(Rungkut
Megah Raya Blok D No 16)
Rabu,
tgl 23 Mei 2012, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP:
7064-1331 / 6050-1331)
3.
Sekarang kita membahas kata ‘pendamaian’
dalam 1Yoh 2:2.
1Yoh 2:1-2
- “(1) Anak-anakku, hal-hal ini
kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang
berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus,
yang adil. (2) Dan Ia adalah pendamaian
untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa
seluruh dunia”.
NASB/KJV:
‘Propitiation’. Artinya lihat
catatan di bawah.
NIV:
‘Atoning sacrifice’ (= Korban yang
menebus).
RSV:
‘Expiation’. Artinya lihat catatan
di bawah.
Catatan:
a.
Kata ‘to propitiate’
artinya adalah:
·
‘to
cause to become favorably inclined’ (= menyebabkan seseorang jadi mempunyai
kecenderungan yang baik).
·
‘to
win or regain the good will of’ (= memenangkan atau mendapatkan kembali maksud / kecenderungan yang
baik).
·
‘to
appease’ (=
menenangkan / meredakan amarah, biasanya dengan memenuhi tuntutan).
·
‘to
conciliate’
(= mendamaikan).
b.
Kata ‘to expiate’ artinya
adalah:
·
‘to
make satisfaction or atonement’ (= membuat pemuasan atau penebusan).
·
‘to
appease’ (=
menenangkan / meredakan amarah, biasanya dengan memenuhi tuntutan).
·
‘to
propitiate’.
Artinya lihat di atas.
·
‘to
make amends or reparation for (wrongdoing or guilt)’
[= membayar kerugian atau melakukan perbaikan untuk (tindakan salah atau
kesalahan)].
·
‘to
atone for’
(= menebus untuk).
·
‘to
pay the penalty of’
(= membayar hukuman dari).
Catatan: semua definisi / arti ini saya ambil dari Webster’s New World Dictionary (College Edition).
Kata
bahasa Yunaninya adalah HILASMOS yang merupakan suatu kata benda. Kata ini hanya
digunakan 2 x dalam Perjanjian Baru yaitu dalam 1Yoh 2:2 ini dan dalam 1Yoh 4:10
- “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah,
tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya sebagai pendamaian
bagi dosa-dosa kita”.
Kata
kerjanya, yaitu HILASKOMAI, juga digunakan hanya 2 x, yaitu dalam:
¨
Ibr 2:17 - “Itulah
sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya,
supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada
Allah untuk mendamaikan
dosa seluruh bangsa”.
¨
Luk 18:13 - “Tetapi
pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke
langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku
orang berdosa ini”.
Disamping
itu, Owen (hal 333) mengatakan bahwa ada suatu kata benda Yunani lain yang
mempunyai arti yang sama, yaitu HILASTERION, yang juga digunakan 2 x, yaitu
dalam:
*
Ro 3:25 - “Kristus
Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan
pendamaian karena
iman, dalam darahNya. Hal ini dibuatNya untuk menunjukkan keadilanNya, karena Ia
telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaranNya”.
*
Ibr 9:5 - “dan
di atasnya kedua kerub kemuliaan yang menaungi tutup
pendamaian. Tetapi
hal ini tidak dapat kita bicarakan sekarang secara terperinci”.
Dalam
Ibr 9:5 ini kata tersebut diambil dari Kel 25:17 - “Juga
engkau harus membuat tutup pendamaian dari
emas murni, dua setengah hasta panjangnya dan satu setengah hasta lebarnya”.
KJV/RSV/NASB:
‘a mercy-seat’
(= suatu pusat / kedudukan belas kasihan).
NIV: ‘an atoning cover’ (= tutup pendamaian).
Dalam
bahasa Ibrani kata-kata ‘tutup pendamaian’ itu adalah CAPPORETH, yang berasal dari
kata dasar CAPHAR, yang artinya ‘to
cover’ (= menutupi).
John
Owen:
“This
plate or mercy-seat was so called because it was placed upon the ark, and
covered it, as the wings of the cherubim hovered over that; the mystical use
hereof being to hide, as it were, the law or rigid tenor of the covenant of
works which was in the ark, God thereby declaring himself to be pacified or
reconciled, the cause of anger and enmity being hidden” (= Pelat atau
‘pusat / kedudukan belas kasihan’ ini disebut demikian karena itu
ditempatkan di atas tabut perjanjian, dan menutupinya, seperti sayap-sayap dari
kerub-kerub ada di atasnya; arti simbolis / rohani dari hal ini adalah
seakan-akan untuk menyembunyikan hukum Taurat atau arti / kecenderungan yang
keras dari perjanjian tentang perbuatan baik yang ada di dalam tabut perjanjian,
dengan cara demikian Allah menyatakan bahwa diriNya sendiri ditenangkan atau
diperdamaikan, dengan disembunyikannya penyebab kemarahan dan permusuhan) - ‘The
Works of John Owen’, vol 10, hal 333.
Bdk.
Kel 25:16-17 - “(16) Dalam
tabut itu haruslah kautaruh loh hukum,
yang akan Kuberikan kepadamu. (17) Juga engkau harus membuat tutup
pendamaian (CAPPORETH) dari
emas murni, dua setengah hasta panjangnya dan satu setengah hasta lebarnya”.
Jadi
loh-loh batu bertuliskan 10 hukum Tuhan dimasukkan ke dalam tabut perjanjian dan
lalu ditutup dengan tutup pendamaian (CAPPORETH) itu, menyimbolkan tuntutan
hukum Taurat yang ditutup oleh Kristus.
Bdk.
Ro 3:25 - “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan
pendamaian (HILASTERION)
karena iman, dalam darahNya. Hal ini dibuatNya untuk menunjukkan keadilanNya,
karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa
kesabaranNya”.
Calvin
mempunyai pandangan yang serupa dengan pandangan John Owen. Dalam tafsirannya
tentang Kel 25:16-17 ini, Calvin berkata: “Yet
I doubt not but that Moses alludes in this word to a metaphorical meaning, for
the law requires a covering to conceal our transgressions. And it is probable
that, when Paul calls Christ HILASTERION, (Rom. 3:25,) and John HILASMON, (1John
2:2,) they both refer to this figure, because God was propitiated towards
believers by the covering of the Law” [= Saya tidak meragukan bahwa dalam
kata ini (maksudnya kata CAPPORETH) Musa menunjuk secara tak langsung pada arti kiasan, karena hukum
membutuhkan tutup untuk menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran kita. Dan adalah
mungkin bahwa pada waktu Paulus menyebut Kristus HILASTERION (Ro 3:25), dan
Yohanes menyebutNya HILASMON (1Yoh 2:2), mereka berdua menunjuk pada
gambaran ini, karena Allah diperdamaikan dengan orang-orang percaya oleh
penutupan hukum Taurat] - hal 156.
Catatan:
kata HILASMOS sebetulnya sama dengan HILASMON. Perbedaannya hanya karena
letaknya yang berbeda dalam kalimat.
Calvin
melanjutkan: “For as long as the law stands forth before God’s face it subjects
us to His wrath and curse; and hence it is necessary that the blotting out of
our guilt should be interposed, so that God may be reconciled with us. Nor is it
without reason that David exclaims, after he has proclaimed the righteousness of
law, ‘Who can understand his errors?’ (Ps. 19:12.) Whence we gather that,
without a propitiation, the law does not bring us near to God, but accuses us
before Him” [= Karena selama hukum Taurat tampak di hadapan Allah, maka
hukum Taurat itu menyebabkan kita menjadi sasaran murka dan kutukNya; dan karena
itu adalah perlu bahwa penghapusan kesalahan kita diletakkan di antaranya,
sehingga Allah bisa diperdamaikan dengan kita. Juga bukan tanpa alasan bahwa
Daud berseru, setelah ia menyatakan kebenaran hukum Taurat, ‘Siapa yang bisa
mengerti kesalahan-kesalahannya?’ (Maz 19:13). Dari mana kita mendapatkan
bahwa tanpa pendamaian, hukum Taurat tidak membawa kita dekat kepada Allah,
tetapi menuduh kita di hadapanNya] - hal 156.
Catatan:
Maz 19:13a versi Kitab Suci Indonesia salah terjemahan.
Maz
19:13a - “Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan?”.
KJV: ‘Who can
understand his errors?’ (= Siapa bisa mengerti kesalahan-kesalahannya?).
RSV: ‘But who can discern his errors?’ (= Tetapi siapa bisa mengenali
kesalahan-kesalahannya?).
NIV/NASB: ‘Who can discern his errors?’ (= Siapa bisa mengenali
kesalahan-kesalahannya?).
Dari
semua ini Owen lalu menyimpulkan: “HILASMOS
and HILASTERION, both translated ‘a propitiation,’ ... do
signify that which was done or typically effected by the mercy-seat, namely, to
appease, pacify, and reconcile God in respect of aversation for sin. ... the
meaning being, to appease, or pacify, or satisfy God for sin, that it might not
be imputed to them towards whom he was so appeased. ... From all which it
appeareth that the meaning of the word HILASMOS,
or ‘propitiation,’ which Christ is said to be, is that whereby the law is
covered, God appeased and reconciled, sin expiated, and the sinner pardoned;
whence pardon, and remission of sin is often placed as the product and fruit of
his blood-shedding, whereby he was a ‘propitiation,’ Matt. 26:28; Eph. 1:7;
Col. 1:14; Heb. 9:22; Rom. 3:25, 5:9; 1John 1:7; 1Pet. 1:2; Revelation 1:5” [= HILASMOS dan HILASTERION, keduanya diterjemahkan
‘pendamaian’, ... menunjukkan apa yang dilakukan atau diakibatkan secara
simbolis oleh pusat / kedudukan belas kasihan (tutup
pendamaian), yaitu menenangkan, meredakan
kemarahan, dan mendamaikan Allah berkenaan dengan penolakan karena dosa. ...
artinya adalah menenangkan, atau meredakan kemarahan, atau memuaskan Allah untuk
dosa, sehingga dosa itu tidak diperhitungkan kepada mereka terhadap siapa Ia
ditenangkan / diredakan kemarahanNya. ... Dari semua ini terlihat bahwa
arti dari kata HILASMOS, atau ‘pendamaian’, yang menunjuk kepada Kristus, adalah
hal dengan mana hukum ditutup, Allah ditenangkan / diredakan kemarahannya
(dengan jalan dipenuhi tuntutanNya) dan diperdamaikan, dosa ditebus / dipuaskan
/ dibayar hukumannya, dan orang berdosa itu diampuni; dari mana
pengampunan dosa sering diperkenalkan sebagai hasil dan buah dari pencurahan
darahNya, dengan jalan mana Ia menjadi ‘pendamaian’, Mat 26:28; Ef 1:7; Kol
1:14; Ibr 9:22; Ro 3:25; Ro 5:9; 1Yoh 1:7; 1Pet 1:2; Wah 1:5]
- ‘The Works of John Owen’, vol
10, hal 334.
John
Owen:
“From
that which hath been said, the sense of the place is evident to be, that Christ
hath so expiated sin, and reconciled to God, that the sinner is pardoned and
received to mercy for his sake, and that the law shall never be produced or
brought forth for his condemnation. Now, whether this
can be tolerably applied to the whole world (taking it for all and every man in
the world), let all the men in the world that are able judge. Are the
sins of every one expiated? Is God reconciled to every one? Is every sinner
pardoned? Shall no one have the transgression of the law charged on him? Why,
then, is not every one saved? Doubtless, all these are true of every believer,
and of no one else in the whole world. For them the apostle affirmed that Christ
is a propitiation; ... He is also a propitiation only by faith, Rom. 3:25; and
surely none have faith but the believers: and, therefore, certainly it is they
only throughout the world for whom alone Christ is a propitiation. Unto them
alone God says, ... ‘I will be propitious,’ - the great word of the new
covenant, Heb. 8:12, they alone being covenanters” [= Dari apa yang telah
dikatakan, artinya jelas adalah bahwa Kristus menebus dosa sedemikian rupa, dan
memperdamaikan dengan Allah, sehingga orang berdosa diampuni dan diterima pada
belas kasihan demi Dia, dan bahwa hukum Taurat tidak akan pernah dibuat atau
menimbulkan untuk penghukumannya. Sekarang, apakah
ini bisa diterapkan kepada seluruh dunia (diartikan sebagai semua dan setiap
manusia dalam dunia), biarlah semua orang pandai / mampu berpikir di dunia ini menilai.
Apakah dosa-dosa dari setiap orang ditebus? Apakah Allah didamaikan dengan
setiap orang? Apakah setiap orang berdosa diampuni? Apakah tidak seorangpun
dituntut karena pelanggaran hukum? Kalau demikian, mengapa tidak setiap orang
diselamatkan? Tidak diragukan, semua ini benar untuk
setiap orang percaya, dan tidak untuk siapapun
yang lain di seluruh dunia. Untuk orang-orang percaya ini sang rasul
menegaskan bahwa Kristus adalah pendamaian; ... Ia juga adalah pendamaian oleh /
karena iman, Ro 3:25; dan jelas bahwa tidak seorangpun mempunyai iman kecuali
orang-orang percaya: dan, karena itu, jelas bahwa hanya mereka sajalah di
seluruh dunia untuk siapa Kristus adalah pendamaian. Bagi mereka sajalah Allah
berkata: ... ‘Aku akan menaruh belas kasihan’, kata-kata yang agung dari
perjanjian yang baru, Ibr 8:12, hanya mereka sajalah orang-orang yang termasuk
dalam perjanjian] - ‘The Works
of John Owen’, vol 10, hal 334-335.
Ibr 8:12
- “Sebab Aku akan menaruh belas kasihan (HILEOS)
terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi
mengingat dosa-dosa mereka”.
Kesimpulan
tentang kata ‘pendamaian’
dalam 1Yoh 2:2 ini:
Dalam
HILASMOS / pendamaian ini tercakup:
a.
Hukum ditutup / dipuaskan.
b.
Allah diperdamaikan dan ditenangkan / dipenuhi tuntutanNya.
c.
Dosa ditebus / dibayar hukumannya.
d.
Orang berdosa diampuni.
Kalau
hal-hal ini ditujukan kepada ‘setiap orang di dunia’ maka akan menimbulkan
Universalisme.
4.
Sekarang kita membahas kata-kata ‘seluruh
dunia’ dalam 1Yoh 2:2.
John
Owen:
“The
‘whole world’ can signify no more than ‘all nations,’ ‘all the
families of the earth,’ ‘all flesh,’ ‘all men,’ ‘all the ends of the
world.’ These surely are expressions equivalent unto, and as comprehensive of
particulars as ‘the whole world;’ but now all these expressions we find
frequently to bear out believers only, but as of all sorts, and throughout the
world” (= Kata-kata ‘seluruh dunia’ artinya tidak lebih dari pada
‘semua bangsa-bangsa’, ‘semua keluarga-keluarga di bumi’, ‘semua
daging’, ‘semua manusia’, ‘segala ujung-ujung bumi / dunia’. Ini jelas
merupakan ungkapan yang sama dengan, dan mencakup sama banyaknya orang seperti
kata ‘seluruh dunia’; tetapi ungkapan-ungkapan tersebut sering menunjuk
kepada orang-orang percaya saja, tetapi dari semua jenis, dan di seluruh dunia)
- ‘The Works of John Owen’, vol
10, hal 336.
Contoh:
a.
Maz 98:3 - “Ia
mengingat kasih setia dan kesetiaanNya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita”.
b. Maz
22:28 - “Segala ujung bumi akan mengingatnya
dan berbalik kepada TUHAN; dan segala kaum dari bangsa-bangsa akan sujud
menyembah di hadapanNya”.
c. Maz
72:11b - “dan segala bangsa menjadi
hambanya!”.
d. Yoel 2:28a
/ Kis 2:17a - “Kemudian dari pada
itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan RohKu ke atas semua manusia”.
e. Luk
3:6 - “dan semua orang akan melihat
keselamatan yang dari Tuhan.’”.
Bandingkan juga dengan Wah 5:9-10 - “(9)
Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: ‘Engkau layak menerima
gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah
disembelih dan dengan darahMu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. (10) Dan Engkau
telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah
kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi.’”.
Owen menambahkan bahwa kata-kata ‘seluruh dunia’ bisa menunjuk pada ‘semua orang yang tidak percaya / reprobate’,
seperti dalam:
·
Wah 12:9 - “Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang
menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi,
bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya”.
·
1Yoh 5:19 - “Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia
berada di bawah kuasa si jahat”.
Owen lalu berkata: kalau demikian, mengapa kata-kata ‘seluruh
dunia’ itu tidak bisa dipakai untuk menunjuk pada sebaliknya, yaitu ‘semua
orang percaya / pilihan’? Ia lalu memberi contoh Kol 1:6 - “yang
sudah sampai kepada kamu. Injil itu berbuah dan berkembang di seluruh dunia, demikian juga di antara kamu sejak waktu
kamu mendengarnya dan mengenal kasih karunia Allah dengan sebenarnya”.
Owen lalu menyimpulkan tentang kata-kata ‘seluruh
dunia’ ini sebagai berikut: “there
is nothing at all in the words themselves that should enforce any to conceive
that all and every man in the world are denoted by them, but rather believers,
even all that did or should believe, throughout the whole world, in opposition
only to believers of the Jewish nation”
(= tidak ada apapun sama sekali dalam kata-kata itu sendiri yang mengharuskan
siapapun untuk memahaminya sebagai semua dan setiap
orang dalam dunia, tetapi harus dipahami sebagai orang-orang
percaya, yaitu mereka yang sudah percaya atau akan percaya, di seluruh dunia,
dikontraskan dengan orang-orang percaya dari bangsa
Yahudi saja) - ‘The Works
of John Owen’, vol 10, hal 337.
John
Owen:
“‘The
whole world,’ then, in this place, is the whole people
of God (opposed to the Jewish nation),
scattered abroad throughout the whole world” [= Maka, ‘seluruh dunia’
di tempat ini, adalah seluruh umat Allah
(dikontraskan dengan bangsa Yahudi), yang
tersebar di seluruh dunia] - ‘The
Works of John Owen’, vol 10, hal 337-338.
Calvin (tentang Yoh 1:29):
“And
when he says, ‘the sin OF
THE
WORLD,’
he extends this favor indiscriminately to the whole human race; that the Jews
might not think that he had been sent to them alone”
(= Dan ketika ia berkata, ‘dosa dunia’, ia memperluas kebaikan ini secara
tak pandang bulu kepada seluruh umat manusia; supaya orang-orang Yahudi tidak
berpikir bahwa Ia telah diutus kepada mereka saja).
Calvin (tentang 1Yoh 2:2):
“Here
a question may be raised, how have the sins of the whole world been expiated? I
pass by the dotages of the fanatics, who under this pretense extend salvation to
all the reprobate, and therefore to Satan himself. Such a monstrous thing
deserves no refutation. They who seek to avoid this absurdity, have said that
Christ suffered sufficiently for the whole world, but efficiently only for the
elect. This solution has commonly prevailed in the schools. Though then I allow
that what has been said is true, yet I deny that it is suitable to this passage;
for the design of John was no other than to make this benefit common to the
whole Church. Then under the word all or
whole, he does not include the reprobate, but designates those who should
believe as well as those who were then scattered through various parts of the
world. For then is really made evident, as it is meet, the grace of Christ, when
it is declared to be the only true salvation of the world”
(=
Di sini bisa ditanyakan, bagaimana dosa dari seluruh dunia telah ditebus? Saya
mengabaikan kebodohan dari orang-orang fanatik, yang dengan alasan ini meluaskan
keselamatan kepada semua orang reprobate
/ orang yang ditentukan untuk binasa, dan karena itu kepada Setan sendiri. Hal
yang mengerikan seperti itu tidak layak mendapatkan bantahan. Mereka yang
berusaha untuk menghindari hal yang menggelikan ini, telah berkata bahwa Kristus
menderita secara cukup untuk seluruh dunia, tetapi secara efisien hanya untuk
orang pilihan. Penyelesaian / solusi ini telah berlaku secara umum di
sekolah-sekolah / aliran-aliran. Sekalipun saya mengakui bahwa apa yang telah
dikatakan itu adalah benar, tetapi saya menyangkal bahwa itu cocok untuk text
ini; karena tujuan Yohanes tidak lain dari membuat
keuntungan / manfaat ini berlaku untuk seluruh Gereja. Jadi
dalam kata ‘semua’ atau ‘seluruh’, ia tidak memasukkan orang-orang reprobate
/ orang yang ditentukan untuk binasa, tetapi menunjuk mereka yang percaya dan
mereka yang pada saat itu tersebar di berbagai bagian dunia).
Dari
pembahasan 4 point di atas ini terlihat dengan jelas bahwa penafsiran
Reformedlah yang benar. Dan dengan penafsiran ini maka 1Yoh 2:2 tidaklah
bertentangan dengan doktrin ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas).
c)
Pembahasan Yoh 3:16.
Yoh 3:16
- “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap
orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”.
1. Pembahasan
tentang kata ‘dunia’ dalam Yoh
3:16 ini.
Penafsiran Arminian pada umumnya: ‘dunia’ menunjuk kepada ‘semua
dan setiap orang dalam dunia’. Dengan demikian maka Yoh 3:16 ini akan
mendukung Universal Atonement (=
Penebusan Universal), karena kasih kepada ‘dunia’
inilah yang menyebabkan Allah menyerahkan AnakNya yang tunggal / memberikan
penebusan.
Lenski
(tentang Yoh 3:16): “The universality already expressed
in the title ‘the Son of man’ (1:51; 3:14) and in ‘everyone who
believes’ (v. 15), is brought out with the most vivid clearness in the
statement that God loved ‘the world,’ τὸν
κόσμον,
the world of men, all men, not one excepted. To insert a limitation, either here
or in similar passages, is to misinterpret. We know of nothing more terrible
than to shut out poor dying sinners from God’s love and redemption. But this
is done by inserting a limiting word where Jesus and the Scriptures have no such
word”
[= Ke-universal-an sudah dinyatakan dalam gelar
‘Anak Manusia’ (1:51; 3:14) dan
dalam ‘setiap orang yang percaya’ (ay 15), ditunjukkan dengan kejelasan yang
paling hidup dalam pernyataan bahwa Allah mengasihi ‘dunia’,
TON KOSMON, dunia dari manusia, semua manusia, tak
seorangpun dikecualikan. Memasukkan suatu pembatasan, atau di sini
atau dalam text-text yang serupa, adalah menafsirkan secara salah. Kita tidak
tahu tentang apapun yang lebih mengerikan / buruk dari pada mencegah orang-orang
berdosa yang malang dari kasih Allah dan penebusan. Tetapi ini dilakukan dengan
memasukkan suatu kata yang membatasi dimana Yesus dan Kitab Suci tidak mempunyai
kata seperti itu].
Pulpit Commentary: “This world cannot be the limited ‘world’ of the Augustinian,
Calvinian interpreters - the world of the elect; it is that ‘whole world’ of
which St. John speaks in 1John 2:2. ‘God will have all men to be saved’
(1Tim. 2:4). Calvin himself says, ‘Christ brought life, because the heavenly Father loves the human race, and wishes that they should not perish.’” [= ‘Dunia’ ini
tidak bisa adalah ‘dunia yang terbatas’ dari penafsir-penafsir
Augustinianisme dan Calvinisme - ‘dunia dari orang-orang pilihan’; itu
adalah ‘seluruh dunia’ tentang mana Yohanes berbicara dalam 1Yoh 2:2.
‘Allah menghendaki supaya semua orang diselamatkan’ (1Tim 2:4). Calvin sendiri mengatakan, ‘Kristus membawa kehidupan
karena Bapa surgawi mengasihi umat manusia, dan menginginkan supaya mereka tidak
binasa’] - hal 123.
Catatan: Calvin
memang mengatakan kata-kata itu, tetapi:
·
dalam kata-kata / tafsirannya
selanjutnya berkenaan dengan Yoh 3:16, Calvin berkata: “And
the words of Christ mean nothing else, when he declares the cause to be in the
love of God. For if we wish to ascend higher, the Spirit shuts the door by the
mouth of Paul, when he informs us that this love was founded on the
purpose of his will, (Ephesians 1:5.)” [= Dan
kata-kata Kristus tidak berarti selain, pada waktu Ia menyatakan penyebabnya
sebagai ada dalam kasih Allah. Karena jika kita mau naik lebih tinggi, Roh
menutup pintu oleh mulut Paulus, pada waktu ia memberi kita informasi bahwa
kasih ini didasarkan pada rencana dari kehendakNya (Ef 1:5)].
Ef
1:5 - “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi
anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya”.
Jelas
bahwa kasih yang dibicarakan oleh Calvin berhubungan dengan ‘election’
(= pemilihan).
·
dalam tafsirannya tentang Yoh 17:23
ia mengatakan bahwa ‘Allah tidak
mengasihi siapapun kecuali dalam Kristus’.
Yoh
17:23 - “Aku di dalam mereka dan Engkau
di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau
yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku”.
Calvin (tentang Yoh 17:23):
“‘And hast loved them.’
He means that it is a very striking exhibition, and a very excellent pledge, of
the love of God towards believers, which the world is compelled to feel, whether
it will or not, when the Holy Spirit dwelling in them sends forth the rays of
righteousness and holiness. There are innumerable other ways, indeed, in which
God daily testifies his fatherly love towards us, but the mark of adoption is
justly preferred to them all. He likewise adds, ‘and
hast loved them, As THOU HAST LOVED ME.’ By these words he intended to
point out the cause and origin of the love; for the particle ‘as,’ means ‘because,’
and the words, ‘AS thou hast
loved me,’ mean, ‘BECAUSE thou
hast loved me;’ for to Christ alone belongs the title of ‘Well-beloved,’
(Matthew 3:17; 17:5.) Besides, that love which the heavenly Father bears
towards the Head is extended to all the members, so that he loves none but in
Christ”
[= ‘Dan telah mengasihi mereka’. Ia memaksudkan bahwa itu merupakan suatu
pertunjukan yang sangat menyolok, dan suatu tanda / janji / jaminan yang sangat
bagus, tentang kasih Allah terhadap orang-orang percaya, yang dunia dipaksa
untuk merasakan, apakah dunia mau atau tidak, pada waktu Roh Kudus yang diam di
dalam mereka, mengeluarkan / menghasilkan sinar-sinar dari kebenaran dan
kekudusan. Memang ada cara-cara lain dalam mana Allah setiap hari menyaksikan
kasih kebapaanNya kepada kita, tetapi tanda dari adopsi secara benar diletakkan
di depan semua yang lain. Ia juga menambahkan, ‘dan telah mengasihi mereka, seperti
Engkau telah mengasihi Aku’. Dengan kata-kata ini Ia bermaksud untuk
menunjukkan penyebab dan asal usul dari kasih itu; karena partikel ‘as
/ seperti’ berarti ‘karena’, dan kata-kata ‘seperti engkau telah
mengasihi Aku’, berarti ‘karena Engkau telah mengasihi Aku’; karena
gelar ‘kekasih’ hanya merupakan milik Kristus saja (Mat 3:17; 17:5).
Disamping
itu, kasih yang Bapa surgawi tunjukkan terhadap Kepala diperluas kepada semua
anggota-anggota, sehingga Ia mengasihi tak seorangpun kecuali (yang ada) di
dalam Kristus].
Catatan: kata-kata yang saya garis-bawahi itu
menunjukkan bahwa Calvin menganggap bahwa Allah hanya mengasihi orang-orang yang
percaya!
Calvin lalu melanjutkan dengan berkata sebagai berikut: “Yet
this gives rise to some appearance of contradiction; for Christ, as we have seen
elsewhere, declares that the unspeakable love
of God towards the world was
the reason why he gave his
only-begotten Son, (John
3:16.) If
the cause must go before the effect, we infer that God the Father loved
men apart from Christ; that is, before he was appointed to be the
Redeemer. I reply, in that, and similar passages, love denotes the mercy with which God was moved towards unworthy
persons, and even towards his enemies, before he reconciled them to himself. It
is, indeed, a wonderful goodness of God, and inconceivable by the human mind,
that, exercising benevolence towards men whom he could not but hate, he removed
the cause of the hatred, that there might be no obstruction to his love. And,
indeed, Paul informs us that there are two ways in which we are loved
in Christ; first, because the Father ‘chose us in him before the creation of
the world,’ (Ephesians 1:4;) and, secondly,
because in Christ God hath reconciled
us to himself, and hath showed that he is gracious to us, (Romans 5:10.)
Thus we are at the same time the enemies and the friends of God, until,
atonement having been made for our sins, we are restored to favor with God. But
when we are justified by faith, it is then, properly, that we begin to be loved
by God, as children by a father. That love
by which Christ was appointed to be the person, in whom we should be
freely chosen before we were born, and while we were still ruined in Adam, is
hidden in the breast of God, and far exceeds the capacity of the human mind.
True, no man will ever feel that God is gracious to him, unless he perceives
that God is pacified in Christ. But as all relish for the love of God vanishes
when Christ is taken away, so we may safely conclude that, since by faith we are
ingrafted into his body, there is no danger of our falling from the love of God; for this foundation cannot be overturned, that
we are loved, because the Father
hath loved his Son” [= Tetapi ini
menimbulkan apa yang kelihatannya seperti kontradiksi, karena Kristus, seperti
telah kita lihat di tempat lain, menyatakan bahwa kasih yang tak terkatakan dari
Allah kepada dunia adalah alasan mengapa Ia memberikan Anak TunggalNya, (Yoh 3:16).
Jika penyebabnya harus berjalan di depan akibatnya, kami menyimpulkan bahwa
Allah Bapa mengasihi manusia terpisah
dari Kristus; artinya / yaitu, sebelum Ia ditetapkan menjadi Penebus. Saya menjawab
bahwa dalam text itu, dan text-text lain yang mirip, kasih merupakan belas
kasihan dengan mana Allah digerakkan kepada / menuju orang-orang yang tidak
layak, dan bahkan kepada / menuju musuh-musuhNya, sebelum Ia memperdamaikan
mereka dengan diriNya sendiri. Ini memang merupakan kebaikan yang sangat bagus
dari Allah, dan tak terbayangkan oleh pikiran manusia, bahwa dengan menjalankan
kebaikan terhadap manusia, yang hanya bisa Ia benci, Ia menyingkirkan penyebab
kebencian itu, supaya di sana tidak ada halangan bagi kasihNya. Dan memang, Paulus
memberi kita informasi bahwa di sana ada dua jalan dalam mana kita dikasihi
dalam Kristus; pertama,
karena Bapa ‘memilih kita dalam Dia sebelum dunia dijadikan’, (Ef 1:4); dan kedua, karena dalam Kristus Allah telah memperdamaikan kita dengan
diriNya sendiri, dan telah menunjukkan bahwa Ia murah hari kepada kita, (Ro
5:10). Jadi, kita pada saat yang sama adalah musuh dan sahabat dari Allah,
sampai, penebusan yang telah dibuat untuk dosa-dosa kita, kita dipulihkan /
dikembalikan pada kesenangan Allah. Tetapi
pada waktu kita dibenarkan oleh iman, pada saat itulah, secara tepat / benar,
kita mulai dikasihi oleh Allah, sebagai anak-anak oleh seorang bapa.
Kasih
itu, dengan mana Kristus ditetapkan sebagai pribadi, dalam siapa kita harus
dipilih dengan cuma-cuma sebelum kita dilahirkan, dan sementara kita tetap ada
dalam kehancuran dalam Adam, tersembunyi dalam dada Allah, dan jauh melebihi
kapasitas dari pikiran manusia. Memang benar, tak seorangpun pernah
merasakan bahwa Allah itu murah hati kepadanya, kecuali ia merasakan bahwa Allah
ditenangkan dalam Kristus. Tetapi karena semua jejak / petunjuk untuk kasih
Allah hilang pada waktu Kristus diambil, demikian juga kita bisa dengan aman
menyimpulkan bahwa, karena oleh iman kita dicangkokkan ke dalam tubuhNya, di
sana tidak ada bahaya tentang kejatuhan kita dari kasih Allah; karena fondasi
ini tidak bisa dibalikkan, bahwa kita dikasihi, karena Bapa telah mengasihi
AnakNya].
Catatan: kalau kita melihat kutipan di atas ini,
dimana Calvin menghubungkan dengan Yoh 3:16, maka kelihatannya harus
disimpulkan bahwa dalam Yoh 3:16 itu Calvin tetap memaksudkan ‘dunia
orang-orang pilihan’. Semua orang-orang pilihan sudah dikasihi, dengan kasih
yang tersembunyi dalam dada Bapa. Nanti pada waktu orang-orang itu percaya
kepada Kristus, barulah orang-orang itu bisa merasakan kasih Allah itu.
·
dalam tafsirannya tentang Yoh 16:27, Calvin berkata: “God
loves men in a secret way, before they are called, if
they are among the elect; for he loves his own before they are
created” (= Allah mengasihi manusia secara rahasia, sebelum mereka
dipanggil, jika mereka termasuk orang-orang pilihan;
karena Ia mengasihi milikNya sebelum mereka diciptakan) - hal 158.
Barnes’ Notes: “‘The world’. All mankind. It does not mean any particular part of
the world, but man as man - the race that had rebelled, and that deserved to
die. See John 6:33; 17:21. ... He tasted ‘death for every man,’ Heb. 2:9. He
‘died for all,’ (2Cor. 5:15). ‘He is the propitiation for the sins of the
whole world,’ 1John 2:2” [= ‘Dunia’. Semua umat manusia. Itu tidak
berarti sebagian tertentu dari dunia tetapi manusia sebagai manusia - umat
manusia yang telah memberontak, dan yang layak untuk mati. Lihat Yoh 6:33;
17:21. ... Ia merasakan ‘kematian untuk setiap orang’, Ibr 2:9. Ia ‘mati
bagi semua orang’ (2Kor 5:15). ‘Ia adalah pendamaian ... untuk dosa seluruh
dunia’, 1Yoh 2:2] - hal 278.
Catatan: saya
berpendapat bahwa penafsiran-penafsiran Arminian di atas ini dangkal sekali.
Ayat-ayat yang mereka gunakan untuk mendukung pandangannya, kalau dibahas secara
mendalam, sama sekali tidak mendukung, tetapi sebaliknya menentang, penafsiran
mereka. Yoh 6:33 Yoh 17:21
1Yoh 2:2 sudah saya bahas di
depan, sedangkan 1Tim 2:4 Ibr 2:9
2Kor 5:15 akan saya bahas di belakang.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : buas22@yahoo.com
e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali