Golgotha School of Ministry

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

Rabu, tgl 17 Oktober 2012, pk 19.00

Pdt. Budi Asali.

(HP: 7064-1331 / 6050-1331)

buas22@yahoo.com

http://www.golgothaministry.org

 

Limited Atonement (21)

(Penebusan terbatas)

 

Sekarang, dimana kesalahan mereka sehingga bisa menyimpulkan seperti itu?

 

1)  Saya berpendapat kesalahan pertama mereka adalah dalam penafsiran mereka tentang 1Kor 15:3. Mereka kelihatannya sengaja memotong ayat itu dari kontextnya, dan karena itu di sini saya berikan 1Kor 15:3-4, untuk membuat semuanya menjadi lebih jelas.

 

1Kor 15:1-4 - “(1) Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. (2) Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu - kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. (3) Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, (4) bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;”.

 

Apa artinya kata-kata ‘Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci’?

 

Apa yang ‘sesuai dengan Kitab Suci’ menurut ayat ini? Apakah seperti yang mereka jelaskan bahwa seluruh arti dari kematian Kristus, mencakup ‘substitution’ (penggantian), ‘imputation’ (pemerhitungan), ‘reconciliation’ (pendamaian), ‘propitiation’ (peredaan / pemenuhan tuntutan), ‘cancellation’ (= pembatalan) dsb???

 

Menurut saya tidak. Yang dimaksudkan oleh ayat ini ‘sesuai dengan Kitab Suci’ hanyalah fakta kematian Kristus. Dan ini jelas merupakan artinya, karena kalau kita bandingkan dengan ay 4, dimana kata-kata ‘sesuai dengan Kitab Suci’ muncul lagi. Lalu apa arti kata-kata itu dalam ay 4? Jelas bahwa hanya menunjukkan bahwa fakta tentang penguburan Yesus dan juga  fakta tentang kebangkitanNya pada hari yang ketiga, itu yang sesuai dengan Kitab Suci.

 

Di sini saya menambahkan beberapa penafsiran tentang text ini, yang tak ada dalam debat kami.

 

Charles Hodge (tentang 1Kor 15:3): “‘According to the Scriptures,’ i.e. the fact that the Messiah was to die as a propitiation for sin had been revealed in the Old Testament. (= ‘Sesuai dengan Kitab Suci’, yaitu fakta bahwa sang Mesias harus mati sebagai suatu peredaan / pemenuhan tuntutan untuk dosa telah dinyatakan dalam Perjanjian Lama).

Catatan: Saya tak setuju dengan Hodge.

 

Calvin (tentang 1Kor 15:3): “‘That Christ died, etc.’ See now more clearly whence he received it, for he quotes the Scriptures in proof. In the first place, he makes mention of the death of Christ, nay also of his burial, that we may infer, that, as he was like us in these things, he is so also in his resurrection. ... Now there are many passages of Scripture in which Christ’s death and resurrection are predicted, but nowhere more plainly than in Isaiah 53, in Daniel 9:26, and in Psalm 22. (= ‘Bahwa Kristus telah mati, dst.’ Sekarang lihat dengan lebih jelas dari mana ia menerimanya, karena ia mengutip Kitab Suci sebagai bukti. Pertama, ia menyebutkan tentang kematian Kristus, bahkan juga tentang penguburanNya, supaya kita bisa menyimpulkan, bahwa sebagaimana Ia adalah seperti kita dalam hal-hal ini, Ia juga seperti kita dalam kebangkitanNya. ... Ada banyak text-text dari Kitab Suci dalam mana kematian dan kebangkitan Kristus diramalkan, tetapi tidak ada yang dengan lebih jelas dari pada dalam Yes 53, dalam Dan 9:26, dan dalam Maz 22.).

 

Dari kata-kata Calvin ini jelas bahwa ia juga berpandangan bahwa yang sesuai dengan Kitab Suci adalah fakta tentang kematian, penguburan, dan kebangkitan Kristus!

 

Mereka menjawab:

 

Can a true Christian be ignorant of imputation, Budi? Take a look at Romans 4 for the answer (what is imputed in Romans 4?). One verse that proves that a true Christian cannot be ignorant of the righteousness of God imputed is Romans 10:1-4. By the way, the Mormons believe that ‘Christ died for our sins.’ Is that good enough for you? Or, must the Mormons also adhere to other doctrines regarding the Person and Work of Christ as you understand them? [= Bisakah seorang Kristen yang sejati tidak tahu tentang imputation / pemerhitungan, Budi? Lihatlah pada Roma 4 untuk jawabannya (apa yang diperhitungkan dalam Roma 4?). Satu ayat yang membuktikan bahwa seorang kristen yang sejati tidak bisa tidak tahu tentang kebenaran dari Allah yang diperhitungkan adalah Roma 10:1-4. Omong-omong, orang Mormon percaya bahwa ‘Kristus mati untuk dosa-dosa kita’. Apakah itu cukup baik bagimu? Atau haruskah orang-orang Mormon juga menganut  / mengikuti doktrin-doktrin lain berkenaan dengan Pribadi dan Pekerjaan dari Kristus sebagaimana kamu mengertinya?].

 

Ro 4:1-25 - “(1) Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? (2) Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. (3) Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? ‘Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’ (4) Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. (5) Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran. (6) Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya: (7) ‘Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; (8) berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.’ (9) Adakah ucapan bahagia ini hanya berlaku bagi orang bersunat saja atau juga bagi orang tak bersunat? Sebab telah kami katakan, bahwa kepada Abraham iman diperhitungkan sebagai kebenaran. (10) Dalam keadaan manakah hal itu diperhitungkan? Sebelum atau sesudah ia disunat? Bukan sesudah disunat, tetapi sebelumnya. (11) Dan tanda sunat itu diterimanya sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang ditunjukkannya, sebelum ia bersunat. Demikianlah ia dapat menjadi bapa semua orang percaya yang tak bersunat, supaya kebenaran diperhitungkan kepada mereka, (12) dan juga menjadi bapa orang-orang bersunat, yaitu mereka yang bukan hanya bersunat, tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham, bapa leluhur kita, pada masa ia belum disunat. (13) Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman. (14) Sebab jika mereka yang mengharapkannya dari hukum Taurat, menerima bagian yang dijanjikan Allah, maka sia-sialah iman dan batallah janji itu. (14) Karena hukum Taurat membangkitkan murka, tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran. (15) Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, - (16) seperti ada tertulis: ‘Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa’ - di hadapan Allah yang kepadaNya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firmanNya apa yang tidak ada menjadi ada. (17) Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: ‘Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.’ (18) Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. (19) Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, (20) dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. (21) Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. (22) Kata-kata ini, yaitu ‘hal ini diperhitungkan kepadanya,’ tidak ditulis untuk Abraham saja, (23) tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kitapun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, (24) yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.”.

 

Ro 10:1-4 - “(1) Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan. (2) Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. (3) Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah. (4) Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.”.

Catatan: Kata ‘kegenapan’ dalam ay 4 diterjemahkan ‘the end’ (= tujuan) oleh KJV/RSV/NIV/NASB.

 

Saya jawab balik:

Saya percaya apa yang kamu katakan, tetapi yang saya pertanyakan adalah: apakah injil itu memang harus mencakup semua kebenaran itu?

 

Saya lalu bertanya: menurut kamu, kapan kamu diselamatkan? Pada waktu kamu percaya Kristus, atau pada waktu kamu mengerti dan percaya 5 points Calvinisme? Kalau kamu menganggap bahwa seseorang diselamatkan pada waktu mengerti dan percaya 5 points Calvinisme, maka coba pikir tentang orang-orang ini:

a)      Zakheus. Ia memang selamat (Luk 19:1-10), tetapi apakah ia percaya 5 points Calvinisme pada saat itu? Jika ya, kapan dan dari siapa ia mempelajari hal itu? Siapa yang mengajar dia hal itu?

b)      Penjahat yang bertobat di sisi Yesus. Pasti ia selamat pada saat itu, tetapi apakah ia mengerti dan percaya 5 points Calvinisme pada saat itu?

c)      Perempuan Samaria dalam Yoh 4. Apakah ia mengerti dan percaya 5 points Calvinisme pada saat itu?

Dari contoh-contoh ini saya menyimpulkan bahwa adalah mungkin seseorang sudah selamat tanpa mengerti dan percaya 5 points Calvinisme.

 

Dan untuk diri saya sendiri, pada saat saya diselamatkan, saya hanya percaya bahwa Yesus mati untuk dosa-dosa saya. Saya tidak mengerti apapun tentang 5 points Calvinisme.

 

Dan tentang point ke 3, yaitu ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas), saya baru mendengarnya di seminari! Itu terjadi setelah Allah memanggil saya menjadi pendeta! Dan saya tidak percaya Allah memanggil saya menjadi pendeta pada saat saya unregenerate (belum lahir baru / tidak selamat).

 

Jadi saya menganggap ‘injil’mu terlalu rumit dan terlalu mendetail. Injilku lebih sederhana. Bisakah kamu membuktikan dari Alkitab bahwa ‘injil’mu adalah injil yang benar dan injilku adalah injil ‘yang berbeda’ atau injil yang salah?

 

Di sini saya tambahkan sesuatu yang tidak ada dalam perdebatan antara mereka dan saya. Louis Berkhof mengatakan bahwa mustahil bagi kita untuk tahu pengetahuan minimum yang harus ada pada seseorang untuk mempunyai ‘saving faith’ (= iman yang menyelamatkan).

 

Louis Berkhof: It is impossible to determine with precision just how much knowledge is absolutely required in saving faith. If saving faith is the acceptance of Christ as He is offered in the gospel, the question naturally arises, How much of the gospel must a man know, in order to be saved? Or, to put it in the words of Dr. Machen: ‘What, to put it baldly, are the minimum doctrinal requirements, in order that a man may be a Christian?’ In general it may be said that it must be sufficient to give the believer some idea of the object of faith. All true saving faith must contain at least a minimum of knowledge, not so much of the divine revelation in general as of the Mediator and His gracious operations. The more real knowledge one has of the truths of redemption, the richer and fuller one’s faith will be, if all other things are equal. Naturally one who accepts Christ by a true faith, will also be ready and willing to accept God’s testimony as a whole. It is of the utmost importance, especially in our day, that the churches should see to it that their members have a fairly good, and not merely a hazy, understanding of the truth (= Adalah mustahil untuk menentukan dengan persis berapa banyak pengetahuan yang secara mutlak diperlukan dalam iman yang menyelamatkan. Jika iman yang menyelamatkan adalah penerimaan dari Kristus sebagaimana Ia ditawarkan dalam injil, pertanyaan secara alamiah muncul, Berapa banyak dari injil harus seseorang tahu, supaya diselamatkan? Atau, memberikannya dalam kata-kata Dr. Machen: ‘Apa, menyatakan itu secara jujur / terang-terangan, yang adalah kebutuhan doktrin minimum, supaya seseorang bisa adalah orang Kristen?’ Secara umum bisa dikatakan bahwa itu harus cukup untuk memberikan orang percaya beberapa gagasan / pengertian tentang obyek dari iman. Semua iman menyelamatkan yang sejati harus mengandung sedikitnya suatu pengetahuan yang minimum, bukan begitu banyak tentang wahyu ilahi secara umum tetapi tentang Pengantara dan pekerjaanNya yang bersifat kasih karunia / murah hati. Makin banyak pengetahuan yang sungguh-sungguh yang dipunyai seseorang tentang kebenaran dari penebusan, makin kaya dan makin penuh iman seseorang, jika semua hal-hal lain adalah setara / sama. Secara alamiah seseorang yang menerima Kristus dengan iman yang sejati, juga akan siap dan mau untuk menerima kesaksian Allah sebagai suatu keseluruhan. Ini adalah sesuatu yang sangat penting, khususnya pada jaman kita, bahwa gereja-gereja harus mengusahakan supaya anggota-anggota mereka mempunyai suatu pengertian yang cukup baik tentang kebenaran, dan bukan semata-mata pengertian yang kabur) - ‘Systematic Theology’, hal 504 (Libronix).

 

Memang pengetahuan minimum itu pasti harus ada. Tidak mungkin seseorang hanya mengatakan ‘saya percaya kepada Kristus’, dan ia diselamatkan, padahal ia tak tahu apa-apa tentang Kristus! Tetapi seberapa pengetahuan minimum yang harus ada, tak bisa dipastikan.

 

2)            Mereka bukan memberikan pandangan Arminian, tetapi kesimpulan mereka tentang pandangan Arminian.

Tidak ada Arminian sejati yang percaya bahwa usaha mereka yang menyelamatkan mereka. Memang kalau mereka mengatakan bahwa mereka percaya kepada Kristus karena mereka yang mau percaya, dan kalau mereka bisa bertekun sampai akhir, karena mereka yang mau bertekun, ini menunjukkan bahwa mereka sedikit banyak bersandar pada kemampuan mereka. Tetapi orang Arminian yang sejati tidak mengakui hal ini. Mereka tetap mengatakan bahwa mereka percaya bahwa mereka diselamatkan oleh kasih karunia Allah, oleh iman saja tanpa perbuatan baik / usaha mereka, dan sebagainya. Ini memang kelihatan kontradiksi, dan bahkan suatu kebodohan, tetapi mereka tidak akan masuk neraka hanya karena mereka bodoh. Seandainya mereka konsisten dengan logika, maka mereka akan mengakui bahwa mereka diselamatkan oleh iman + perbuatan baik, dan ini justru menyebabkan mereka sungguh-sungguh sesat. Tetapi tak ada Arminian sejati yang percaya seperti itu.

Saya juga memberikan beberapa kutipan dari Adam Clarke yang jelas-jelas adalah seorang Arminian, yang mempercayai keselamatan oleh iman saja.

Saya juga menyangkal bahwa orang Arminian lebih dekat pada agama-agama lain dari pada pada kekristenan yang sejati. Mereka menggunakan Alkitab, dan mereka percaya keselamatan karena iman saja (sekalipun ada ketidak-konsistenan di dalamnya).

 

Mereka menjawab:

 

a)      Apakah ada perbedaan kalau Arminian menggunakan Alkitab dan orang beragama lain tidak? Mereka mengutip 2Pet 3:15-16 - “(15) Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. (16) Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.”.

 

Para Arminian juga salah mengerti Alkitab sama seperti orang-orang yang dibicarakan oleh Petrus dalam 2Pet 3:16 ini.

 

Jawaban balik saya:

Saya percaya ada tingkat-tingkat kesalah-mengertian orang. Bisa salah mengerti tentang hal-hal dasar, atau injil itu sendiri, bisa juga salah mengerti tentang hal-hal yang tidak terlalu mendasar. Apakah orang Arminian salah mengerti tentang hal-hal dasar atau tidak, tergantung apakah kamu percaya ‘injil yang rumit / mendetail’ atau ‘injil yang sederhana’! Karena itu, bagi kamu, orang Arminian salah mengerti tentang hal dasar, bagi saya, tidak demikian.

 

b)      Lalu mereka menjelaskan lebih jauh ‘kesalahan’ dari Arminianisme sebagai berikut:

 

Arminians do believe in their own version of self-salvation by their faith alone. They put their ‘faith’ in the stead of Christ. This is antichristian, for they put this ‘faith’ as what makes the ultimate difference between salvation and damnation, rather than the work of Christ. For them, the difference between Judas and Paul is NOT the work of Christ, but the ‘faith’ of the sinner. ... As for man’s responsibility. Man is responsible because God is sovereign and holds man responsible. The Scriptural teaching of the responsibility of man does NOT imply that man is free from the active control of God in any way, to any degree. According to Scripture, man’s responsibility necessarily implies God’s sovereignty, not man’s alleged freedom. Man is responsible precisely because he is not free; man is responsible because God is sovereign. ... The Arminians twist and pervert passages that speak of belief to their own destruction by saying that this ‘belief’ is what makes the ultimate difference between heaven and hell, and that salvation is conditioned on this ‘belief.’ The Arminians and also many Calvinists (Charles Hodge for instance) admit and explicitly say that salvation is conditioned on faith. Any religion that says that sinners must meet conditions in order to be saved are automatically teaching salvation by works (Romans 11:6). [= Orang-orang Arminian memang percaya dalam versi mereka sendiri tentang keselamatan oleh diri sendiri oleh iman mereka saja. Mereka meletakkan ‘iman’ mereka di tempat dari Kristus. Ini adalah anti kristen, karena mereka meletakkan ‘iman’ ini, dan bukannya pekerjaan Kristus, sebagai apa yang membuat perbedaan terakhir antara keselamatan dan penghukuman di neraka. Bagi mereka, perbedaan antara Yudas dan Paulus BUKAN pekerjaan Kristus, tetapi ‘iman’ dari orang berdosa. ... Berkenaan dengan tanggung jawab manusia. Manusia bertanggung jawab karena Allah berdaulat dan menganggap manusia bertanggung jawab. Ajaran Kitab Suci tentang tanggung jawab manusia TIDAK menunjukkan bahwa manusia itu bebas dari kontrol aktif dari Allah dengan cara apapun, sampai pada tingkat apapun. Menurut Kitab Suci, tanggung jawab manusia harus / pasti menunjukkan kedaulatan Allah, bukan kebebasan manusia yang dinyatakan tanpa bukti. Manusia bertanggung jawab justru karena ia tidak bebas; manusia bertanggung jawab karena Allah itu berdaulat. ... Orang-orang Arminian membengkokkan dan menyelewengkan text-text yang berbicara tentang kepercayaan, pada kehancuran mereka sendiri, dengan mengatakan bahwa ‘kepercayaan’ ini adalah apa yang membuat perbedaan terakhir antara surga dan neraka, dan bahwa keselamatan itu disyaratkan pada ‘kepercayaan’ ini. Orang-orang Arminian, dan juga banyak Calvinist (Charles Hodge sebagai contoh) mengakui dan secara explicit mengatakan bahwa keselamatan disyaratkan pada iman. Agama apapun yang mengatakan bahwa orang-orang berdosa harus memenuhi syarat untuk diselamatkan, secara otomatis mengajarkan keselamatan oleh pekerjaan / perbuatan baik (Ro 11:6).] - dari file ‘Heterodoxy3.doc’.

 

Certainly one must believe in Christ, but not ‘in order to be saved’ - for God saves unconditionally. (= Pasti seseorang harus percaya kepada Kristus, tetapi bukan ‘supaya diselamatkan’ - karena Allah menyelamatkan secara tak bersyarat) - dari file ‘Heterodoxy3.doc’.

 

the Arminian’s ‘faith’ ultimately saves them since their weak christ is unable to without help. Their ‘faith’ is what saves them. It is what *they do* that saves them, just like it is what the Muslim does (in jihad) that saves them. [= ‘iman’ dari orang-orang Arminian yang akhirnya menyelamatkan mereka, karena kristus mereka yang lemah tidak bisa menyelamatkan tanpa pertolongan mereka. ‘Iman’ mereka adalah apa yang menyelamatkan mereka. Adalah apa yang ‘mereka lakukan’ yang menyelamatkan mereka, sama seperti apa yang orang Islam lakukan (dalam jihad) yang menyelamatkan mereka] - dari file ‘Heterodoxy3.doc’.

 

They do believe that their ‘faith’ in their false christ is the only way to heaven. But what they do not believe is that CHRIST is the the only way to heaven (= Mereka percaya bahwa ‘iman’ mereka kepada kristus palsu mereka adalah satu-satunya jalan ke surga. Tetapi apa yang mereka tidak percaya adalah bahwa Kristus adalah satu-satunya jalan ke surga) - dari file ‘Heterodoxy3.doc’.

 

Saya menjawab balik:

Apa beda Yudas dan Paulus? Tergantung dari sudut mana kamu melihatnya. Dari sudut manusia, memang iman yang membedakan mereka. Dari sudut pandang Tuhan, predestinasi yang membedakan.

Tetapi iman adalah anugerah Allah (Fil 1:29). Tanpa pekerjaanNya tak seorangpun bisa percaya kepada Kristus (Yoh 6:44,65  1Kor 12:3), tetapi kalau Ia bekerja di dalam kita, kita pasti akan percaya kepada Kristus. Jadi, yang menyebabkan perbedaan akhir tetap Allah, bukan manusia.

 

Saya juga mengatakan bahwa saya tidak percaya pandangan mereka bahwa Allah menyelamatkan tanpa syarat. Allah memilih (predestinasi) tanpa syarat (Ro 9:10-13), tetapi kita diselamatkan dengan syarat, yaitu iman.

Fakta bahwa kita diselamatkan dengan iman sebagai syarat, ada dalam seluruh Alkitab. Yoh 3:16,18,36  Kis 16:31 dan banyak ayat-ayat lain menunjukkan bahwa kita harus percaya supaya bisa diselamatkan. Kalian sendiri menggunakan Mark 16:16. Bagaimana kalian menafsirkan ayat itu?

 

Yoh 3:16,18,36 - “(16) Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. ... (18) Barangsiapa percaya kepadaNya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. ... (36) Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.’”.

Kis 16:31 - “Jawab mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’”.

Mark 16:16 - Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.”.

 

Saya menambahkan: dengan kepercayaanmu (bahwa iman bukan syarat untuk diselamatkan), saya bertanya-tanya: bagaimana caramu memberitakan Injil? Apa yang kami minta orang yang kamu injili untuk lakukan? Kamu minta orang itu untuk percaya Kristus? Percaya Kristus untuk apa? Atau kamu minta ia percaya pada predestinasi, Penebusan Terbatas dsb? Atau menyuruhnya percaya Kristus hanya karena Allah menyuruh demikian?

 

Saya menambahkan bahwa iman bukanlah termasuk dalam ‘perbuatan’ (works) yang kita lakukan, karena Alkitab mengkontraskan iman dengan perbuatan / works.

Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”.

Ro 11:6 - “Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia.”.

Ro 3:27-28 - “(27) Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! (28) Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.”.

Ro 4:1-5 - “(1) Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? (2) Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. (3) Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? ‘Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’ (4) Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. (5) Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran.”.

Dan banyak lagi ayat-ayat lain.

Catatan: kasih karunia dan iman ada dari pada satu pihak, sedangkan perbuatan baik / usaha / pekerjaan (works) ada di pihak lain.

 

Jawaban balik mereka:

Mereka mengutip Ro 10:1-4 - “(1) Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan. (2) Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. (3) Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah. (4) Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.”.

 

Lalu mereka mengatakan:

Budi, you and the Arminians are ignorant of the righteousness of God and are seeking to establish your own righteousness. Specifically, you are ignorant since you believe that ‘faith’ is the condition of salvation when in reality the condition for salvation is the blood of Jesus Christ and a perfect righteousness that equals God’s righteousness and answers the demands of His law and justice. (= Budi, kamu dan orang-orang Arminian tidak tahu tentang kebenaran Allah dan berusaha mendirikan kebenaranmu sendiri. Khususnya, kamu tidak tahu karena kamu percaya bahwa ‘iman’ adalah syarat keselamatan sedangkan dalam kenyataannya syarat dari keselamatan adalah darah Yesus Kristus dan suatu kebenaran sempurna yang sama dengan kebenaran Allah dan menjawab / memenuhi tuntutan-tuntutan dari hukum Taurat dan keadilanNya).

 

Saya menjawab kembali:

Baik saya maupun orang Arminian tidak pernah berusaha mendirikan kebenaran kami sendiri. Saya selalu menyadari keadaan saya yang berdosa dan bahwa saya diselamatkan semata-mata berdasarkan kematian Kristus.

 

Dalam persoalan iman sebagai syarat keselamatan saya tidak setuju sedikitpun dengan kamu. Iman memang adalah syarat keselamatan. Tetapi Allah memberikan iman kepada orang-orang pilihan, dan karena itu, keselamatan tetap hanya tergantung kepada Allah saja. Bagaimana kamu menafsirkan ayat-ayat ini?

 

Kis 16:31 - “Jawab mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’”.

 

Yoh 3:15,16,18 - “(15) supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal. (16) Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. ... (18) Barangsiapa percaya kepadaNya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.”.

 

Yoh 6:40,47 - “(40) Sebab inilah kehendak BapaKu, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.’ ... (47) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal.”.

 

Dan bagaimana dengan ayat favoritmu sendiri, Mark 16:16 - “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.”.

 

Bagaimana mungkin menjelaskan ayat-ayat di atas ini sehingga mereka tidak berarti bahwa iman adalah syarat dari keselamatan? Dan saya yakin ada lebih banyak lagi ayat-ayat yang seperti itu.

 

Mereka menjawab balik:

Some will say that salvation is conditioned on faith and that the Holy Spirit enables the person to meet that condition. This is nothing more than a version of salvation conditioned on the sinner. If salvation is conditioned in any way to any degree on the sinner, even if God enables the person to meet the condition, then it is not salvation conditioned on the work of Christ alone, and it is a false gospel.” (= Sebagian / beberapa orang berkata bahwa keselamatan disyaratkan pada iman dan bahwa Roh Kudus memampukan orang itu untuk memenuhi syarat itu. Ini tidak lebih dari suatu versi dari keselamatan yang disyaratkan kepada / tergantung kepada orang berdosa. Jika keselamatan disyaratkan / tergantung dengan cara apapun dan pada tingkat apapun kepada orang berdosa, bahkan jika Allah yang memampukan orang itu untuk memenuhi syarat itu, maka itu bukan keselamatan yang disyaratkan / tergantung pada pekerjaan Kristus saja, dan itu adalah suatu injil yang palsu).

 

Saya menjawab lagi:

Iman adalah pemberian dari Allah (Fil 1:29), dan karena itu, mengatakan bahwa keselamatan disyaratkan / tergantung pada iman adalah berbeda dengan mengatakan bahwa keselamatan disyaratkan / tergantung kepada orang berdosa itu sendiri. Disamping, dalam Ef 2:8-9 iman dikontraskan dengan perbuatan!

 

Jika kamu tidak percaya bahwa iman adalah syarat dari keselamatan, saya bertanya: Kamu pasti percaya bahwa kamu sendiri adalah orang percaya sekarang. Itu berarti bahwa Kristus mati bagi kamu sekitar 2000 tahun yang lalu. Tetapi sebelum kamu mendengar injil dan percaya kepada Kristus, apakah kamu sudah diselamatkan? Adalah mustahil untuk menjawab ‘ya’, kamu harus / pasti menjawab ‘tidak’. Dengan ini saya sudah membuktikan kepada kamu bahwa iman memang adalah syarat dari keselamatan! Kapan Zakheus diselamatkan? Kapan penjahat di salib itu diselamatkan? Pada waktu mereka percaya kepada Kristus, bukan? Bahkan Abraham dibenarkan ketika ia percaya (Kej 15:6). Jadi, bagaimana kamu bisa mengatakan bahwa iman bukan syarat dari keselamatan?

 

Mereka menjawab balik:

Salvation results in belief (John 5:21, 24; 1 Peter 1:3; 1 John 5:1)  Belief does not result in salvation. Spiritually dead sinners cannot believe, they must be raised to spiritual life in Christ. This raising to spiritual life is also called regeneration when God initially bestows eternal life. And immediate and inevitable result of bestowing salvation/eternal life upon the sinner is knowing Him who is true: ‘And we know that the Son of God has come, and He has given to us an understanding that we may know the true One, and we are in the true One, in His Son Jesus Christ. This is the true God and the life everlasting’ (1 John 5:20). [= Keselamatan menghasilkan / mengakibatkan kepercayaan (Yoh 5:21,24; 1Pet 1:3; 1Yoh 5:1). Kepercayaan tidak menghasilkan / mengakibatkan keselamatan. Orang-orang berdosa yang mati secara rohani tidak bisa percaya, mereka harus diangkat pada kehidupan rohani dalam Kristus. Pengangkatan kepada kehidupan rohani ini juga disebut regeneration / kelahiran baru pada waktu Allah pada awalnya memberikan hidup yang kekal. Dan hasil / akibat langsung dan tak terhindarkan dari pemberian keselamatan / hidup yang kekal kepada orang berdosa adalah mengenal Dia yang adalah benar: ‘Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam AnakNya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.’ (1Yoh 5:20)].

 

Yoh 5:21,24 - “(21) Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendakiNya. ... (24) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataanKu dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.”.

1Pet 1:3 - “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmatNya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan,”.

1Yoh 5:1 - “Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari padaNya.”.

 

Dan untuk menjawab Kis 16:31 yang saya gunakan mereka berkata:

WHAT does it MEAN to believe in the Lord Jesus Christ? It means that salvation is conditioned on what HE DID. The condition for salvation is Christ’s blood and righteousness. This is what it means to believe in Christ. You do not believe this. Thus, you do not believe in Christ. Repent and believe. (= Apa artinya percaya kepada Tuhan Yesus Kristus? Itu berarti bahwa keselamatan disyaratkan pada apa yang Ia lakukan. Syarat untuk keselamatan adalah darah dan kebenaran Kristus. Inilah apa yang dimaksudkan dengan percaya kepada Kristus. Kamu tidak percaya ini. Maka kamu tidak percaya kepada Kristus. Bertobatlah dan percayalah).

 

Mereka menambahkan:

Basically, you think ‘believe in Christ’ necessarily implies that this ‘belief’ is a conditon for salvation. But it does not follow. For the Bible also speaks of the necessity of good works, but it does not follow that salvation is conditioned on these works (= Secara dasari, kamu berpikir ‘percaya kepada Kristus’ pasti menunjukkan bahwa ‘kepercayaan’ ini adalah suatu syarat untuk keselamatan. Tetapi tidak harus seperti itu. Karena Alkitab juga berbicara tentang keharusan dari perbuatan baik, tetapi tidak berarti bahwa keselamatan disyaratkan pada perbuatan-perbuatan baik ini).

 

Ada tambahan lagi:

Just a reminder here: Dead men cannot believe. But when God regenerates (i.e., freely bestows eternal life upon them) someone, what do they believe? The gospel of course. But what doctrines make up the gospel (i.e., the good news)? Well, you already denied that imputation of Christ’s righteousness is part of the gospel, and you also denied that the blood that actually propitiates (per Romans 3:25) is part of the gospel. You said previously that the shedding of blood is included, but regarding ‘propitiation’ you said that it is not necessarily talked about, in spite of verses like Romans 3:25 and 1 John 2:2 [= Hanya mengingatkan: Orang mati tidak bisa percaya. Tetapi ketika Allah melahir-barukan (yaitu secara cuma-cuma / gratis memberikan hidup yang kekal kepada mereka) seseorang, apa yang mereka percayai? Injil, tentu saja. Tetapi doktrin-doktrin apa yang membentuk injil (yaitu kabar baik)? Kamu sudah menyangkal bahwa pemerhitungan dari kebenaran Kristus adalah bagian dari injil, dan kamu juga menyangkal bahwa darah yang sungguh-sungguh meredakan / memenuhi tuntutan (Ro 3:25) adalah bagian dari injil. Kamu berkata sebelumnya bahwa pencurahan darah termasuk, tetapi berkenaan dengan ‘peredaan / pemenuhan tuntutan’ kamu katakan bahwa itu tidak harus termasuk, sekalipun ada ayat-ayat seperti Ro 3:25 dan 1Yoh 2:2].

 

Lalu, untuk menjawab argumentasi saya tentang Zakheus, perempuan Samaria, dan penjahat yang bertobat di salib, yang tidak mungkin mengerti tentang 5 points Calvinisme, tetapi tetap selamat, ia berkata sebagai berikut:

Who cares about the ‘5 points of Calvinism’? What matters is the simple gospel: All saved persons believe the gospel (Mark 16:16; Romans 1:16-17). The thief on the cross was a saved person (Luke 23:43). Thus, the thief on the cross believed the gospel. [= Siapa peduli tentang ‘5 points Calvinisme’? Yang penting adalah injil yang sederhana: Semua orang yang diselamatkan percaya injil (Mark 16:16; Ro 1:16-17). Pencuri di salib adalah orang yang diselamatkan (Luk 23:43). Jadi, pencuri di salib itu percaya injil.].

 

Lalu menanggapi kata-kata saya bahwa saya tidak mungkin dipanggil Allah menjadi pendeta pada saat saya masih unregenerate (belum lahir baru / tidak selamat), ia berkata:

As for your so-called ‘calling’ to be a pastor. Well, at this point in time you are a minister of Satan (see 2 Corinthians 11:13-15). Repent of your false gospel of salvation conditioned on the sinner and believe in the true gospel of salvation conditioned on the propitating blood and imputed righteousness of Christ alone. [= Tentang yang disebut ‘panggilan’mu untuk menjadi pendeta. Pada titik ini kamu adalah seorang pelayan setan (lihat 2Kor 11:13-15). Bertobatlah dari injil palsumu yang disyaratkan / tergantung pada orang berdosa dan percayalah kepada injil yang benar / sejati dari keselamatan yang disyaratkan / tergantung pada darah yang meredakan / memenuhi tuntutan dan kebenaran Kristus yang diperhitungkan (kepada kita) saja].

 

Lalu ia bicara tentang regeneration (kelahiran baru) dan bertanya: Do you believe that faith precedes regeneration? Or do you believe that regeneration precedes faith? Is faith a condition that the sinner must meet before God can regenerate him? (= Apakah kamu percaya bahwa iman mendahului regeneration? Atau apakah kamu percaya bahwa regeneration mendahului iman? Apakah iman adalah suatu syarat yang harus dipenuhi orang berdosa sebelum Allah bisa melahir-barukan dia?).

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : buas22@yahoo.com

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali