Golgotha
School of Ministry
(Rungkut
Megah Raya Blok D No 16)
Rabu,
tgl 25 Juli 2012, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP:
7064-1331 / 6050-1331)
j)
Pembahasan Kol 1:20 - “dan
oleh Dialah Ia memperdamaikan segala
sesuatu dengan diriNya,
baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan
pendamaian oleh darah salib Kristus”.
Ayat
ini agak berbeda dengan ayat-ayat lain dalam kelompok ini, karena tidak
menggunakan kata-kata ‘semua orang’, tetapi ‘segala
sesuatu’. Ini saja sudah membingungkan, apalagi masih ditambah dengan anak
kalimat selanjutnya yang mengatakan -
‘baik yang ada di bumi, maupun
yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus’.
Adam
Clarke (tentang Kol 1:20): “‘Things
in earth, or things in heaven.’ ... If the phrase be not a kind of
collective phrase to signify all the world, or all mankind, as Dr. Hammond
supposed the things in heaven may refer, according to some, to those persons who
died under the Old Testament dispensation, and who could not have a title to
glory but through the sacrificial death of Christ: and the apostle may have
intended these merely to show, that without this sacrifice no human beings could
be saved, not only those who were then on the earth, and to whom in their
successive generations the Gospel should be preached, but even those who had
died before the incarnation; and, as those of them that were faithful were now
in a state of blessedness, they could not have arrived there but through the
blood of the cross, for the blood of calves and goats could not take away sin. After
all, the apostle probably means the Jews and the Gentiles; the state of the
former being always considered a sort of divine or celestial state, while that
of the latter was reputed to be merely earthly, without any mixture of spiritual
or heavenly good. It is certain that a grand part of our Lord’s design, in
his incarnation and death, was to reconcile the Jews and the Gentiles, and make
them one fold under himself, the great Shepherd and Bishop of souls. That the
enmity of the Jews was great against the Gentiles is well known, and that the
Gentiles held them in supreme contempt is not less so. It was therefore an
object worthy of the mercy of God to form a scheme that might reconcile these
two grand divisions of mankind; and, as it was his purpose to reconcile and make
them one, we learn from this circumstance, as well as from many others, that his
design was to save the whole human race”
(= ‘Hal-hal di bumi, atau hal-hal di surga’. ... Jika ungkapan ini
bukannya sejenis ungkapan kolektif untuk menunjuk seluruh dunia, atau semua umat
manusia, seperti Dr. Hammond menganggap ‘hal-hal di surga’ bisa menunjuk,
maka menurut sebagian orang, itu
menunjuk kepada orang-orang itu yang telah mati dalam jaman Perjanjian Lama,
dan yang tidak bisa mempunyai suatu hak pada kemuliaan kecuali melalui kematian
yang bersifat pengorbanan dari Kristus: dan sang rasul bisa memaksudkan
orang-orang ini semata-mata untuk menunjukkan, bahwa tanpa korban ini tak ada
manusia yang bisa diselamatkan, bukan hanya mereka yang pada saat itu ada di
bumi, dan bagi siapa dalam generasi-generasi mereka yang berikutnya Injil harus
diberitakan, tetapi bahkan mereka yang telah mati sebelum inkarnasi; dan, karena
mereka yang setia sekarang ada dalam keadaan diberkati, mereka tidak bisa telah
sampai di sana kecuali melalui darah dari salib, karena darah dari lembu dan
kambing tidak bisa menghapus dosa. Bagaimanapun juga, sang rasul mungkin
memaksudkan orang-orang Yahudi dan orang-orang non Yahudi; keadaan yang pertama
selalu dianggap sebagai sejenis keadaan ilahi atau surgawi, sementara keadaan
yang terakhir dianggap sebagai semata-mata duniawi, tanpa campuran apapun dari
kebaikan rohani atau surgawi. Adalah pasti bahwa suatu bagian yang agung /
hebat dari rancangan Tuhan kita, dalam inkarnasi dan kematianNya, adalah untuk
mendamaikan orang-orang Yahudi dan orang-orang non Yahudi, dan membuat mereka
satu kandang di bawah diriNya sendiri, Gembala yang Agung dan Uskup dari
jiwa-jiwa (1Pet 2:25).
Bahwa permusuhan dari orang-orang Yahudi sangat besar terhadap orang-orang non
Yahudi merupakan sesuatu yang sangat terkenal, dan bahwa orang-orang non Yahudi
menganggap mereka dalam kejijikan yang tertinggi juga tidak kurang dikenal.
Karena itu, itu merupakan suatu obyek / tujuan yang layak dari belas kasihan
Allah untuk membentuk suatu rencana yang bisa memperdamaikan dua bagian besar
dari umat manusia ini; dan, sebagaimana merupakan rencana / tujuanNya untuk
memperdamaikan dan membuat mereka satu, kita belajar dari keadaan ini, maupun
dari banyak yang lain, bahwa rancanganNya
adalah untuk menyelamatkan seluruh umat manusia).
Catatan: kontext dari Kol 1:20 itu tidak memungkinkan
untuk mengartikan kata-kata ‘segala
sesuatu’ hanya
kepada manusia yang manapun. Kelihatannya kata-kata ‘segala sesuatu’ itu harus menunjuk kepada ‘semua ciptaan’
dalam arti yang mutlak.
Kol
1:14-22 - “(14) di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan
dosa. (15) Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama
dari segala yang diciptakan, (16) karena
di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu,
yang ada di sorga dan
yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik
singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala
sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. (17) Ia ada terlebih
dahulu dari segala sesuatu dan segala
sesuatu ada di dalam Dia. (18) Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat.
Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang
lebih utama dalam segala sesuatu. (19)
Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, (20) dan oleh Dialah
Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan
diriNya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan
pendamaian oleh darah salib Kristus. (21) Juga kamu yang dahulu hidup jauh
dari Allah dan yang memusuhiNya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari
perbuatanmu yang jahat, (22) sekarang diperdamaikanNya, di dalam tubuh jasmani
Kristus oleh kematianNya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak
bercacat di hadapanNya.”.
Lenski
(tentang Kol 1:20): “All would be perfectly clear and
simple if Paul had not written ‘all the things - whether those on the earth or
those in the heavens,’ especially the latter. We have no difficulty in
understanding the effect of Christ’s redemption on the world in view of Rom.
8:19, etc., and Rev. 21:1, etc. The difficulty lies in a reference to the good
angels in heaven and a statement such as that found in Heb. 2:16”
(= Semua akan jelas dan sederhana seandainya Paulus tidak menulis
‘segala sesuatu - apakah hal-hal di bumi atau
hal-hal di surga’, khususnya yang terakhir. Kita tidak mempunyai
kesukaran dalam mengerti akibat / hasil dari penebusan Kristus terhadap dunia /
alam semesta mengingat Ro 8:19, dsb., dan Wah 21:1, dsb. Kesukarannya
terletak dalam suatu hubungan dengan malaikat-malaikat yang baik di surga dan
suatu pernyataan seperti yang terdapat dalam Ibr 2:16).
Ro
8:19-22 -
“(19) Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk
menantikan saat anak-anak
Allah dinyatakan. (20) Karena seluruh
makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya
sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, (21) tetapi dalam
pengharapan, karena makhluk itu sendiri
juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan
kemuliaan anak-anak
Allah. (22) Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala
makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin”.
Wah
21:1 - “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit
yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi”.
Ibr
2:16 -
“Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang
Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani”.
Lenski
(tentang Kol 1:20): “A great variety of interpretations
is offered, among the most unlikely being an angelology which is built up on the
basis of Jewish material and is then attributed to Paul, which claims that the
good angels were faulty and thus themselves needed a reconciliation and the
making of peace. ... It is enough to say that the Scriptures know of no moral
fault in the good angels. ... The difficulty clears when we note that not all
the objects of the God-man’s reconciling act are affected alike by that act,
but that each class is affected according to its nature, its condition, and its
relation. We should also remember that ‘all creation’ is a unit, is
never viewed otherwise by the Scriptures, and always includes the whole angel
world. ‘All creation’ was disrupted: sin arose in heaven and entered men and
the physical universe. The Son of God came to the rescue. ... His work of rescue
was accomplished ‘through the blood of his cross.’ Now the effects. The evil
angels were eliminated eo ipso.
The blood of the cross has the same effect for all men who follow these angels
and despise this blood; it rescues only the believers (v. 13). This rescue
includes the physical creature world. How this is to be understood is shown in
Rom. 8:19, etc. This creature world was ‘subject to vanity not willingly,’
it never willed sin. It shall be affected accordingly, i.e., according to its
nature and its relation to us: a glorious liberation shall turn it into a new
earth (Rom. 8:20), one that is joined to heaven (Rev. 21:1, etc.). Thus as
‘the blood of the cross’ has its effects by eo ipso
excluding the evil angels and then also all unbelieving men, as it establishes
the eternal kingdom of the Son of God’s love, it has its effects also on the
good angels and on all ‘the things in the heaven,’ not, indeed, as though
they needed a change in themselves (ἀποκαταλλάσσειν),
a ‘being made other’ (ἄλλος)
in themselves, but as requiring a change and a new relation to the restored
universe. Once there was war (note, for instance, Rev. 12:7) that involved all
the good angels; by his cross ‘the first-born from the dead’ has created
peace, and this peace shall soon be absolute when the whole universe, heaven and
earth united in one (Rev. 21:1, etc.), shall be one kingdom of eternal peace.
The cross affects ‘all creation.’ Each part of it is not
affected in the identical way but according to the nature, the condition, and
the relation of each part to the whole. We distinguish four grand parts. The
cross affects each of them, but each of them differently: evil angels - good
angels - man, believing or unbelieving - the physical universe. When we say
‘the blood of his cross,’ this means the act of reconciliation, the act of
establishing peace. No less than ‘all creation’ is involved in the act of
‘the first-born of all creation.’ ... The root idea lies in ἄλλος,
‘other,’ placing into a relation or a situation that is very much
‘other’ than the existing one. ... The change was made by his establishing
peace. We see the full, eternal results in his everlasting kingdom of peace.”
[= Sejumlah
besar penafsiran yang bermacam-macam ditawarkan, di antara yang paling tidak
mungkin adalah doktrin tentang malaikat yang dibangun pada
dasar dari bahan Yahudi dan lalu dihubungkan dengan Paulus, yang mengclaim bahwa
malaikat-malaikat yang baik juga bersalah / bercacat dan dengan demikian mereka
sendiri membutuhkan suatu pendamaian dan pembuatan damai. ... Adalah cukup untuk
mengatakan bahwa Kitab Suci tidak mengenal kesalahan moral dalam
malaikat-malaikat yang baik. ... Kesukarannya
hilang pada waktu kita memperhatikan bahwa tidak semua obyek-obyek dari tindakan
pendamaian manusia-Allah dipengaruhi secara sama oleh tindakan itu, tetapi bahwa
setiap golongan dipengaruhi sesuai dengan sifat dasarnya / hakekatnya, kondisi /
keadaannya, dan hubungannya. Kita juga harus mengingat bahwa ‘semua
ciptaan’ merupakan satu unit, yang tidak pernah dilihat secara berbeda oleh
Kitab Suci, dan selalu mencakup seluruh dunia
malaikat. ‘Semua ciptaan’ dikacaukan: dosa muncul di surga dan
memasuki manusia dan alam semesta fisik. Anak Allah datang untuk menolong. ...
Pekerjaan pertolonganNya tercapai ‘melalui darah dari salibNya’. Sekarang
akibat / hasilnya. Malaikat-malaikat yang jahat disingkirkan dengan
sendirinya. Darah dari salib mempunyai hasil / akibat yang sama untuk
semua manusia yang mengikuti malaikat-malaikat yang jahat ini dan menghina /
memandang rendah darah ini; itu hanya menolong orang-orang percaya (ay 13). Pertolongan
ini mencakup dunia makhluk-makhluk fisik. Bagaimana ini dimengerti ditunjukkan
dalam Ro 8:19-dst. Dunia makhluk ciptaan ini ‘tunduk pada
kesia-siaan tidak dengan sukarela / bukan oleh kehendaknya sendiri’; ia tidak
pernah mau berdosa. Itu akan dipengaruhi sesuai dengan hal itu, yaitu sesuai
dengan sifat dasar / hakekatnya dan hubungannya dengan kita: suatu pembebasan
yang mulia akan mengubahnya menjadi bumi yang baru (Ro 8:20), suatu bumi yang
bergabung dengan surga (Wah 21:1-dst.). Jadi, sama seperti ‘darah dari
salib’ mempunyai akibat / hasilnya yang dengan
sendirinya mengeluarkan malaikat-malaikat yang jahat dan lalu juga semua
orang-orang yang tidak percaya, pada waktu itu menegakkan kerajaan kekal dari
kasih Anak Allah, itu juga mempunyai akibat / hasil pada malaikat-malaikat yang
baik dan pada semua ‘hal-hal di surga’, memang
bukan, seakan-akan mereka membutuhkan suatu perubahan dalam diri mereka sendiri
(ἀποκαταλλάσσειν / APOKATALLASSEIN), suatu ‘pembuatan menjadi yang lain’ (ἄλλος / ALLOS) dalam diri mereka sendiri, tetapi sebagai membutuhkan suatu
perubahan dan suatu hubungan yang baru pada alam semesta yang dipulihkan.
Pernah terjadi suatu perang (perhatikan, sebagai contoh, Wah 12:7) yang
melibatkan semua malaikat-malaikat yang baik; oleh salibNya ‘yang sulung dari
orang mati’ telah menciptakan damai, dan damai ini akan segera menjadi mutlak
pada waktu seluruh alam semesta, surga / langit dan bumi bersatu menjadi satu
(Wah 21:1-dst), akan menjadi satu kerajaan dari damai yang kekal. Salib ini
mempengaruhi ‘semua ciptaan’. Setiap bagiannya
tidak dipengaruhi dengan cara yang sama, tetapi sesuai dengan sifat dasar /
hakekat, kondisi / keadaan, dan hubungan dari setiap bagian dengan
keseluruhannya. Kami membedakan empat bagian
besar. Salib mempengaruhi setiap mereka, tetapi masing-masing dari mereka
secara berbeda: malaikat-malaikat yang jahat -
malaikat-malaikat yang baik - manusia, yang percaya atau yang tidak percaya -
alam semesta secara fisik. Pada waktu kami mengatakan ‘darah dari
salibNya’ ini berarti tindakan pendamaian, tindakan menegakkan damai. Tak
kurang dari ‘semua ciptaan’ tercakup dalam tindakan dari ‘yang sulung dari
semua ciptaan’. ... Gagasan dasar terletak dalam ἄλλος
/ ALLOS, ‘yang lain’, menempatkan ke dalam suatu hubungan atau keadaan yang
sangat berbeda dari pada hubungan atau keadaan yang ada pada saat ini. ...
Perubahan dibuat oleh penegakan damaiNya. Kita melihat hasil-hasil yang penuh,
kekal, dalam kerajaan damai yang kekalNya.].
Kol
1:13 - “Ia telah melepaskan kita dari
kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan AnakNya yang kekasih;”.
Ibr
2:16 - “Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi
keturunan Abraham yang Ia kasihani”.
Ro 8:19-20
- “(19) Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat
anak-anak Allah dinyatakan. (20) Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada
kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri,
tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya”.
Wah
12:7 - “Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya
berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya”.
Wah
21:1 - “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit
yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi”.
Catatan:
·
tentang bagian yang
saya beri garis bawah ganda, bandingkan dengan tafsiran Calvin di bawah.
·
saya tak tahu persis
apa arti dari kata-kata Latin EO IPSO yang Lenski gunakan 2x dalam kutipan ini.
Tetapi kira-kira artinya adalah ‘by itself’ (= dengan sendirinya).
·
saya menganggap contoh Wah 12:7 itu sama sekali tidak cocok, dalam
dalam ayat itu malaikat-malaikat yang baik berperang melawan malaikat-malaikat
yang jahat, lalu darah Kristus mendamaikan apanya?
·
Yang jelas, Lenski tidak menganggap bahwa Kol 1:20 ini menentang ‘Limited
Atonement’ (= Penebusan Terbatas).
Calvin
(tentang Kol 1:20):
“‘Both upon earth and in heaven.’ ...
There were, it is true, no absurdity in extending it to all without exception;
... I prefer to understand it as referring to angels and men; and as to
the latter, there is no difficulty as to their having need of a peace maker in
the sight of God. ... Hence the nature
of the peace making between God and men was this, that enmities have been
abolished through Christ, and thus God becomes a Father instead of a Judge.
Between God and angels the state of matters is very different, for there was there no revolt, no sin, and consequently no separation. It
was, however, necessary that angels, also, should be made to be at peace with
God, for, being creatures, they were not beyond the risk of falling, had they
not been confirmed by the grace of Christ. This, however, is of no small
importance for the perpetuity of peace with God, to have a fixed standing in
righteousness, so as to have no longer any fear of fall or revolt. Farther, in
that very obedience which they render to God, there is not such absolute
perfection as to give satisfaction to God in every respect, and without the need
of pardon. And this beyond all doubt is what is meant by that statement in Job
4:18, He will find iniquity in his
angels. For if it is explained as referring to the devil, what mighty
thing were it? But the Spirit declares there,
that the greatest purity is vile, if it is brought into comparison with the
righteousness of God. We must, therefore, conclude, that there is not on the
part of angels so much of righteousness as would suffice for their being fully
joined with God. They have, therefore, need of a peace maker, through whose
grace they may wholly cleave to God. Hence it is with propriety that Paul
declares, that the grace of Christ does not reside among mankind alone, and on
the other hand makes it common also to angels. Nor is there any injustice done
to angels, in sending them to a Mediator, that they may, through his kindness,
have a well grounded peace with God”
(= ‘Baik yang ada
di bumi, maupun yang ada di sorga’. ... Adalah benar bahwa tak ada
kemustahilan / kelucuan untuk memperluasnya kepada semua tanpa kecuali; ... Saya
lebih memilih untuk mengartikannya sebagai menunjuk kepada malaikat-malaikat dan
manusia; dan berkenaan dengan yang terakhir, di sana tidak ada kesukaran
berkenaan dengan kebutuhan mereka akan seorang pembuat damai dalam pandangan
Allah. ... Maka sifat dasar dari pembuatan damai antara
Allah dan manusia adalah ini, bahwa permusuhan telah dihapuskan melalui Kristus,
dan dengan demikian Allah menjadi seorang Bapa dan bukannya seorang Hakim.
Antara Allah dan malaikat-malaikat keadaannya
sangat berbeda, karena di sana tidak ada pemberontakan, tak ada dosa, dan
sebagai akibatnya, tak ada pemisahan. Tetapi
adalah perlu bahwa malaikat-malaikat, juga, harus didamaikan dengan Allah,
karena, sebagai makhluk-makhluk ciptaan, mereka tidak ada di luar resiko untuk
jatuh, seandainya mereka tidak diteguhkan oleh kasih karunia Kristus. Ini,
bagaimanapun, bukanlah suatu kepentingan yang kecil untuk keabadian dari damai
dengan Allah, untuk mempunyai kedudukan yang tetap dalam kebenaran, sehingga
tidak lagi mempunyai rasa takut apapun tentang kejatuhan atau pemberontakan. Selanjutnya,
dalam ketaatan yang mereka berikan kepada Allah, di sana tidak ada kesempurnaan
mutlak sehingga memberikan kepuasan kepada Allah dalam setiap segi / hal, dan
tanpa kebutuhan pengampunan. Dan ini tanpa diragukan adalah apa yang dimaksudkan
dengan pernyataan itu dalam Ayub 4:18, Ia akan mendapati kesalahan dalam
malaikat-malaikatNya. Karena
jika itu dijelaskan sebagai menunjuk kepada Iblis, hal hebat apakah itu? Tetapi
Roh menyatakan di sana, bahwa kemurnian yang terbesar adalah kotor / buruk /
hina, jika itu dibawa ke dalam perbandingan dengan kebenaran Allah. Karena
itu, kita harus menyimpulkan bahwa pada malaikat-malaikat tidak ada kebenaran
yang begitu banyak sehingga cukup bagi penggabungan mereka dengan Allah.
Karena itu, mereka mempunyai kebutuhan akan seorang pembuat damai, melalui kasih
karunia siapa mereka bisa sepenuhnya berpegang erat-erat kepada Allah. Maka
dengan benar Paulus menyatakan, bahwa kasih karunia Kristus tidak tinggal /
terletak di antara manusia saja, dan pada sisi yang lain membuatnya umum bagi
malaikat-malaikat juga. Juga di sana tidak ada ketidak-adilan yang dilakukan
terhadap malaikat-malaikat, dalam mengutus mereka kepada seorang Pengantara,
supaya mereka bisa, melalui kebaikanNya, mempunyai damai yang mempunyai dasar
yang baik dengan Allah).
Ayub 4:18
- “Sesungguhnya, hamba-hambaNya tidak dipercayaiNya, malaikat-malaikatNya
didapatiNya tersesat”.
KJV:
‘and his angels he charged with
folly:’ (= dan malaikat-malaikatNya Ia tuduh dengan kebodohan).
RSV:
‘and his angels he charges with
error;’ (= dan malaikat-malaikatNya Ia tuduh dengan kesalahan).
NIV:
‘if he charges his angels with error,’
(= jika ia menuduh malaikat-malaikatNya dengan kesalahan).
NASB:
‘And against His angels He charges
error.’ (= Dan terhadap malaikat-malaikatnya Ia menuduhkan kesalahan).
Bdk.
Ayub 15:15 - “Sesungguhnya, para suciNya
tidak dipercayaiNya, seluruh langitpun tidak bersih pada pandanganNya”.
KJV:
‘Behold, he putteth no trust in his
saints; yea, the heavens are not clean in his sight’ (=
Lihatlah, Ia tidak meletakkan kepercayaan dalam orang-orang
kudusNya; ya, surga tidak bersih dalam pandanganNya).
RSV:
‘Behold, God puts no trust in his
holy ones, and the heavens are not clean in his sight’ (=
Lihatlah, Allah tidak meletakkan kepercayaan dalam para
suciNya, dan surga tidak bersih dalam pandanganNya).
NIV:
‘If God places no trust in his
holy ones, if even the heavens are not pure in his eyes’ (=
Jika Allah tidak menempatkan kepercayaan dalam para
suciNya, jika bahkan surga tidak murni dalam pandangan mataNya).
NASB:
“‘Behold, He puts no trust in His
holy ones, And the heavens are not pure in His sight” (=
‘Lihatlah, Ia tidak meletakkan kepercayaan dalam para
suciNya, Dan surga tidak murni dalam pandanganNya).
Catatan:
Kata-kata ‘His holy ones’
(= para suciNya) rasanya lebih memungkinkan untuk menunjuk kepada
malaikat-malaikat yang baik, bukan pada orang-orang kudus (KJV) yang sudah masuk
surga.
Lalu
bagaimana dengan Ibr 2:14-17 - “(14)
Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga
menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh
kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; (15) dan
supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada
dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. (16) Sebab sesungguhnya, bukan
malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia
kasihani. (17) Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan
saudara-saudaraNya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan
yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa”?
Saya
berpendapat bahwa Ibr 2:16 berbicara tentang malaikat-malaikat yang jatuh;
sedangkan Calvin berbicara tentang malaikat-malaikat yang baik.
Calvin
(tentang Kol 1:20): “Should any one, on the pretext of the universality of the expression,
move a question in reference to devils, whether Christ be their peace-maker
also? I answer, No, not even of the wicked men: though I confess that there is a
difference, inasmuch as the benefit of redemption is offered to the latter, but
not to the former. This,
however, has nothing to do with Paul’s words, which include nothing else than
this, that it is through Christ alone, that, all creatures, who have any
connection at all with God, cleave to him.” (= Jika ada orang, dengan dalih keuniversalan
pernyataan ini, menanyakan pertanyaan berkenaan dengan setan,
apakah Kristus juga adalah pendamai mereka? Saya menjawab, Tidak, bahkan tidak
tentang orang-orang jahat: sekalipun
saya mengakui bahwa ada perbedaan, karena keuntungan penebusan ditawarkan kepada
orang-orang jahat, tetapi tidak kepada setan.
Tetapi ini tak ada hubungannya dengan kata-kata Paulus, yang tidak mencakup yang
lain selain ini, bahwa melalui Kristus sajalah bahwa semua makhluk-makhluk
ciptaan, yang mempunyai hubungan apapun dengan Allah berpegang erat-erat kepada
Dia).
Catatan:
yang dimaksud dengan ‘wicked men’
(= orang-orang jahat), jelas adalah orang jahat yang tidak percaya, atau ‘reprobate’ (= orang yang ditentukan untuk binasa).
William
Hendriksen (tentang ay 15-20): “The
passage also clearly teaches that Christ’s redemptive activity is
universe-embracing. In Christ God was pleased to reconcile all
things to himself. See on 1:20”
(= Text ini juga dengan jelas mengajarkan bahwa aktivitas penebusan Kristus mencakup
alam semesta. Dalam Kristus Allah berkenan untuk memperdamaikan
segala sesuatu dengan diriNya sendiri. Lihat tentang 1:20).
William
Hendriksen (tentang ay 20): “The real meaning of Col. 1:20 is probably
as follows: Sin ruined the universe. It destroyed the harmony between one
creature and the other, also between all creatures and their God. Through the
blood of the cross (cf. Eph 2:11-18), however, sin, in principle, has been
conquered. The demand of the law has been satisfied, its curse born (Rom. 3:25;
Gal. 3:13). Harmony, accordingly, has been restored. Peace was made. Through
Christ and his cross the universe is brought back or restored to its proper
relationship to God in the sense that as a just reward of his obedience Christ
was exalted to the Father’s right hand, from which position of authority and
power he rules the entire universe in the interest of the church and to the
glory of God. ... There is, of course, a difference in the manner in which
various creatures submit to Christ’s rule and are ‘reconciled to God.’
Those who are and remain evil, whether men or angels, submit ruefully,
unwillingly. In their case peace, harmony, is imposed, not welcomed. ... The
good angels, on the other hand, submit joyfully, eagerly. So do also the
redeemed among men. This group includes the members of the Colossian church as
far as they are true believers, a thought to which Paul gives expression in the
following verses” (= Arti yang
sebenarnya dari Kol 1:20 mungkin adalah sebagai berikut: Dosa
merusak alam semesta. Itu menghancurkan keharmonisan antara satu makhluk dengan
makhluk yang lain, juga antara semua makhluk ciptaan dan Allah mereka. Melalui
darah dari salib (bdk. Ef 2:11-18), bagaimanapun, dosa, pada dasarnya, telah
ditaklukkan. Tuntutan dari hukum Taurat telah dipuaskan, kutuknya telah dipikul
/ ditanggung (Ro 3:25; Gal 3:13). Karena itu, keharmonisan telah dipulihkan.
Damai telah dibuat. Melalui Kristus dan salibNya alam semesta dibawa kembali
atau dipulihkan pada hubungan yang benar dengan Allah dalam arti
bahwa sebagai suatu pahala yang benar / adil bagi ketaatanNya, Kristus telah
ditinggikan pada tangan kanan Bapa, dari posisi otoritas dan kuasa mana Ia
memerintah seluruh alam semesta demi kepentingan dari gereja dan bagi kemuliaan
Allah. ... Tentu di sana ada suatu perbedaan dalam
cara dalam mana bermacam-macam makhluk ciptaan tunduk pada pemerintahan Kristus
dan ‘diperdamaikan dengan Allah’. Mereka yang adalah jahat dan tetap jahat,
apakah itu manusia atau malaikat, tunduk dengan sedih / menyesal, dengan
terpaksa. Dalam kasus mereka, damai, keharmonisan, dipaksakan / ditentukan,
bukan diterima dengan baik. ...
Pada sisi yang lain, malaikat-malaikat yang baik tunduk dengan sukacita dan
dengan keinginan yang besar. Demikian juga dengan orang-orang yang ditebus dari
antara manusia. Kelompok ini mencakup anggota-anggota gereja Kolose
sejauh mereka adalah orang-orang percaya yang sejati, suatu pemikiran pada mana
Paulus memberikan pernyataan dalam ayat-ayat yang berikutnya) - hal 81-82.
Herbert
M. Carson (Tyndale): “this reconciliation is not limited to men. It applies to the
whole order of created being. It is significant that Paul does not here say
‘all men’, which would be contrary to his normal teaching, but ‘all
things’. The phrase is indefinite and suggests the completeness of the plan of
God. Not only is sinful man reconciled, but the created order which has been
made subject to vanity because of sin (see Rom. 8:20 ff.) will share also in the
fruit of the mighty act of atonement of the cross. It is also significant that
in this wide sweep of the scope of reconciliation Paul does not include
‘things under the earth’ as in Philippians 2:10. There he is dealing with
the ultimate sovereignty of Christ; and so he insists that one day even Satan
and his hosts will be forced to bend the knee. But here he is dealing with
reconciliation and its outcome as seen in a new heaven and a new earth wherein
dwells righteousness; but from this all finally rebellious beings, whether
devils or men, are excluded” (= pendamaian
ini tidak dibatasi bagi / pada manusia. Itu diterapkan kepada semua golongan
dari mahkluk ciptaan. Merupakan sesuatu yang penting / berarti bahwa Paulus di
sini tidak mengatakan ‘semua manusia / orang’, yang akan bertentangan dengan
pengajaran normalnya, tetapi ‘segala sesuatu’.
Ungkapan ini tak terbatas dan memberikan kesan
kelengkapan / ke-menyeluruh-an dari rencana Allah. Bukan hanya manusia berdosa
diperdamaikan, tetapi tata tertib / keteraturan ciptaan yang telah dijadikan
sasaran kesia-siaan karena dosa (lihat Ro 8:20-dst) juga akan ikut ambil bagian
dalam buah dari tindakan penebusan yang hebat dari salib. Juga
merupakan sesuatu yang penting / berarti bahwa dalam keluasan yang lebar dari
ruang lingkup dari pendamaian ini Paulus tidak mencakup ‘hal-hal di bawah
bumi’ seperti dalam Fil 2:10. Di sana ia sedang menangani kedaulatan
maximum dari Kristus; maka ia berkeras bahwa suatu hari bahkan Iblis dan
pasukannya akan dipaksa untuk berlutut. Tetapi di
sini ia sedang menangani perdamaian dan hasil / akibatnya seperti yang terlihat
dalam langit yang baru dan bumi yang baru dimana tinggal kebenaran; tetapi dari
hal ini akhirnya semua makhluk-makhluk pemberontak, apakah setan-setan atau
manusia, dikeluarkan) - hal 46-47.
Ro
8:19-23 - “(19) Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat
anak-anak Allah dinyatakan. (20) Karena seluruh
makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya
sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, (21) tetapi dalam
pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan
kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. (22) Sebab
kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama
merasa sakit bersalin. (23) Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah
menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil
menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita”.
Fil
2:10 - “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan
yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi”.
2Pet
3:13 - “Tetapi sesuai dengan janjiNya, kita menantikan langit
yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran”.
A.
T. Robertson:
“The
use of ta panta
(‘the all things,’ ‘the universe’) as if the universe were
somehow out of harmony reminds us of the mystical passage in Rom
8:19-23 which see for discussion. Sin somehow has put the universe out of
joint. Christ will set it right” [=
Penggunaan dari TA PANTA (‘segala sesuatu’, ‘alam semesta’) seakan-akan
alam semesta entah bagaimana menjadi tidak harmonis, mengingatkan kita tentang
text yang bersifat mistik dalam Ro 8:19-23 yang lihatlah untuk diskusi. Dosa
entah bagaimana telah meletakkan alam semesta keluar dari sendinya / kesleo.
Kristus akan membuatnya benar].
Kesimpulan
tentang Kol 1:20 - “dan oleh
Dialah Ia memperdamaikan
segala sesuatu dengan diriNya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga,
sesudah Ia mengadakan
pendamaian oleh darah
salib Kristus”.
1.
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang manusia, tetapi tentang segala
sesuatu dalam arti yang mutlak, yaitu seluruh ciptaan Allah.
2.
Dosa menyebabkan seluruh ciptaan Allah mengalami kekacauan.
3.
Kristus datang untuk membereskan seluruh ciptaan Allah itu, tetapi
hasilnya berbeda-beda untuk setiap golongan.
Jadi,
kata-kata ‘memperdamaikan’
dan ‘mengadakan
perdamaian’ dalam ayat ini diartikan dalam arti yang sama sekali
berbeda dengan dalam seluruh bagian Alkitab yang lain, mungkin paling cocok
diartikan ‘membereskan’.
Kita
tak perlu merasa aneh kalau kata-kata ini diartikan secara khusus, karena
kontext menuntut demikian. Ini sama seperti kata ‘roh’
bisa diartikan ‘pengajar firman’ dalam 1Yoh 4:1-3 - “(1) Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh,
tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka
berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan
pergi ke seluruh dunia. (2) Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh
yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari
Allah, (3) dan setiap roh, yang tidak
mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh
itu adalah roh antikristus dan tentang
dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di
dalam dunia”.
Dengan
demikian, tidak mungkin Kol 1:20 ini ditabrakkan dengan doktrin ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas) yang sedang kita
bahas ini, karena untuk setan-setan dan orang-orang yang termasuk reprobate
(= orang yang ditentukan untuk binasa), mereka ‘dibereskan’ dalam arti
mereka dipaksa masuk neraka, tak lagi bisa berbuat jahat kepada orang-orang
percaya / orang-orang pilihan.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : buas22@yahoo.com
e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali