether in vain and fruitless! - love them, and yet determine that they shall receive no good by his love, though his love indeed be a willing of the greatest good to them!” (= Jika setiap orang dalam dunia ini yang dimaksudkan, mengapa Tuhan, dalam pengejaran dari kasih ini, tidak menyatakan Yesus Kristus kepada setiap orang yang begitu Ia kasihi? Aneh! bahwa Tuhan begitu mengasihi manusia sehingga memberikan Anak TunggalNya bagi mereka, tetapi tidak satu kalipun dengan cara apapun memberitahukan kasihNya ini kepada mereka, seperti yang tidak Ia lakukan kepada tak terhitung banyaknya orang! - bahwa Ia mengasihi mereka, tetapi mengatur hal-hal sedemikian rupa, dalam takdirNya yang bijaksana, sehingga kasih ini menjadi sia-sia dan tak berbuah sama sekali! - mengasihi mereka, tetapi menentukan bahwa mereka tidak akan menerima kebaikan dari kasihNya, sekalipun kasihNya memang menghendaki yang terbaik bagi mereka!) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 328.
John Owen menambahkan: “That he doth not give all things to them to whom he gives his Son, contrary to Rom. 8:32” (= Bahwa Ia tidak memberikan segala sesuatu kepada mereka bagi siapa Ia memberikan AnakNya, bertentangan dengan Ro 8:32) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 328.
Bdk. Ro 8:32 - “Ia, yang tidak menyayangkan AnakNya sendiri, tetapi yang menyerahkanNya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”.
Catatan: ayat ini memang jelas menunjukkan bahwa kalau Allah rela memberikan AnakNya bagi seseorang, Ia pasti juga akan mau memberikan ‘segala sesuatu’ kepada orang tersebut. ‘Segala sesuatu’ itu memang tidak mungkin diartikan ‘segala sesuatu secara mutlak’, karena kalau diartikan sebagai kekayaan duniawi, maka akan menjadi Theologia Kemakmuran. Tetapi jelas sangat tidak masuk akal, kalau ‘segala sesuatu’ ini tidak mencakup pemberitaan Injil dan keselamatan kekal!
Calvin (tentang Ro 8:32): “And so Paul draws an argument from the greater to the less, that as he had nothing dearer, or more precious, or more excellent than his Son, he will neglect nothing of what he foresees will be profitable to us” (= Dan demikianlah Paulus menarik suatu argumentasi dari yang lebih besar kepada yang lebih kecil, bahwa karena Ia tidak mempunyai apapun yang lebih dikasihi, atau lebih berharga, atau lebih baik / bagus dari pada AnakNya, Ia tidak akan mengabaikan apapun tentang apa yang Ia lihat lebih dulu akan bermanfaat bagi kita).
Setiap orang harus setuju dengan argumentasi ini, kecuali ia berpandangan bahwa orang mati tidak langsung masuk neraka, dan masih ada ‘second chance’ (= kesempatan kedua), dimana orang itu masih bisa diinjili setelah ia mati, baik oleh Kristus ataupun oleh siapapun juga. Tetapi pandangan sesat tentang adanya ‘second chance’ (= kesempatan kedua) ini jelas bertentangan dengan 2Kor 5:10 - “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat”.
Perhatikan kata-kata yang saya garis bawahi itu, yang diterjemahkan secara berbeda oleh Kitab Suci bahasa Inggris.
KJV: ‘in his body’ (= dalam tubuhnya).
RSV/NIV/NASB: ‘in the body’ (= dalam tubuh).
Dalam bahasa Yunani digunakan kata SOMA, yang artinya adalah ‘tubuh’.
Jadi, penghakiman Kristus pada akhir jaman nanti tergantung hanya pada apa yang dilakukan seseorang dalam hidupnya / dalam tubuhnya, bukan pada apa yang dilakukannya setelah ia mati / ada di luar tubuhnya. Jadi, seandainya penginjilan terhadap orang mati itu memungkinkan untuk dilakukan, dan seandainya orang mati itu bisa bertobat dan percaya kepada Yesus, itu tetap tidak akan diperhitungkan dalam penghakiman akhir jaman. Yang diperhitungkan hanyalah tindakan-tindakannya selama ia berada dalam tubuhnya.
Illustrasi: kalau seseorang menghadapi ujian, maka ia mempunyai waktu untuk belajar dan mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian tersebut. Kalau ternyata ia menyia-nyiakan kesempatan itu, dan baru menyesal akan kemalasannya, dan mulai rajin belajar setelah ujian, maka penyesalan dan kerajinannya itu tidak akan mempengaruhi nilai ujiannya, karena semua itu terjadi setelah ujian. Apa yang mempengaruhi nilai ujiannya hanyalah apa yang ia lakukan sebelum ujian!
‘Masa belajar’ bagi kita adalah hidup yang sekarang ini. Apapun yang kita lakukan dalam hidup ini mempengaruhi hidup yang akan datang. Tetapi apapun yang kita lakukan setelah kita mati, tidak akan mempengaruhi ‘nilai ujian’ kita!
Charles Hodge: “According to the Scriptures and the faith of the Church, the probation of man ends at death” (= Menurut Kitab Suci dan iman Gereja, masa percobaan / ujian manusia berakhir pada kematian) - ‘Systematic Theology’, vol III, hal 725.
Louis Berkhof: “It (Scripture) also invariably represents the coming final judgment as determined by the things that were done in the flesh, and never speaks of this as dependent in any way on what occurred in the intermediate state” [= Itu (Kitab Suci) juga selalu menunjukkan / menggambarkan bahwa penghakiman akhir yang mendatang itu ditentukan oleh hal-hal yang dilakukan dalam daging, dan tidak pernah berbicara tentang hal ini sebagai tergantung dengan cara apapun pada apa yang terjadi dalam intermediate state (keadaan antara kematian dan kebangkitan)] - ‘Systematic Theology’, hal 693.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : buas22@yahoo.com
e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali