Golgotha
School of Ministry
(Rungkut
Megah Raya Blok D No 16)
Rabu,
tgl 17 Oktober 2012, pk 19.00
Pdt. Budi Asali.
(HP:
7064-1331 / 6050-1331)
Sekarang,
dimana kesalahan mereka sehingga bisa menyimpulkan seperti itu?
1) Saya berpendapat
kesalahan pertama mereka adalah dalam penafsiran mereka tentang 1Kor 15:3.
Mereka kelihatannya sengaja memotong ayat itu dari kontextnya, dan karena itu di
sini saya berikan 1Kor 15:3-4, untuk membuat semuanya menjadi lebih jelas.
1Kor 15:1-4
- “(1) Dan sekarang, saudara-saudara,
aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh
berdiri. (2) Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh
berpegang padanya, seperti
yang telah kuberitakan kepadamu
- kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. (3) Sebab yang sangat penting telah kusampaikan
kepadamu,
yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, (4) bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai
dengan Kitab Suci;”.
Apa
artinya kata-kata ‘Kristus telah mati
karena dosa-dosa kita, sesuai
dengan Kitab Suci’?
Apa
yang ‘sesuai
dengan Kitab Suci’
menurut ayat ini? Apakah seperti yang mereka jelaskan bahwa seluruh arti dari
kematian Kristus, mencakup ‘substitution’
(penggantian), ‘imputation’
(pemerhitungan), ‘reconciliation’
(pendamaian), ‘propitiation’
(peredaan / pemenuhan tuntutan), ‘cancellation’
(= pembatalan)
dsb???
Menurut
saya tidak. Yang dimaksudkan oleh ayat ini ‘sesuai dengan
Kitab Suci’ hanyalah fakta kematian Kristus. Dan ini jelas
merupakan artinya, karena kalau kita bandingkan dengan ay 4, dimana kata-kata ‘sesuai dengan Kitab Suci’
muncul lagi. Lalu apa arti kata-kata itu dalam ay 4? Jelas bahwa hanya
menunjukkan bahwa fakta tentang penguburan Yesus dan juga
fakta tentang kebangkitanNya pada hari yang ketiga, itu yang sesuai
dengan Kitab Suci.
Di
sini saya menambahkan beberapa penafsiran tentang text ini, yang tak ada dalam
debat kami.
Charles Hodge
(tentang 1Kor 15:3): “‘According to the Scriptures,’ i.e.
the fact that the Messiah was to die as
a propitiation for sin
had been revealed in the Old Testament.” (= ‘Sesuai
dengan Kitab Suci’, yaitu fakta bahwa sang Mesias harus mati sebagai suatu
peredaan / pemenuhan tuntutan untuk dosa telah dinyatakan dalam Perjanjian Lama).
Catatan:
Saya tak setuju dengan Hodge.
Calvin (tentang 1Kor 15:3):
“‘That Christ died, etc.’
See now more clearly whence he received it, for he quotes the
Scriptures in proof. In the first place, he makes mention of the death of
Christ, nay also of his burial, that we may infer, that, as he was like us in
these things, he is so also in his resurrection. ... Now there are many passages
of Scripture in which Christ’s death and resurrection are predicted, but nowhere more plainly than in Isaiah 53, in
Daniel 9:26, and in Psalm 22.”
(= ‘Bahwa Kristus telah mati, dst.’ Sekarang lihat dengan lebih jelas dari
mana ia menerimanya, karena ia mengutip Kitab Suci sebagai bukti. Pertama, ia
menyebutkan tentang kematian Kristus, bahkan juga tentang penguburanNya, supaya
kita bisa menyimpulkan, bahwa sebagaimana Ia adalah seperti kita dalam hal-hal
ini, Ia juga seperti kita dalam kebangkitanNya. ... Ada banyak text-text dari
Kitab Suci dalam mana kematian dan kebangkitan Kristus diramalkan, tetapi tidak
ada yang dengan lebih jelas dari pada dalam Yes 53, dalam Dan 9:26, dan dalam
Maz 22.).
Dari kata-kata Calvin ini jelas bahwa ia juga berpandangan
bahwa yang sesuai dengan Kitab Suci adalah fakta tentang kematian, penguburan,
dan kebangkitan Kristus!
Mereka menjawab:
“Can a true
Christian be ignorant of imputation, Budi? Take a look at Romans 4 for the
answer (what is imputed in Romans 4?). One verse that proves that a
true Christian cannot be ignorant of the righteousness of God imputed is
Romans 10:1-4. By the way, the Mormons believe that ‘Christ died for our
sins.’ Is that good enough for you? Or, must the Mormons also adhere to other
doctrines regarding the Person and Work of Christ as you understand them?”
[= Bisakah seorang Kristen yang sejati tidak tahu tentang imputation /
pemerhitungan, Budi? Lihatlah pada Roma 4 untuk jawabannya (apa yang
diperhitungkan dalam Roma 4?). Satu ayat yang membuktikan bahwa seorang kristen
yang sejati tidak bisa tidak tahu tentang kebenaran dari Allah yang
diperhitungkan adalah Roma 10:1-4. Omong-omong, orang Mormon percaya bahwa
‘Kristus mati untuk dosa-dosa kita’. Apakah itu cukup baik bagimu? Atau
haruskah orang-orang Mormon juga menganut /
mengikuti doktrin-doktrin lain berkenaan dengan Pribadi dan Pekerjaan dari
Kristus sebagaimana kamu mengertinya?].
Ro 4:1-25 - “(1)
Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? (2)
Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar
untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. (3) Sebab apakah dikatakan nas
Kitab Suci? ‘Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’
(4) Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan
sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. (5) Tetapi kalau ada orang yang tidak
bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran. (6) Seperti juga
Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan
perbuatannya: (7) ‘Berbahagialah orang yang diampuni
pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; (8) berbahagialah
manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.’ (9) Adakah ucapan
bahagia ini hanya berlaku bagi orang bersunat saja atau juga bagi orang tak
bersunat? Sebab telah kami katakan, bahwa kepada Abraham iman diperhitungkan sebagai kebenaran. (10) Dalam keadaan
manakah hal itu diperhitungkan? Sebelum atau sesudah ia disunat? Bukan
sesudah disunat, tetapi sebelumnya. (11) Dan tanda sunat itu diterimanya sebagai
meterai kebenaran berdasarkan iman yang ditunjukkannya, sebelum ia bersunat.
Demikianlah ia dapat menjadi bapa semua orang percaya yang tak bersunat, supaya
kebenaran diperhitungkan kepada mereka, (12) dan juga menjadi
bapa orang-orang bersunat, yaitu mereka yang bukan hanya bersunat, tetapi juga
mengikuti jejak iman Abraham, bapa leluhur kita, pada masa ia belum disunat.
(13) Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan
keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan
iman. (14) Sebab jika mereka yang mengharapkannya dari hukum Taurat, menerima
bagian yang dijanjikan Allah, maka sia-sialah iman dan batallah janji itu. (14)
Karena hukum Taurat membangkitkan murka, tetapi di mana tidak ada hukum Taurat,
di situ tidak ada juga pelanggaran. (15) Karena itulah kebenaran berdasarkan
iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua
keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi
juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita
semua, - (16) seperti ada tertulis: ‘Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa
banyak bangsa’ - di hadapan Allah yang kepadaNya ia percaya, yaitu Allah yang
menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firmanNya apa yang tidak ada
menjadi ada. (17) Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham
berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut
yang telah difirmankan: ‘Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.’ (18)
Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat
lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah
tertutup. (19) Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena
ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, (20)
dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah
Ia janjikan. (21) Karena itu hal ini diperhitungkan
kepadanya sebagai kebenaran. (22) Kata-kata ini, yaitu ‘hal ini diperhitungkan kepadanya,’ tidak ditulis untuk
Abraham saja, (23) tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kitapun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang
telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, (24) yaitu Yesus,
yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran
kita.”.
Ro 10:1-4 - “(1)
Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka
diselamatkan. (2) Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka
sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. (3) Sebab,
oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka
berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk
kepada kebenaran Allah. (4) Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran
diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.”.
Catatan:
Kata ‘kegenapan’ dalam ay 4 diterjemahkan ‘the end’
(= tujuan)
oleh KJV/RSV/NIV/NASB.
Saya jawab balik:
Saya percaya apa yang kamu katakan, tetapi yang saya
pertanyakan adalah: apakah injil itu memang harus mencakup semua kebenaran itu?
Saya lalu bertanya: menurut kamu, kapan kamu diselamatkan?
Pada waktu kamu percaya Kristus, atau pada waktu kamu mengerti dan percaya 5
points Calvinisme? Kalau kamu menganggap bahwa seseorang diselamatkan pada waktu
mengerti dan percaya 5 points Calvinisme, maka coba pikir tentang orang-orang
ini:
a)
Zakheus. Ia memang selamat (Luk 19:1-10), tetapi apakah ia percaya 5
points Calvinisme pada saat itu? Jika ya, kapan dan dari siapa ia mempelajari
hal itu? Siapa yang mengajar dia hal itu?
b)
Penjahat yang bertobat di sisi Yesus. Pasti ia selamat pada saat itu,
tetapi apakah ia mengerti dan percaya 5 points Calvinisme pada saat itu?
c)
Perempuan Samaria dalam Yoh 4. Apakah ia mengerti dan percaya 5 points
Calvinisme pada saat itu?
Dari contoh-contoh ini saya menyimpulkan bahwa adalah mungkin
seseorang sudah selamat tanpa mengerti dan percaya 5 points Calvinisme.
Dan untuk diri saya sendiri, pada saat saya diselamatkan,
saya hanya percaya bahwa Yesus mati untuk dosa-dosa saya. Saya tidak mengerti
apapun tentang 5 points Calvinisme.
Dan tentang point ke 3, yaitu ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas), saya baru
mendengarnya di seminari! Itu terjadi setelah Allah memanggil saya menjadi
pendeta! Dan saya tidak percaya Allah memanggil saya menjadi pendeta pada saat
saya unregenerate (belum lahir baru / tidak selamat).
Jadi saya menganggap ‘injil’mu terlalu rumit dan terlalu
mendetail. Injilku lebih sederhana. Bisakah kamu membuktikan dari Alkitab bahwa
‘injil’mu adalah injil yang benar dan injilku adalah injil ‘yang
berbeda’ atau injil yang salah?
Di sini saya tambahkan sesuatu yang tidak ada dalam
perdebatan antara mereka dan saya. Louis Berkhof mengatakan bahwa mustahil bagi
kita untuk tahu pengetahuan minimum yang harus ada pada seseorang untuk
mempunyai ‘saving faith’ (= iman
yang menyelamatkan).
Louis Berkhof: “It is impossible to determine with precision just how much
knowledge is absolutely required in saving faith. If saving faith is the
acceptance of Christ as He is offered in the gospel, the question naturally
arises, How much of the gospel must a man know, in order to be saved? Or, to put
it in the words of Dr. Machen: ‘What, to put it baldly, are the minimum
doctrinal requirements, in order that a man may be a Christian?’ In general it
may be said that it must be sufficient to give the believer some idea of the
object of faith. All true saving faith must contain at least a minimum of
knowledge, not so much of the divine revelation in general as of the Mediator
and His gracious operations. The more real knowledge one has of the truths of
redemption, the richer and fuller one’s faith will be, if all other things are
equal. Naturally one who accepts Christ by a true faith, will also be ready and
willing to accept God’s testimony as a whole. It is of the utmost importance,
especially in our day, that the churches should see to it that their members
have a fairly good, and not merely a hazy, understanding of the truth” (= Adalah
mustahil untuk menentukan dengan persis berapa banyak pengetahuan yang secara
mutlak diperlukan dalam iman yang menyelamatkan. Jika
iman yang menyelamatkan adalah penerimaan dari Kristus sebagaimana Ia ditawarkan
dalam injil, pertanyaan secara alamiah muncul, Berapa banyak dari injil harus
seseorang tahu, supaya diselamatkan? Atau, memberikannya dalam kata-kata Dr.
Machen: ‘Apa, menyatakan itu secara jujur / terang-terangan, yang adalah
kebutuhan doktrin minimum, supaya seseorang bisa adalah orang Kristen?’ Secara umum bisa
dikatakan bahwa itu harus cukup untuk memberikan orang percaya beberapa gagasan
/ pengertian tentang obyek dari iman. Semua iman menyelamatkan yang sejati harus mengandung
sedikitnya suatu pengetahuan yang minimum, bukan begitu banyak tentang wahyu ilahi
secara umum tetapi tentang Pengantara dan pekerjaanNya yang bersifat kasih
karunia / murah hati. Makin banyak pengetahuan yang sungguh-sungguh yang
dipunyai seseorang tentang kebenaran dari penebusan, makin kaya dan makin penuh
iman seseorang, jika semua hal-hal lain adalah setara / sama. Secara alamiah
seseorang yang menerima Kristus dengan iman yang sejati, juga akan siap dan mau
untuk menerima kesaksian Allah sebagai suatu keseluruhan. Ini adalah sesuatu
yang sangat penting, khususnya pada jaman kita, bahwa gereja-gereja harus
mengusahakan supaya anggota-anggota mereka mempunyai suatu pengertian yang cukup
baik tentang kebenaran, dan bukan semata-mata pengertian yang kabur) - ‘Systematic
Theology’, hal 504 (Libronix).
Memang pengetahuan minimum itu pasti harus ada. Tidak mungkin
seseorang hanya mengatakan ‘saya percaya kepada Kristus’, dan ia
diselamatkan, padahal ia tak tahu apa-apa tentang Kristus! Tetapi
seberapa pengetahuan minimum yang harus ada, tak bisa dipastikan.
2)
Mereka bukan memberikan pandangan Arminian, tetapi kesimpulan mereka
tentang pandangan Arminian.
Tidak ada Arminian sejati yang percaya bahwa usaha mereka
yang menyelamatkan mereka. Memang kalau mereka mengatakan bahwa mereka percaya
kepada Kristus karena mereka yang mau percaya, dan kalau mereka
bisa bertekun sampai akhir, karena mereka yang mau bertekun, ini
menunjukkan bahwa mereka sedikit banyak bersandar pada kemampuan mereka.
Tetapi orang Arminian yang sejati tidak mengakui hal ini. Mereka tetap
mengatakan bahwa mereka percaya bahwa mereka diselamatkan oleh kasih karunia
Allah, oleh iman saja tanpa perbuatan baik / usaha mereka, dan sebagainya. Ini
memang kelihatan kontradiksi, dan bahkan suatu kebodohan, tetapi mereka tidak
akan masuk neraka hanya karena mereka bodoh. Seandainya mereka konsisten dengan
logika, maka mereka akan mengakui bahwa mereka diselamatkan oleh iman +
perbuatan baik, dan ini justru menyebabkan mereka sungguh-sungguh sesat.
Tetapi tak ada Arminian sejati yang percaya seperti itu.
Saya juga memberikan beberapa kutipan dari Adam Clarke yang
jelas-jelas adalah seorang Arminian, yang mempercayai keselamatan oleh iman
saja.
Saya
juga menyangkal bahwa orang Arminian lebih dekat pada agama-agama lain dari pada
pada kekristenan yang sejati. Mereka menggunakan Alkitab, dan mereka percaya
keselamatan karena iman saja (sekalipun ada ketidak-konsistenan di dalamnya).
Mereka
menjawab:
a) Apakah
ada perbedaan kalau Arminian menggunakan Alkitab dan orang beragama lain tidak?
Mereka mengutip 2Pet 3:15-16 - “(15)
Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat,
seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut
hikmat yang dikaruniakan kepadanya. (16) Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya,
apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang
sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh
imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang
juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.”.
Para
Arminian juga salah mengerti Alkitab sama seperti orang-orang yang dibicarakan
oleh Petrus dalam 2Pet 3:16 ini.
Jawaban
balik saya:
Saya
percaya ada tingkat-tingkat kesalah-mengertian orang. Bisa salah mengerti
tentang hal-hal dasar, atau injil itu sendiri, bisa juga salah mengerti tentang
hal-hal yang tidak terlalu mendasar. Apakah orang Arminian salah mengerti
tentang hal-hal dasar atau tidak, tergantung apakah kamu percaya ‘injil yang
rumit / mendetail’ atau ‘injil yang sederhana’! Karena itu, bagi kamu,
orang Arminian salah mengerti tentang hal dasar, bagi saya, tidak demikian.
b) Lalu
mereka menjelaskan lebih jauh ‘kesalahan’ dari Arminianisme sebagai berikut:
“Arminians do believe in their own version of self-salvation by their
faith alone. They put their ‘faith’ in the stead of Christ. This is
antichristian, for they put this ‘faith’ as what makes the ultimate
difference between salvation and damnation, rather than the work of Christ. For
them, the difference between Judas and Paul is NOT the work of Christ, but the
‘faith’ of the sinner. ... As for man’s responsibility. Man is responsible
because God is sovereign and holds man responsible. The Scriptural teaching of
the responsibility of man does NOT imply that man is free from the active
control of God in any way, to any degree. According to Scripture, man’s
responsibility necessarily implies God’s sovereignty, not man’s alleged
freedom. Man is responsible precisely because he is not free; man is responsible
because God is sovereign. ... The Arminians twist and pervert passages that
speak of belief to their own destruction by saying that this ‘belief’ is
what makes the ultimate difference between heaven and hell, and that salvation
is conditioned on this ‘belief.’ The Arminians and also many Calvinists
(Charles Hodge for instance) admit and explicitly say that salvation is
conditioned on faith. Any religion that says that sinners must meet conditions
in order to be saved are automatically teaching salvation by works (Romans
11:6).”
[= Orang-orang
Arminian memang percaya dalam versi mereka sendiri tentang keselamatan oleh diri
sendiri oleh iman mereka saja. Mereka meletakkan ‘iman’ mereka di tempat
dari Kristus. Ini adalah anti kristen, karena mereka meletakkan ‘iman’ ini,
dan bukannya pekerjaan Kristus, sebagai apa yang membuat perbedaan terakhir
antara keselamatan dan penghukuman di neraka. Bagi mereka, perbedaan antara
Yudas dan Paulus BUKAN pekerjaan Kristus, tetapi ‘iman’ dari orang berdosa.
... Berkenaan dengan tanggung jawab manusia. Manusia bertanggung jawab karena
Allah berdaulat dan menganggap manusia bertanggung jawab. Ajaran Kitab Suci
tentang tanggung jawab manusia TIDAK menunjukkan bahwa manusia itu bebas dari
kontrol aktif dari Allah dengan cara apapun, sampai pada tingkat apapun. Menurut
Kitab Suci, tanggung jawab manusia harus / pasti menunjukkan kedaulatan Allah,
bukan kebebasan manusia yang dinyatakan tanpa bukti. Manusia bertanggung jawab
justru karena ia tidak bebas; manusia bertanggung jawab karena Allah itu
berdaulat. ... Orang-orang Arminian membengkokkan dan menyelewengkan
text-text yang berbicara tentang kepercayaan, pada kehancuran mereka sendiri,
dengan mengatakan bahwa ‘kepercayaan’ ini adalah apa yang membuat perbedaan
terakhir antara surga dan neraka, dan bahwa keselamatan itu disyaratkan pada
‘kepercayaan’ ini. Orang-orang Arminian, dan juga banyak Calvinist (Charles
Hodge sebagai contoh) mengakui dan secara explicit mengatakan bahwa keselamatan
disyaratkan pada iman. Agama apapun yang mengatakan bahwa orang-orang berdosa
harus memenuhi syarat untuk diselamatkan, secara otomatis mengajarkan
keselamatan oleh pekerjaan / perbuatan baik (Ro 11:6).]
- dari file ‘Heterodoxy3.doc’.
“Certainly one must believe in Christ, but not ‘in order to be
saved’ - for God saves unconditionally.”
(= Pasti seseorang harus percaya kepada Kristus, tetapi bukan ‘supaya
diselamatkan’ - karena Allah menyelamatkan secara tak bersyarat)
- dari file ‘Heterodoxy3.doc’.
“the Arminian’s ‘faith’ ultimately saves them since their weak
christ is unable to without help. Their ‘faith’ is what saves them. It is
what *they do* that saves them, just like it is what the Muslim does (in jihad)
that saves them.”
[= ‘iman’ dari orang-orang Arminian yang akhirnya menyelamatkan mereka,
karena kristus mereka yang lemah tidak bisa menyelamatkan tanpa pertolongan
mereka. ‘Iman’ mereka adalah apa yang menyelamatkan mereka. Adalah apa yang
‘mereka lakukan’ yang menyelamatkan mereka, sama seperti apa yang orang
Islam lakukan (dalam jihad) yang menyelamatkan mereka] - dari file ‘Heterodoxy3.doc’.
“They do believe that their ‘faith’ in their false christ is the
only way to heaven. But what they do not believe is that CHRIST is the the
only way to heaven”
(= Mereka percaya bahwa ‘iman’ mereka kepada kristus palsu mereka adalah
satu-satunya jalan ke surga. Tetapi apa yang mereka tidak percaya adalah bahwa Kristus
adalah satu-satunya jalan ke surga) - dari file ‘Heterodoxy3.doc’.
Saya
menjawab balik:
Apa
beda Yudas dan Paulus? Tergantung dari sudut mana kamu melihatnya. Dari sudut
manusia, memang iman yang membedakan mereka. Dari sudut pandang Tuhan, predestinasi yang membedakan.
Tetapi
iman adalah anugerah Allah (Fil 1:29). Tanpa pekerjaanNya tak seorangpun
bisa percaya kepada Kristus (Yoh 6:44,65
1Kor 12:3), tetapi kalau Ia bekerja di dalam kita, kita pasti akan
percaya kepada Kristus. Jadi, yang menyebabkan perbedaan akhir tetap Allah,
bukan manusia.
Saya
juga mengatakan bahwa saya tidak percaya pandangan mereka bahwa Allah
menyelamatkan tanpa syarat. Allah memilih
(predestinasi) tanpa syarat (Ro 9:10-13), tetapi kita diselamatkan dengan
syarat, yaitu iman.
Fakta
bahwa kita diselamatkan dengan iman sebagai syarat, ada dalam seluruh Alkitab.
Yoh 3:16,18,36 Kis 16:31 dan banyak
ayat-ayat lain menunjukkan bahwa kita harus percaya supaya bisa diselamatkan.
Kalian sendiri menggunakan Mark 16:16. Bagaimana kalian menafsirkan ayat
itu?
Yoh
3:16,18,36 - “(16) Karena begitu besar
kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang
tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan
beroleh hidup yang kekal. ... (18) Barangsiapa percaya kepadaNya, ia
tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah
hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. ... (36) Barangsiapa
percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak
taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada
di atasnya.’”.
Kis
16:31 - “Jawab mereka: ‘Percayalah
kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi
rumahmu.’”.
Mark 16:16
- “Siapa yang percaya dan
dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan
dihukum.”.
Saya
menambahkan: dengan kepercayaanmu (bahwa iman bukan syarat untuk diselamatkan),
saya bertanya-tanya: bagaimana caramu memberitakan Injil? Apa yang kami minta
orang yang kamu injili untuk lakukan? Kamu minta orang itu untuk percaya
Kristus? Percaya Kristus untuk apa? Atau kamu minta ia percaya pada
predestinasi, Penebusan Terbatas dsb? Atau menyuruhnya percaya Kristus hanya
karena Allah menyuruh demikian?
Saya
menambahkan bahwa iman bukanlah termasuk dalam ‘perbuatan’ (works) yang kita
lakukan, karena Alkitab mengkontraskan iman dengan perbuatan / works.
Ef
2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan
hasil pekerjaanmu:
jangan ada orang yang memegahkan diri.”.
Ro
11:6 - “Tetapi jika hal itu terjadi
karena kasih
karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih
karunia itu bukan lagi kasih karunia.”.
Ro
3:27-28 - “(27) Jika demikian, apakah
dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! (28) Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.”.
Ro
4:1-5 - “(1) Jadi apakah akan kita
katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? (2) Sebab jikalau Abraham
dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah,
tetapi tidak di hadapan Allah. (3) Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci?
‘Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan
memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’ (4) Kalau ada orang yang
bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai
hadiah, tetapi sebagai haknya. (5) Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang
durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran.”.
Dan
banyak lagi ayat-ayat lain.
Catatan:
kasih karunia dan iman ada dari pada satu pihak, sedangkan perbuatan baik /
usaha / pekerjaan (works) ada di pihak lain.
Jawaban
balik mereka:
Mereka
mengutip Ro 10:1-4 - “(1)
Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka
diselamatkan. (2) Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka
sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. (3) Sebab,
oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka
berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk
kepada kebenaran Allah. (4) Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat,
sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.”.
Lalu
mereka mengatakan:
“Budi, you and the Arminians are ignorant of the righteousness of
God and are seeking to establish your own righteousness. Specifically, you are
ignorant since you believe that ‘faith’ is the condition of salvation when
in reality the condition for salvation is the blood of Jesus Christ and a
perfect righteousness that equals God’s righteousness and answers the demands
of His law and justice.”
(= Budi, kamu dan orang-orang Arminian tidak tahu tentang kebenaran Allah dan
berusaha mendirikan kebenaranmu sendiri. Khususnya, kamu tidak tahu karena kamu
percaya bahwa ‘iman’ adalah syarat keselamatan sedangkan dalam kenyataannya
syarat dari keselamatan adalah darah Yesus Kristus dan suatu kebenaran sempurna
yang sama dengan kebenaran Allah dan menjawab / memenuhi tuntutan-tuntutan dari
hukum Taurat dan keadilanNya).
Saya
menjawab kembali:
Baik
saya maupun orang Arminian tidak pernah berusaha mendirikan kebenaran kami
sendiri. Saya selalu menyadari keadaan saya yang berdosa dan bahwa saya
diselamatkan semata-mata berdasarkan kematian Kristus.
Dalam
persoalan iman sebagai syarat keselamatan saya tidak setuju sedikitpun dengan
kamu. Iman memang adalah syarat keselamatan. Tetapi Allah memberikan iman kepada
orang-orang pilihan, dan karena itu, keselamatan tetap hanya tergantung kepada
Allah saja. Bagaimana kamu menafsirkan ayat-ayat ini?
Kis
16:31 - “Jawab mereka: ‘Percayalah
kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi
rumahmu.’”.
Yoh 3:15,16,18
- “(15) supaya setiap orang yang
percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal. (16) Karena begitu besar kasih
Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya
setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang
kekal. ... (18) Barangsiapa percaya kepadaNya, ia tidak akan dihukum;
barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak
percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.”.
Yoh
6:40,47 - “(40) Sebab inilah kehendak
BapaKu, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya
kepadaNya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada
akhir zaman.’ ... (47) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa
percaya, ia mempunyai hidup yang kekal.”.
Dan
bagaimana dengan ayat favoritmu sendiri, Mark 16:16 - “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang
tidak percaya akan dihukum.”.
Bagaimana
mungkin menjelaskan ayat-ayat di atas ini sehingga mereka tidak berarti bahwa
iman adalah syarat dari keselamatan? Dan saya yakin ada lebih banyak lagi
ayat-ayat yang seperti itu.
Mereka
menjawab balik:
“Some
will say that salvation is conditioned on faith and that the Holy Spirit enables
the person to meet that condition. This is nothing more than a version of
salvation conditioned on the sinner. If salvation is conditioned in any way to
any degree on the sinner, even if God enables the person to meet the condition,
then it is not salvation conditioned on the work of Christ alone, and it is a
false gospel.”
(= Sebagian / beberapa orang berkata bahwa keselamatan disyaratkan pada iman dan
bahwa Roh Kudus memampukan orang itu untuk memenuhi syarat itu. Ini tidak lebih
dari suatu versi dari keselamatan yang disyaratkan kepada / tergantung kepada
orang berdosa. Jika keselamatan disyaratkan / tergantung dengan cara apapun dan
pada tingkat apapun kepada orang berdosa, bahkan jika Allah yang memampukan
orang itu untuk memenuhi syarat itu, maka itu bukan keselamatan yang disyaratkan
/ tergantung pada pekerjaan Kristus saja, dan itu adalah suatu injil yang palsu).
Saya
menjawab lagi:
Iman
adalah pemberian dari Allah (Fil 1:29), dan karena itu, mengatakan bahwa
keselamatan disyaratkan / tergantung pada iman adalah berbeda dengan mengatakan
bahwa keselamatan disyaratkan / tergantung kepada orang berdosa itu sendiri.
Disamping, dalam Ef 2:8-9 iman dikontraskan dengan perbuatan!
Jika
kamu tidak percaya bahwa iman adalah syarat dari keselamatan, saya bertanya:
Kamu pasti percaya bahwa kamu sendiri adalah orang percaya sekarang. Itu berarti
bahwa Kristus mati bagi kamu sekitar 2000 tahun yang lalu. Tetapi sebelum kamu
mendengar injil dan percaya kepada Kristus, apakah kamu sudah diselamatkan?
Adalah mustahil untuk menjawab ‘ya’, kamu harus / pasti menjawab
‘tidak’. Dengan ini saya sudah membuktikan kepada kamu bahwa iman memang
adalah syarat dari keselamatan! Kapan Zakheus diselamatkan? Kapan penjahat di
salib itu diselamatkan? Pada waktu mereka percaya kepada Kristus, bukan? Bahkan
Abraham dibenarkan ketika ia percaya (Kej 15:6). Jadi, bagaimana kamu bisa
mengatakan bahwa iman bukan syarat dari keselamatan?
Mereka
menjawab balik:
“Salvation results in belief (John 5:21,
24; 1 Peter 1:3; 1 John 5:1) Belief does not result in
salvation. Spiritually dead sinners cannot believe, they must be raised to
spiritual life in Christ. This raising to spiritual life is also called
regeneration when God initially bestows eternal life. And immediate and
inevitable result of bestowing salvation/eternal life upon the sinner is knowing
Him who is true: ‘And we know that the Son of God has come, and He
has given to us an understanding that we may know the true One,
and we are in the true One, in
His Son Jesus Christ. This is the true God and the life everlasting’ (1 John
5:20).” [= Keselamatan menghasilkan /
mengakibatkan kepercayaan (Yoh 5:21,24; 1Pet 1:3; 1Yoh 5:1). Kepercayaan
tidak menghasilkan / mengakibatkan keselamatan. Orang-orang berdosa yang mati
secara rohani tidak bisa percaya, mereka harus diangkat pada kehidupan rohani
dalam Kristus. Pengangkatan kepada kehidupan rohani ini juga disebut regeneration
/ kelahiran baru pada waktu Allah pada awalnya memberikan hidup yang kekal. Dan
hasil / akibat langsung dan tak terhindarkan dari pemberian keselamatan / hidup
yang kekal kepada orang berdosa adalah mengenal Dia yang adalah benar: ‘Akan
tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan
pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam
Yang Benar, di dalam AnakNya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan
hidup yang kekal.’ (1Yoh 5:20)].
Yoh
5:21,24 - “(21) Sebab sama seperti Bapa
membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak
menghidupkan barangsiapa yang dikehendakiNya. ... (24) Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataanKu dan percaya kepada Dia yang
mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia
sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.”.
1Pet
1:3 - “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan
kita Yesus Kristus, yang karena rahmatNya yang besar telah melahirkan kita
kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu
hidup yang penuh pengharapan,”.
1Yoh
5:1 - “Setiap orang yang percaya, bahwa
Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang
melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari padaNya.”.
Dan
untuk menjawab Kis 16:31 yang saya gunakan mereka berkata:
“WHAT does it MEAN to believe in the Lord
Jesus Christ? It means that salvation is conditioned on what HE DID. The
condition for salvation is Christ’s blood and righteousness. This is what it
means to believe in Christ. You do not believe this. Thus, you do not believe in
Christ. Repent and believe.”
(= Apa artinya percaya kepada Tuhan Yesus Kristus? Itu berarti bahwa keselamatan
disyaratkan pada apa yang Ia lakukan. Syarat untuk keselamatan adalah darah dan
kebenaran Kristus. Inilah apa yang dimaksudkan dengan percaya kepada Kristus.
Kamu tidak percaya ini. Maka kamu tidak percaya kepada Kristus. Bertobatlah dan
percayalah).
Mereka
menambahkan:
“Basically, you think ‘believe in
Christ’ necessarily implies that this ‘belief’ is a conditon for
salvation. But it does not follow. For the Bible also speaks of the necessity of
good works, but it does not follow that salvation is conditioned on these works”
(= Secara dasari, kamu berpikir ‘percaya kepada Kristus’ pasti menunjukkan
bahwa ‘kepercayaan’ ini adalah suatu syarat untuk keselamatan. Tetapi tidak
harus seperti itu. Karena Alkitab juga berbicara tentang keharusan dari
perbuatan baik, tetapi tidak berarti bahwa keselamatan disyaratkan pada
perbuatan-perbuatan baik ini).
Ada
tambahan lagi:
“Just a reminder here: Dead men cannot
believe. But when God regenerates (i.e., freely bestows eternal life upon them)
someone, what do they believe? The gospel of course. But what doctrines make up
the gospel (i.e., the good news)? Well, you already denied that imputation of
Christ’s righteousness is part of the gospel, and you also denied that
the blood that actually propitiates (per Romans 3:25) is part of the gospel. You
said previously that the shedding of blood is included, but regarding
‘propitiation’ you said that it is not necessarily talked about, in spite of
verses like Romans 3:25 and 1 John 2:2”
[= Hanya mengingatkan: Orang mati tidak bisa percaya. Tetapi ketika Allah
melahir-barukan (yaitu secara cuma-cuma / gratis memberikan hidup yang kekal
kepada mereka) seseorang, apa yang mereka percayai? Injil, tentu saja. Tetapi
doktrin-doktrin apa yang membentuk injil (yaitu kabar baik)? Kamu sudah
menyangkal bahwa pemerhitungan dari kebenaran Kristus adalah bagian dari injil,
dan kamu juga menyangkal bahwa darah yang sungguh-sungguh meredakan / memenuhi
tuntutan (Ro 3:25) adalah bagian dari injil. Kamu berkata sebelumnya bahwa
pencurahan darah termasuk, tetapi berkenaan dengan ‘peredaan / pemenuhan
tuntutan’ kamu katakan bahwa itu tidak harus termasuk, sekalipun ada ayat-ayat
seperti Ro 3:25 dan 1Yoh 2:2].
Lalu,
untuk menjawab argumentasi saya tentang Zakheus, perempuan Samaria, dan penjahat
yang bertobat di salib, yang tidak mungkin mengerti tentang 5 points Calvinisme,
tetapi tetap selamat, ia berkata sebagai berikut:
“Who
cares about the ‘5 points of Calvinism’? What matters is the simple gospel:
All saved persons believe the gospel (Mark 16:16; Romans 1:16-17). The
thief on the cross was a saved person (Luke 23:43). Thus, the thief on the cross
believed the gospel.”
[= Siapa peduli tentang ‘5 points Calvinisme’? Yang penting adalah injil
yang sederhana: Semua orang yang diselamatkan percaya injil (Mark 16:16; Ro
1:16-17). Pencuri di salib adalah orang yang diselamatkan (Luk 23:43). Jadi,
pencuri di salib itu percaya injil.].
Lalu
menanggapi kata-kata saya bahwa saya tidak mungkin dipanggil Allah menjadi
pendeta pada saat saya masih unregenerate (belum lahir baru / tidak selamat), ia
berkata:
“As for your so-called ‘calling’ to be
a pastor. Well, at this point in time you are a minister of Satan (see 2
Corinthians 11:13-15). Repent of your false gospel of salvation conditioned on
the sinner and believe in the true gospel of salvation conditioned on the
propitating blood and imputed righteousness of Christ alone.”
[= Tentang yang disebut ‘panggilan’mu untuk menjadi pendeta. Pada titik ini
kamu adalah seorang pelayan setan (lihat 2Kor 11:13-15). Bertobatlah dari injil
palsumu yang disyaratkan / tergantung pada orang berdosa dan percayalah kepada
injil yang benar / sejati dari keselamatan yang disyaratkan / tergantung pada
darah yang meredakan / memenuhi tuntutan dan kebenaran Kristus yang
diperhitungkan (kepada kita) saja].
Lalu
ia bicara tentang regeneration (kelahiran baru) dan bertanya: “Do you believe that faith precedes
regeneration? Or do you believe that regeneration precedes faith? Is faith a
condition that the sinner must meet before God can regenerate him?”
(= Apakah kamu percaya bahwa iman mendahului regeneration? Atau apakah kamu
percaya bahwa regeneration mendahului iman? Apakah iman adalah suatu syarat yang
harus dipenuhi orang berdosa sebelum Allah bisa melahir-barukan dia?).
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : buas22@yahoo.com
e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali