oleh:
Pdt. Budi Asali MDiv.
1)
Yehu membunuh keluarga dan seisi istana Ahab.
Ay 1: “Ahab mempunyai
tujuh puluh orang anak laki-laki di Samaria. Yehu menulis surat, dan mengirimnya
ke Samaria, kepada pembesar kota itu, kepada para tua-tua dan kepada para
pengasuh anak-anak Ahab, bunyinya:”.
a)
‘Anak laki-laki’.
Pulpit Commentary mengatakan (hal 207) bahwa kata ‘anak
laki-laki’ di sini harus diartikan ‘keturunan
laki-laki’, dan
kebanyakan dari 70 orang ini adalah cucu laki-laki (bdk. ay 3), dan bahkan ada
yang buyut laki-laki.
Keil & Delitzsch mengatakan bahwa adanya ‘pengasuh
anak-anak Ahab’ menunjukkan bahwa yang dimaksudkan dengan ‘anak’
adalah ‘cucu’,
karena Ahab sudah mati selama 14 tahun, sehingga anaknya yang terkecilpun pasti
tidak membutuhkan pengasuh.
b)
‘kepada pembesar kota itu’.
Di sini, dalam Kitab Suci Indonesia tidak diberi nama dari kota
tersebut. RSV juga demikian.
KJV: ‘And Ahab had seventy sons in Samaria. And Jehu wrote
letters, and sent to Samaria, unto the rulers of Jezreel, to the elders,
and to them that brought up Ahab’s children, saying,’ (= Dan Ahab
mempunyai 70 anak laki-laki di Samaria. Dan Yehu menulis surat, dan mengirimkan
ke Samaria, kepada penguasa-penguasa Yizreel, kepada tua-tua, dan kepada
mereka yang mengasuh anak-anak Ahab, berkata). KJV » NASB.
NIV: ‘to the officials of Jezreel’ (= kepada
pejabat-pejabat dari Yizreel).
Footnote NIV: ‘Hebrew; some Septuagint manuscripts and Vulgate
‘of the city’’ [= Ibrani; sebagian manuscripts Septuaginta dan Vulgate
‘dari kota itu’].
Pulpit Commentary: “‘Jezreel’ is almost
certainly a corrupt reading. The ‘rulers of Jezreel’ would be at Jezreel;
and, if Jehu wished to communicate with them, he would not need to ‘write.’
Had any chance taken them to Samaria - a very improbable circumstance - they
would have had no authority there, and to address them would have been useless.
Jehu’s letter were, no doubt, addressed to the ‘rulers of Samaria’; and so
the LXX, expressly state ...; but the reading ‘Jezreel’ can scarcely have
arisen out of ‘Samaria’ ..., since the difference of the two words is so
great. Most probably the original word was ‘Israel’ ... which is corrupted
into ‘Jezreel’ ... The rulers of Samaria, the capital, might well be called
‘the rulers of Israel.’” [=
‘Yizreel’ hampir pasti merupakan pembacaan yang salah. ‘Penguasa-penguasa
Yizreel’ akan ada di Yizreel; dan jika Yehu ingin berkomunikasi dengan mereka,
ia tidak perlu ‘menulis’ (karena
pada saat itu Yehu ada di Yizreel).
Seandainya ada kesempatan untuk membawa mereka ke Samaria, yang suatu keadaan
yang sangat tidak memungkinkan, maka mereka tidak akan mempunyai otoritas di
sana, dan berbicara kepada mereka adalah sia-sia. Karena itu surat Yehu, tidak
diragukan, ditujukan kepada ‘penguasa-penguasa Samaria’; dan demikianlah LXX
/ Septuaginta, menyatakannya secara explicit ...; tetapi pembacaan ‘Yizreel’
hampir tidak mungkin bisa muncul dari ‘Samaria’ karena perbedaan kedua kata
itu begitu besar. Yang paling mungkin adalah bahwa kata orisinilnya ialah
‘Israel’ ... yang lalu disalin secara salah menjadi ‘Yizreel’ ...
Penguasa-penguasa Samaria, ibu kota, memang bisa disebut ‘penguasa-penguasa
Israel’] - hal 207.
c)
‘kepada para tua-tua’.
Pulpit Commentary: “‘To the elders’;
rather, ‘even the elders.’ Not distinct persons from the ‘rulers,’ but
the same under another name” (= ‘Kepada
tua-tua’ lebih tepat, ‘yaitu tua-tua’. Bukan orang-orang yang berbeda dari
‘penguasa-penguasa’ tetapi orang-orang yang sama dengan nama lain)
- hal 207.
d)
‘kepada para pengasuh anak-anak Ahab’.
Adam Clarke:
“It appears that the royal children of
Israel and Judah were intrusted to the care of the nobles, and were brought up
by them, (see 2 Kings 10:6;) and to these, therefore, Jehu’s letters are
directed” [= Kelihatannya anak-anak raja
Israel dan Yehuda dipercayakan pada pemeliharaan dari bangsawan-bangsawan, dan
diasuh / dididik oleh mereka (lihat 2Raja 10:6); dan karena itu kepada mereka
inilah surat Yehu ditujukan].
Ay 2-5: “(2)
‘Sekarang, segera sesudah surat ini sampai kepadamu, kamu yang mempunyai
anak-anak tuanmu di bawah pengawasanmu, lagipula mempunyai kereta dan kuda dan
kota yang berkubu serta senjata, (3) maka pilihlah seorang yang terbaik dan yang
paling tepat dari antara anak-anak tuanmu, lalu dudukkanlah dia di atas takhta
ayahnya, kemudian berperanglah membela keluarga tuanmu.’ (4) Tetapi mereka
sangat takut dan berkata: ‘Sedangkan kedua raja itu tidak dapat bertahan
menghadapinya, bagaimana mungkin kita ini dapat bertahan?’ (5) Sebab itu
kepala istana dan kepala kota, juga para tua-tua dan para pengasuh mengirim
pesan kepada Yehu, bunyinya: ‘Kami ini hamba-hambamu dan segala yang
kaukatakan kepada kami akan kami lakukan; kami tidak hendak mengangkat seseorang
menjadi raja; lakukanlah apa yang baik menurut pemandanganmu.’”.
Yang dimaksud dengan ‘kedua
raja’ (ay 4) tentu
adalah Yoram dan Ahazia. Orang-orang ini sangat takut kepada Yehu dan
menurutinya apapun yang ia minta, tanpa peduli apakah Tuhan menghendakinya atau
tidak.
Ay 6-8: “(6) Kemudian
Yehu menulis surat untuk kedua kalinya kepada mereka, bunyinya: ‘Jika kamu
memihak kepadaku dan mau menurut perkataanku, ambillah kepala anak-anak tuanmu
dan datanglah kepadaku besok kira-kira waktu ini ke Yizreel.’ Adapun ketujuh
puluh anak raja itu tinggal bersama-sama orang-orang besar di kota itu, yang
mendidik mereka. (7) Tatkala surat itu sampai kepada mereka, mereka mengambil
anak-anak raja itu, menyembelih ketujuh puluh orang itu, menaruh kepala
orang-orang itu ke dalam keranjang dan mengirimkan semuanya kepada Yehu di
Yizreel. (8) Ketika suruhan datang memberitahukan kepadanya: ‘Telah dibawa
orang kepala anak-anak raja itu,’ berkatalah Yehu: ‘Susunlah semuanya
menjadi dua timbunan di depan pintu gerbang sampai pagi.’”.
Matthew Henry:
“Numerous families, if vicious, must
not expect to be long prosperous” (=
Keluarga yang banyak, jika jahat, jangan diharapkan untuk makmur secara lama.).
Matthew Henry:
“Learn hence not to trust in a friend
nor to put confidence in a guide not governed by conscience. One can scarcely
expect that he who has been false to his God should ever be faithful to his
prince. But observe God’s righteousness in their unrighteousness. These elders
of Jezreel had been wickedly obsequious to Jezebel’s order for the murder of
Naboth, (1 Kin. 21:11). She gloried, it is likely, in the power she had over
them; and now the same base spirit makes them as pliable to Jehu and as ready to
obey his orders for the murder of Ahab’s sons. Let none aim at arbitrary
power, lest they be found rolling a stone which, some time or other, will return
upon them. Princes that make their people slaves take the readiest way to make
them rebels; and by forcing men’s consciences, as Jezebel did, they lose their
hold of them” [= Karena itu belajarlah
untuk tidak mempercayakan diri kepada seorang sahabat atau meletakkan keyakinan
kepada seorang pembimbing yang tidak dikuasai oleh hati nurani. Seseorang hampir
tidak bisa mengharapkan bahwa ia yang telah curang terhadap Allahnya bisa setia
kepada pangerannya. Tetapi perhatikanlah kebenaran Allah dalam ketidak-benaran
mereka. Tua-tua Yizreel ini telah tunduk secara jahat kepada perintah Izebel
untuk pembunuhan terhadap Nabot (1Raja 21:11). Ia mungkin sekali bermegah dalam
kuasa yang ia miliki atas mereka; dan sekarang roh yang sama hinanya membuat
mereka menyesuaikan diri dengan Yehu dan sama siapnya untuk mentaati
perintah-perintahnya untuk membunuh anak-anak Ahab. Janganlah siapapun
menginginkan kuasa yang sewenang-wenang, supaya jangan mereka didapatkan
menggelindingkan sebuah batu yang pada saat lain, akan kembali kepada mereka.
Pangeran-pangeran yang membuat bangsa mereka sebagai budak mengambil jalan yang
paling cepat untuk membuat mereka pemberontak-pemberontak; dan dengan memaksa
hati nurani manusia, seperti yang dilakukan oleh Izebel, mereka kehilangan
pegangan mereka terhadap mereka].
Catatan:
berbeda dengan pandangan dari Pulpit Commentary di atas, Matthew Henry
beranggapan bahwa orang-orang ini memang adalah tua-tua Yizreel, bukan Samaria /
Israel.
Ay 9-10: “(9) Pada
paginya keluarlah Yehu, berdirilah ia, lalu berkata kepada segenap orang banyak:
‘Kamu ini tidak bersalah. Memang akulah yang telah mengadakan persepakatan
melawan tuanku dan telah membunuh dia; tetapi semua orang ini, siapakah yang
membunuh mereka? (10) Ketahuilah sekarang, bahwa firman TUHAN yang telah
diucapkan TUHAN tentang keluarga Ahab, tidak ada yang tidak dipenuhi, TUHAN
telah melakukan apa yang difirmankanNya dengan perantaraan Elia, hambaNya.’”.
Keil & Delitzsch: “When the heads were
brought, Jehu had them piled up in two heaps before the city-gate, and spoke the
next morning to the assembled people in front of them: ‘Ye are righteous.
Behold I have conspired against my lord, and have slain him, but who has slain
all these?’ Jehu did not tell the people that the king’s sons had been slain
by his command, but spake as if this had been done without his interfering by a
higher decree, that he might thereby justify his conspiracy in the eyes of the
people, and make them believe what he says still further in v. 10: ‘See then
that of the word of the Lord nothing falls to the ground (i. e., remains
unfulfilled) which Jehovah has spoken concerning the house of Ahab; and Jehovah
has done what He spake through His servant Elijah.’”
[= Pada waktu kepala-kepala itu dibawa, Yehu menyuruh untuk menumpuk dalam dua
tumpukan di depan pintu gerbang kota, dan berbicara pada keesokan paginya kepada
orang-orang yang berkumpul di depannya: ‘Kamu benar. Lihatlah, aku telah
berkomplot menentang tuanku, dan telah membunuhnya, tetapi siapa yang membunuh
semua orang ini?’. Yehu tidak menceritakan kepada orang-orang itu bahwa
anak-anak sang raja telah dibunuh oleh perintahnya, tetapi berbicara seakan-akan
ini telah terjadi tanpa campur tangannya oleh suatu ketetapan yang lebih tinggi,
supaya dengan itu ia bisa membenarkan komplotannya di depan mata dari
orang-orang itu, dan membuat mereka percaya apa yang ia katakan lebih jauh lagi
dalam ay 10: ‘Maka lihatlah bahwa dari firman Tuhan tidak ada yang jatuh ke
tanah (yaitu tidak digenapi) yang telah diucapkan oleh Yehovah mengenai keluarga
Ahab; dan Yehovah telah melakukan apa yang Ia katakan melalui hambaNya Elia’].
Ay 11: “Lalu Yehu
membunuh semua orang yang masih tinggal dari keluarga Ahab yang di Yizreel, juga
semua orang besarnya, orang-orang kepercayaannya dan imam-imamnya; tidak ada
padanya seorangpun yang ditinggalkan Yehu hidup”.
a)
Orang-orang yang tadinya mentaati perintah Yehu dengan membunuh anak-anak Ahab,
juga dibunuh.
Adam Clarke:
“So it appears that the great men who
had so obsequiously taken off the heads of Ahab’s seventy sons, fell also a
sacrifice to the ambition of this incomparably bad man”
(= Jadi kelihatannya orang-orang besar yang telah dengan demikian tunduk
mengambil kepala dari 70 anak-anak Ahab, juga jatuh sebagai korban dari ambisi
dari orang yang tidak ada bandingannya jahatnya ini).
b)
‘dan imam-imamnya’.
Ini agak aneh, karena cerita pembunuhan terhadap imam-imam
diceritakan dalam ay 19-25. Mungkin yang di sini adalah ringkasan dari
cerita dalam ay 19-25.
Pulpit Commentary: “Perhaps the same person
are intended as in ver. 19, the present notice of their death being a mere
summary, and the narrative of ver. 19-25 a full statement of the
circumstances” (= Mungkin yang
dimaksudkan adalah orang-orang yang sama dengan yang ada dalam ay 19,
pemberitahuan yang di sini tentang kematian mereka hanya merupakan ringkasan,
dan cerita dalam ay 19-25 merupakan pernyataan lengkap dari peristiwa itu) - hal 209.
2)
Pembunuhan sanak saudara Ahazia.
Ay 12-14: “(12) Kemudian
bangkitlah Yehu pergi ke Samaria. Di jalan dekat Bet-Eked, perkampungan para
gembala, (13) bertemulah ia dengan sanak saudara Ahazia, raja Yehuda, lalu ia
bertanya: ‘Siapakah kamu ini?’ Jawab mereka: ‘Kami adalah sanak saudara
Ahazia dan kami datang untuk memberi salam kepada anak-anak raja dan anak-anak
ibu suri.’ (14) Berkatalah Yehu: ‘Tangkaplah mereka hidup-hidup!’ Lalu
ditangkaplah mereka hidup-hidup dan disembelih dekat perigi Bet-Eked, empat
puluh dua orang, dan tidak ada seorangpun ditinggalkannya hidup dari pada
mereka”.
a)
Ay 13: ‘sanak saudara Ahazia’.
KJV: ‘the brethren of Ahaziah’ (= saudara-saudara
Ahazia).
Barnes mengatakan bahwa ini bukan betul-betul saudara-saudara
Ahazia, karena mereka sudah dibunuh oleh orang-orang Arab sebelum Ahazia naik
takhta.
2Taw 22:1 - “Lalu
penduduk Yerusalem mengangkat Ahazia, anaknya yang bungsu, menjadi raja
menggantikan dia, karena semua anaknya yang lebih tua umurnya telah dibunuh oleh
gerombolan yang datang ke tempat perkemahan bersama-sama orang-orang Arab.
Dengan demikian Ahazia, anak Yoram raja Yehuda, menjadi raja”.
Jadi mereka ini adalah keponakan-keponakan Ahazia, anak-anak dari
saudara Ahazia. Pulpit Commentary (hal 210) mempunyai pandangan yang sama.
Bdk. 2Taw 22:8 - “Sementara
Yehu melakukan penghukuman atas keluarga Ahab, ia menjumpai pembesar-pembesar
Yehuda dan anak-anak saudara-saudara Ahazia, yang melayani Ahazia. Juga
mereka dibunuhnya”.
b)
Bahayanya berteman / bersekutu dengan orang-orang jahat.
Pulpit Commentary: “Jehu’s vengeance on
Ahab’s house was searching and complete. He had already slain at Jezreel not
only Ahab’s kinsfolk, but his great men and his priests - all who in any way
showed favour or encouragement to Ahab. In the same spirit he now puts to death
these brethren of Ahaziah because of their relationship and sympathy with
Ahab’s house. ... the house of Ahab was notorious for its wickedness. It had
been singled out for the terrible retribution of God. To keep up friendship with
men and women so wicked was to become a partaker of their crimes. The old Latin
proverb was Noscitur a sociis - ‘A man is known by the company he keeps.’ If
we would avoid the fate of the wicked, let us avoid their fellowship”
(= Pembalasan Yehu terhadap keluarga Ahab adalah cermat dan lengkap / sempurna.
Ia telah membunuh di Yizreel bukan hanya keluarga Ahab, tetapi juga orang-orang
besarnya dan imam-imamnya - semua orang yang dengan cara tertentu menunjukkan
kebaikan atau dukungan kepada Ahab. Dalam roh / semangat yang sama ia sekarang
membunuh saudara-saudara dari Ahazia karena hubungan mereka dan simpati mereka
dengan keluarga Ahab. ... keluarga Ahab terkenal untuk kejahatannya. Itu telah
dikhususkan untuk pembalasan yang hebat dari Allah. Memelihara persahabatan
dengan orang-orang yang begitu jahat berarti ikut ambil bagian dalam kejahatan
mereka. Pepatah Latin kuno adalah Noscitur a sociis - ‘Seseorang dikenal dari
teman-temannya’. Jika kita ingin menghindari nasib dari orang jahat, hendaklah
kita menghindari persekutuan mereka)
- hal 219.
Amsal 4:14-15 - “Janganlah
menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat. Jauhilah
jalan itu, janganlah melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalanlah
terus”.
Maz 1:1 - “Berbahagialah
orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di
jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh”.
2Yoh 10-11 - “(10)
Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu
menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. (11) Sebab
barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang
jahat”.
Pulpit Commentary: “A further act in the
tragedy of the destruction of Ahab’s house took place at a certain
shearing-house on the road to Samaria. Thither forty-two brethren (kinsmen) of
Ahaziah had come down on their way to pay a pleasure visit to their relations,
the princes at the capital. ... It was, however, to prove a costly visit to
them. ... In pursuit of their pleasures, how many, like Ahaziah’s brethren,
have found themselves overtaken by death! The way of pleasure is, for many, the
way of death - the way to the pit of destruction”
[= Tindakan lebih lanjut dalam tragedi dari penghancuran dari keluarga Ahab
terjadi pada rumah pengguntingan tertentu di jalan ke Samaria. Ke sanalah 42
saudara-saudara (sanak keluarga) dari Ahazia datang dalam perjalanan mereka
untuk melakukan perkunjungan yang menyenangkan kepada famili mereka,
pangeran-pangeran di ibu kota. ... Tetapi hal itu terbukti sebagai suatu
perkunjungan yang mahal bagi mereka. ... Dalam mengejar kesenangan mereka,
betapa banyak, seperti saudara-saudara Ahazia, telah menemukan diri mereka
sendiri disusul oleh kematian! Jalan kesenangan, bagi banyak orang, adalah jalan
kematian - jalan kepada lubang kehancuran]
- hal 223.
3) Pembunuhan keluarga Ahab di Samaria.
a)
Sebelum melakukan ini Yehu bertemu dengan Yonadab bin Rekhab.
Ay 15-16: “(15) Setelah
pergi dari sana, bertemulah ia dengan Yonadab bin Rekhab yang datang menyongsong
dia. Ia memberi salam kepadanya serta berkata: ‘Apakah hatimu jujur kepadaku
seperti hatiku terhadap engkau?’ Jawab Yonadab: ‘Ya!’ ‘Jika ya, berilah
tanganmu!’ Maka diberinyalah tangannya, lalu Yehu mengajak dia naik ke
sampingnya ke dalam kereta. (16) Berkatalah Yehu: ‘Marilah bersama-sama aku,
supaya engkau melihat bagaimana giatku untuk TUHAN.’ Demikianlah Yehu membawa
dia dalam keretanya”.
1. Siapa orang ini?
Yer 35:6-10 - “(6)
Tetapi mereka menjawab: ‘Kami tidak minum anggur, sebab Yonadab bin Rekhab,
bapa leluhur kami, telah memberi perintah kepada kami, katanya: Janganlah kamu
atau anak-anakmupun minum anggur sampai selama-lamanya; (7) janganlah kamu
mendirikan rumah, janganlah kamu menabur benih; janganlah kamu membuat atau
mempunyai kebun anggur, melainkan haruslah kamu diam di kemah-kemah selama
hidupmu, supaya lama kamu hidup di tanah, di mana kamu tinggal sebagai orang
asing! (8) Kami mentaati suara Yonadab bin Rekhab, bapa leluhur kami dalam
segala apa yang diperintahkannya kepada kami, agar kami tidak minum anggur
selama hidup kami, yakni kami sendiri, isteri kami, anak-anak lelaki dan
anak-anak perempuan kami; (9) agar kami tidak mendirikan rumah-rumah untuk kami
diami, tidak mempunyai kebun anggur atau ladang serta benih, (10) melainkan kami
diam di kemah-kemah dan taat melakukan tepat seperti yang diperintahkan kepada
kami oleh Yonadab, bapa leluhur kami”. Kalau mau lebih mendetail, baca terus sampai Yer 35:19.
Pulpit Commentary: “the great Kenite chief,
Jehonadab, the founder of the remarkable tribe and sect of the Rechabites ...
His tribe, the Kenites, was probably of Arab origin, and certainly of Arab
habits. It attached itself to the Israelites during their wanderings in the
Sinaitic desert, and was given a settlement in ‘the wilderness of Judah,’ on
the conquest of Palestine (Judg. 1:16). Jehonadab seems to have been of an
ascetic turn, and to have laid down for his tribe a rule of life stricter and
more severe than any known previously” [=
Kepala yang agung dari suku Keni, Yonadab, pendiri dari suku dan sekte Rekhab
yang luar biasa ... Sukunya, Keni, mungkin mempunyai asal usul Arab, dan pasti
mempunyai kebiasaan-kebiasaan Arab. Mereka menggabungkan diri dengan bangsa
Israel selama pengembaraan mereka di gurun Sinai, dan diberikan perkampungan di
‘padang gurun Yudea’ pada penaklukan Palestina (Hak 1:16). Yonadab
kelihatannya mempunyai kecenderungan menjadi seorang pertapa, dan telah
memberikan untuk sukunya suatu peraturan kehidupan yang lebih ketat dan lebih
keras dari pada yang pernah dikenal sebelumnya]
- hal 210.
Hakim 1:16 - “Keturunan Hobab,
ipar Musa, orang Keni itu, maju bersama-sama dengan bani Yehuda dari kota
pohon korma ke padang gurun Yehuda di Tanah Negeb dekat Arad; lalu mereka
menetap di antara penduduk di sana”.
Hakim 4:11 - “Adapun Heber, orang
Keni itu, telah memisahkan diri dari suku Keni, dari anak-anak Hobab
ipar Musa, dan telah berpindah-pindah memasang kemahnya sampai ke pohon
tarbantin di Zaanaim yang dekat Kedesh”.
Bil 10:29-32 - “(29)
Lalu berkatalah Musa kepada Hobab anak Rehuel orang Midian, mertua Musa:
‘Kami berangkat ke tempat yang dimaksud TUHAN ketika Ia berfirman: Aku akan
memberikannya kepadamu. Sebab itu ikutlah bersama-sama dengan kami, maka kami
akan berbuat baik kepadamu, sebab TUHAN telah menjanjikan yang baik tentang
Israel.’ (30) Tetapi jawabnya kepada Musa: ‘Aku tidak ikut, melainkan aku
hendak pergi ke negeriku dan kepada sanak saudaraku.’ (31) Kata Musa:
‘Janganlah kiranya tinggalkan kami, sebab engkaulah yang tahu, bagaimana kami
berkemah di padang gurun, maka engkau dapat menjadi penunjuk jalan bagi kami.
(32) Jika engkau ikut bersama-sama dengan kami, maka kebaikan yang akan
dilakukan TUHAN kepada kami akan kami lakukan juga kepadamu.’”.
1Sam 15:6 - “Berkatalah Saul
kepada orang Keni: ‘Berangkatlah, menjauhlah, pergilah dari
tengah-tengah orang Amalek, supaya jangan kulenyapkan kamu bersama-sama dengan
mereka. Bukankah kamu telah menunjukkan persahabatanmu kepada semua orang
Israel, ketika mereka pergi dari Mesir?’ Sesudah itu menjauhlah orang Keni
dari tengah-tengah orang Amalek”.
2.
Ay 16: “Berkatalah Yehu: ‘Marilah
bersama-sama aku, supaya engkau melihat bagaimana giatku untuk TUHAN.’
Demikianlah Yehu membawa dia dalam keretanya”.
a.
Kalau Yehu memang rohani, mengapa ia mengajak Yonadab ini untuk naik keretanya,
dan bukannya mencari Elisa untuk mengajaknya naik keretanya?
b.
Kata ‘giat’
diterjemahkan ‘zeal’ (= semangat) oleh KJV/RSV/NIV/NASB.
Pulpit Commentary: “Zeal itself is a grand
thing. It is men of zeal who have revolutionized the world. Moses was a man of
zeal. So was Elijah. So was Daniel. So was St. Paul. So was Martin Luther. So
was John Knox. All these men were mocked at as fools and fanatics and
enthusiasts in their time. But every one of those man has left his mark for good
upon the history of the world. ... If there is any one who should show
enthusiasm, it is the Christian. ... Zeal! surely the Christian ought to
overflow with zeal. Zeal! when he thinks of his Saviour and his cross. Zeal!
when he thinks of heaven with all its glory awaits him. Zeal! when he thinks of
the welcome from the King. Zeal! when he thinks how short his time is here.
Zeal! when he thinks of the perishing and needy all around him. Yes; it is well
to have within your heart the glow and fire of Christian zeal”
(= Semangat itu sendiri merupakan sesuatu yang agung. Adalah orang-orang yang
bersemangat yang merevolusi dunia. Musa adalah orang yang bersemangat. Demikian
juga dengan Elia. Demikian juga dengan Daniel. Demikian juga dengan Paulus.
Demikian juga dengan Martin Luther. Demikian juga dengan John Knox. Semua
orang-orang ini diejek sebagai orang-orang tolol dan fanatik dan bersemangat
pada jaman mereka. Tetapi setiap orang ini telah meninggalkan bekas / tandanya
untuk selama-lamanya pada sejarah dunia. ... Jika ada seseorang yang harus
menunjukkan semangat, itu adalah orang kristen. ... Semangat! pasti orang
kristen seharusnya berlimpah dengan semangat. Semangat! pada waktu ia berpikir
tentang Juruselamatnya dan salibNya. Semangat! pada waktu ia berpikir tentang
surga dengan semua kemuliaan yang menantinya. Semangat! pada waktu ia berpikir
tentang sambutan dari sang Raja. Semangat! pada waktu ia berpikir betapa
singkatnya waktu di sini. Semangat! pada waktu ia berpikir tentang orang-orang
yang binasa dan membutuhkan di sekitarnya. Ya; adalah baik untuk mempunyai dalam
hatimu cahaya dan api dari semangat Kristen)
- hal 220.
Kol 3:23 - “Apapun juga yang
kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan
untuk manusia”.
Kebalikannya adalah seperti dalam ayat-ayat di bawah ini:
Wah 3:15-16 - “Aku tahu
segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika
engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin
atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulutKu”.
Wah 2:4 - “Namun
demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang
semula”.
Mat 11:16-17 - “(16)
Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang
duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: (17) Kami meniup seruling
bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu
tidak berkabung”.
Anak-anak kelompok kedua ini selalu memberikan response negatif
terhadap usul apapun dari anak-anak kelompok pertama.
c.
Dari ay 16 ini terlihat bahwa ada kesombongan dalam diri Yehu tentang
semangatnya.
Pulpit Commentary: “The man who thus
parades his good deeds is lacking in one of the first element of true goodness
and usefulness, and that is humility” (=
Orang yang memamerkan tindakan-tindakan baiknya kekurangan salah satu elemen
pertama dari kebaikan dan kebergunaan yang benar, dan itu adalah
kerendahan-hati) - hal
220.
Adam Clarke:
“O thou ostentatious and murderous
hypocrite! Thou have zeal for Yahweh and his pure religion! Witness thy calves
at Dan and Bethel, and the general profligacy of thy conduct. He who can call
another to witness his zeal for religion, or his works of charity, has as much
of both as serves his own turn” (= O
engkau orang munafik yang suka pamer dan berjiwa pembunuh! Engkau mempunyai
semangat untuk Yahweh dan agamaNya yang murni. Saksikanlah lembu-lembumu di Dan
dan Betel, dan kejahatan umum dari tingkah lakumu. Ia yang bisa memanggil orang
lain untuk menyaksikan semangatnya untuk agama, atau pekerjaan kasihnya,
mempunyai banyak dari keduanya untuk melayani dirinya sendiri).
b)
Yehu membunuh keluarga Ahab di Samaria.
Ay 17: “Setelah Yehu
sampai di Samaria, maka ia membunuh semua orang yang masih tinggal dari keluarga
Ahab di Samaria; ia memunahkannya, sesuai dengan firman yang diucapkan TUHAN
kepada Elia”.
Bagaimana seorang pertapa bisa tahan melihat semua pembantaian itu?
Jangan terlalu heran, karena Elia yang juga adalah orang saleh, ternyata bisa
menyembelih 450 nabi-nabi Baal.
Bdk. Maz 58:11 - “Orang
benar itu akan bersukacita, sebab ia memandang pembalasan, ia akan membasuh
kakinya dalam darah orang fasik”.
c)
Yehu membunuh semua pengikut Baal dengan tipu daya.
Ay 18-25: “(18) Kemudian
Yehu mengumpulkan seluruh rakyat, lalu berkata kepada mereka: ‘Adapun Ahab
masih kurang beribadah kepada Baal, tetapi Yehu mau lebih hebat beribadah
kepadanya. (19) Oleh sebab itu, panggillah menghadap aku semua nabi Baal, semua
orang yang beribadah kepadanya dan semua imamnya, seorangpun tidak boleh tidak
hadir, sebab aku hendak mempersembahkan korban yang besar kepada Baal. Setiap
orang yang tidak hadir tidak akan tinggal hidup.’ Tetapi perbuatan ini adalah
akal Yehu supaya ia membinasakan orang-orang yang beribadah kepada Baal. (20)
Selanjutnya Yehu berkata: ‘Tentukanlah hari raya perkumpulan kudus bagi
Baal!’ Lalu mereka memaklumkannya. (21) Yehu mengirim orang ke seluruh Israel,
maka datanglah seluruh orang yang beribadah kepada Baal, tidak seorangpun yang
ketinggalan. Lalu masuklah semuanya ke dalam rumah Baal, sehingga rumah itu
penuh sesak dari ujung ke ujung. (22) Kemudian berkatalah Yehu kepada orang yang
mengepalai gudang pakaian: ‘Keluarkanlah pakaian untuk setiap orang yang
beribadah kepada Baal!’ Maka dikeluarkannyalah pakaian bagi mereka. (23)
Sesudah itu masuklah Yehu dan Yonadab bin Rekhab ke dalam rumah Baal, lalu
berkatalah ia kepada orang-orang penyembah Baal di situ: ‘Periksalah dan
lihatlah, supaya jangan ada di antara kamu di sini seorangpun dari hamba-hamba
TUHAN, melainkan hanya orang-orang yang beribadah kepada Baal.’ (24) Lalu
masuklah mereka untuk mempersembahkan korban sembelihan dan korban bakaran.
Adapun Yehu telah menempatkan delapan puluh orang di luar dan telah berkata:
‘Siapa yang membiarkan lolos seorangpun dari orang-orang yang kuserahkan ke
dalam tanganmu, nyawanyalah ganti nyawa orang itu.’ (25) Setelah Yehu selesai
mempersembahkan korban bakaran, berkatalah ia kepada bentara-bentara dan kepada
perwira-perwira: ‘Masuklah, bunuhlah mereka, seorangpun tidak boleh lolos!’
Maka dibunuhlah mereka dengan mata pedang, lalu mayatnya dibuang; kemudian
masuklah bentara-bentara dan perwira-perwira itu ke gedung rumah Baal”.
Pulpit Commentary mengutip kata-kata Matthew Henry sebagai berikut:
“God’s
service requires not man’s lie” (=
Pelayanan Allah tidak membutuhkan dusta manusia)
- hal 221.
Matthew Henry:
“The truth of God needs not any man’s
lie” (= Kebenaran Allah tidak membutuhkan
dusta dari manusia manapun juga).
Robert L. Dabney: “... God, and not
the hearer, is the true object on whom any duty of veracity terminates. God
always has the right to expect truth from me, however unworthy the person to
whom I speak” (= ... Allah, dan bukan
pendengarnya, merupakan obyek / tujuan yang benar terhadap siapa kewajiban
kejujuran ditujukan. Allah selalu mempunyai hak untuk mengharapkan kebenaran
dari aku, tidak peduli betapa tidak berharganya orang kepada siapa aku
berbicara) - ‘Lectures
in Systematic Theology’, hal 425.
Pulpit Commentary: “It is impossible to
condone this flagrant hypocrisy, which even went the length of offering up a
sacrifice to the false god. ... We must not do evil, even that good may come”
[= Adalah mustahil untuk memaafkan / mengampuni kemunafikan yang menyolok ini,
yang bahkan berjalan begitu jauh sampai mempersembahkan suatu korban kepada dewa
palsu (ay 24-25).
... Kita tidak boleh melakukan kejahatan, bahkan dengan tujuan supaya kebaikan
datang] - hal 225.
Yang dilakukan Yehu sangat kontras dengan yang dilakukan Elia, yang
mendemonstrasikan kehebatan YAHWEH dan ketidak-mampuan Baal, dan setelah itu
membunuh semua nabi-nabi Baal.
Pulpit Commentary: “‘Subtilty’ was
characteristic of Jehu, who always preferred to gain his ends by cunning rather
than in a straightforward way. Idolaters were by the Law liable to death, and
Jehu would have had a perfect right to crush the Baal-worship throughout the
land, by sending his emissaries everywhere, with orders to slay all whom they
found engaged in it. But to draw some thousand of his subjects by false
pretences into a trap, and then to kill them in it for doing what he himself
invited them to do, was an act that was wholly unjustifiable, and that savoured,
not of the wisdom which is from above, but of that bastard wisdom which is
‘earthly, sensual, devilish’ (Jas. 3:15)”
[= ‘Kelicikan’ merupakan ciri dari Yehu, yang selalu memilih untuk
mendapatkan tujuannya dengan kelicikan dari pada dengan cara yang lurus.
Penyembah-penyembah berhala dapat dikenakan hukuman mati oleh hukum Taurat, dan
Yehu mempunyai hak yang sempurna untuk menghancurkan penyembahan Baal di seluruh
negeri, dengan mengirimkan utusan-utusannya ke mana-mana, dengan perintah untuk
membunuh semua yang mereka temukan terlibat di dalamnya. Tetapi menarik beberapa
ribu dari warganya dengan kepura-puraan yang palsu ke dalam suatu jebakan, dan
lalu membunuh mereka di dalamnya karena melakukan apa yang ia sendiri undang /
ajak mereka untuk lakukan, merupakan suatu tindakan yang sepenuhnya tidak bisa
dibenarkan, dan itu berbau, bukan hikmat yang dari atas, tetapi hikmat bastard /
campuran yang ‘bersifat duniawi, daging, dan setan’ (Yak 3:15)]
- hal 211-212.
Sama seperti waktu di Indonesia ada ‘Petrus’ (= penembak
misterius); orang kristen seharusnya tidak boleh menyetujui hal ini.
Dari ay 23 terlihat bahwa Yonadab mengikuti Yehu masuk ke kuil
Baal tersebut. Ini cara Yehu untuk menunjukkan bagaimana semangatnya untuk
YAHWEH (bdk. ay 16), padahal apa yang ia lakukan adalah sesuatu yang
jelas-jelas bertentangan dengan Firman Tuhan. ‘Semangat’
tidak berarti ‘melakukan sesuatu
bertentangan dengan Firman Tuhan’.
Karena itu Amsal 19:2 - “Tanpa
pengetahuan kerajinanpun [NIV: ‘zeal’
(= semangat)] tidak baik; orang yang
tergesa-gesa akan salah langkah”.
d)
Yehu tidak mau keliru bunuh orang.
Ay 23: “Sesudah itu
masuklah Yehu dan Yonadab bin Rekhab ke dalam rumah Baal, lalu berkatalah ia
kepada orang-orang penyembah Baal di situ: ‘Periksalah dan lihatlah, supaya
jangan ada di antara kamu di sini seorangpun dari hamba-hamba TUHAN, melainkan
hanya orang-orang yang beribadah kepada Baal.’”.
Kata-kata Yehu dalam ay 23b ini bertujuan supaya jangan ada
hamba-hamba TUHAN / pengikut YAHWEH yang ikut terbunuh.
Pulpit Commentary: “Jehu’s real object
was undoubtedly to save the lives of any ‘servants of Jehovah’ who might
incautiously have mixed themselves up with the Baal-worshippers, out of
curiosity, or to have their share in the general holiday. That he should have
thought such a thing possible or even probable indicates the general laxity of
the time, and the want of any sharp line of demarcation between the adherents of
the two religions” (= Tidak diragukan
lagi bahwa tujuan Yehu sebenarnya adalah menyelamatkan nyawa dari
‘pelayan-pelayan Yehovah’ yang bisa secara tidak hati-hati telah
mencampurkan diri mereka dengan penyembah-penyembah Baal, karena rasa ingin
tahu, atau untuk ikut ambil bagian dalam hari raya umum mereka. Bahwa ia bisa
berpikir bahwa hal seperti itu bisa atau bahkan mungkin terjadi, menunjukkan
kelalaian yang umum pada jaman itu, dan tidak adanya suatu garis yang tajam yang
menjadi pemisah antara pengikut-pengikut dari kedua agama) - hal 212.
4) Yehu menghancurkan kuil Baal dengan patung-patung
dan tugu-tugunya.
Ay 26-27: “(26) Mereka
mengeluarkan tiang berhala rumah Baal itu, lalu dibakar. (27) Mereka merobohkan
tugu berhala Baal itu, merobohkan juga rumah Baal, dan membuatnya menjadi
jamban; begitulah sampai hari ini”.
1)
Dalam persoalan tindakan membunuh seluruh keluarga Ahab, apakah Yehu benar?
Pertanyaan ini bisa dijawab dengan: ya dan tidak.
a)
Tentang persoalan membunuh begitu banyak orang, itu bisa dibenarkan, karena hal
itu diperintahkan oleh Tuhan (Catatan: perintah seperti itu tidak mungkin
ada lagi pada jaman sekarang). Jadi pada saat itu Yehu berfungsi untuk menjadi
algojo Tuhan. Karena itu tindakan Yehu ini mendapat pujian dari Tuhan.
Ay 30: “Berfirmanlah
TUHAN kepada Yehu: ‘Oleh karena engkau telah berbuat baik dengan melakukan apa
yang benar di mataKu, dan telah berbuat kepada keluarga Ahab tepat seperti yang
dikehendaki hatiKu, maka anak-anakmu akan duduk di atas takhta Israel sampai
keturunan yang keempat.’”.
Bahkan seandainya Yehu tidak mau membunuh, ia jelas salah.
Bdk. Yer 48:10 - “Terkutuklah
orang yang melaksanakan pekerjaan TUHAN dengan lalai, dan terkutuklah orang yang
menghambat pedangNya dari penumpahan darah!”.
Ayat ini salah terjemahan karena kata ‘Nya’
seharusnya tidak dimulai dengan huruf besar, karena kata ini tidak menunjuk
kepada Allah.
b)
Tetapi tindakan Yehu juga bisa disalahkan dalam hal:
1. Penggunaan tipu muslihat / dusta yang telah dibahas
di atas.
2.
Motivasinya. Karena itu muncul ayat lain yang seolah-olah bertentangan dengan ay
30 tadi, yaitu Hos 1:4 - “Kemudian
berfirmanlah TUHAN kepada Hosea: ‘Berilah nama Yizreel kepada anak itu, sebab
sedikit waktu lagi maka Aku akan menghukum keluarga Yehu karena hutang darah
Yizreel dan Aku akan mengakhiri pemerintahan kaum Israel”.
Pulpit Commentary: “These acts of his are
praised; but nothing is said of his motives in doing them. They were probably to
a great extent selfish” (=
Tindakan-tindakan ini dipuji; tetapi tidak ada apapun yang dikatakan tentang
motivasinya dalam melakukan hal-hal itu. Mungkin sekali hal itu dilakukan sampai
tingkat tertentu dengan keegoisan) - hal 214.
Barnes mengatakan bahwa mungkin sekali Yehu mempunyai motivasi yang
salah, dimana ia melakukan semua pembunuhan itu demi dirinya sendiri, bukan demi
Tuhan ataupun untuk menggenapi nubuat Elia. Karena itu hal ini dianggap dosa
oleh Tuhan.
Pulpit Commentary: “‘How could Jehu’s
shedding this blood, at God’s command and in fulfilment of his will, be a
sin?’ And it is rightly answered, ‘Because, if we do what is the will of God
for any end of our own, for anything except God, we do in fact our own will, not
God’s. It was not lawful for Jehu to depose and slay the king his master,
except at the express command of God, who, as the supreme King, sets up and puts
down earthly rulers as he wills. For any other end, and done otherwise that at
God’s express command, such an act is sin. ... Jehu, by cleaving, against the
will of God, to Jeroboam’s sin (ch. 10:29,31), which served his own political
ends, showed that, in the slaughter of his master, he acted, not as he
pretended, out of zeal for the will of God (ch. 10:16), but served his own will
and his own ambition only. By his disobedience to the one command of God, he
showed that he would have equally disobeyed the other, had it been contrary to
his own will or interest. ... And so the blood which was shed according to the
righteous judgment of God, became sin to him that shed it in order to fulfil,
not the will of God, but his own” [=
‘Bagaimana bisa pencurahan darah yang dilakukan Yehu atas perintah Allah dan
dalam penggenapan tentang kehendakNya, bisa merupakan suatu dosa?’ Dan itu
dengan benar dijawab: ‘Karena jika kita melakukan kehendak Allah untuk tujuan
kita sendiri, untuk apapun kecuali Allah, kita dalam faktanya melakukan kehendak
kita sendiri, bukan kehendak Allah. Tidak sah bagi Yehu untuk menurunkan dan
membunuh sang raja, tuannya, kecuali karena perintah yang jelas dari Allah, yang
sebagai Raja tertinggi, menegakkan dan menurunkan penguasa-penguasa duniawi
sesuai kehendakNya. Untuk tujuan yang lain, dan dilakukan selain karena perintah
yang jelas dari Allah, itu merupakan tindakan yang berdosa. ... Yehu, dengan
berpegang, bertentangan dengan kehendak Allah, kepada dosa Yerobeam (pasal
10:29,31), yang berguna untuk tujuan politiknya sendiri, menunjukkan bahwa,
dalam pembunuhan tuannya, ia bertindak, bukan sebagaimana ia berpura-pura,
karena semangat untuk kehendak Allah (ay 16), tetapi melayani kehendaknya
sendiri dan ambisinya sendiri saja. Oleh ketidak-taatan kepada perintah Allah,
ia menunjukkan bahwa ia akan secara sama tidak mentaati perintah yang lain,
seandainya perintah itu bertentangan dengan kehendaknya atau kepentingannya
sendiri. ... Dan demikianlah darah yang dicurahkan sesuai dengan penghakiman
yang benar dari Allah, menjadi dosa bagi dia yang mencurahkannya untuk
menggenapi, bukan kehendak Allah, tetapi kehendaknya sendiri]
- hal 189.
Penerapan:
Karena itu hati-hati dalam melakukan ketaatan apapun. Pikirkan
benar atau tidaknya motivasi / tujuan saudara.
Pulpit Commentary: “Jehu had shed much
blood. Guilt could not be imputed to him in this, so far as he was acting under
an express Divine command. He ‘delivered his soul’ (Ezek. 33:9), however,
only if this Divine command furnished the actual motive of his conduct. If the
Divine mandate but covered designs of selfish ambition, the stain of blood came
back on him. Hence the different judgment passed on these deeds in Hos. 1:4,
‘I will avenge the blood of Jezreel upon the house of Jehu.’ In 2Kings
Jehu’s act are regarded on their outward side, while in Hosea they are
considered on their inner and spiritual side. His real character was made
apparent by his subsequent deeds. He obeyed God only so far as he could at the
same time serve himself. He would willingly have shed the same amount of blood
to secure the throne for himself, had there been no Divine command at all”
[= Yehu telah mencurahkan banyak darah. Ia tidak bisa dianggap bersalah dalam
hal ini, sejauh ia bertindak di bawah perintah Ilahi yang jelas. Ia ‘telah
menyelamatkan nyawanya’ (Yeh 33:9), tetapi hanya jika perintah Ilahi ini
diperlengkapi dengan motivasi yang sebenarnya dari tindakannya. Jika mandat
Ilahi itu hanya merupakan penutup dari rencana-rencana dari ambisi yang egois,
maka noda dari darah kembali kepada dia. Karena itu penghakiman yang berbeda
diberikan pada tindakan-tindakan ini dalam Hos 1:4, ‘Aku akan menghukum
keluarga Yehu karena hutang darah Yizreel’. Dalam 2Raja tindakan Yehu
dipandang dari sisi luar / lahiriah, sementara dalam Hosea tindakan-tindakan itu
dipandang pada sisi dalam dan rohani. Karakternya yang sebenarnya menjadi
jelas oleh tindakan-tindakannya selanjutnya. Ia mentaati Allah hanya sejauh
kalau hal itu pada saat yang sama melayani dirinya sendiri. Ia akan dengan
sukarela mencurahkan jumlah darah yang sama untuk mengamankan takhta untuk
dirinya sendiri, seandainya di sana tidak ada perintah Ilahi sama sekali]
- hal 225.
Bdk. Yes 10:5-7 - “(5)
Celakalah Asyur, yang menjadi cambuk murkaKu dan yang menjadi tongkat amarahKu!
(6) Aku akan menyuruhnya terhadap bangsa yang murtad, dan Aku akan
memerintahkannya melawan umat sasaran murkaKu, untuk melakukan perampasan dan
penjarahan, dan untuk menginjak-injak mereka seperti lumpur di jalan. (7) Tetapi
dia sendiri tidak demikian maksudnya dan tidak demikian rancangan hatinya,
melainkan niat hatinya ialah hendak memunahkan dan hendak melenyapkan tidak
sedikit bangsa-bangsa”.
2) Yehu salah dalam membiarkan anak lembu emasnya
Yerobeam.
Kalau dalam pembunuhan terhadap keluarga Ahab, tindakan Yehu masih
mempunyai sisi benar, maka di sini, tindakannya sedikitpun tidak mempunyai
kebenaran apa-apa, tetapi sebaliknya salah secara mutlak.
Ay 29,31: “Hanya, Yehu
tidak menjauh dari dosa-dosa Yerobeam bin Nebat, yang mengakibatkan orang Israel
berdosa pula, yakni dosa penyembahan anak-anak lembu emas yang di Betel dan yang
di Dan. ... Tetapi Yehu tidak tetap hidup menurut hukum TUHAN, Allah
Israel, dengan segenap hatinya; ia tidak menjauh dari dosa-dosa Yerobeam yang
mengakibatkan orang Israel berdosa pula”.
Jadi, ini adalah reformasi yang tidak tuntas! Mari kita melihat apa
tujuan semula dari Yeroboam sehingga mendirikan anak-anak lambu emas di Betel
dan di Dan ini.
Bdk. 1Raja 12:26-30 - “(26)
Maka berkatalah Yerobeam dalam hatinya: ‘Kini mungkin kerajaan itu kembali
kepada keluarga Daud. (27) Jika bangsa itu pergi mempersembahkan korban
sembelihan di rumah TUHAN di Yerusalem, maka tentulah hati bangsa ini akan
berbalik kepada tuan mereka, yaitu Rehabeam, raja Yehuda, kemudian mereka akan
membunuh aku dan akan kembali kepada Rehabeam, raja Yehuda.’ (28) Sesudah
menimbang-nimbang, maka raja membuat dua anak lembu jantan dari emas dan ia
berkata kepada mereka: ‘Sudah cukup lamanya kamu pergi ke Yerusalem. Hai
Israel, lihatlah sekarang allah-allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari
tanah Mesir.’ (29) Lalu ia menaruh lembu yang satu di Betel dan yang lain
ditempatkannya di Dan. (30) Maka hal itu menyebabkan orang berdosa, sebab rakyat
pergi ke Betel menyembah patung yang satu dan ke Dan menyembah patung yang
lain”.
Pulpit Commentary: “The calf-worship was
thought to be essential to the maintenance of the divided kingdom. Abolish it,
and all Israel would ‘return to the house of David’ (1Kings 12:26-30). Jehu
was not prepared to risk this result. His ‘zeal for Jehovah’ did not reach
so far. Thus his ‘reformation of religion’ was but a half-reformation, a
partial turning to Jehovah, which brought no permanent blessing upon the
nation” [= Penyembahan lembu dianggap
sebagai sesuatu yang penting sekali untuk pemeliharaan kerajaan yang terpecah
itu. Hapuskanlah itu, dan semua Israel akan ‘kembali kepada keluarga Daud’
(1Raja 12:26-30). Yehu tidak siap untuk meresikokan akibat ini. ‘Semangatnya
untuk Yehovah’ tidak mencapai sejauh itu. Demikianlah ‘reformasi agama’nya
hanyalah setengah-reformasi, berbalik yang hanya sebagian kepada Yehovah, yang
tidak membawa berkat yang menetap kepada bangsa itu]
- hal 214.
Pulpit Commentary: “there was something
wanting in all Yehu’s zeal. He had not the love of God in his heart. He had
indeed obeyed God’s command and fulfilled his commission in one particular
direction, but the ruling motive in his actions would seem to have been personal
ambition. It was no hatred of idolatry as such that caused him to destroy the
worship of Baal. Perhaps it was because it was a foreign worship. It certainly
was not his zeal for the pure worship of God”
(= ada sesuatu yang kurang dalam semangat Yehu. Ia tidak mempunyai kasih
terhadap Allah dalam hatinya. Ia memang mentaati perintah Allah dan menggenapi
perintahNya dalam satu arah tertentu, tetapi motivasi yang menguasai
tindakan-tindakannya kelihatannya adalah ambisi pribadi. Bukan kebencian
terhadap penyembahan berhala yang menyebabkan ia menghancurkan penyembahan
terhadap Baal. Mungkin itu disebabkan karena hal itu adalah penyembahan yang
asing / dari luar negeri. Itu pasti bukanlah semangatnya untuk penyembahan yang
murni kepada Allah) - hal 221.
Banyak gereja-gereja Protestan anti Kharismatik, bukan karena yakin
akan kesalahannya, tetapi karena jemaatnya direbut. Terhadap golongan Liberal,
mereka tenang-tenang saja.
Banyak gereja minta saya membahas Saksi Yehuwa, tetapi lagi-lagi
mungkin hanya karena takut jemaatnya direbut, bukan karena benci kepada
kesesatan.
1)
Pahala untuk Yehu sudah diceritakan dalam ay 30, yaitu anak-anaknya akan duduk
sebagai raja sampai generasi keempat.
Empat generasi dari anak-anak Yehu adalah: Yoahas (10:35
13:1) - Yoas (13:9-10) - Yerobeam II (13:13 14:23) - Zakharia (14:29
15:8).
Ay 34-36: “(34)
Selebihnya dari riwayat Yehu dan segala yang dilakukannya dan segala
kepahlawanannya, bukankah semuanya itu tertulis dalam kitab sejarah raja-raja
Israel? (35) Kemudian Yehu mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek
moyangnya, dan ia dikuburkan di Samaria, maka Yoahas, anaknya, menjadi raja
menggantikan dia. (36) Adapun lamanya Yehu menjadi raja atas Israel di Samaria
adalah dua puluh delapan tahun”.
Mungkin lamanya ia memerintah (28 tahun) juga merupakan pahala
untuk ketaatan lahiriah yang ia lakukan dalam membasmi keluarga Ahab dan
penyembahan Baal.
Matthew Henry:
“God promised him a reward, that his
children of the fourth generation from him should sit upon the throne of Israel.
This was more than what took place in any of the dignities or royal families of
that kingdom; of the house of Ahab there were indeed four kings, Omri, Ahab,
Ahaziah, and Joram, but the last two were brothers, so that it reached but to
the third generation, and that whole family continued but about forty-five years
in all, whereas Jehu’s continued in four, besides himself, and in all about
120 years. Note, No services done for God shall go unrewarded”
(= Allah menjanjikan dia pahala, bahwa anak-anaknya dari generasi keempat dari
dia akan duduk pada takhta Israel. Ini lebih dari apa yang terjadi dalam
keluarga bangsawan atau raja dari kerajaan itu; dari keluarga Ahab memang ada 4
raja, Omri, Ahab, Ahazia, dan Yoram, tetapi dua yang terakhir adalah saudara,
sehingga itu hanya mencapai generasi ketiga, dan bahwa seluruh keluarga
berlangsung hanya sekitar 45 tahun, sementara keluarga Yehu berlanjut dalam
empat, selain dirinya sendiri, dan seluruhnya kira-kira 120 tahun.
Perhatikanlah, tidak ada pelayanan yang dilakukan untuk Allah yang akan berlalu
tanpa pahala).
2) Hukuman bagi Yehu.
Ay 32-33: “(32) Pada
zaman itu mulailah TUHAN menggunting daerah Israel, sebab Hazael mengalahkan
mereka di seluruh daerah Israel (33) di sebelah timur sungai Yordan dengan
merebut seluruh tanah Gilead, tanah orang Gad, orang Ruben dan orang Manasye,
mulai dari Aroer yang di tepi sungai Arnon, baik Gilead maupun Basan”.
Sekalipun ‘pengguntingan
daerah Israel’ dalam ay
32 itu tidak dikatakan secara explicit sebagai hukuman Tuhan atas dosa Yehu,
tetapi karena penceritaannya yang persis setelah dosa Yehu dalam ay 31,
maka secara implicit itu menunjukkan hal itu.
Pulpit Commentary: “Half-heartedness
punished by God as severely as actual apostasy from true religion. The temper of
the Laodiceans is no uncommon one. Men may even think that they have a ‘zeal
for the Lord’ (ver. 16), and yet show by their acts that it is a very
half-hearted zeal - a zeal that goes a certain length, and then stops suddenly.
... Consequently, punishment falls upon him”
[= Ke-setengah-hatian dihukum oleh Allah dengan sama beratnya seperti kemurtadan
yang sebenarnya dari agama yang benar. Watak dari jemaat Laodikia adalah sesuatu
yang umum. Orang-orang bahkan bisa berpikir bahwa mereka mempunyai ‘semangat
untuk Tuhan’ (ay 16), tetapi menunjukkan oleh tindakan-tindakan mereka bahwa
itu adalah suatu semangat yang sangat setengah hati - suatu semangat yang
berjalan sampai jarak tertentu, lalu mendadak berhenti. ... Sebagai akibatnya,
hukuman datang / jatuh kepadanya]
- hal 218.
Pada waktu kita
mentaati Tuhan, marilah kita memeriksa apakah tujuan dan motivasi kita benar
atau tidak, supaya jangan kita hanya mempunyai ketaatan lahiriah saja.
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : buas22@yahoo.com
e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali