Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Rabu, tanggal 18 Januari 2012, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

buas22@yahoo.com

 

Mazmur 2:1-12(2)

 

Maz 2:1-12 - “(1) Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? (2) Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapiNya: (3) ‘Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka dari pada kita!’ (4) Dia, yang bersemayam di sorga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka. (5) Maka berkatalah Ia kepada mereka dalam murkaNya dan mengejutkan mereka dalam kehangatan amarahNya: (6) ‘Akulah yang telah melantik rajaKu di Sion, gunungKu yang kudus!’ (7) Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: ‘AnakKu engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini. (8) Mintalah kepadaKu, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu. (9) Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi, memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk.’ (10) Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, hai para hakim dunia! (11) Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kakiNya dengan gemetar, (12) supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murkaNya menyala. Berbahagialah semua orang yang berlindung padaNya!”.

 

c)   “‘Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka dari pada kita!’” (ay 3).

Kata ‘mereka’ menunjuk kepada ‘TUHAN (YAHWEH) dan Yang diurapiNya’ (ay 2), dan kata ‘kita’ menunjuk kepada raja-raja dan para pembesar yang memusuhi Daud dan Tuhan.

 

Calvin: “‘Let us break, etc.’ This is a prosopopoeia, in which the prophet introduces his enemies as speaking; and he employs this figure the better to express their ungodly and traitorous design. Not that they openly avowed themselves rebels against God, (for they rather covered their rebellion under every possible pretext, and presumptuously boasted of having God on their side;) but since they were fully determined, by all means, fair or foul, to drive David from the throne, whatever they professed with the mouth, the whole of their consultation amounted to this, how they might overthrow the kingdom which God himself had set up [= ‘Marilah kita memutuskan, dst.’ Ini adalah suatu prosopopoeia, dalam mana sang nabi memperkenalkan musuh-musuhnya sebagai berbicara; dan ia menggunakan gambaran ini untuk menyatakan dengan lebih baik rancangan mereka yang jahat dan bersifat mengkhianat. Bukan bahwa mereka secara terbuka mengakui diri mereka sendiri memberontak menentang Allah, (karena sebaliknya mereka menutupi pemberontakan mereka di bawah setiap dalih / penyamaran / kepura-puraan yang memungkinkan, dan dengan lancang / sombong membanggakan diri bahwa mereka mempunyai Allah di pihak mereka); tetapi karena mereka berketetapan hati secara penuh, dengan segala cara, yang adil ataupun yang kotor / busuk / curang, untuk mendorong Daud dari takhta, apapun yang mereka akui dengan mulut, seluruh konsultasi / perundingan mereka menjadi sesuatu yang berarti ini, bagaimana mereka bisa menggulingkan kerajaan yang Allah sendiri telah dirikan].

Catatan: ‘prosopopoeia’ artinya ‘a figure in which an absent, dead, or imaginary person is represented as speaking’ (= suatu gambaran dalam mana seseorang yang tak hadir, mati, atau bersifat khayalan, digambarkan sebagai berbicara) - Webster’s New World Dictionary.

 

Adam Clarke: “‘Let us break their bands.’ These are the words of the confederate pagan powers; and here, as Dr. Horne well remarks, ‘we may see the ground of opposition; namely, the unwillingness of rebellious nature to submit to the obligations of divine laws, which cross the interests, and lay a restraint on the desires of men. Corrupt affections are the most inveterate enemies of Christ, and their language is, We will not have this man to reign over us. Doctrines would be readily believed if they involved in them no precepts; and the church may be tolerated in the world if she will only give up her discipline.’” (= ‘Marilah kita memutuskan / menghancurkan ikatan mereka’. Ini adalah kata-kata dari kuasa-kuasa kafir yang bersekutu; dan di sini, seperti dikatakan dengan baik oleh Dr. Horne, ‘kita bisa melihat dasar dari oposisi; yaitu, ketidak-mauan dari sifat memberontak untuk tunduk pada kewajiban-kewajiban dari hukum-hukum ilahi, yang merintangi kepentingan-kepentingan, dan meletakkan suatu pengekangan terhadap keinginan-keinginan manusia. Perasaan-perasaan yang jahat adalah musuh-musuh yang paling mendarah daging dari Kristus, dan bahasa / kata-kata mereka adalah, Kami tidak mau orang ini memerintah atas kami. Doktrin-doktrin / ajaran-ajaran akan dengan mudah / cepat dipercaya jika mereka tidak mencakup dalam diri mereka perintah-perintah / larangan-larangan; dan gereja bisa ditoleransi dalam dunia jika saja ia mau membuang disiplin’.).

 

Barnes’ Notes: The passage (Ps 2:1-3) proves: (1) that the government of Yahweh, the true God, and the Messiah or Christ, is the same; (2) that opposition to the Messiah, or to Christ, is in fact opposition to the purposes of the true God; (3) that it may be expected that men will oppose that government, and there will be agitation and commotion in endeavoring to throw it off. The passage, considered as referring to the Messiah, had an ample fulfillment (a) in the purposes of the high priests, of Herod, and of Pilate, to put him to death, and in the general rejection of him by his own countrymen; (b) in the general conduct of mankind - in their impatience of the restraints of the law of God, and especially of that law as promulgated by the Saviour, demanding submission and obedience to him; and (c) in the conduct of individual sinners - in the opposition of the human heart to the authority of the Lord Jesus. The passage before us is just as applicable to the world now as it was to the time when the Saviour personally appeared on the earth [= Text ini (Maz 2:1-3) membuktikan: (1) bahwa pemerintahan dari Yahweh, Allah yang benar, dan sang Mesias atau Kristus, adalah sama; (2) bahwa oposisi terhadap sang Mesias, atau terhadap Kristus, dalam faktanya adalah oposisi terhadap tujuan-tujuan / rencana-rencana dari Allah yang benar; (3) bahwa bisa diharapkan bahwa orang-orang akan menentang pemerintahan itu, dan di sana akan ada pergolakan dan keributan / huru hara dalam usaha untuk melepaskan diri dari pemerintahan itu. Text ini, dianggap sebagai menunjuk kepada sang Mesias, mempunyai suatu penggenapan yang cukup (a) dalam tujuan / rencana dari imam-imam besar, dari Herodes, dan dari Pilatus, untuk membunuhNya, dan dalam penolakan umum terhadapNya oleh orang-orang sebangsaNya; (b) dalam tingkah laku umum dari umat manusia - dalam ketidak-sabaran terhadap pengekangan-pengekangan dari hukum Allah, dan khususnya hukum yang diajarkan oleh Juruselamat itu, yang menuntut ketundukan dan ketaatan kepadaNya; dan (c) dalam tingkah laku dari orang-orang berdosa secara individu - dalam oposisi dari hati manusia kepada otoritas dari Tuhan Yesus. Text di depan kita sama bisa diterapkannya kepada dunia sekarang seperti pada jaman pada saat sang Juruselamat muncul di bumi].

 

Spurgeon: To a graceless neck the yoke of Christ is intolerable, but to the saved sinner it is easy and light. We may judge ourselves by this, do we love that yoke, or do we wish to cast it from us? (= Bagi suatu tengkuk tanpa kasih karunia, kuk Kristus adalah tak tertahankan, tetapi bagi orang berdosa yang sudah diselamatkan kuk itu enak dan ringan. Kita bisa menilai diri kita sendiri oleh ini, apakah kita mencintai kuk itu, atau kita ingin membuangnya dari diri kita?).

Bdk. Mat 11:28-30 - “(28) Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (29) Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. (30) Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKupun ringan.’”.

 

5)   Kata ‘sia-sia’ dalam ay 1 menunjukkan bahwa semua perlawanan mereka terhadap Allah / Kristus ini merupakan hal yang sia-sia.

 

Spurgeon: ‘A vain thing.’ A medal was struck by Diocletian, which still remains, bearing the inscription, ‘The name of Christians being extinguished.’ And in Spain, two monumental pillars were raised, on which were written: - 1. ‘Diocletian Jovian Maximian Herculeus Caesares Augusti, for having extended the Roman Empire in the east and the west, and for having extinguished the name of Christians, who brought the Republic to ruin.’ 2. ‘Diocletian Jovian Maximian Herculeus Caesares Augusti, for having adopted Galerius in the east, for having everywhere abolished the superstition of Christ, for having extended the worship of the gods.’ As a modern writer has elegantly observed: ‘We have here a monument raised by Paganism, over the grave of its vanquished foe. But in this ‘the people imagined a vain thing;’ so far from being deceased, Christianity was on the eve of its final and permanent triumph, ... Neither in Spain, nor elsewhere, can be pointed out the burial place of Christianity; it is not, for the living have no tomb.’ (= ‘Suatu hal yang sia-sia’. Sebuah medali dicetak oleh Diocletian, yang tetap masih ada, memuat kata-kata ‘Nama dari orang-orang Kristen sedang dipadamkan / dimatikan’. Dan di Spanyol, dua pilar peringatan dibangun, pada mana tertulis: - 1. ‘Diocletian Jovian Maximian Herculeus Caesares Augusti, untuk perluasan kekaisaran Romawi di Timur dan di Barat, dan untuk memadamkan nama orang-orang Kristen, yang telah membawa Republik pada kehancuran’. 2. ‘Diocletian Jovian Maximian Herculeus Caesares Augusti, untuk pengadopsian Galerius di Timur, dan untuk dimana-mana menghapuskan takhyul tentang Kristus, untuk perluasan penyembahan kepada dewa-dewa’. Seperti seorang penulis modern telah katakan secara sangat bagus: “Di sini kami mempunyai sebuah monumen yang dibangun oleh kekafiran, di atas kuburan dari musuhnya yang ditaklukkan. Tetapi dalam hal ini ‘orang-orang membayangkan / mengkhayalkan suatu hal yang sia-sia’; begitu jauh dari mati, kekristenan ada pada saat menjelang kemenangan akhir dan permanen, ... Tidak di Spanyol, atau di tempat lain manapun, bisa ditunjukkan tempat penguburan kekristenan; itu tidak ada, karena yang hidup tidak mempunyai kuburan”.).

 

Ini seperti yang terjadi baru-baru ini dimana ada beberapa orang pengikut Sai Baba pergi ke Kashmir, India, untuk membuktikan bahwa Yesus dikubur di sana, dan masih ada dalam kubur. Yang bangkit / hidup terus tidak mempunyai kuburan! Paling-paling yang ada ‘bekas’ kuburan, dan itupun pasti tidak di India!

 

Barnes’ Notes: The truths taught in this verse are: (1) that sinners are opposed - even so much as to produce violent agitation of mind, and a fixed and determined purpose - to the plans and decrees of God, especially with respect to the reign of the Messiah; and (2) that their plans to resist this will be vain and ineffectual; wisely as their schemes may seem to be laid, and determined as they themselves are in regard to their execution, yet they must find them vain. What is implied here of the particular plans against the Messiah, is true of all the purposes of sinners, when they array themselves against the government of God [= Kebenaran-kebenaran yang diajarkan dalam ayat ini adalah: (1) bahwa orang-orang berdosa bertentangan - bahkan begitu hebat sehingga menghasilkan kekacauan pikiran yang hebat, dan suatu tujuan / rencana yang pasti dan ditentukan - dengan rencana-rencana dan ketetapan-ketetapan Allah, khususnya berkenaan dengan pemerintahan dari Mesias; dan (2) bahwa rencana-rencana mereka untuk menentang kehendakNya ini akan sia-sia dan tidak efektif; sekalipun rencana-rencana kotor mereka kelihatannya dibuat dengan bijaksana, dan ditentukan seperti mereka sendiri berkenaan dengan pelaksanaannya, tetapi mereka akan mendapatinya sia-sia. Apa yang dinyatakan secara implicit di sini tentang rencana-rencana khusus / tertentu menentang Mesias, adalah benar tentang semua tujuan-tujuan / rencana-rencana dari orang-orang berdosa, pada waktu mereka mempersiapkan diri mereka sendiri menentang pemerintahan Allah].

 

Matthew Henry: They can hope for no good success in opposing so powerful a kingdom, with which they are utterly unable to contend. It is a vain thing; when they have done their worst Christ will have a church in the world and that church shall be glorious and triumphant. It is ‘built upon a rock, and the gates of hell shall not prevail against it.’ The moon walks in brightness, though the dogs bark at it (= Mereka tidak bisa berharap untuk kesuksesan yang baik dalam menentang suatu kerajaan yang begitu kuat, yang mereka sama sekali tidak bisa hadapi / lawan. Itu adalah hal yang sia-sia; pada waktu mereka telah melakukan yang terburuk Kristus akan mempunyai gereja dalam dunia dan gereja itu akan mulia dan menang. Gereja itu ‘dibangun di atas sebuah batu karang, dan pintu-pintu gerbang neraka tidak akan mengalahkannya’. Bulan berjalan dalam terangnya, sekalipun anjing-anjing menggonggong padanya).

Bdk. Mat 16:18 - “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya”.

KJV: ‘the gates of hell’ (= pintu-pintu gerbang neraka).

RSV: ‘the powers of death’ (= kuasa-kuasa kematian).

NIV/NASB: ‘the gates of Hades’ (= pintu-pintu Hades).

 

Spurgeon: What an honour it was to David to be thus publicly associated with Jehovah! And because he was HIS anointed, to be an object of hatred and scorn to the ungodly world! If this very circumstance fearfully augmented the guilt, and sealed the doom of these infatuated heathen, surely it was that which above everything else would preserve the mind of David calm and serene, yea, peaceful and joyful notwithstanding the proud and boastful vauntiness of his enemies. ... When writing this Psalm David was like a man in a storm, who hears only the roaring of the tempest, or sees nothing but the raging billows threatening destruction on every side of him. And yet his faith enabled him to say, ‘The people imagine a vain thing.’ They cannot succeed. They cannot defeat the counsels of heaven. They cannot injure the Lord’s Anointed (= Betul-betul merupakan suatu kehormatan bagi Daud untuk dihubungkan di depan umum seperti itu dengan Yehovah! Dan karena ia adalah yang diurapiNYA, ia menjadi suatu obyek dari kebencian dan ejekan dari dunia yang jahat! Jika ini adalah keadaan yang secara menakutkan memperbesar kesalahan, dan memeteraikan nasib / kehancuran dari orang-orang kafir yang bodoh, pasti itu merupakan sesuatu yang di atas segala sesuatu yang lain menjaga pikiran Daud tetap tenang dan tenteram, ya, penuh damai dan sukacita sekalipun ada kesia-siaan yang sombong dan penuh kebanggaan dari musuh-musuhnya. ... Pada waktu menulis Mazmur ini Daud adalah seperti seseorang di tengah-tengah badai, yang hanya mendengar deruan badai, atau tidak melihat apapun kecuali ombak yang mengamuk yang memberikan ancaman kehancuran pada setiap sisinya. Tetapi imannya memampukan ia untuk berkata, ‘Orang-orang membayangkan / mengkhayalkan hal-hal yang sia-sia’. Mereka tidak bisa berhasil. Mereka tidak bisa mengalahkan rencana dari surga. Mereka tidak bisa melukai Yang diurapi Tuhan).

 

Ay 4-6: “(4) Dia, yang bersemayam di sorga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka. (5) Maka berkatalah Ia kepada mereka dalam murkaNya dan mengejutkan mereka dalam kehangatan amarahNya: (6) ‘Akulah yang telah melantik rajaKu di Sion, gunungKu yang kudus!’”.

 

Ayat-ayat ini menunjukkan sikap dan kata-kata Tuhan terhadap orang-orang yang memusuhiNya dan orang yang diurapiNya.

 

Ay 4: “Dia, yang bersemayam di sorga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka.”.

 

1)         “Dia, yang bersemayam di sorga”.

 

Jamieson, Fausset & Brown: The scene passes from earth to heaven, from Antichrist and his confederate hosts to Yahweh on His throne above, laughing to scorn their purpose and then proceeding to execute judgment. ‘Sitteth in the heavens’ - and therefore exercises exalted sovereignty over ‘the kings of the earth.’ (= pemandangan / adegan / suasana berpindah dari bumi ke surga, dari Anti Kristus dan pasukan sekutunya kepada Yahweh di takhtaNya di atas, tertawa mengejek tujuan / rencana mereka dan lalu melanjutkan untuk melaksanakan penghakiman. ‘Duduk di surga’ - dan karena itu menjalankan kedaulatanNya yang ditinggikan di atas ‘raja-raja bumi’).

 

Spurgeon: “‘He that sitteth in the heavens.’ Hereby it is clearly intimated, (1) that the Lord is far above all their malice and power, (2) that he seeth all their plots, looking down on all; (3) that he is of omnipotent power, and so can do with his enemies as he lists [= ‘Ia yang duduk di surga’. Dengan ini secara jelas ditunjukkan, (1) bahwa Tuhan berada jauh di atas semua kejahatan dan kuasa mereka, (2) bahwa Ia melihat semua komplotan mereka, memandang rendah kepada semua; (3) bahwa Ia mempunyai kemahakuasaan, dan dengan demikian bisa melakukan terhadap musuh-musuhNya seperti yang Ia atur].

 

2)         “tertawa ... mengolok-olok mereka”.

 

a)   Ini jelas tak boleh ditafsirkan secara hurufiah, karena merupakan bahasa Anthropomorfik, dimana Allah digambarkan seakan-akan Dia adalah manusia.

 

Bible Knowledge Commentary: The description is anthropomorphic; God’s reaction is stated in human terms (= Penggambarannya bersifat anthropomorfik; reaksi Allah dinyatakan dengan istilah-istilah manusia).

 

Barnes’ Notes: “‘Shall laugh.’ ... This is, of course, to be regarded as spoken after the manner of men (= ‘Akan mentertawakan’. ... Tentu saja ini harus dianggap sebagai diucapkan menurut cara manusia).

 

b)   Arti yang sebenarnya dari kata-kata ini.

 

Barnes’ Notes: “‘Shall laugh.’ Will smile at their vain attempts; will not be disturbed or agitated by their efforts; will go calmly on in the execution of his purposes. ... it means that God will go steadily forward in the accomplishment of his purposes. There is included also the idea that he will look with contempt on their vain and futile efforts (= ‘Akan mentertawakan’. Akan tersenyum pada usaha-usaha mereka yang sia-sia; tidak akan terganggu atau digelisahkan oleh usaha-usaha mereka; akan berjalan dengan tenang dalam pelaksanaan dari rencana-rencanaNya. ... itu berarti bahwa Allah akan berjalan maju dengan tetap / tak berubah dalam pencapaian rencana-rencanaNya. Juga tercakup di sini gagasan bahwa Ia akan memandang rendah pada usaha-usaha yang sia-sia).

 

Spurgeon: Mark the quiet dignity of the Omnipotent One, and the contempt which he pours upon the princes and their raging people. He has not taken the trouble to rise up and do battle with them - he despises them, he knows how absurd, how irrational, how futile are their attempts against him - he therefore laughs at them (= Perhatikan martabat yang tenang dari Yang Mahakuasa, dan sikap memandang rendah yang Ia curahkan kepada pangeran-pangeran dan rakyat mereka yang marah / mengamuk. Ia tidak bersusah-susah untuk bangkit dan bertempur melawan mereka - Ia meremehkan mereka, Ia tahu betapa menggelikan, betapa tidak masuk akal, betapa sia-sia usaha-usaha mereka terhadap / menentang Dia - karena itu Ia mentertawakan mereka).

 

Spurgeon: And when it is said, ‘HE shall laugh,’ this word is designed to convey to our minds the idea, that the greatest confederacies amongst kings and peoples, and their most extensive and vigorous preparations, to defeat HIS purposes or to injure HIS servants, are in HIS sight altogether insignificant and worthless. HE looks upon their poor and puny efforts, not only without uneasiness or fear, but HE laughs at their folly; HE treats their impotency with derision. He knows how HE can crush them like a moth when HE pleases, or consume them in a moment with the breath of HIS mouth (= Dan pada waktu dikatakan, ‘Ia akan tertawa’, kata ini dirancang untuk menyampaikan kepada pikiran kita gagasan, bahwa persekongkolan-persekongkolan yang terbesar di antara raja-raja dan rakyat / bangsa-bangsa, dan persiapan-persiapan mereka yang paling luas dan hebat / penuh semangat, untuk mengalahkan rencana-rencanaNya atau untuk melukai pelayan-pelayanNya, dalam pandanganNya adalah sama sekali tidak berarti dan tak bernilai. Ia memandang pada usaha-usaha mereka yang malang dan lemah / kecil, bukan hanya tanpa kekuatiran atau takut, tetapi Ia mentertawakan kebodohan mereka; Ia memperlakukan kelemahan / ketidak-mampuan mereka dengan ejekan. Ia tahu bagaimana Ia bisa meremukkan mereka seperti ngengat kapanpun Ia mau, atau menghancurkan mereka dalam sesaat dengan nafas dari mulutNya).

 

Spurgeon mengutip Matthew Henry: “‘He that sitteth in the heavens shall laugh,’ etc. Sinners’ follies are the just sport of God’s infinite wisdom and power; and those attempts of the kingdom of Satan, which in our eyes are formidable, in his are despicable (= ‘Ia yang duduk di surga akan tertawa’, dst. Kebodohan-kebodohan dari orang-orang berdosa hanyalah lelucon / sesuatu yang menggelikan bagi hikmat dan kuasa Allah yang tak terbatas; dan usaha-usaha mereka dari kerajaan Iblis, yang di mata kita menakutkan / sukar dikalahkan, di mataNya adalah sesuatu yang remeh / dipandang rendah).

 

Spurgeon mengutip Thomas Adam: the case, deplorable and desperate in outward appearance, may with one smile from heaven find a blessed issue (= kasus itu, sial dan sangat menyedihkan / membuat putus asa dalam penampilan lahiriah, dengan satu senyuman dari surga bisa mendapatkan hasil yang diberkati).

 

Calvin: when God permits the reign of his Son to be troubled, he does not cease from interfering because he is employed elsewhere, or unable to afford assistance, or because he is neglectful of the honor of his Son; but he purposely delays the inflictions of his wrath to the proper time, ... Let us, therefore, assure ourselves that if God does not immediately stretch forth his hand against the ungodly, it is now his time of laughter; and although, in the meantime, we ought to weep, yet let us assuage the bitterness of our grief, yea, and wipe away our tears, with this reflection, that God does not connive at the wickedness of his enemies, as if from indolence or feebleness, but because for the time he would confront their insolence with quiet contempt (= pada waktu Allah mengijinkan pemerintahan AnakNya diganggu / dipersukar, Ia tidak berhenti dari ikut campur karena Ia dipekerjakan di tempat lain, atau tidak bisa memberikan pertolongan, atau karena Ia mengabaikan kehormatan AnakNya; tetapi Ia dengan sengaja menunda hukuman dari murkaNya sampai waktu yang tepat, ... Karena itu, hendaklah kita meyakinkan diri kita sendiri bahwa jika Allah tidak dengan segera mengulurkan tanganNya terhadap orang-orang jahat, sekarang adalah waktuNya untuk tertawa; dan sekalipun sementara itu kita harus menangis, tetapi hendaklah kita menenangkan kepahitan dari kesedihan kita, ya, dan menghapus air mata kita, dengan pemikiran ini, bahwa Allah bukanlah menutup mata pada kejahatan dari musuh-musuhNya, seakan-akan dari kelambanan atau kelemahan, tetapi karena pada saat itu Ia menghadapi kekurang-ajaran mereka dengan sikap merendahkan / meremehkan yang tenang).

 

c)   Salah satu contoh dari hal ini adalah kasus Firaun.

The Biblical Illustrator (Old Testament): Pharaoh imagined that by drowning the Israelite males he had found a way to root their name from the earth, but when at the same time his own daughter in his own court gave princely education to Moses, their deliverer, did not God laugh? [= Firaun membayangkan / mengkhayalkan bahwa dengan menenggelamkan (bayi) laki-laki bangsa Israel, ia telah menemukan suatu jalan untuk mencabut / membasmi nama mereka dari muka bumi, tetapi pada waktu pada saat yang sama anak perempuannya sendiri di istananya sendiri memberikan pendidikan bangsawan kepada Musa, sang pembebas mereka, tidakkah Allah tertawa?].

 

Ay 5-6: “(5) Maka berkatalah Ia kepada mereka dalam murkaNya dan mengejutkan mereka dalam kehangatan amarahNya: (6) ‘Akulah yang telah melantik rajaKu di Sion, gunungKu yang kudus!’”.

Catatan: kata-kata yang saya coret itu seharusnya tidak ada.

 

1)         Allah berbicara dengan murka / marah (ay 5).

Ay 5: Maka berkatalah Ia kepada mereka dalam murkaNya dan mengejutkan mereka dalam kehangatan amarahNya:.

 

Matthew Henry: Their sin is a provocation to him. He is wroth; he is sorely displeased. We cannot expect that God should be reconciled to us, or well pleased in us, but in and through the anointed; and therefore, if we affront and reject him, we sin against the remedy and forfeit the benefit of his interposition between us and God (= Dosa mereka merupakan suatu provokasi terhadap Dia. Ia marah; Ia sangat tidak senang. Kita tidak bisa mengharapkan bahwa Allah diperdamaikan dengan kita, atau berkenan kepada kita, kecuali di dalam dan melalui Yang diurapi; dan karena itu, jika kita menghina / menantang dan menolak Dia, kita berdosa terhadap obatnya dan kehilangan manfaat dari pengantaraanNya antara kita dan Allah).

 

Calvin: Wicked men may now conduct themselves as wickedly as they please, but they shall at length feel what it is to make war against heaven (= Sekarang orang-orang jahat bisa bertingkah laku sejahat yang mereka inginkan, tetapi pada akhirnya mereka akan merasakan apa artinya memerangi surga).

 

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : buas22@yahoo.com

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali