Eksposisi Surat
Paulus kepada Jemaat di Efesus
oleh
: Pdt. Budi Asali M.Div.
1)
Mati dalam dosa dan pelanggaran (ay 1).
Alkitab
menggambarkan manusia bukan sebagai orang yang sakit / setengah mati, tetapi
sebagai orang yang mati secara rohani.
Ciri-ciri
orang yang mati secara rohani:
·
Tidak menghargai hal-hal yang rohani (1Kor 2:14).
·
Tidak kenal Allah dan hidup jauh dari persekutuan
dengan Allah (Ef 4:17-18).
·
Aktif berbuat dosa, karena mereka tidak peduli
kepada Firman Tuhan yang adalah hal rohani.
2)
Diperbudak oleh dosa (ay 2).
Dalam
Alkitab Indonesia, pada ay 2a terdapat 2 kata kerja yaitu: ‘mengikuti’
dan ‘mentaati’.
Seharusnya hanya ada 1 kata kerja dan terjemahan hurufiahnya adalah ‘berjalan’
yang menunjukkan suatu gaya hidup / kebiasaan. Jadi, ini menunjukkan bahwa
manusia itu sudah begitu terbiasa berbuat dosa, atau dengan kata lain manusia
itu diperbudak oleh dosa.
Juga,
kata-kata ‘orang-orang durhaka’ pada akhir ay 2,
seharusnya adalah ‘anak-anak ketidaktaatan’. Manusia disebut demikian
karena mereka selalu tidak taat, mereka terus berdosa. Mereka adalah hamba dosa
dan tidak bisa berbuat baik (Yoh 8:34 Ro
8:7-8). Dalam Luk 6:33, seolah-olah Tuhan Yesus mengajar bahwa manusia bisa
berbuat baik, tetapi yang dimaksudkan adalah perbuatan baik secara lahiriah.
Tetapi dalam arti yang sesungguhnya manusia (yang belum bertobat) tidak bisa
berbuat baik.
Ada
3 hal di balik dosa: dunia, setan, dan daging (ay 2-3).
Yang
dimaksud dengan ‘dunia’ di sini adalah prinsip-prinsip dunia yang
bertentangan dengan Firman Tuhan.
Yang
dimaksud dengan ‘daging’ adalah kemanusiaan yang sudah jatuh dalam dosa dan
condong pada dosa.
‘Setan’
menggunakan ‘dunia’
(dari luar) dan ‘daging’ (dari dalam) untuk menjatuhkan manusia ke dalam
dosa.
3)
Ada di bawah murka / hukuman Allah (ay 3).
Ay 3:
‘orang-orang yang harus dimurkai’ seharusnya adalah ‘anak-anak
kemurkaan’
dan ini menunjukkan bahwa manusia itu ada di bawah murka Allah. Jadi, manusia
bukannya ada pada posisi ‘netral’. Dia ada di bawah murka Allah, dan kalau
ia meneruskan hidupnya, tanpa ada pertobatan (percaya kepada Yesus), otomatis ia
akan masuk ke neraka.
Ketiga
hal tersebut di atas adalah keadaan alamiah manusia sebagai keturunan Adam. Ini
ditunjukkan oleh kata-kata ‘Pada dasarnya’ (ay 3), yang seharusnya
adalah ‘by nature’ (= secara alamiah). Jadi, bayi yang baru lahirpun
sudah ada dalam keadaan seperti itu.
Ketiga
hal itu mencakup semua orang. Dalam ay 1-2 Paulus menggunakan kata ‘kamu’
(orang Efesus / non Yahudi). Dalam ay 3 Paulus berkata ‘kami’
(orang Yahudi). Dan dalam ay 3 bagian akhir Paulus berkata ‘mereka
yang lain’.
Ini seharusnya adalah ‘sisanya’ (‘the rest’).
Jadi, dari semua ini jelaslah bahwa ketiga hal itu merupakan keadaan dari
semua manusia.
Dalam
ay 1-3 Paulus mengajak orang-orang Efesus untuk mengingat keadaan mereka
dahulu. Hal ini kelihatannya bertentangan dengan apa yang Paulus katakan pada
Fil 3:13-14. Tetapi sebetulnya 2 hal itu tidak bertentangan. Kita harus
melupakan masa lalu hanya kalau hal itu menghambat kemajuan iman kita. Tapi
kalau kita ingat keadaaan kita dahulu (sebagai orang berdosa), itu justru bisa
mendorong kita untuk lebih maju. Itu bisa menyebabkan kita makin merasakan kasih
Allah, juga bisa menyebabkan kita lebih bisa mengampuni orang lain. Jadi
mengingat masa lalu yang seperti itu jelas tidak dilarang.
Ketiga
hal itu tidak bisa diperbaiki dengan pendidikan, hukum negara, lingkungan yang
baik, dsb. Yang bisa mengubahkan adalah kelahiran kembali / regeneration.
Ay 4:
‘Tetapi Allah....’.
Ini
menunjukkan bahwa Allahlah yang mengambil inisiatif pada waktu Ia melihat
manusia secara alamiah itu (bdk. Kej 3:8-9).
1)
Apa yang Allah lakukan?
a)
Ia ‘menghidupkan’
(ay 5), ‘membangkitkan’
(ay 6; ini lebih tepat kalau diterjemahkan ‘mengangkat’),
‘memberi tempat di surga’
(ay 6; ini seharusnya adalah ‘mendudukkan di surga’).
Ini
semua sama seperti yang dialami oleh Kristus (kebangkitan, kenaikan ke surga,
duduk di sebelah kanan Allah).
Adanya
‘mystical union’ (= persatuan mistik) antara Kristus dengan orang-orang
pilihan, menyebabkan apa yang dialami oleh Kristus juga dialami oleh kita.
Karena
itu kata-kata kerja dalam ay 5-6 ini ada dalam bentuk lampau (past tense).
b)
Ia menyelamatkan (ay 5,8).
Apa
artinya keselamatan? Keselamatan adalah lebih dari sekedar pengampunan.
Keselamatan adalah pembebasan dari 3 hal yang merupakan keadaan manusia secara
alamiah yang sudah saya bahas di atas.
Keselamatan
adalah anugerah / pemberian Allah; ini dinyatakan oleh ay 8: ‘Sebab
karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,’.
Banyak
orang yang menafsirkan bahwa kata ‘itu’ menunjuk kepada ‘iman’.
Tetapi kata ‘itu’
(seharusnya ‘ini’
/ ‘this’)
dalam bahasa Yunaninya ada dalam bentuk netral, sedangkan kata ‘iman’
ada dalam bentuk feminine (perempuan). Jadi, jelas bahwa kata ‘ini’
/ ‘itu’
tidak mungkin menunjuk kepada kata ‘iman’. Kalau demikian, kata itu
menunjuk pada apa? Pada seluruh kalimat ‘karena kasih karunia kamu
diselamatkan oleh iman’.
Dengan
kata lain, ‘keselamatan karena
kasih karunia oleh iman’
adalah pemberian / anugerah Allah.
Keterangan:
‘iman’
jelas juga merupakan anugerah / pemberian Allah (Yoh 6:65 Fil 1:29). Jadi, para ahli theologia Reformed
bertentangan bukan dalam hal doktrinnya (semua ahli theologia Reformed setuju
bahwa baik iman maupun keselamatan adalah anugerah / pemberian Allah), melainkan
hanya dalam penafsiran Ef 2:8 ini.
Ay 10:
kata-kata ‘buatan Allah’, ‘diciptakan’
membuang segala ‘jasa’ kita dalam mendapatkan keselamatan. Jadi, ini
menyokong pandangan bahwa keselamatan adalah anugerah Allah.
2)
Mengapa Allah melakukan hal itu?
a)
Karena ‘rahmat’
(ay 4), ‘kasih’
(ay 4), ‘kasih karunia’
(ay 5,8) dan ‘kebaikanNya’ (ay 7).
Semua
alasan ini terdapat dalam diriNya. Jadi, Ia menyelamatkan bukan karena apa yang
ada pada kita (misalnya: kebaikan, dsb).
b)
Untuk menunjukkan kekayaan kasih karuniaNya yang melimpah- limpah (ay 7).
‘Pada
masa yang akan datang’
(ay 7) bukan berarti nanti di surga, tetapi juga sekarang waktu kita masih
hidup.
c)
Supaya kita berbuat baik (ay 10).
Pekerjaan
baik itu sudah dipersiapkan Allah sebelumnya dan Ia ingin supaya kita ‘hidup’
(terjemahan hurufiahnya ‘berjalan’) di dalamnya.
Jadi Ef 2:1-10 ini,
dimulai dengan manusia alamiah yang ‘berjalan’ / ‘hidup’
dalam dosa (ay 1-2), dan diakhiri dengan manusia buatan Allah yang ‘berjalan’
/ ‘hidup’
dalam pekerjaan / perbuatan baik.
Semua itu terjadi karena KASIH
KARUNIA ALLAH.
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : buas22@yahoo.com
e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali