Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Rabu, tanggal 8 Februari 2012, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

buas22@yahoo.com

 

Mazmur 2:1-12(4)

 

Maz 2:1-12 - “(1) Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? (2) Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapiNya: (3) ‘Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka dari pada kita!’ (4) Dia, yang bersemayam di sorga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka. (5) Maka berkatalah Ia kepada mereka dalam murkaNya dan mengejutkan mereka dalam kehangatan amarahNya: (6) ‘Akulah yang telah melantik rajaKu di Sion, gunungKu yang kudus!’ (7) Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: ‘AnakKu engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini. (8) Mintalah kepadaKu, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu. (9) Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi, memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk.’ (10) Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, hai para hakim dunia! (11) Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kakiNya dengan gemetar, (12) supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murkaNya menyala. Berbahagialah semua orang yang berlindung padaNya!”.

 

Ay 8: “Mintalah kepadaKu, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu”.

KJV: ‘the heathen’ (= orang-orang kafir).

RSV/NIV/NASB: ‘the nations’ (= bangsa-bangsa).

 

Matthew Henry: The Son must ask. This supposes his putting himself voluntarily into a state of inferiority to the Father, by taking upon him the human nature; for, as God, he was equal in power and glory with the Father and had nothing to ask (= Anak harus minta. Ini mengasumsikan Ia meletakkan diriNya sendiri dengan sukarela ke dalam suatu keadaan yang lebih rendah dari Bapa, dengan mengambil pada diriNya sendiri hakekat manusia; karena, sebagai Allah, Ia setara dalam kuasa dan kemuliaan dengan Bapa dan tidak harus meminta apapun).

 

Spurgeon: ‘Ask of me.’ It was a custom among great kings, to give to favoured ones whatever they might ask. (See Esther 5:6; Matthew 14:7.) So Jesus hath but to ask and have [= ‘Mintalah kepadaKu’. Itu merupakan suatu kebiasaan di antara raja-raja yang besar / agung, untuk memberikan kepada orang-orang yang mereka senangi apapun yang mereka minta. (Lihat Ester 5:6; Mat 14:7). Demikianlah Yesus hanya perlu meminta dan mendapatkan].

 

KJV: ‘Ask of me, and I shall give thee the heathen for thine inheritance, and the uttermost parts of the earth for thy possession (= Mintalah kepadaKu, dan Aku akan memberimu orang-orang kafir untuk / sebagai warisanmu, dan bagian-bagian terjauh dari bumi untuk / sebagai milikmu).

Spurgeon: It will be observed in our Bible that two words of verse eight are in italics, intimating that they are not translations of the Hebrew, but additions made for the purpose of elucidating the meaning. Now if the ‘thee’ and the ‘for’ are left out, the verse will read thus, ‘Ask of me, and I shall give the heathen, thine inheritance, and thy possession, the uttermost parts of the earth.’ And this reading is decidedly preferable to the other. It implies that by some previous arrangement on the part of God, he had already assigned an inheritance of the heathen, and the possession of the earth, to the person of whom he says, ‘Thou art my Son.’ And when God says, ‘I will give,’ etc., he reveals to his Anointed, not so much in what the inheritance consisted, and what was the extent of possession destined for him, as the promise of his readiness to bestow it. The heathen were already ‘the inheritance,’ and the ends of the earth ‘the possession,’ which God had purposed to give to his Anointed. Now he says to him, ‘Ask of me,’ and he promises to fulfil his purpose. This is the idea involved in the words of the text, and the importance of it will become more apparent, when we consider its application to the spiritual David, to the true Son of God, ‘whom he hath appointed heir of all things.’ (= Diperhatikan bahwa dalam Alkitab kita dua kata dari ayat 8 dicetak dengan huruf miring, untuk menunjukkan bahwa kata-kata itu bukan merupakan terjemahan dari bahasa Ibrani, tetapi penambahan-penambahan yang dibuat dengan maksud untuk memperjelas arti. Sekarang jika kata ‘thee’ / ‘mu’ dan ‘for’ / ‘untuk / sebagai’ dihapuskan, ayat itu akan berbunyi demikian, ‘Mintalah kepadaKu, dan Aku akan memberikan orang-orang kafir, warisanmu, dan milikmu, bagian-bagian terjauh dari bumi’. Dan pembacaan ini pasti lebih baik dari yang lain. Itu menunjukkan secara implicit bahwa oleh suatu pengaturan sebelumnya / pra-pengaturan dari Allah, Ia telah menentukan suatu warisan orang-orang kafir, dan kepemilikan dari bumi, kepada pribadi tentang siapa Ia berkata ‘Engkau adalah AnakKu’ / ‘AnakKu engkau’. Dan pada waktu Allah berkata, ‘Aku akan memberikan’ dst, Ia menyatakan kepada Yang DiurapiNya, bukan apa warisan itu, dan seberapa luas milik yang ditentukan baginya, tetapi lebih merupakan janji tentang kesiapan / kesediaanNya untuk memberikannya. Orang-orang kafir sudah merupakan ‘warisan’, dan ujung-ujung bumi sudah merupakan ‘milik’, yang Allah telah rencanakan untuk berikan kepada Yang DiurapiNya. Sekarang Ia berkata kepadanya, ‘Mintalah kepadaKu’, dan Ia berjanji untuk menggenapi rencanaNya. Ini merupakan gagasan yang tercakup dalam kata-kata dari text, dan pentingnya hal ini akan menjadi makin jelas, pada waktu kita mempertimbangkan penerapannya pada Daud rohani, Anak Allah yang sejati, ‘yang telah Ia tetapkan sebagai pewaris dari segala sesuatu’.).

Catatan:

·         Sebetulnya bukan dua kata, tetapi tiga kata, yang dicetak dengan huruf miring dalam terjemahan KJV, seperti yang sudah saya tunjukkan di atas. Tetapi kata kedua dan ketiga adalah kata yang sama, yaitu kata ‘for’ (= untuk / sebagai).

·         Ibr 1:2a - “maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan AnakNya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada.

KJV: whom he hath appointed heir of all things (= yang telah Ia tetapkan sebagai pewaris dari segala sesuatu).

·         Sebetulnya saya berpendapat Spurgeon terlalu berbelit-belit dalam menjelaskan. Dalam terjemahan manapun terlihat dengan jelas bahwa Anak disuruh untuk meminta, dan Bapa berjanji akan memberikan. Dan berdasarkan 1Yoh 5:14, jelas bahwa Bapa hanya mengabulkan doa kalau itu sesuai dengan kehendakNya / rencana kekalNya. Jadi, jelas bahwa pemberian orang-orang kafir sebagai warisan dari Anak, maupun  ujung-ujung bumi sebagai milik dari Anak, merupakan rencana Allah.

1Yoh 5:14 - “Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya.

 

Pulpit Commentary: A very small part of the heathen were the inheritance of David, and therefore the Messiah only can be spoken of in this verse. Before Messiah ‘all kings’ were to ‘fall down; all nations to do him service’ (Ps 72:11; comp. Isa 49:22; 60:3,4; Matt 28:19, etc.). ‘And the uttermost parts of the earth for thy possession’ (comp. Isa 52:10; Jer 16:19; Mic 5:4; Zech 9:10; Acts 13:47) [= Suatu bagian yang sangat kecil dari orang-orang kafir merupakan warisan dari Daud, dan karena itu hanya sang Mesias yang bisa dibicarakan dalam ayat ini. Di hadapan sang Mesias ‘semua raja-raja’ harus jatuh / bersujud; semua bangsa-bangsa harus melayaniNya / menyembahNya / berbakti kepadaNya’ (Maz 72:11; bdk. Yes 49:22; 60:3,4; Matt 28:19, dsb.). Dan bagian-bagian terjauh dari bumi untuk / sebagai milikmu’ (bdk. Yes 52:10; Yer 16:19; Mik 5:4; Zak 9:10; Kis 13:47)].

Maz 72:11 - “Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya!”.

Yes 49:22 - “Beginilah firman Tuhan ALLAH: ‘Lihat, Aku akan mengangkat tanganKu sebagai tanda untuk bangsa-bangsa dan memasang panji-panjiKu untuk suku-suku bangsa, maka mereka akan menggendong anak-anakmu laki-laki dan anak-anakmu perempuan akan didukung di atas bahunya”.

Yes 60:3-4 - “(3) Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu. (4) Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua datang berhimpun kepadamu; anak-anakmu laki-laki datang dari jauh, dan anak-anakmu perempuan digendong”.

Mat 28:19 - “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”.

Yes 52:10 - “TUHAN telah menunjukkan tanganNya yang kudus di depan mata semua bangsa; maka segala ujung bumi melihat keselamatan yang dari Allah kita”.

Yer 16:19 - “Ya TUHAN, kekuatanku dan bentengku, tempat pelarianku pada hari kesesakan! KepadaMu akan datang bangsa-bangsa dari ujung bumi serta berkata: ‘Sungguh, nenek moyang kami hanya memiliki dewa penipu, dewa kesia-siaan yang satupun tiada berguna”.

Mikha 5:3 - “Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN, dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya; mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi.

Zakh 9:10 - “Ia akan melenyapkan kereta-kereta dari Efraim dan kuda-kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi.

Kis 13:47 - “Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi.’”.

Catatan: kata-kata ‘bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah’ dalam Kis 13:47 sebetulnya hanyalah ‘bangsa-bangsa’, tetapi memang menunjuk kepada bangsa-bangsa non Yahudi. Karena itu KJV/RSV/NIV/NASB menterjemahkan ‘the Gentiles’ (= orang-orang non Yahudi).

 

Calvin: David, as we know, after having obtained signal victories reigned over a large extent of territory, so that many nations became tributaries to him; but what is here said was not fulfilled in him. If we compare his kingdom with other monarchies it was confined within very narrow boundaries. Unless, therefore, we suppose this prophecy concerning the vast extent of kingdom to have been uttered in vain and falsely, we must apply it to Christ, who alone has subdued the whole world to himself and embraced all lands and nations under his dominion (= Daud, seperti kita ketahui, setelah mendapatkan kemenangan-kemenangan yang gemilang, bertakhta atas suatu daerah yang luas, sehingga banyak bangsa-bangsa menjadi jajahan / pembayar upeti kepadanya; tetapi apa yang di sini dikatakan tidak digenapi dalam dia. Jika kita membandingkan kerajaannya dengan kerajaan-kerajaan lain, itu terbatas dalam batasan-batasan yang sangat sempit. Karena itu, kecuali kita menganggap nubuat berkenaan dengan luasnya kerajaan ini telah diucapkan dengan sia-sia dan secara palsu / salah, kita harus menerapkannya kepada Kristus, karena hanya Ia saja yang telah menundukkan seluruh dunia kepada diriNya sendiri dan mencakup semua negara dan bangsa ke bawah kekuasaanNya).

 

Calvin: Accordingly, here, as in many other places, the calling of the Gentiles is foretold, to prevent all from imagining that the Redeemer who was to be sent of God was king of one nation only (= Maka, di sini, seperti di banyak tempat-tempat yang lain, pemanggilan terhadap orang-orang non Yahudi diramalkan, untuk mencegah semua dari pembayangan bahwa sang Penebus yang akan diutus Allah adalah Raja dari satu bangsa saja).

 

Adam Clarke: “‘Ask of me, and I shall give thee.’ Here a second branch of Christ’s office as Saviour of the world is referred to, namely, his mediatorial office. Having died as an atoning sacrifice, and risen again from the dead, he was now to make intercession for mankind; and in virtue and on account of what he had done and suffered, he was at his request, to have the nations for his inheritance, and the uttermost parts of the earth for his possession” (= ‘Mintalah kepadaKu, dan Aku akan memberimu’. Di sini suatu cabang kedua dari jabatan Kristus sebagai Juruselamat dari dunia ditunjuk, yaitu, jabatan pengantaraanNya. Setelah mati sebagai suatu korban penebusan, dan bangkit kembali dari orang mati, sekarang Ia harus membuat perantaraan untuk umat manusia; dan berdasarkan dan karena apa yang telah Ia lakukan dan derita, Ia, atas permintaanNya, mendapatkan bangsa-bangsa sebagai warisanNya, dan bagian-bagian terjauh dari bumi sebagai milikNya).

Catatan: kalau Yesus memang mati untuk semua orang, mengapa Ia tidak meminta semua orang diselamatkan? Dalam Yoh 17:9, Ia hanya berdoa untuk orang-orang tertentu / pilihan.

Yoh 17:9 - “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepadaKu, sebab mereka adalah milikMu”.

 

Ay 9: “Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi, memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk.’”.

 

Matthew Henry: Observe, How powerful Christ is and how weak the enemies of his kingdom are before him; he has a rod of iron wherewith to crush those that will not submit to his golden sceptre; they are but like a potter’s vessel before him, suddenly, easily, and irreparably dashed in pieces by him; see Rev 2:27 (= Perhatikan, Betapa sangat kuatnya Kristus dan betapa lemahnya musuh-musuh dari kerajaanNya di hadapanNya; Ia mempunyai tongkat / gada besi untuk menghancurkan mereka yang tidak mau tunduk pada tongkat kerajaan emasNya; mereka hanyalah seperti bejana tukang periuk di hadapanNya, dengan tiba-tiba / mendadak, dengan mudah, dan dengan tidak bisa diperbaiki, dihancurkan berkeping-keping olehNya; lihat Wah 2:27).

Wah 2:27 - “dan ia akan memerintah mereka dengan tongkat besi; mereka akan diremukkan seperti tembikar tukang periuk - sama seperti yang Kuterima dari BapaKu-”.

 

Calvin: It may, however, seem wonderful that, while the prophets in other parts of Scripture celebrate the meekness, the mercy, and the gentleness of our Lord, he is here described as so rigorous, austere, and full of terror. But this severe and dreadful sovereignty is set before us for no other purpose than to strike alarm into his enemies; and it is not at all inconsistent with the kindness with which Christ tenderly and sweetly cherishes his own people. He who shows himself a loving shepherd to his gentle sheep, must treat the wild beasts with a degree of severity either to convert them from their cruelty, or effectually to restrain it. Accordingly in Psalm 110:5, after a commendation is pronounced upon the obedience of the godly Christ is immediately armed with power to destroy, in the day of his wrath, kings and their armies who are hostile to him. And certainly both these characters are with propriety ascribed to him: for he was sent by the Father to cheer the poor and the wretched with the tidings of salvation, to set the prisoners free, to heal the sick, to bring the sorrowful and afflicted out of the darkness of death into the light of life, (Isaiah 61:1) and as, on the other hand, many by their ingratitude, provoke his wrath against them, he assumes, as it were, a new character, to beat down their obduracy [= Tetapi, bisa kelihatan mengherankan bahwa, sementara nabi-nabi dalam bagian-bagian lain dari Kitab Suci memproklamirkan kelembutan, belas kasihan, dan kelemah-lembutan dari Tuhan kita, Ia di sini digambarkan sebagai begitu keras, bengis, dan penuh dengan hal-hal yang menakutkan. Tetapi kedaulatan yang keras / bengis dan menakutkan ini diletakkan di depan kita dengan tujuan tidak lain dari pada untuk membunyikan tanda bahaya / menimbulkan rasa takut dalam diri musuh-musuhNya; dan itu sama sekali bukannya tidak konsisten dengan kebaikan dengan mana Kristus dengan lembut dan manis memelihara / memperlakukan umatNya sendiri. Ia yang menunjukkan diriNya sendiri seorang gembala yang penuh kasih kepada domba-dombaNya, harus memperlakukan binatang-binatang liar / buas dengan suatu tingkat kekerasan, atau untuk mempertobatkan mereka dari kekejaman mereka, atau secara efektif mengekangnya. Sesuai dengan ini, dalam Maz 110:5, setelah suatu pujian / penghargaan diucapkan / dinyatakan terhadap ketaatan dari orang-orang saleh, Kristus segera diperlengkapi dengan kuasa untuk menghancurkan, pada hari kemurkaanNya, raja-raja dan pasukan-pasukan mereka yang bermusuhan denganNya. Dan pasilah kedua karakter ini dengan tepat / cocok dianggap sebagai milikNya: karena Ia diutus oleh Bapa untuk menghibur orang miskin dan susah dengan berita keselamatan, untuk membebaskan orang yang ditahan, untuk menyembuhkan orang yang sakit, untuk membawa orang-orang yang sedih dan menderita keluar dari kegelapan kematian ke dalam terang kehidupan, (Yes 61:1) dan karena, di sisi yang lain, banyak orang, oleh rasa tidak tahu terima kasih mereka, memprovokasi kemurkaanNya terhadap mereka, Ia seakan-akan mengambil suatu karakter yang baru, untuk mengalahkan kekeras-kepalaan mereka].

Maz 110:5-6 - “(5) TUHAN ada di sebelah kananmu; Ia meremukkan raja-raja pada hari murkaNya, (6) Ia menghukum bangsa-bangsa, sehingga mayat-mayat bergelimpangan; Ia meremukkan orang-orang yang menjadi kepala di negeri luas”.

Yes 61:1 - “Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara”.

 

Calvin: “The Psalmist exposes to shame their foolish pride by a beautiful similitude; teaching us, that although their obstinacy is harder than the stones, they are yet more fragile than ‘earthen vessels’.” (= Sang Pemazmur mempermalukan kesombongan yang bodoh dari mereka dengan suatu gambaran / perumpamaan yang indah; mengajar kita, bahwa sekalipun kekeras-kepalaan mereka lebih keras dari batu, mereka lebih rapuh / mudah pecah dari ‘bejana tanah liat’).

 

Calvin: “Since, however, we do not see the enemies of the Redeemer immediately broken in pieces, but, on the contrary, the Church herself appears rather to be like the frail earthen vessel under their iron hammers, the godly need to be admonished to regard the judgments which Christ daily executes as presages of the terrible ruin which remains for all the ungodly, and to wait patiently for the last day, when he will utterly consume them by the flaming fire in which he will come. In the meantime, let us rest satisfied that he ‘rules in the midst of his enemies.’” (= Tetapi karena kita tidak melihat musuh-musuh dari sang Penebus segera dihancurkan berkeping-keping, tetapi sebaliknya, Gereja sendiri kelihatannya lebih mirip dengan bejana tanah liat yang mudah pecah di bawah palu besi mereka, orang-orang saleh perlu untuk diingatkan untuk memperhatikan penghakiman-penghakiman yang Kristus laksanakan setiap hari sebagai memberi pertanda tentang kehancuran yang mengerikan yang tersisa untuk semua orang-orang jahat, dan untuk menunggu dengan sabar untuk hari terakhir, pada waktu Ia akan menghabiskan mereka dengan api yang bernyala-nyala dalam mana Ia akan datang. Sementara itu, hendaklah kita bersandar / beristirahat dengan puas bahwa Ia ‘memerintah di tengah-tengah musuh-musuhNya’).

 

Spurgeon mengutip kata-kata Plummer: It is easy for God to destroy his foes. . . . . Behold Pharaoh, his wise men, his hosts, and his horses plouting and plunging, and sinking like lead in the Red sea. Here is the end of one of the greatest plots ever formed against God’s chosen. Of thirty Roman emperors, governors of provinces, and others high in office, who distinguished themselves by their zeal and bitterness in persecuting the early Christians, one became speedily deranged after some atrocious cruelty, one was slain by his own son, one became blind, the eyes of one started out of his head, one was drowned, one was strangled, one died in a miserable captivity, one fell dead in a manner that will not bear recital, one died of so loathsome a disease that several of his physicians were put to death because they could not abide the stench that filled his room, two committed suicide, a third attempted it, but had to call for help to finish the work, five were assassinated by their own people or servants, five others died the most miserable and excruciating deaths, several of them having an untold complication of diseases, and eight were killed in battle, or after being taken prisoners. Among these was Julian the apostate. In the days of his prosperity he is said to have pointed his dagger to heaven defying the Son of God, whom he commonly called the Galilean. But when he was wounded in battle, he saw that all was over with him, and he gathered up his clotted blood, and threw it into the air, exclaiming, ‘Thou hast conquered, O thou Galilean.’ Voltaire has told us of the agonies of Charles IX. of France, which drove the blood through the pores of the skin of that miserable monarch, after his cruelties and treachery to the Hugenots [= Adalah mudah bagi Allah untuk menghancurkan musuh-musuhNya. ... Lihatlah Firaun, orang-orang bijaknya, pasukannya, dan kuda-kudanya tercebur dan terjun, dan tenggelam seperti timah dalam Laut Merah. Ini adalah akhir dari salah satu dari komplotan-komplotan terbesar yang pernah dibentuk terhadap / menentang orang-orang pilihan Allah. Dari 30 kaisar Romawi, gubernur dari propinsi, dan orang-orang lain yang mempunyai jabatan tinggi, yang membedakan diri mereka sendiri oleh semangat dan kepahitan mereka dalam menganiaya orang-orang Kristen mula-mula, satu menjadi gila dengan cepat setelah suatu kekejaman yang mengerikan, satu dibunuh oleh anak laki-lakinya sendiri, satu menjadi buta, mata-mata dari yang satu mulai keluar dari kepalanya, satu tenggelam, satu dicekik, satu mati dalam suatu pembuangan yang menyedihkan, satu jatuh mati dengan suatu cara yang tidak akan bisa diceritakan dengan mendetail (?), satu mati karena suatu penyakit yang begitu menjijikkan / memuakkan sehingga beberapa dari dokter-dokternya dibunuh karena mereka tidak bisa tinggal karena bau busuk yang memenuhi kamarnya, dua bunuh diri, yang ketiga mencoba bunuh diri, tetapi harus meminta tolong untuk menyelesaikan pekerjaan itu, lima dibunuh oleh bangsa atau pelayan-pelayannya sendiri, lima yang lain lagi mati melalui kematian-kematian yang paling menyedihkan dan sangat menyakitkan, beberapa dari mereka mempunyai komplikasi penyakit-penyakit yang tidak bisa diceritakan, dan delapan dibunuh dalam pertempuran, atau setelah dibawa sebagai tawanan. Di antara orang-orang ini adalah Julian si orang murtad. Pada hari-hari kemakmurannya ia dikatakan telah mengacungkan belatinya ke surga menantang Anak Allah, yang secara kasar ia sebut si orang Galilea. Tetapi pada waktu ia terluka dalam pertempuran, ia melihat bahwa semua telah berakhir baginya, dan ia mengumpulkan darah bekunya, dan melemparkannya ke udara, sambil berseru, ‘Engkau telah menang, O engkau orang Galilea’. Voltaire telah menceritakan kepada kita penderitaan-penderitaan dari Charles IX dari Perancis, yang mendorong / memaksa darah keluar melalui pori-pori dari kulit dari raja yang menyedihkan itu, setelah kekejaman dan pengkhianatannya kepada orang-orang Hugenot].

Catatan: Hugenot atau Huguenot adalah orang-orang Kristen Protestan Perancis pada abad 16-17 (Webster’s New World Dictionary).

 

The Biblical Illustrator (Old Testament): the Psalm is in the nature of a prophecy, and still waits for its final accomplishment. It had a real fulfilment, no doubt, in the banding together of Herod and Pontius Pilate against Christ (Acts 4:25-27). But this was not a literal one. It may be said to have an ever-repeated fulfilment in the history of the Church, which is a history of God’s kingdom upon earth, a kingdom which in all ages has the powers of the world arrayed against it, and in all ages the same disastrous result to those who have risen ‘against the Lord and against His anointed.’ And so it shall be to the end, when, perhaps, that hostility will be manifested in some yet deadlier form, only to be overthrown forever, that the kingdoms of this world may become the kingdom of our Lord and His Christ [= Mazmur ini bersifat nubuatan, dan tetap menunggu penggenapan terakhirnya. Itu mempunyai penggenapan yang sungguh-sungguh, tak diragukan, dalam bersatunya Herodes dan Pontius Pilatus terhadap / menentang Kristus (Kis 4:25-27). Tetapi ini bukan suatu penggenapan yang hurufiah. Bisa dikatakan itu mempunyai penggenapan yang selalu diulang dalam sejarah Gereja, yang merupakan sejarah dari kerajaan Allah di bumi, suatu kerajaan yang dalam semua jaman mempunyai kuasa-kuasa dunia yang disusun / diatur / dipersiapkan terhadap / menentangnya, dan dalam semua jaman mengakibatkan bencana yang sama bagi mereka yang telah bangkit ‘terhadap / menentang Tuhan dan Yang diurapiNya’. Dan demikianlah akan terjadi sampai pada akhirnya, pada waktu, mungkin, permusuhan itu akan dinyatakan dalam bentuk yang lebih mematikan, hanya untuk dirobohkan selama-lamanya, sehingga kerajaan-kerajaan dari dunia ini bisa menjadi kerajaan dari Tuhan kita dan KristusNya].

 

Ay 10: “Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, hai para hakim dunia!”.

 

1)         Terjemahan ay 10 ini seharusnya mengandung kata ‘now’ (= sekarang).

Kata ini tidak ada dalam Kitab Suci Indonesia dan NIV, tetapi ada dalam KJV/RSV/NASB, dan seharusnya memang ada.

KJV: ‘Be wise now therefore, O ye kings: be instructed, ye judges of the earth’ (= Karena itu, sekarang jadilah bijaksana, Ya engkau raja-raja: maulah diajar, engkau hakim-hakim bumi).

RSV: Now therefore, O kings, be wise; be warned, O rulers of the earth’ (= Karena itu sekarang, Ya raja-raja, jadilah bijaksana; maulah diperingati, Ya penguasa-penguasa bumi).

NIV: ‘Therefore, you kings, be wise; be warned, you rulers of the earth’ (= Karena itu, engkau raja-raja, jadilah bijaksana; maulah diperingati, engkau penguasa-penguasa bumi).

NASB: Now therefore, O kings, show discernment; Take warning, O judges of the earth’ (= Karena itu sekarang, Ya raja-raja, tunjukkanlah ketajaman / kecerdasan; terimalah peringatan, Ya hakim-hakim bumi).

 

Calvin: By the adverb ‘now,’ he signifies the necessity of their speedy repentance, since they will not always be favored with the like opportunity (= Dengan kata keterangan ‘sekarang’, ia menunjukkan perlunya pertobatan yang cepat dari mereka, karena mereka tidak akan selalu diberi kebaikan dengan kesempatan yang serupa).

Bdk. 2Kor 6:2 - “Sebab Allah berfirman: ‘Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau.’ Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu”.

 

Penerapan: janganlah menunda pertobatan, baik dalam arti datang kepada Kristus, maupun dalam arti membuang dosa-dosa apapun dari kehidupan saudara.

 

2)         ‘raja-raja ... para hakim dunia’.

Calvin: he addresses by name kings and rulers, who are not very easily brought to a submissive state of mind, and who are, besides, prevented from learning what is right by the foolish conceit of their own wisdom with which they are puffed up. And if David spare not even kings themselves, who seem unrestrained by laws, and exempted from ordinary rules, much more does his exhortation apply to the common class of men, in order that all, from the highest to the lowest, may humble themselves before God (= ia menyebut dengan sebutan raja-raja dan penguasa-penguasa, yang tidak dengan sangat mudah dibawa pada suatu keadaan pikiran yang tunduk, dan disamping itu, yang dicegah dari pembelajaran tentang apa yang benar oleh kesombongan yang bodoh dari hikmat mereka sendiri dengan mana mereka digelembungkan / menjadi congkak. Dan jika Daud tidak menyayangkan bahkan raja-raja sendiri, yang kelihatannya tidak dikekang oleh hukum-hukum, dan diperkecualikan dari peraturan-peraturan biasa, lebih-lebih nasehat / peringatan ini berlaku bagi golongan umum dari manusia, supaya semua, dari yang tertinggi sampai yang terendah, bisa merendahkan diri sendiri di hadapan Allah).

 

Memang tak bisa disangkal bahwa orang-orang yang berkedudukan tinggi atau kaya biasanya / pada umumnya merasa diri bijaksana, sekalipun sesungguhnya mereka bodoh, mungkin karena terlalu sering diumpak / dijilat oleh bawahan / teman-temannya.

 

3)         ‘Bertindaklah / jadilah bijaksana’.

 

Spurgeon: The scene again changes, and counsel is given to those who have taken counsel to rebel. ... ‘Be wise.’ - It is always wise to be willing to be instructed, especially when such instruction tends to the salvation of the soul (= Pemandangan / suasana berubah lagi, dan nasehat diberikan kepada mereka yang telah berunding untuk memberontak. ... ‘Jadilah bijaksana’. - Selalu merupakan sesuatu yang bijaksana untuk mau diajar, khususnya pada waktu ajaran seperti itu mengarah pada keselamatan dari jiwa).

Bdk. Amsal 12:1 - “Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu”.

 

Calvin: “When he enjoins them to be wise, he indirectly condemns their false confidence in their own wisdom as if he had said, The beginning of true wisdom is when a man lays aside his pride, and submits himself to the authority of Christ. Accordingly, however good an opinion the princes of the world may have of their own shrewdness, we may be sure they are arrant fools till they become humble scholars at the feet of Christ” (= Pada waktu ia memerintahkan mereka untuk menjadi bijaksana, ia secara tak langsung mengecam keyakinan palsu mereka terhadap hikmat mereka sendiri seakan-akan ia berkata, Permulaan dari hikmat yang sejati adalah pada saat seseorang mengesampingkan kesombongannya, dan menundukkan dirinya sendiri kepada otoritas Kristus. Sesuai dengan itu, betapapun baiknya pandangan yang dimiliki pangeran-pangeran dunia tentang kelicikan mereka sendiri, kita bisa yakin mereka adalah orang-orang yang terkenal bodoh sampai mereka menjadi pelajar-pelajar yang rendah hati di kaki Kristus).

 

Merupakan sesuatu yang umum bagi orang dunia, dan bahkan bagi banyak orang Kristen, untuk menyebut dusta, kemunafikan dsb, sebagai sesuatu yang bijaksana, dan sebaliknya kejujuran / ketulusan sebagai kebodohan!

Apakah seseorang betul-betul bijaksana atau tidak, harus diukur berdasarkan Alkitab / Firman Tuhan. Kalau pemikiran dan tingkah lakunya sesuai dengan Alkitab / Firman Tuhan dan ditundukkan kepada Alkitab / Firman Tuhan, maka ia bijaksana. Kalau sebaliknya, maka itu namanya ‘bijaksini’ alias tolol!

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : buas22@yahoo.com

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali