(Rungkut
Megah Raya Blok D No 16)
Rabu,
tgl 30 Mei 2012, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP:
7064-1331 / 6050-1331)
Penafsiran Reformed tentang kata ‘dunia’ dalam Yoh 3:16 ini bermacam-macam:
a. Kata ‘dunia’
menunjuk pada ‘hal-hal yang
bertentangan dengan Allah’.
John
Murray: “Our
present interest is particularly the object, ‘the world’. In the usage of
John this term is often used in an ethical or
qualitative sense, the world as sinful, estranged and alienated from God,
resting under his wrath and curse, the world, indeed, as detestable
because it is the contradiction of all that is holy, good, righteous, true, and
loving - the contradiction, therefore, of God. It is not the denotative
extent that is in view but the character. ... It is what
God loved in respect of its character that throws into relief the incomparable
and incomprehensible love of God. ... God loved what is the antithesis of
himself” (= Perhatian kita saat ini secara khusus adalah obyeknya,
‘dunia’. Dalam penggunaan Yohanes istilah ini
sering digunakan dalam arti etika / moral atau kwalitet, dunia sebagai berdosa,
jauh dan terasing dari Allah, berada di bawah murka dan kutukNya, dan bahkan
dunia yang menjijikkan karena itu
bertentangan dengan semua yang kudus, baik, adil, benar, dan kasih - dan karena
itu bertentangan dengan Allah. Bukan luasnya yang dipersoalkan, tetapi
sifatnya. ... Adalah apa yang Allah kasihi berkenaan
dengan karakternyalah yang menggambarkan kasih Allah yang tidak ada bandingannya
dan yang tak dapat dimengerti itu. ... Allah mengasihi apa yang bertentangan
dengan diriNya sendiri) - ‘Collected
Writings of John Murray’, vol 1, hal 78-79.
Catatan: saya sukar untuk menerima penafsiran ini.
Bandingkan dengan kata-kata William Hendriksen di bawah ini.
William
Hendriksen (tentang Yoh 3:16): “here
mankind is not viewed as the realm of evil, breaking out into open hostility to
God and Christ ..., for God does not love evil” (= di sini manusia / umat manusia tidak dipandang sebagai dunia
kejahatan, berkobar / meletus ke dalam permusuhan terbuka kepada Allah dan
Kristus ..., karena Allah tidak mengasihi kejahatan).
b. Kata ’dunia’
artinya adalah ‘Yahudi + non Yahudi’.
William Hendriksen: “By reason of the context and other passages in which a similar
thought is expressed ..., it is probable that also here in 3:16 the term
indicates ‘fallen mankind in its international aspect’: men from every tribe
and nation; not only Jews but also Gentiles” (= Berdasarkan kontext dan
text-text lain dalam mana pemikiran serupa dinyatakan ..., adalah mungkin bahwa
juga di sini dalam 3:16 istilah ‘dunia’ itu menunjuk kepada ‘umat manusia yang jatuh dalam aspek
internasionalnya’: manusia dari setiap suku dan bangsa; bukan hanya Yahudi
tetapi juga non Yahudi) - hal 140.
Leon Morris (NICNT): “The Jews was ready enough to think of God as loving Israel, but no
passage appears to be cited in which any Jewish writer maintains that God loved
the world” (= Orang-orang Yahudi cukup siap untuk berpikir bahwa Allah
mengasihi Israel, tetapi tidak ada kutipan dari penulis-penulis Yahudi yang mengatakan
bahwa Allah mengasihi dunia) - hal 229.
Matthew Poole: “‘the world,’ that is, Gentiles as well as Jews. ... Our
evangelist useth to take down the pride of the Jews, who dreamed that the
Messiah came only for the benefit of the seed of Abraham, not for the nations of
the world, he only came to destroy them” (= ‘dunia’, yaitu orang-orang non Yahudi
maupun orang-orang Yahudi. ... Penginjil kita menggunakannya untuk menghancurkan
kesombongan orang-orang Yahudi, yang berkhayal bahwa Mesias datang hanya untuk keuntungan
dari keturunan Abraham, bukan untuk bangsa-bangsa dari dunia. Untuk mereka Ia
datang hanya untuk menghancurkan) - hal 292.
c. Ada
juga yang menafsirkan bahwa kata ‘dunia’
menunjuk kepada ‘orang-orang pilihan’
saja.
Catatan: sebetulnya arti ke 2 dan ke 3 di atas ini
sama saja.
Arthur
W. Pink:
“‘KOSMOS’
has at least seven clearly defined different meanings in the New Testament. It
may be asked, Has then God used a word thus to confuse and confound those who
read the Scriptures? We answer, No! nor has He written His Word for lazy people
who are too dilatory, or too busy with the things of this world, or, like
Martha, so much occupied with ‘serving’, they have no time and no heart to
‘search’ and ‘study’ Holy Writ! Should it be asked further, But how is a
searcher of the Scriptures to know which of the above meanings the term
‘world’ has in any given passage? The answer is: This may be ascertained by
a careful study of the context, by diligently noting what is predicated of
‘the world’ in each passage, and by prayerfully consulting other parallel
passages to the one being studied. ... ‘the world’ in John 3:16 refers to
the world of believers (God’s elect)” [= ‘KOSMOS’ sedikitnya
mempunyai 7 arti yang berbeda dalam Perjanjian Baru. Bisa dipertanyakan: kalau
demikian apakah Allah menggunakan sebuah kata untuk membingungkan dan
mengacaukan mereka yang membaca Kitab Suci? Kami menjawab: Tidak! tetapi Ia
juga tidak menuliskan FirmanNya untuk orang-orang malas yang terlalu cenderung
untuk menunda, atau terlalu sibuk dengan hal-hal dunia ini, atau, seperti
Marta, yang begitu sibuk ‘melayani’ sehingga tidak mempunyai waktu untuk
menyelidiki dan mempelajari Kitab Suci! Jika ditanyakan lebih lanjut:
Tetapi bagaimana seorang penyelidik Kitab Suci bisa
tahu mana dari arti-arti di atas yang harus diambil untuk istilah ‘dunia’
dalam satu text tertentu? Jawabannya adalah: Ini bisa diketahui dengan pasti
dengan menyelidiki kontexnya dengan teliti, dengan memperhatikan apa yang
disebut ‘dunia’ dalam setiap text, dan dengan membandingkan dengan text-text
lain yang paralel dengan text yang sedang dipelajari, sambil banyak
berdoa. ... ‘dunia’ dalam Yoh 3:16 menunjuk kepada
‘dunia orang-orang percaya’ (orang-orang pilihan Allah)] - ‘The
Sovereignty of God’, (AGES) - hal 224-225 (Appendix 3).
Pembahasan
John Owen tentang Yoh 3:16.
John
Owen:
“The
second thing controverted is the object of this love, pressed by the word
‘world;’ which our adversaries would have to signify all and every man; we,
the elect of God scattered abroad in the world, with a tacit opposition to the
nation of the Jews, who alone, excluding all other nations (some few proselytes
excepted), before the actual exhibition of Christ in the flesh, had all the
benefits of the promises appropriated to them, Rom. 9:4; in which privilege now
all nations were to have an equal share” [= Hal kedua yang diperdebatkan
adalah obyek dari kasih ini, yaitu kata ‘dunia’;
yang oleh lawan-lawan kita (orang Arminian)
diartikan sebagai ‘semua dan setiap orang’;
sedangkan kami mengartikan sebagai ‘orang-orang
pilihan Allah yang tersebar secara luas dalam dunia’, dengan suatu kontras
yang tidak disebutkan dengan bangsa Yahudi, yang sebelum inkarnasi
Kristus, dibedakan dengan semua bangsa-bangsa lain (kecuali beberapa orang-orang
yang di-yahudi-kan), dalam hal mereka mempunyai semua keuntungan dari
janji-janji yang cocok bagi mereka, Ro 9:4; tetapi sekarang hak tersebut telah
dimiliki secara sama oleh semua bangsa lain] - ‘The
Works of John Owen’, vol 10, hal 325.
John
Owen:
“By
the ‘world,’ we understand the elect of God only” (= Dengan kata
‘dunia’, kami menafsirkannya sebagai orang-orang
pilihan Allah saja) - ‘The
Works of John Owen’, vol 10, hal 321.
Apa
argumentasi yang diberikan oleh Owen?
·
Kata ‘dunia’ dalam Yoh
3:16 dan kata ‘dunia’ dalam Yoh 3:17,
artinya harus sama. Padahal kata ‘dunia’ dalam Yoh 3:17 tidak mungkin diartikan ‘semua
manusia dalam dunia ini’, tetapi harus diartikan ‘orang
pilihan di seluruh dunia’.
Yoh 3:17
- “Sebab Allah mengutus AnakNya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia,
melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia”.
Catatan:
kata ‘nya’ yang saya garis bawahi
seharusnya adalah ‘dunia’. Jadi,
dalam ayat ini seharusnya ada 3 x kata ‘dunia’.
Yang saya bicarakan di sini adalah kata ‘dunia’
yang saya garis bawahi (kata yang kedua dan ketiga), bukan kata ‘dunia’
yang tidak saya garis bawahi (kata yang pertama).
·
Owen (hal 322) juga mengatakan: kalau Allah mengasihi semua orang
sehingga menyerahkan AnakNya untuk mati bagi mereka semua, mengapa hal ini tidak
tercapai (dalam arti orang-orang itu tidak selamat)? Mengapa hal ini bisa
terhalang sehingga tidak menghasilkan apa yang diinginkan? Mengapa Allah tidak
menggunakan kuasaNya untuk menggenapi / melaksanakan keinginanNya?
·
Owen (hal 324-325) menghubungkan dengan Ro 8:32 - “Ia,
yang tidak menyayangkan AnakNya sendiri, tetapi yang menyerahkanNya bagi kita semua,
bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”.
Ro 8:32
ini menunjukkan bahwa kasih, yang menyebabkan Allah menyerahkan Kristus bagi
kita, adalah kasih yang sama, yang menyebabkan Allah mengaruniakan segala
sesuatu kepada ‘kita’. Padahal dalam Ro 8:32 ini
kata ‘kita’
jelas menunjuk kepada ‘orang-orang
pilihan’ (bandingkan dengan Ro 8:33 - “Siapakah
yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah?
Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka?”.
·
Owen (hal 328) juga mengatakan bahwa kalau Allah memang mengasihi semua
orang di dunia ini, mengapa Ia tidak menyatakan Yesus Kristus kepada semua orang
di dunia? Mengapa Ia justru mengatur sehingga ada orang-orang yang sama sekali
tidak pernah mendengar tentang Kristus?
Bdk.
Kis 16:6-12 - “(6) Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh
Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia. (7) Dan
setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah
Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka. (8) Setelah
melintasi Misia, mereka sampai di Troas. (9) Pada malam harinya tampaklah oleh
Paulus suatu penglihatan: ada seorang Makedonia
berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya: ‘Menyeberanglah ke mari dan
tolonglah kami!’ (10) Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami
mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan,
bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di
sana. (11) Lalu kami bertolak dari Troas dan langsung berlayar ke
Samotrake, dan keesokan harinya tibalah kami di Neapolis; (12) dari situ kami ke
Filipi, kota pertama di bagian Makedonia ini,
suatu kota perantauan orang Roma. Di kota itu kami tinggal beberapa hari”.
Owen
(hal 328) lalu mengatakan bahwa orang yang mempercayai bahwa kata ‘dunia’ berarti ‘semua
dan setiap manusia di dunia ini’, harus mempercayai dan menerima hal-hal
di bawah ini:
¨
Sebagian orang dikasihi dan juga dibenci oleh Allah dari
kekekalan.
Mungkin
kata ‘dikasihi’ ia dapatkan dari
Yoh 3:16 (menurut penafsiran Arminian), sedangkan kata ‘dibenci’
ia dapatkan dari providensia Allah yang mengatur sehingga orang-orang tertentu
sama sekali tidak pernah mendengar Injil, atau dari fakta bahwa ada orang-orang
yang sekalipun mendengar Injil tetapi tidak diberi kasih karunia untuk bisa
percaya.
¨
Kasih Allah kepada banyak orang menjadi tidak berbuah dan sia-sia.
¨
Anak Allah diberikan kepada mereka yang:
*
Tidak pernah mendengar tentang Dia.
*
Tidak diberi kuasa untuk percaya kepadaNya.
¨
Allah bisa berubah dalam kasihNya, atau Allah tetap mengasihi mereka
yang ada dalam neraka (ingat bahwa pada saat Yesus mati, sudah ada orang-orang
yang mati dalam dosa, dan karena itu pasti ada dalam neraka).
¨
Allah tidak memberi ‘segala sesuatu’ kepada mereka bagi siapa Ia
memberikan AnakNya, dan ini bertentangan dengan Ro 8:32 - “Ia, yang tidak menyayangkan AnakNya sendiri, tetapi yang menyerahkanNya
bagi kita semua, bagaimanakah
mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama
dengan Dia?”.
¨
Allah tidak tahu sebelumnya siapa yang akan percaya dan diselamatkan.
John
Owen:
“unless,
I say, all these blasphemies and absurdities be granted, it cannot be maintained
that by the ‘world’ here is meant all and every one of mankind, but only men
in common scattered throughout the world, which are the elect” (= kecuali
semua hujatan dan hal-hal menggelikan ini dianggap benar, maka tidak
bisa dipertahankan bahwa kata ‘dunia’ di sini berarti semua dan setiap orang
dari umat manusia, tetapi hanya orang-orang yang tersebar di seluruh dunia, yang adalah orang-orang
pilihan) - ‘The Works of John
Owen’, vol 10, hal 328.
Satu
argumentasi lagi yang bisa diberikan untuk mendukung tafsiran ini adalah adanya
kata ‘karena’ di awal Yoh 3:16, yang jelas menunjukkan adanya
hubungan antara Yoh 3:16 dengan ayat sebelumnya, yaitu Yoh 3:15.
Padahal Yoh 3:14-15 berbunyi sebagai berikut: “(14) Dan sama seperti
Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus
ditinggikan, (15) supaya setiap
orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal”.
Saya kira ini adalah sesuatu yang sangat penting, karena
Yoh 3:15 sudah berbicara tentang ‘setiap orang yang percaya’ yang beroleh hidup yang kekal. Jadi kontexnya berbicara
tentang ‘orang percaya’.
Sekarang,
kalau kita mau menerima penafsiran ini, yang mengatakan bahwa kata ‘dunia’
dalam Yoh 3:16 ini menunjuk kepada ‘orang-orang
pilihan’ saja, maka bagaimana sikap Allah
terhadap ‘orang-orang non pilihan’
(reprobate)?
Arthur
W. Pink:
“The
wicked God pities (see Matt. 18:33). Unto the unthankful and evil God is
‘kind’ (see Luke 6:35). The vessels of wrath He endures ‘with much
long-suffering’ (see Rom. 9:22). But ‘His own’ God ‘loves’!!” [=
Terhadap orang-orang jahat Allah berbelas kasihan
(lihat Mat 18:33). Kepada orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan jahat
Allah itu ‘baik’ (lihat Luk 6:35).
Terhadap benda-benda kemurkaannya Allah ‘menaruh
kesabaran yang besar’ (lihat Ro 9:22). Tetapi terhadap
‘orang-orang kepunyaanNya’ Allah ‘mengasihi’!!]
- ‘The Sovereignty of God’, (AGES), hal 225 (Appendix 3).
John
Murray, seorang ahli theologia Reformed, tidak setuju dengan penafsiran di atas.
Ia membahas beberapa ayat yang memerintahkan kita meneladani Allah dengan
mengasihi orang-orang jahat, yaitu:
·
Mat 5:44-48 - “(44) Tetapi
Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang
menganiaya kamu. (45) Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi
orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar
dan orang yang tidak benar. (46) Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu?
Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? (47) Dan apabila kamu hanya
memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan
orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? (48)
Karena itu haruslah kamu
sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna”.
·
Luk 6:27-28,35-36 - “(27) Tetapi
kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah
baik kepada orang yang membenci kamu; (28) mintalah berkat bagi orang yang
mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. ... (35) Tetapi kamu,
kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak
mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang
yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.
(36) Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu
adalah murah hati”.
Bandingkan
kedua text di atas dengan Kis 14:16-17 yang berbunyi: “(16) Dalam zaman yang
lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, (17) namun
Ia bukan tidak menyatakan diriNya dengan berbagai-bagai kebajikan, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan
memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan
kegembiraan”, yang
menunjukkan bahwa Allah memang baik / kasih kepada orang-orang jahat tersebut,
dan tetap memberkati mereka.
John
Murray:
“It
would be impossible to make such a disjunction between God’s kindness and
mercy, on the one hand, which are expressly stated to be the pattern of our
conduct, and love, with the result that, while kindness and mercy to the ungodly
are predicated of God, yet love is not. In both passages love has the priority
in exhortation and the character of God has primacy as the pattern by which we
are to be directed. Are we to say that the love of God is to be excluded from
the divine pattern while kindness and mercy are to be included? This would be
exegetical violence amounting to monstrosity” (= Tidak
mungkin membuat pemisahan seperti itu antara ‘kebaikan dan belas kasihan
Allah’ yang dinyatakan secara jelas sebagai pola dari tingkah laku kita
pada satu sisi, dan ‘kasih’, sehingga mengakibatkan
bahwa Allah dikatakan ‘baik dan berbelas kasihan’ kepada orang-orang jahat,
tetapi ‘tidak mengasihi’ mereka. Dalam kedua text, kasih mempunyai
prioritas dalam nasehat, dan karakter / sifat Allah mempunyai keunggulan /
keutamaan sebagai pola, dengan mana kita dipimpin. Apakah kita mau mengatakan
bahwa pola ilahi tidak mencakup kasih Allah tetapi hanya mencakup kebaikan dan
belas kasihan? Ini merupakan suatu pemaksaan yang tidak benar dalam melakukan
exegesis sehingga menjadi sesuatu yang sangat aneh) - ‘Collected
Writings of John Murray’, vol 1, hal 67.
Kata-kata Murray ini memang perlu diperhitungkan, tetapi:
¨
kalau kita memperhatikan Mat 5:44-48
dan Luk 6:27-28,35-36 di atas, tidak ada kata-kata yang menunjukkan bahwa
Allah mengasihi orang-orang yang ditentukan untuk binasa. Kalau demikian, apakah
Allah tidak mengasihi orang-orang jahat? Tentu saja ya, karena bukanlah kita
sebagai orang-orang pilihan / percaya juga adalah orang-orang jahat yang
sebetulnya tidak layak dikasihi? Tetapi Allah mengasihi kita! Dan ini harus kita
teladani!
¨
saya berpendapat bahwa ada ayat lain
yang harus dipertimbangkan, yaitu Ro 9:13 - “seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub (elect), tetapi membenci Esau (reprobate).’”.
Tetapi tentang ayat ini perlu diingat juga bahwa dalam
bahasa Kitab Suci, kata ‘membenci’
seringkali harus diartikan ‘kurang
mengasihi’. Ini bisa kita dapatkan kalau kita membandingkan Luk 14:26
dengan Mat 10:37.
Luk 14:26 - “‘Jikalau
seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya,
saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak
dapat menjadi muridKu”.
Mat 10:37 - “Barangsiapa
mengasihi bapa atau ibunya lebih dari padaKu, ia tidak layak bagiKu; dan
barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari padaKu, ia
tidak layak bagiKu”.
Bdk.
Kej 29:30-31 - “(30) Yakub menghampiri
Rahel juga, malah ia
lebih cinta kepada Rahel dari pada kepada Lea. Demikianlah ia bekerja pula pada Laban tujuh tahun lagi. (31) Ketika
TUHAN melihat, bahwa Lea tidak dicintai, dibukaNyalah kandungannya, tetapi Rahel
mandul”.
KJV: ‘(30) And he
went in also unto Rachel, and he loved also Rachel more than Leah, and served with
him yet seven other years. (31) And when the LORD saw that Leah was hated, he opened her womb: but Rachel was
barren’ (= Dan ia menghampiri Rahel juga, dan ia mencintai Rahel juga lebih dari pada Lea, dan melayaninya tujuh tahun lagi. Dan ketika TUHAN
melihat bahwa Lea dibenci, Ia membuka
kandungannya: tetapi Rahel mandul).
Tetapi bagaimanapun juga, dalam Ro 9:13 itu
kelihatannya kata ‘membenci’ memang harus diartikan sebagai ‘membenci’.
Bdk.
Mal 1:2-4 - “(2) ‘Aku mengasihi
kamu,’ firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: ‘Dengan cara bagaimanakah Engkau
mengasihi kami?’ ‘Bukankah Esau itu kakak Yakub?’ demikianlah firman
TUHAN. ‘Namun Aku mengasihi Yakub, (3) tetapi membenci Esau. Sebab itu Aku
membuat pegunungannya menjadi sunyi sepi dan tanah pusakanya Kujadikan padang
gurun.’ (4) Apabila Edom berkata: ‘Kami telah hancur, tetapi kami akan
membangun kembali reruntuhan itu,’ maka beginilah firman TUHAN semesta alam:
‘Mereka boleh membangun, tetapi Aku akan merobohkannya; dan orang akan
menyebutkannya daerah kefasikan dan bangsa yang kepadanya TUHAN murka sampai
selama-lamanya.’”.
Saya ingin menambahkan sendiri satu ayat lagi yang harus
diperhitungkan, yaitu Mark 10:21 - “Tetapi
Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata
kepadanya: ‘Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki
dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di
sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.’”.
Pemuda kaya yang datang kepada Yesus itu jelas bukan
orang percaya, tetapi Yesus mengasihinya. Perlu juga diperhatikan bahwa kata ‘menaruh kasih’ diterjemahkan dari kata Yunani EGAPESEN, yang jelas kata
dasarnya adalah AGAPAO.
Tetapi tentang ayat ini ada 2 hal yang juga perlu
diperhatikan, yaitu:
·
pemuda kaya itu belum tentu termasuk
seorang reprobate (= orang yang
ditentukan binasa), karena sekalipun memang pada saat itu ia menolak untuk
percaya / mengikut Yesus, tetapi siapa tahu bahwa di kemudian hari ia bertobat?
·
kita juga tidak tahu apakah pada waktu
dikatakan bahwa Yesus mengasihi pemuda kaya itu, Yesus ditinjau sebagai Allah
atau manusia.
Jown
Owen menafsirkan ‘kasih Allah’ ini dengan cara yang sangat berbeda.
John
Owen:
“By
‘love’ in this place, all our adversaries agree that a natural affection and
propensity in God to the good of the creature, lost under sin, in general, which
moved him to take some way whereby it might possibly be remedied, is intended.
We, on the contrary, say that by ‘love’ here is not meant an inclination or
propensity of his nature, but an act of his will (where we conceive his love to
be seated), and eternal purpose to do good to man, being the most trancendent
and eminent act of God’s love to the creature” [= Untuk
kata ‘kasih’ di tempat ini, semua musuh-musuh kita setuju bahwa yang
dimaksudkan adalah suatu perasaan lembut yang alamiah dan kecenderungan dalam
Allah bagi kebaikan makhluk ciptaanNya, yang terhilang di bawah dosa, secara
umum, yang menggerakkanNya untuk mengambil jalan dengan mana itu memungkinkan
diperbaiki. Sebaliknya kami mengatakan bahwa
‘kasih’ di sini tidak berarti suatu kecenderungan atau kecondongan untuk
berbuat baik, tetapi suatu tindakan dari kehendakNya (yang merupakan kedudukan
dari kasihNya menurut pemahaman kami), dan rencana / tujuan kekal untuk
melakukan kebaikan kepada manusia, yang merupakan tindakan yang paling luar
biasa dan menonjol dari kasih Allah kepada makhluk ciptaanNya] - ‘The
Works of John Owen’, vol 10, hal 321.
Inti
dari kata-kata Owen ini adalah: orang Arminian menganggap kasih Allah sebagai
suatu perasaan, tetapi ia menganggap kasih Allah sebagai suatu tindakan yang
didasarkan atas kehendak / rencana Allah.
Di
bagian lain dari bukunya John Owen berkata: “...
of reprobate persons, hated of God from eternity; ...” (= ... tentang
orang-orang yang ditentukan untuk binasa, dibenci Allah dari kekekalan; ...)
- ‘The Works of John Owen’, vol
10, hal 354.
John
Calvin: “what
I teach stands firm: that the reprobate are hateful to God, and with very good
reason. For, deprived of his Spirit, they can bring forth nothing but reason for
cursing.”
(= apa yang saya ajarkan berdiri teguh: bahwa orang-orang reprobate dibenci
Allah, dan dengan alasan yang baik. Karena, terpisah dari RohNya, mereka tidak
bisa mengeluarkan apapun kecuali alasan untuk kutukan) - ‘Institutes
of the Christian Religion’, Book III, Chapter 24, no 17.
2.
Pembahasan kata-kata ‘setiap orang yang percaya’.
Orang
Arminian menganggap bahwa kata ‘setiap
orang’ [KJV: ‘whosoever’ (= barangsiapa)] merupakan sebagian dari
orang-orang yang menjadi obyek kasih Allah, sedangkan obyek dari kasih Allah
adalah semua orang.
Tetapi
Owen (hal 328-329) lalu berargumentasi: kalau demikian, ada pembatasan dari buah dari kasih Allah. Lalu pembatasan
itu tergantung kepada apa / siapa? Menurut Owen ada 2 kemungkinan:
a.
Tergantung kepada orang itu sendiri.
Kalau
ini yang dipilih, maka akan bertentangan dengan 1Kor 4:7 - “Sebab siapakah
yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau
memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak
menerimanya?”.
Catatan: bagian yang
saya garis-bawahi salah terjemahan.
KJV: ‘For who
maketh thee to differ from another? and what hast thou that thou didst not
receive? now if thou didst receive it, why dost thou glory, as if thou hadst not
received it?’ (= Karena siapa yang membuat engkau berbeda dari yang
lain? dan apa yang engkau punyai yang tidak engkau terima? sekarang, jika
engkau memang menerimanya, mengapa engkau bermegah seakan-akan engkau tidak
menerimanya?).
b. Tergantung pada
kehendak Allah.
Kalau demikian, maka Yoh 3:16 menunjukkan bahwa
Allah mengasihi semua orang tetapi Allah membatasi sehingga hanya sebagian dari
mereka yang merasakan buah dari kasihNya.
John Owen: “To
what end, then, I pray, did he love those other some?”
(= Maka saya bertanya: apa tujuannya Ia mengasihi sebagian yang lain itu?)
- ‘The Works of John Owen’, vol
10, hal 329.
Owen lalu menambahkan bahwa kalau pembatasan ini
tergantung kehendak / rencana Allah, maka penebusan universal tidak mempunyai
landasan pada kehendak Allah.
John
Owen:
“Seeing
that these words, ‘that whosoever believeth,’ do peculiarly point out the
aim and intention of God in this business, if it do restrain the object beloved,
then the salvation of believers is confessedly the aim of God in this business,
and that distinguished from others; and if so, the general ransom is an empty
sound, having no dependence on the purpose of God, his intention being carried
out in the giving of his Son only to the salvation of believers, and that
determinately, unless you will assign unto him a nescience of them that should
believe” (= Melihat bahwa kata-kata ‘supaya barangsiapa / setiap orang
yang percaya’ menunjukkan secara khusus tujuan dan maksud dari Allah dalam
urusan ini, jika itu memang membatasi obyek yang dikasihi, maka keselamatan dari
orang-orang percaya diakui sebagai tujuan Allah dalam urusan ini, dan itu
dibedakan dari yang lain; dan jika demikian, penebusan umum / universal
merupakan suatu bunyi yang kosong, yang tidak mempunyai ketergantungan pada
rencana Allah, karena tujuanNya yang dilaksanakan dengan memberikan AnakNya
hanyalah bagi keselamatan orang-orang percaya, dan itu merupakan sesuatu yang
pasti, kecuali engkau menganggap Ia tidak tahu tentang siapa yang akan percaya)
- ‘The Works of John Owen’, vol
10, hal 329.
John
Owen:
“God
gave not his Son, - 1. For them who
never do believe; 2. Much less for them who never hear of him, and so
evidently want means of faith; 3. For them on whom he hath determined not
to bestow effectual grace, that they might believe” (= Allah tidak
memberikan AnakNya, - 1. Untuk mereka yang tidak pernah percaya; 2. Lebih-lebih
lagi untuk mereka yang tidak pernah mendengar tentang Dia, dan dengan demikian
tidak mempunyai jalan untuk beriman; 3. Untuk mereka bagi siapa Ia telah
menentukan untuk tidak memberikan kasih karunia yang efektif supaya mereka bisa
percaya) - ‘The Works of John
Owen’, vol 10, hal 329.
Disamping
itu, saya berpendapat bahwa sebetulnya dalam persoalan ini, terjemahan ‘setiap
orang’ dari Kitab Suci Indonesia lebih benar dari pada terjemahan ‘whoever’
/ ‘whosoever’ / ‘barangsiapa’ dari Kitab Suci bahasa Inggris.
Yoh 3:16
- “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah
mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap
orang yang percaya
kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”.
KJV: ‘For God so
loved the world, that he gave his only begotten Son, that whosoever believeth in him should not
perish, but have everlasting life’ (= Karena
Allah begitu mengasihi dunia, sehingga Ia memberikan AnakNya yang tunggal, supaya
barangsiapa percaya kepadaNya tidak binasa, tetapi
memperoleh hidup yang kekal).
RSV: ‘For God so
loved the world that he gave his only Son, that whoever believes in him should not
perish but have eternal life’ (= Karena Allah
begitu mengasihi dunia sehingga Ia memberikan AnakNya yang tunggal, supaya barangsiapa percaya kepadaNya tidak binasa, tetapi
memperoleh hidup yang kekal).
John
Owen:
“i[na pa~v oJ
pisteu>wn, - ‘that whosoever believeth,’ or ‘that every
believer.’”
(= HINA PAS HO PISTEUON, - ‘supaya barangsiapa percaya’, atau ‘supaya setiap
orang percaya’) - ‘The Works
of John Owen’, vol 10, hal 328.
Kata
Yunani PAS sebetulnya artinya adalah ‘setiap
orang’.
Juga
kata ‘yang’ sebetulnya tidak ada,
karena terjemahan hurufiahnya adalah: ‘that
everyone believing’ (= supaya setiap orang percaya). Jadi,
‘setiap orang percaya’ ini tidak
menunjuk kepada sebagian dari obyek yang dikasihi Allah, untuk siapa Ia
memberikan AnakNya, tetapi menunjuk kepada seluruh obyek kasih Allah
tersebut.
Dengan
demikian, Yoh 3:16 artinya adalah: Karena begitu besar kasih Allah terhadap
orang-orang pilihan sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya
setiap orang percaya (= orang-orang pilihan itu) tidak binasa tetapi memperoleh
hidup yang kekal.
d)
Pembahasan Yoh 3:17.
Yoh 3:17
- “Sebab Allah mengutus AnakNya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia,
melainkan untuk menyelamatkannya
(dunia) oleh Dia”.
Catatan:
dalam Yoh 3:17 ini sebetulnya kata ‘dunia’
muncul 3 x, tetapi kata ‘dunia’
yang ketiga diterjemahkan menjadi ‘nya’
dalam Kitab Suci Indonesia. Bandingkan dengan terjemahan KJV di bawah ini.
KJV: ‘For God
sent not his Son into the world to condemn the world; but that the world through him might
be saved’ (= Karena Allah tidak mengutus
AnakNya ke dalam dunia untuk menghukum dunia; tetapi supaya dunia bisa diselamatkan melalui Dia).
Owen (hal 342) berpendapat bahwa:
1. Kata
‘dunia’ yang pertama menunjuk pada ‘bumi’
atau ‘sebagian dari bumi’.
2. Kata
‘dunia’ yang kedua bisa menunjuk kepada ‘semua
manusia’ tetapi bisa juga menunjuk hanya kepada ‘orang-orang
pilihan’.
3. Kata
‘dunia’ yang ketiga pasti menunjuk kepada ‘orang-orang
pilihan’.
Owen menambahkan bahwa tidak mungkin Allah mengutus
AnakNya ke dalam dunia dengan maksud untuk menyelamatkan semua manusia di dunia
ini, karena Luk 2:34 mengatakan bahwa Kristus ditentukan untuk menjatuhkan
sebagian orang.
Luk 2:34
- “Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu:
‘Sesungguhnya Anak ini ditentukan
untuk menjatuhkan
atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang
menimbulkan perbantahan”.
John
Owen:
“Christ
was appointed for the fall of some, Luke 2:34, and, therefore, not that all and
every one might be saved. ... The end of Christ’s actual exhibition and
sending in the flesh is not opposite to any of God’s eternal decrees, which
were eternally fixed concerning the condemnation of some for their sins”
(= Kristus ditentukan untuk kejatuhan dari sebagian orang, Luk 2:34, dan karena
itu, bukan supaya semua dan setiap orang bisa diselamatkan. ... Tujuan dari
penampilan dan pengiriman Kristus dalam daging tidaklah bertentangan dengan yang
manapun dari ketetapan-ketetapan kekal Allah, yang telah ditetapkan secara kekal
berkenaan dengan penghukuman dari sebagian orang karena dosa-dosa mereka) - ‘The
Works of John Owen’, vol 10, hal 342.
Dalam tafsirannya tentang Luk 2:34 ini William
Hendriksen berkata: “Simeon now invoked God’s blessing on Joseph and Mary. Having done
this, he addressed to Mary words that must have startled her. In substance he
told her that her child would become the great divider; not, however, that
events would simply turn out that way, but that in God’s plan it had been so
decided” (= Sekarang Simeon meminta berkat Allah bagi Yusuf dan Maria.
Setelah melakukan hal ini, ia menujukan kepada Maria kata-kata yang pasti
mengejutkannya. Pada hakekatnya, ia mengatakan kepadanya bahwa Anaknya akan
menjadi pemisah yang besar; bukan sekedar bahwa hal itu akan terjadi, tetapi
bahwa dalam rencana Allah sudah ditetapkan demikian) - hal 170.
Sedangkan
Calvin berkata: “The meaning is, that he was divinely appointed to cast down and
destroy many. But it must be observed, that the ruin of unbelievers results from
their striking against him” (= Artinya adalah bahwa Ia ditetapkan secara
ilahi untuk membuang dan menghancurkan banyak orang. Tetapi harus diperhatikan
bahwa kehancuran orang-orang yang tidak percaya diakibatkan oleh perlawanan
mereka terhadap Dia) - hal 148.
Bandingkan dengan 1Pet 2:4-8 - “(4) Dan datanglah kepadaNya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang
oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. (5) Dan biarlah
kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani,
bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena
Yesus Kristus berkenan kepada Allah. (6) Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci:
‘Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu
penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepadaNya, tidak akan
dipermalukan.’ (7) Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi
mereka yang tidak percaya: ‘Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang
bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu
batu sandungan.’ (8) Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat
kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan”.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : buas22@yahoo.com
e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali