(Rungkut
Megah Raya Blok D No 16)
Rabu,
tgl 15 Januari 2014, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
[HP:
(031) 70641331 / (031) 60501331 / 081945588855]
B)
Doktrin Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak) ini
dianggap bertentangan dengan ayat-ayat yang menunjukkan bahwa manusia bisa
menolak kasih karunia Allah itu.
a)
Luk 7:30 - “Tetapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menolak
maksud Allah terhadap diri mereka, karena mereka tidak
mau dibaptis oleh Yohanes.”.
Adam
Clarke:
“‘Rejected the counsel of God.’ Or, frustrated the will of God. ...
The will of God was that all the inhabitants of Judea should repent at the
preaching of John, be baptized, and believe in Christ Jesus. Now as they did not
repent, &c., at John’s preaching, so they did not believe his testimony
concerning Christ: thus the will, gracious counsel, or design of God, relative
to their salvation, was annulled or frustrated” (= ‘Menolak maksud /
rencana Allah’. Atau, ‘menggagalkan kehendak Allah’. ... Kehendak
Allah adalah bahwa semua penduduk Yudea bertobat oleh pemberitaan / khotbah
Yohanes, dibaptiskan, dan percaya kepada Kristus Yesus. Sekarang, karena mereka tidak bertobat dsb,
oleh khotbah Yohanes, demikian juga mereka tidak percaya pada kesaksiannya
mengenai Kristus: maka kehendak, maksud / rencana yang penuh kasih karunia, atau
rancangan dari Allah, berhubungan dengan keselamatan mereka, dibatalkan atau
digagalkan) - hal 413.
Lenski:
“Their
leaders, ... refused John’s baptism and thus from the start ‘nullified’ (ἀθετέω),
made void the counsel of God for themselves. This counsel (βουλή)
is what the will of God fixed and planned; it was exhibited in John and in his
work.” [= Pemimpin-pemimpin mereka, ... menolak baptisan Yohanes dan dengan
demikian dari permulaan ‘menghapuskan’
(ATHETEO), membatalkan rencana Allah bagi diri mereka sendiri. Rencana
ini (BOULE) adalah apa yang kehendak Allah tentukan dan rencanakan;
itu ditunjukkan dalam Yohanes dan dalam pekerjaannya.].
Catatan: saya tak tahu kata ‘nya’ (his)
yang terakhir itu menunjuk kepada Allah atau kepada Yohanes Pembaptis.
Jadi,
jelaslah bahwa kedua penafsir Arminian ini menganggap bahwa ayat ini menunjukkan
bahwa kehendak / rencana Allah digagalkan oleh orang-orang itu.
Luk
7:30 - ‘menolak maksud Allah terhadap diri mereka’.
KJV: ‘rejected the counsel of God against
themselves’ (= menolak rencana Allah
terhadap / menentang mereka sendiri).
NIV: ‘rejected God’s purpose for themselves’ (= menolak rencana Allah untuk
/ bagi mereka sendiri).
Mari
kita menyoroti kata ‘maksud’ [Inggris: ‘counsel’
(= rencana); Yunani: BOULE].
Ada
yang mengatakan bahwa kata Yunani BOULE menunjuk pada rencana kekal dari Allah,
sedangkan kata Yunani Thelema
menunjuk pada perintah Allah. Dengan demikian Luk 7:30, yang menggunakan
kata Yunani BOULE, menunjukkan bahwa rencana kekal dari Allah itu bisa
digagalkan oleh kehendak bebas dari manusia.
Ada
2 hal yang saya berikan sebagai tanggapan:
1.
Mengatakan bahwa manusia bisa menggagalkan rencana Allah bertentangan
dengan banyak ajaran Alkitab, yang menyatakan rencana Allah tidak bisa gagal.
·
Ayub 42:1-2 - “(1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN:
(2) ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan
segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal’.”.
·
Maz 33:10-11 - “(10) TUHAN menggagalkan rencana
bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; (11) tetapi rencana
TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hatiNya turun-temurun.”.
·
Yes 14:24,26-27 - “(14) TUHAN semesta alam telah
bersumpah, firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti yang
Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti
yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: ... (26) Itulah
rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang
teracung terhadap segala bangsa. (27) TUHAN semesta
alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya telah
teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?”.
·
Yes 25:1 - “Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau
meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi namaMu; sebab dengan
kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan
rancanganMu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu.”.
·
Yes 37:26 - “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku
telah menentukannya dari jauh hari dan telah merancangnya dari zaman purbakala?
Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap
kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu.”.
·
Yes 43:13 - “Juga
seterusnya Aku tetap Dia, dan tidak ada yang dapat melepaskan dari tanganKu; Aku
melakukannya, siapakah yang dapat mencegahnya?”.
·
Yes 46:10-11 - “(10) yang memberitahukan dari
mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana,
yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala
kehendakKu akan Kulaksanakan, (11) yang memanggil burung buas dari
timur, dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang jauh. Aku
telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah
merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya.”.
·
Yer 4:28 - “Karena hal ini bumi akan berkabung,
dan langit di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, Aku
telah merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada
itu.’”.
Memang,
baik dari sudut logika, maupun dari sudut Alkitab, jelas bahwa adanya
kemahatahuan dan kemahakuasaan Allah menyebabkan rencana Allah tidak mungkin
bisa gagal / digagalkan oleh siapapun / apapun juga.
2.
Setelah saya memeriksa penggunaan kata BOULE dan THELEMA dalam seluruh
Kitab Suci, saya yakin bahwa pembedaan seperti ini tidak bisa
dipertanggung-jawabkan, karena:
a.
Kata Yunani THELEMA memang sering digunakan untuk menunjuk pada perintah
Allah, seperti misalnya dalam Mat 7:21 dan Luk 12:47.
Mat
7:21 - “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke
dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak
BapaKu yang di sorga.”.
Luk 12:47
- “Adapun hamba yang tahu akan kehendak
tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang
dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan.”.
Tetapi
kata ini juga sangat sering digunakan untuk menunjuk pada rencana kekal dari
Allah, yaitu dalam:
Mat
6:10 - “datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu
di bumi seperti di sorga.”.
Mat 26:42
- “Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu
jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendakMu!’”.
Kis 21:14
- “Karena ia tidak mau menerima nasihat kami, kami menyerah dan berkata:
‘Jadilah kehendak Tuhan!’”.
Ro 1:10
- “Aku berdoa, semoga dengan kehendak
Allah aku akhirnya beroleh kesempatan untuk mengunjungi kamu.”.
Ro 15:32
- “agar aku yang dengan sukacita datang kepadamu oleh kehendak
Allah, beroleh kesegaran bersama-sama dengan kamu.”.
1Kor 1:1
- “Dari Paulus, yang oleh kehendak
Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Sostenes, saudara kita,”.
2Kor
1:1 - “Dari Paulus, yang oleh kehendak
Allah menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Timotius saudara kita, kepada jemaat
Allah di Korintus dengan semua orang kudus di seluruh Akhaya.”.
Gal 1:4
- “yang telah menyerahkan diriNya karena dosa-dosa kita, untuk
melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak
Allah dan Bapa kita.”.
Ef 1:1,5
- “(1) Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak
Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus
Yesus. ... (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus
Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya,”.
Kol
1:1 - “Dari Paulus, rasul Kristus Yesus, oleh kehendak
Allah, dan Timotius saudara kita,”.
2Tim
1:1 - “Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak
Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus,”.
1Pet
3:17 - “Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki
Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat.”.
1Pet
4:19 - “Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak
Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang
setia.”.
1Yoh 5:14
- “Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan
doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya.”.
Kata
‘kehendak’ dalam ayat-ayat di atas ini
menggunakan kata THELEMA, padahal ini pasti menunjuk pada rencana kekal dari
Allah.
b.
Kata Yunani BOULE dalam ayat-ayat tertentu memang menunjuk pada rencana
kekal dari Allah, seperti misalnya dalam Kis 2:23 dan Kis 4:28.
Kis 2:23
- “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud
dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa
durhaka.”.
Kis
4:28 - “untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari
semula oleh kuasa dan kehendakMu.”.
Tetapi
kata itu juga pernah digunakan untuk menunjuk pada perintah Allah, yaitu dalam
Kis 13:36 dan Kis 20:27.
Kis 13:36
- “Sebab Daud melakukan kehendak
Allah pada zamannya, lalu ia mangkat dan dibaringkan di samping nenek moyangnya,
dan ia memang diserahkan kepada kebinasaan.”.
Jelas
bahwa kata ‘kehendak’ di sini
tidak mungkin menunjuk pada rencana Allah, karena Daud tidak tahu rencana Allah
itu. Ini pasti menunjuk pada perintah-perintah Allah, dan menunjukkan Daud
sebagai orang yang taat kepada Tuhan.
Kis 20:27
- “Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud
Allah kepadamu.”.
Kata
‘maksud’ di sini menggunakan kata BOULE, dan tidak mungkin kata ini
menunjuk pada rencana kekal dari Allah, karena Paulus tidak mungkin bisa
memberitakan seluruh rencana kekal dari Allah, yang tidak dia ketahui. Yang
dimaksud pasti adalah perintah / ajaran dari Allah.
c.
Sesuatu yang menarik terjadi dalam Ef 1:11 - “Aku katakan ‘di
dalam Kristus’, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan -
kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud
Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan
kehendakNya -”.
KJV: ‘who worketh all things after the counsel of his own will’ (= yang
mengerjakan segala sesuatu menurut rencana dari kehendakNya sendiri).
Untuk
kata ‘counsel’ digunakan kata BOULE,
sedangkan untuk kata ‘will’ digunakan
kata THELEMA.
3.
Komentar-komentar dari beberapa penafsir.
Norval
Geldenhuys / NICNT (tentang Luk 7:30): “Here boulh
(BOULE)
does not refer to the eternal decree of God (Eph. 1:1), which cannot be broken
or put aside by the creature, but to God’s dispensing of salvation as it is
revealed in John’s mission and work’.”
[= Di sini BOULE tidak menunjuk pada ketetapan kekal
dari Allah (Ef 1:1), yang tidak bisa dihancurkan atau
disingkirkan oleh makhluk ciptaan, tetapi pada
penyaluran / pembagian keselamatan sebagaimana dinyatakan dalam misi dan
pekerjaan Yohanes’.]
- hal 230.
Robert
L. Dabney:
“When
it is said that the Pharisees rejected the counsel of God concerning themselves,
the word ‘counsel’ means but ‘precept.’” (= Ketika dikatakan bahwa
orang-orang Farisi menolak maksud / rencana Allah mengenai diri mereka sendiri, kata
‘maksud / rencana’ hanya berarti ‘perintah / ajaran’) - ‘Lectures
in Systematic Theology’, hal 222.
Barnes’
Notes ( tentang Luk 7:30): “‘The
counsel of God.’ The counsel of God toward them was the solemn admonition by
John to ‘repent’ and be baptized, and be prepared to receive the Messiah.
This was the command or revealed will of God in relation to them. When it is
said that they ‘rejected’ the counsel of God, it does not mean that they
could frustrate his purposes, but merely that they violated his commands. Men
cannot frustrate the ‘real’ purposes of God, but they can contemn his
messages, they can violate his commands, and thus they can reject the counsel
which he gives them, and treat with contempt the desire which he manifests for
their welfare” (= ‘Rencana Allah’. Rencana
Allah terhadap mereka adalah nasehat khidmat oleh Yohanes untuk bertobat dan
dibaptis, dan dipersiapkan untuk menerima sang Mesias. Ini
adalah perintah dan kehendak yang dinyatakan dari Allah berkenaan dengan mereka.
Pada waktu dikatakan
bahwa mereka ‘menolak’ rencana Allah, itu tidak berarti bahwa mereka bisa
menggagalkan rencanaNya, tetapi semata-mata bahwa mereka melanggar
perintah-perintahNya. Manusia tidak bisa
menggagalkan rencana yang sungguh-sungguh dari Allah, tetapi mereka bisa
meremehkan berita-beritaNya, mereka bisa melanggar perintah-perintahNya,
dan dengan demikian mereka bisa menolak rencana yang Ia berikan kepada mereka,
dan memperlakukan dengan jijik keinginan yang Ia nyatakan bagi kesejahteraan
mereka).
William
Hendriksen: “Probable
meaning in the light of the context: Jesus has shown that John was great indeed
(verse 28). As God’s voice to the people he had pressed upon them these
divine requirements: they must turn from their evil ways and bear
good fruit.”
[= Arti yang memungkinkan dalam terang dari kontext: Yesus telah menunjukkan
bahwa Yohanes memang orang besar (ay 28). Sebagai suara Allah kepada bangsa itu
ia telah menekankan kepada mereka tuntutan-tuntutan
ilahi ini: mereka harus berbalik dari jalan-jalan mereka yang jahat
dan menghasilkan buah yang baik.].
b)
Mat 23:37 - “‘Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari
dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku
rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan
anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.”.
Ayat
ini sangat banyak digunakan oleh orang-orang Arminian / non Reformed untuk
menekankan free will, dan juga untuk
menentang doktrin Irresistible Grace
(= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak) ini.
Adam
Clarke (tentang Mat 23:37): “1.
It is evident that our blessed Lord seriously and earnestly wished the salvation
of the Jews. 2. That he did everything that could be done, consistently with his
own perfections, and the liberty of his creatures, to effect this. 3. That his
tears over the city, Luke 19:41, sufficiently evince his sincerity. 4. That
these persons nevertheless perished. And 5. That the reason was, they would not
be gathered together under his protection: therefore wrath, i.e. punishment,
came upon them to the uttermost. From this it is evident that there have been
persons whom Christ wished to save, and bled to save, who notwithstanding
perished, because they would not come unto him, John 5:40” (= 1. Adalah
jelas bahwa Tuhan kita yang terpuji secara serius
dan sungguh-sungguh menginginkan keselamatan dari orang-orang Yahudi.
2. Bahwa Ia melakukan segala sesuatu yang bisa
dilakukan, dengan / secara konsisten dengan kesempurnaanNya sendiri, dan
kebebasan dari makhluk-makhlukNya, untuk menghasilkan hal ini. 3.
Bahwa air mataNya atas / karena kota itu, Luk 19:41, secara cukup
menunjukkan dengan jelas ketulusan / kesungguhanNya. 4. Bahwa
meskipun demikian orang-orang ini binasa. Dan 5. Bahwa alasannya
adalah, mereka tidak mau dikumpulkan bersama-sama di bawah perlindunganNya:
karena itu murka, yaitu hukuman, datang kepada mereka sampai sepenuhnya. Dari
ini adalah jelas bahwa disana ada orang-orang yang Kristus ingin untuk
selamatkan, dan berkorban / mencurahkan darah untuk menyelamatkan, tetapi yang
bagaimanapun juga binasa, karena mereka tidak mau datang kepadaNya, Yoh 5:40).
Luk
19:41 - “Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia
menangisinya,”.
Yoh
5:39-40 - “(39) Kamu menyelidiki
Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa olehNya
kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi
kesaksian tentang Aku, (40) namun kamu tidak mau
datang kepadaKu untuk memperoleh hidup itu.”.
Kata
‘olehNya’
merupakan terjemahan yang salah.
KJV/RSV/NASB:
‘in them’ (= dalam mereka).
NIV: ‘by them’ (= oleh mereka).
Catatan: kepercayaan
Arminian bahwa Tuhan sungguh-sungguh ingin menyelamatkan semua orang, dan
melakukan apa yang bisa Ia lakukan untuk mencapai hal itu, tetapi toh akhirnya
orang-orang itu binasa, menurut saya berbau penghujatan, karena menunjukkan ‘ketidak-mampuan’ Allah! Juga pandangan ini tak bisa menjawab pertanyaan ini: ‘Kalau memang pandangan itu benar, mengapa ada banyak
orang yang sampai mati tidak pernah mendengar Injil?’.
Lenski:
“the
very ones whom Jesus willed to gather refused to be gathered: rulers and people
alike. ... John describes Jesus’ ministry in the capital at length, but all of
Jesus’ ministry to the Jews is here included: ‘thy children,’ the nation.
One of the inexplicable features of divine love is the fact that, in spite of
the infallible foreknowledge that all will be in vain, its call and its effort
to save never cease until the very end. Judas is another example. Such knowledge
would either stop us at once or make our efforts a mere pretense. So far is God
above us in this respect that our minds cannot follow his ways.”
(= orang-orang yang Yesus mau kumpulkan menolak untuk dikumpulkan:
pemimpin-pemimpin dan orang-orang sama saja. ... Yohanes akhirnya menggambarkan
pelayanan Yesus di ibu kota, tetapi semua pelayanan Yesus kepada orang-orang
Yahudi dicakup di sini: ‘anak-anakmu’, bangsa itu. Salah satu dari hal
menonjol yang tidak
bisa dijelaskan tentang kasih ilahi adalah fakta bahwa, sekalipun ada
pra-pengetahuan yang tidak bisa salah bahwa semua akan sia-sia, panggilan
dan usaha dari kasih ilahi untuk menyelamatkan tak pernah berhenti sampai akhir.
Yudas adalah contoh yang lain. Pengetahuan seperti itu atau akan menghentikan
kita dengan segera atau membuat usaha-usaha kita semata-mata suatu
kepura-puraan. Begitu
jauh Allah itu ada di atas kita dalam hal ini sehingga pikiran kita tidak bisa
mengikuti jalan-jalanNya.).
Komentar
saya:
1.
Lagi-lagi, bagaimana kata-kata Lenski ini bisa sesuai dengan fakta bahwa
ada banyak orang yang sampai mati tidak mendengar Injil?
2.
Sekalipun saya percaya bahwa ada hal-hal berkenaan dengan Allah dan
rencanaNya yang tidak bisa dijelaskan, tetapi tentang hal yang sedang
dibicarakan ini, saya tidak percaya bahwa itu termasuk dalam golongan yang tidak
bisa dijelaskan. Lalu mengapa Lenski mengatakan ‘tidak bisa dijelaskan’?
Karena dia mengikuti pandangan yang salah! Pandangan salah itu menyebabkan
munculnya suatu kontradiksi, yang ia usahakan untuk tutup-tutupi dengan
kata-kata ‘tidak bisa dijelaskan’.
Lenski:
“The
verb ἠθέλησα
denotes the gracious, saving will of Jesus. It is the so-called antecedent will
which takes into account only our lost condition from which it works to deliver
us and not our reaction to this will. The will which deals with this reaction is
always the subsequent will, and for the obdurate this will is judgment.
Determinism and other confusions result when this distinction is ignored. The
gracious antecedent will and its call to grace is equal for all. To make it
serious and real only in the case of one class of men and only a pretense in the
case of another class, is to attribute duplicity to God, against which all
Scripture cries out, Rom. 11:32. ... Who dares to say that Jesus willed to save
even the Sanhedrists less than he willed to save the Twelve; or Judas less than
Peter?”
[= Kata kerja ἠθέλησα
/ ETHELESA (=
ingin / rindu) menunjuk pada kehendak Yesus yang
murah hati / bersifat kasih karunia dan menyelamatkan. Adalah apa
yang disebut ‘kehendak
yang mendahului’ yang mengingat hanya akan kondisi terhilang kita
dari mana itu bekerja untuk membebaskan kita dan tidak mengingat akan reaksi
kita terhadap kehendak ini. Kehendak yang menangani reaksi ini selalu adalah kehendak
yang berikut / sesudahnya, dan bagi orang-orang yang keras kepala
kehendak ini adalah penghakiman. Determinisme
dan kebingungan-kebingungan yang lain dihasilkan pada waktu pembedaan ini
diabaikan. Kehendak
yang mendahului yang murah hati dan panggilannya kepada kasih karunia
adalah sama / setara bagi semua orang. Membuatnya
serius dan sungguh-sungguh hanya dalam kasus dari satu golongan manusia, dan
hanya merupakan suatu kepura-puraan dalam kasus dari golongan yang lain, sama
dengan menghubungkan sikap bermuka dua kepada Allah, terhadap / menentang hal
mana seluruh Kitab Suci berteriak, Ro 11:32. ... Siapa berani mengatakan bahwa Yesus ingin menyelamatkan bahkan para
Sanhedrin kurang dari Ia ingin menyelamatkan 12 Rasul; atau Yudas kurang dari
Petrus?].
Ro
11:32 - “Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya
Ia dapat menunjukkan kemurahanNya atas
mereka semua.”.
Catatan: Determinisme
secara kasar bisa disamakan dengan doktrin Predestinasi.
Tanggapan
saya:
1. Lenski menganggap ada dua kehendak, ‘kehendak
yang mendahului’ yang ingin menyelamatkan, dan ‘kehendak
yang berikutnya / sesudahnya’ yang merupakan penghakiman terhadap
orang-orang yang keras kepala. Ini menunjukkan adanya perubahan rencana dalam
diri Allah, dan ini bertentangan dengan banyak ayat di bawah ini:
2Raja 19:25
- “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah
menentukannya dari jauh hari, dan telah merancangnya pada zaman purbakala?
Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap
kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu.”.
Ayub 42:1-2
- “(1)
Maka jawab Ayub kepada TUHAN: (2) ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan
segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal’.”.
Maz 33:10-11 - “(10)
TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku
bangsa; (11) tetapi rencana TUHAN tetap
selama-lamanya, rancangan hatiNya turun-temurun.”.
Yes 14:24,26-27 - “(14)
TUHAN semesta alam telah bersumpah, firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti
yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah
akan terlaksana: ... (26) Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai
seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bangsa. (27) TUHAN
semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya?
TanganNya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?”.
Yes 25:1 - “Ya
TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur
bagi namaMu; sebab dengan
kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan
rancanganMu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu.”.
Yes 37:26 - “Bukankah
telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari
jauh hari dan telah merancangnya dari zaman purbakala? Sekarang Aku
mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang
berkubu menjadi timbunan batu,”.
Yes 46:10 - “yang
memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang
belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan
sampai, dan segala kehendakKu akan
Kulaksanakan,”.
Yer 4:28 - “Karena
hal ini bumi akan berkabung, dan langit di atas akan menjadi gelap, sebab Aku
telah mengatakannya, Aku telah merancangnya, Aku
tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu.’”.
2. Tentang kata-kata
Lenski bahwa panggilan Allah setara bagi semua orang, lagi-lagi saya tekankan,
bagaimana mungkin ini sesuai dengan fakta bahwa ada banyak orang mati tanpa
pernah mendengar Injil?
3.
Lenski menggunakan Ro 11:32 tanpa memperhatikan kontext dari ayat
itu, yang menunjukkan bahwa Allah sengaja mengeraskan hati orang-orang Yahudi,
sehingga mereka menolak Kristus, dan lalu Allah bisa mengalihkan Injil kepada
orang-orang non Yahudi.
Ro 11:7-8,11,15,25,30
- “(7) Jadi bagaimana? Israel tidak
memperoleh apa yang dikejarnya, tetapi orang-orang yang terpilih telah
memperolehnya. Dan orang-orang yang lain telah tegar
hatinya, (8) seperti ada tertulis: ‘Allah
membuat mereka tidur nyenyak, memberikan mata untuk tidak melihat dan telinga
untuk tidak mendengar, sampai kepada hari sekarang ini.’ ... (11)
Maka aku bertanya: Adakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak!
Tetapi oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah
sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka cemburu. ...
(15) Sebab jika penolakan mereka berarti perdamaian
bagi dunia, dapatkah penerimaan mereka mempunyai arti lain dari pada
hidup dari antara orang mati? ... (25) Sebab, saudara-saudara, supaya kamu
jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian
dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain
telah masuk. ... (30) Sebab sama seperti kamu dahulu tidak taat
kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh
ketidaktaatan mereka,”.
Jadi,
apa arti dari Ro 11:32?
Ro
11:32 - “Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya
Ia dapat menunjukkan kemurahanNya atas
mereka semua.”.
Kata-kata
‘mereka semua’, dilihat dari kontextnya, tidak mungkin menunjuk kepada semua
orang tanpa kecuali, tetapi menunjuk kepada ‘semua orang-orang pilihan’!
4.
Tentang kalimat terakhir, saya tanggapi dengan mengatakan bahwa saya
bukan hanya berani mengatakan bahwa Allah ingin menyelamatkan si A lebih dari si
B, tetapi
saya bahkan berani mengatakan bahwa Allah ingin menyelamatkan si A dan sama
sekali tidak ingin menyelamatkan si B.
Ro
9:10-13 - “(10) Tetapi bukan hanya itu
saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari
Ishak, bapa leluhur kita. (11) Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan
belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang
pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya
(Dia yang memanggil) - (12) dikatakan
kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13)
seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’”.
Bagaimana
text seperti ini bisa diartikan bahwa Allah ingin menyelamatkan Esau sama
seperti Ia ingin menyelamatkan Yakub? Yang benar adalah: Ia merencanakan untuk
menyelamatkan Yakub, tetapi tidak Esau!
Bandingkan
dengan Yoh 17:9,20 yang menunjukkan bahwa Yesus hanya berdoa untuk orang-orang
yang sudah percaya dan orang-orang yang akan percaya. Jadi Ia berdoa untuk
orang-orang pilihan, BUKAN UNTUK DUNIA!
Yoh
17:9,20 - “(9) Aku berdoa untuk mereka.
Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi
untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepadaKu, sebab mereka adalah
milikMu ... (20) Dan bukan untuk mereka ini saja Aku
berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepadaKu oleh pemberitaan
mereka;”.
Lenski:
“So
this nation belonged to Jesus, and as his very own he willed to gather it
together. ... Nothing is more tragic than the outcome of this gracious will of
Jesus: ‘and you did not will.’ As so often, the adversative idea is added
with a telling copulative καί.
... The sentence ought to close: ‘and
you willed’; but now it closed: ‘and
you willed NOT!’ Only this, nothing more, is said. No qualification, no
modifiers, no explanations, no additions. The one fatal thing is: ‘you did not
will.’ Despite its brevity this expression includes
many facts. Grace is not irresistible; every case of resistance proves this,
notably this glaring case of the Jews. Damnation results from man’s own will
which becomes permanent, obdurate, unaccountable resistance against God’s will
of grace. The more God draws the will with the power of grace, the more this
will rejects God until grace can do no
more.”
(= Maka bangsa ini adalah milik
Yesus, dan sebagai milikNya, Ia ingin mengumpulkannya bersama-sama. ... Tak
ada yang lebih tragis dari pada hasil dari kehendak yang murah hati dari Yesus:
‘Dan kamu tidak mau’. Seperti begitu sering, gagasan yang
berlawanan ditambahkan dengan kata penghubung yang berpengaruh, KAI. ... Kalimat
itu seharusnya ditutup dengan ‘dan kamu mau’; tetapi sekarang itu ditutup
dengan ‘dan kamu tidak mau!’ Hanya
ini, tak ada lain, yang dikatakan. Tak ada kwalifikasi / syarat / pembatasan,
tak ada pemodifikasi, tak ada penjelasan, tak ada tambahan. Satu hal yang fatal
adalah: ‘kamu tidak mau’. Sekalipun singkat,
ungkapan ini mencakup banyak fakta. Kasih karunia bukannya tidak bisa ditolak;
setiap kasus dari penolakan membuktikan ini, khususnya kasus yang menyolok dari
orang-orang Yahudi ini. Penghukuman muncul dari kehendak manusia sendiri yang
menjadi penolakan yang permanen, keras kepala, tak bisa dipertanggung-jawabkan
terhadap / menentang kehendak dari kasih karunia Allah. Makin
Allah menarik kehendak itu dengan kuasa dari kasih karunia, makin kehendak ini
menolak Allah sampai kasih karunia tidak
bisa melakukan apa-apa lagi.).
Tanggapan
saya:
1.
Lenski terlalu cepat untuk menyimpulkan bahwa ayat ini membicarakan
kehendak / rencana Allah. Pertama-tama, perlu diperhatikan bahwa Yesus
mempunyai 2 kehendak, ilahi dan manusiawi. Ini bisa saja hanya menunjuk pada
kehendak manusiawiNya. Kedua, penggunaan kata ‘kehendak’ untuk Allah,
bisa mempunyai 3 arti, yaitu:
a.
Rencana Allah. Ini tak bisa gagal.
b.
Keinginan / kesenangan Allah. Ini bisa gagal.
c.
Perintah / larangan Allah. Ini bisa gagal / dilanggar oleh manusia.
2.
Kata-kata bagian akhir dari kutipan dari Lenski di atas, betul-betul
konyol, karena menunjukkan bahwa Allahnya frustrasi, karena Ia mau memberikan
kasih karunia, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa lagi menghadapi kekuatan dari free
will manusia yang menolaknya.
Lenski:
“Why
do some wills resist thus? This asks for a reasonable explanation for an
unreasonable act - no such explanation exists. To say that this is due to inborn
sin is not an explanation, for men who have the same inborn sin are won, and
their wills assent under grace. Moreover, this obdurate resistance is produced
only when grace operates with its power. The spring is poisonous and throws out
a poisonous stream. The gratia sufficiens
is applied to spring and stream with power sufficiens
to unpoison both. Behold, now the spring and the stream are a hundred times more poisonous
than before. Explain that! All we know is that the mystery of this resistance
lies in the will itself and in no way in God. How could Satan fall? How could
Adam sin? How can man resist grace and salvation? How can a believer whose will
is changed turn to unbelief and be damned? It is all one and the same question.”
(= Mengapa
beberapa kehendak menolak seperti itu? Ini menanyakan / meminta untuk suatu
penjelasan yang masuk akal untuk suatu tindakan yang masuk akal - penjelasan
seperti itu tidak ada. Mengatakan bahwa ini disebabkan oleh dosa bawaan (sejak
lahir) bukanlah suatu penjelasan, karena orang-orang yang mempunyai dosa bawaan
(sejak lahir) yang sama dimenangkan, dan kehendak mereka menyetujui di bawah
kasih karunia. Selanjutnya, penolakan yang keras kepala ini dihasilkan hanya
pada waktu kasih karunia bekerja dengan kuasanya. Sumbernya beracun dan
mengeluarkan suatu aliran yang beracun. Kasih
karunia yang cukup diterapkan kepada sumber dan aliran dengan kuasa yang cukup
untuk membuang racun keduanya. Lihatlah, sekarang sumber dan alirannya adalah
100 x lebih beracun dari pada sebelumnya. Jelaskan itu! Semua
yang kami ketahui adalah bahwa misteri dari penolakan ini terletak dalam
kehendak itu sendiri dan sama sekali bukan di dalam Allah. Bagaimana
Iblis bisa jatuh? Bagaimana Adam bisa berdosa? Bagaimana manusia bisa menolak
kasih karunia dan keselamatan? Bagaimana seorang percaya yang kehendaknya diubah
bisa berbalik pada ketidakpercayaan dan binasa? Ini semua merupakan pertanyaan
yang satu dan yang sama.).
Tanggapan
saya:
Semua
pertanyaan yang oleh Lenski dianggap tak bisa dijawab ini bisa dijawab
seandainya ia memeluk Calvinisme. Mari kita membahas pertanyaan-pertanyaan yang
dianggap sebagai misteri oleh Lenski ini dari sudut Calvinisme.
1.
Mengapa sebagian orang menolak? Calvinisme menjawab: karena mereka tak
diberi kasih karunia. Mengapa mereka tidak diberi kasih karunia? Karena mereka
bukan orang-orang pilihan Allah.
2.
Sekarang kita perhatikan kata-kata Lenski yang ini ‘Semua yang kami ketahui adalah bahwa misteri
dari penolakan ini terletak dalam kehendak itu sendiri dan sama sekali bukan di
dalam Allah.’.
Arminianisme mempercayai bahwa semua manusia
sejak lahir telah diberi kasih karunia yang mendahului (prevenient grace), sehingga semua ada pada level yang sama, bisa
berbuat baik dan bisa percaya kepada Kristus. Kalau penolakan mereka bukan
karena sesuatu yang ada di dalam diri Allah (predestinasi), maka itu pasti
karena kehendak mereka sendiri, dimana ada yang mau dan ada yang tidak mau. Lalu
mengapa ada yang percaya dan ada yang tidak? Pasti karena yang satu lebih baik
dari yang lain. Tetapi Lenski jelas tak mau menerima ini, sehingga ia menganggap
ini sebagai suatu misteri, padahal ini sebetulnya bukan misteri.
Calvinisme mengajarkan bahwa penolakan mereka
ini memang karena sesuatu dalam diri Allah (predestinasi)!
3. Bagaimana Iblis dan Adam bisa jatuh? Calvinisme menjawab:
karena itu adalah rencana Allah, sehingga pada waktuNya, Ia menarik kasih
karuniaNya dari mereka, dan secara tak terhindarkan, merekapun jatuh.
4. Bagaimana manusia bisa menolak kasih karunia dan
keselamatan? Calvinisme menganggap ini sebagai suatu omong kosong. Kalau Allah
memang memberi kasih karunia dan bermaksud untuk menyelamatkan, maka orang itu
tidak akan menolaknya.
5.
Bagaimana orang percaya bisa berbalik / murtad dan akhirnya binasa?
Calvinisme lagi-lagi menganggap ini sebagai omong kosong, karena orang percaya
yang sejati tidak mungkin murtad (1Yoh 2:19).
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : buas22@yahoo.com
e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali