Pemahaman Alkitab

 

(online)

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Selasa, tgl 31 Oktober 2023, pk 18.30

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

hari reformasi

 

sola scriptura(1)

 

I) Macam-macam pandangan terhadap Alkitab.

 

Orang / golongan yang berbeda tentu akan mempunyai pandangan yang berbeda tentang Alkitab. Di sini saya hanya akan membahas pandangan terhadap Alkitab dari orang-orang yang dianggap sebagai ‘orang kristen’.

 

A) Pandangan Liberal.

 

Golongan Liberal beranggapan bahwa ‘Kitab Suci bukanlah Firman Allah’, atau bahwa ‘Kitab Suci mengandung Firman Allah’.

 

Kalau dikatakan bahwa ‘cincin ini mengandung emas’, maka artinya adalah bahwa cincin ini tidak terbuat dari emas murni, tetapi ada campuran logam lain. Demikian juga kalau dikatakan bahwa ‘Kitab Suci mengandung Firman Allah’, maka itu berarti bahwa dalam Kitab Suci ada bagian-bagian yang adalah Firman Allah, dan ada juga bagian-bagian yang bukan Firman Allah. Dan bagian-bagian yang bukan Firman Allah itu tentu saja bisa salah.

 

Contoh:

 

1)   Dalam Majalah ‘PENUNTUN’ terbitan GKI Jawa Barat, vol 2, No 6, Januari - Maret 1996, ada artikel yang berjudul ‘Keselamatan dalam pandangan Yesus’, ditulis oleh Pdt. Jahja Sunarya, S. Th., dan dalam artikel itu ada kata-kata sebagai berikut:

“Jelas, betapa berartinya peranan penulis dalam menampilkan Yesus. Jika demikian, apakah tidak mungkin penulis telah menambahi atau mengurangi, bahkan keliru dalam menafsirkan / mengerti, pengajaran Yesus? Jawabnya tentu saja mungkin. Sebab ternyata injil yang tertua, yaitu injil karangan Markus, ditulis sekitar tahun 60. Itu berarti injil ini ditulis setelah sekitar tahun 30 (tigapuluh) saat peristiwa Yesus terjadi. Kita dapat membayangkan kesulitan Markus ketika menyusun Injilnya. Ia harus memilah-milah kisah-kisah lisan yang ada dan ingatan-ingatan yang tidak beraturan untuk menyajikannya dalam wujud tulisan yang memiliki alur logika yang jelas dan teratur.” - hal 181.

 

2)   Dalam Majalah ‘Kairos terbitan GKI, bulan Mei 1994, ada surat pembaca dari Robert Setio Ph. D. (yang belakangan menjadi pendeta GKI) yang mengatakan sebagai berikut:

“Liputan Kairos tentang proses pembuatan Alkitab dalam edisi bulan Maret yang baru lalu merupakan sumbangan yang berharga bagi umat Kristen di Indonesia (GKI) yang, dalam bayangan saya, jarang atau bahkan tidak pernah sama sekali mendengar ‘rahasia’ tersebut. Liputan tersebut sekaligus juga merupakan peringatan bagi golongan tertentu yang begitu saja menyamakan Firman Allah dengan Alkitab. Bukankah proses terjadinya Alkitab itu rumit dan melalui seleksi serta penafsiran yang bisa jadi memiliki motif politik / ideologis? - hal 5.

 

Golongan Liberal memang mempunyai ciri khas merendahkan otoritas Kitab Suci, baik dalam hidup, kepercayaan, maupun ajaran mereka. Karena itu kalau saudara bertemu dengan orang (khususnya hamba Tuhan!) yang dengan gampang mengabaikan / mengesampingkan / menyalahkan Kitab Suci, saudara perlu berhati-hati, karena mungkin sekali itu adalah orang dari golongan Liberal.

 

Kalau saudara bertemu dengan orang yang mengatakan bahwa ‘Kitab Suci hanya mengandung Firman Allah’, maka untuk menghancurkan pandangannya, tanyakanlah pertanyaan-pertanyaan ini:

 

a)   Kalau memang ‘Alkitab hanya mengandung Firman Allah’, lalu bagian mana yang adalah Firman Allah, dan bagian mana yang bukan Firman Allah?

 

b)   Apa kriteria yang engkau pakai untuk menentukan bagian yang satu sebagai Firman Allah dan bagian yang lain sebagai bukan Firman Allah? Dan dari mana engkau mendapatkan kriteria seperti itu?

 

c)   Dengan otoritas apa / siapa engkau bisa menetapkan bagian yang satu sebagai Firman Allah dan bagian yang lain sebagai bukan Firman Allah? Bukankah seharusnya Kitab Suci yang adalah Firman Allah itulah yang menghakimi manusia (Yoh 12:47-48), dan bukan manusia yang menghakimi Kitab Suci?

 

Yoh 12:47-48 - “(47) Dan jikalau seorang mendengar perkataanKu, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. (48) Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataanKu, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman.”.

 

B) Pandangan Liberal yang terselubung.

 

Satu hal lagi yang perlu diwaspadai adalah orang / gereja Liberal yang slogannya tetap benar, yaitu ‘Alkitab / Kitab Suci adalah Firman Allah’, tetapi, ini hanya kedok belaka, karena:

 

1)         Penguraian slogan itu bertentangan dengan slogannya.

Dengan kata lain, slogannya benar, yaitu bahwa ‘Alkitab adalah Firman Allah’, tetapi pada waktu slogan itu diuraikan / dijabarkan, maka terlihat bahwa maksudnya sama sekali bukanlah bahwa ‘Alkitab adalah Firman Allah’.

 

Contoh:

 

a)   Dalam Majalah ‘PENUNTUN’ yang dikeluarkan oleh GKI Jawa Barat, vol. 1, No. 2, Januari - Maret 1995, hal 116, bagian ‘Pengantar Redaksi’, ada kata-kata sebagai berikut: “Tulisan yang menyoroti tema sajian ini disiapkan oleh Pdt. Eka Darmaputera, Ph. D. Sementara ia menegaskan bahwa firman Allah itu senantiasa lebih luas dari Alkitab, ia pun menekankan bahwa Alkitab itu betul-betul firman Allah yang sampai kepada manusia dalam matra ganda, yang tidak tercampur tetapi juga tidak terpisah, yaitu matra ilahi adikodrati dan matra insani kodrati. Dengan pendekatan seperti ini, ia berusaha menempatkan posisinya seimbang di antara kalangan yang menekankan bahwa Alkitab adalah firman Allah dan kalangan yang menegaskan bahwa Alkitab mengandung firman Allah.”.

 

Kalau saudara memperhatikan bagian yang saya beri garis bawah tunggal maka kelihatannya orang ini mempunyai pandangan Injili yang benar. Tetapi kalau saudara memperhatikan bagian yang saya beri garis bawah ganda, maka terlihat dengan jelas bahwa sebenarnya tidak demikian!

 

Selanjutnya dalam artikel berjudul ‘Alkitab dan Firman Allah’ yang ditulis oleh Pdt. Eka Darmaputera, Ph. D. dalam majalah tersebut di atas, dikatakan sebagai berikut:

“Kalau Anda bertanya kepada saya: ‘Apakah saya percaya Alkitab adalah Firman Allah?’, maka dengan segera dan tanpa ragu saya akan menjawab, ‘Ya, saya percaya dengan segenap hati!’. Saya pun sungguh-sungguh berharap agar setiap warga jemaat dan setiap pendeta (khususnya, seluruh anggota dan pendeta GKI) juga mengaminkannya. Apa sebab? Sebab itu pula yang kita ‘amin’ kan sebelum kita menerima baptisan dan pentahbisan kita!” (hal 121).

 

Dilihat dari kata-kata ini, maka kelihatannya pendeta tersebut mempunyai pandangan / slogan yang injili. Tetapi dalam bagian lain dari artikel yang sama ia berkata sebagai berikut:

 

1.   “Apakah sisi lain dari kebenaran yang harus kita pahami? Yaitu ini: bahwa sekalipun kita mengamini bahwa ‘Alkitab adalah firman Allah’, itu samasekali tidak berarti bahwa Alkitab adalah identik dengan firman Allah, atau bahwa firman Allah adalah identik dengan Alkitab! TIDAK! ... Yang ingin saya kemukakan adalah, bahwa ‘Alkitab’ dan ‘Firman Allah’ adalah dua pengertian yang berbeda. Tidak identik. Saya percaya dengan segenap hati bahwa ‘Alkitab adalah firman Allah’, namun itu tidak berarti bahwa saya percaya ‘firman Allah identik dengan Alkitab’.” (hal 122).

 

2.   “Firman Allah, secara teologis, adalah Yesus Kristus, bukan Alkitab!” (hal 123).

 

3.   “Dengan demikian, yang ingin saya katakan adalah: Alkitab tetap mempunyai otoritas tertinggi bagi orang kristen dalam pemahaman dan ajaran imannya, tanpa mengidentikkan Alkitab itu dengan firman Allah sendiri.” (hal 123).

 

4.   “Penulis-penulis Alkitab adalah manusia-manusia seperti kita, yang di samping keterbatasan-keterbatasan pribadinya, juga dibentuk oleh lingkungan sosio-kultural mereka dan oleh tingkat perkembangan peradaban serta ilmu pengetahuan di zaman mereka. Keterbatasan manusiawi ini memang dapat teratasi sekiranya Tuhan hanya memakai mereka sebagai ‘benda-benda’ mati, seperti pena atau pensil yang kita pakai untuk menuliskan kehendak kita. Namun jelas sekali, Tuhan tidak memakai mereka dengan cara seperti itu. Sebab sekiranya cara itulah yang dipakai oleh Tuhan, maka pastilah seluruh Alkitab paling sedikit akan mempunyai gaya bahasa dan mempergunakan kosa kata yang sama. Ternyata tidak! Perhatikan betapa berbedanya bentuk dan gaya kitab Kejadian dengan kitab Tawarikh, antara kitab Imamat dan kitab Mazmur, antara kitab Yesaya dan kitab Kidung Agung, dan sebagainya. Perhatikan pula gaya yang amat pribadi dari surat-surat Paulus. Itu berarti Tuhan memakai para penulis itu dengan seluruh kepribadian mereka, dengan segala kelebihan dan ... keterbatasan mereka! Benar bahwa Alkitab itu diwahyukan oleh Allah. Namun wahyu itu disampaikan kepada kita melalui manusia. Manusia yang dipakai oleh Allah bukan sebagai pena atau pensil, melainkan sebagai pribadi-pribadi yang hidup. Keadaannya dapat Anda bayangkan demikian. Anda ingin menyampaikan sebuah berita dukacita kepada seseorang yang mengalami musibah ditinggalkan kekasihnya secara tiba-tiba oleh karena kecelakaan. Namun Anda tidak menyampaikan berita ini secara langsung kepada yang bersangkutan. Anda meminta pertolongan beberapa orang untuk menyampaikan berita itu. Apa yang terjadi? Orang-orang itu akan menyampaikan berita yang sama. Tetapi sekaligus, berita yang sama itu akan disampaikan dalam bentuk dan cara yang amat berbeda-beda. Saya bayangkan, pasti tidak ada seorangpun yang secara langsung akan mengatakan: ‘Hei, Bung, kekasih Anda mati kecelakaan sore tadi!’. Masing-masing akan menambahkan bumbu-bumbu dan bunga-bunga untuk berita yang satu itu, sesuai dengan gaya mereka masing-masing. ... Kalau kita membaca Alkitab, kita harus menerima kedua-duanya. Disitu kita berhadapan dengan yang sepenuhnya ilahi dan sekaligus yang sepenuhnya manusiawi, dan menghargai yang manusiawi sebagai sarana untuk berjumpa dengan yang ilahi. Di dalam dan melalui yang terbatas dan tidak sempurna, Allah mau menyatakan kehendakNya yang kudus, kekal, mutlak dan universal. Itulah sebabnya Alkitab tidak hanya dibaca, apalagi sekedar untuk dipajang! Alkitab adalah firman Allah yang harus senantiasa kita gumuli, kita pelajari, kita cermati. Supaya ketika kita membaca Alkitab, kita berjumpa dengan Firman Allah! (hal 128-129).

 

Dilihat dari bagian-bagian ini terlihat dengan jelas bahwa orang ini sama sekali tidak mempunyai pandangan injili tentang Alkitab!

 

b)   Hal yang serupa juga dilakukan oleh Pdt. Yohanes Bambang Mulyono, S. Th. dari GKI yang menulis buku yang berjudul Tuhan ajarlah aku. Ada bagian-bagian dari buku itu yang seolah-olah menunjukkan bahwa ia percaya bahwa ‘Alkitab adalah Firman Allah’, misalnya:

 

1.   “kita juga tidak setuju dengan paham liberalisme yang menolak Alkitab sebagai firman Allah.” (hal 28).

 

2.   “Oleh karena itu penulisan Alkitab merupakan hasil inspirasi dan pengilhaman Roh Kudus sendiri (bdk. 2Tim 3:16).” (hal 131).

 

3.   “Sebagai jemaat Allah kita mengakui kewibawaan Alki­tab sebagai Firman Allah yang menuntun kepada keselamatan dan menjadi dasar normatif bagi kehidupan serta tingkah laku kita.” (hal 211).

 

Tetapi dalam bagian lain dari bukunya ia menunjukkan ‘warna asli’nya, karena ia berkata:

 

a.   “Oleh karena itu firman Allah sejati tidak pernah hanya merupakan suatu kumpulan ayat-ayat dalam Kitab Suci. Pendewa-dewaan kumpulan ayat-ayat dalam Kitab Suci sebenarnya sama saja dengan pemberhalaan. Iman kristen menyadari, bahwa firman Allah sejati menjelma menjadi Yesus Kristus yang adalah Anak Allah. Artinya firman Allah sejati tidak pernah menjelma menjadi sebuah ‘buku yang turun dari sorga.” (hal 77).

 

b.   “Atas dasar pemikiran yang demikian, theologia Alkitab tidak pernah mendudukkan Alkitab sejajar dengan Firman Allah sendiri. Alkitab adalah alat yang dipakai oleh Allah untuk menyampaikan firmanNya. Sedangkan firman Allah yang sejati (realitas obyek­tif-ilahi) menjelma menjadi manusia yang kelihatan dan yang menyejarah. Sebab itu sikap penghargaan kita yang tinggi terhadap Alkitab sebagai alat dari firman Allah tidak boleh melebihi penghargaan kita kepada Yesus Kristus. Jadi Alkitab berada di bawah kuasa pribadi Yesus Kristus, tidak boleh sebaliknya!” (hal 214).

 

Dari kedua contoh di atas ini (point a dan b di atas) bisa kita lihat dan simpulkan bahwa kalau dalam suatu khotbah / tulisan seorang pendeta terdapat suatu kalimat / kata-kata yang benar / injili, itu belum menjamin bahwa ia pasti bukan orang Liberal.

 

2)         Prakteknya berbeda dengan slogannya.

Dengan kata lain, sekalipun slogannya benar, yaitu ‘Alkitab adalah Firman Allah’, tetapi ternyata prakteknya sama sekali tidak menunjukkan kepercayaan bahwa ‘Alkitab adalah Firman Allah’.

 

Contoh: ada ‘hamba Tuhan’ / gereja yang menyebut Alkitab sebagai Firman Allah, tetapi dalam prakteknya:

 

a)   Mereka tidak menekankan pengajaran Alkitab.

Misalnya: dalam gerejanya tidak ada Pemahaman Alkitab, dan / atau dalam ajaran / khotbahnya Alkitab tidak digali sama sekali.

 

b)   Mereka sering tidak menggubris Alkitab, dan mereka bahkan menginjak-injak Alkitab.

 

Misalnya: banyak gereja / pendeta yang mau melakukan pemberkatan nikah kristen dengan non kristen, atau bahkan secara terang-terangan mengijinkan pelaksanaan hal ini dalam tata gereja mereka, padahal hal ini jelas bertentangan dengan 2Kor 6:14 - “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?”.

 

Karena itu, kalau saudara bertemu dengan seorang pendeta / pengkhotbah / gereja yang mempunyai slogan yang benar, jangan terlalu cepat percaya. Selidikilah lebih jauh / teliti bagaimana pendeta / pengkhotbah / gereja itu menguraikan slogannya, dan selidikilah juga apakah prakteknya sesuai dengan slogannya.

 

Mana yang lebih berbahaya: ‘Liberalisme yang terang-terangan’ atau ‘Liberalisme yang terselubung’? Jawabannya jelas adalah ‘Liberalisme yang terselubung’. Sama seperti uang palsu yang makin mendekati aslinya tentu lebih membahayakan dari pada uang palsu yang tidak terlalu mirip dengan uang aslinya, demikian juga Liberalisme yang terselubung, yang lebih mirip dengan ajaran yang Alkitabiah / Injili, tentu lebih berbahaya dari pada Liberalisme yang terang-terangan, yang terlihat pertentangannya secara menyolok dengan ajaran yang Alkitabiah / Injili.

 

C) Pandangan Neo-Orthodox.

 

Tokoh dari pandangan ini adalah Karl Barth, yang mengajar / beranggapan bahwa Kitab Suci menjadi / adalah Firman Allah, kalau Allah memakainya untuk berbicara kepada kita (atau, kalau kita merasakan Allah berbicara kepada kita melalui FirmanNya). Tetapi kalau Allah tidak memakainya untuk berbicara kepada kita (atau, kalau kita tidak merasakan bahwa Allah berbicara kepada kita melalui FirmanNya), maka Kitab Suci bukanlah Firman Allah. Jadi Kitab Suci adalah Firman Allah secara subyektif, bukan secara obyektif.

 

Ini jelas juga merupakan ajaran yang sesat, karena kalau demikian, Firman Allah tidak bisa menghakimi manusia pada akhir jaman (bdk. Yoh 12:47-48  Ro 2:12), karena manusia yang tidak merasa bahwa Allah menegur dosanya, sebetulnya tidak pernah menerima teguran dari Firman Allah.

 

Yoh 12:47-48 - (47) Dan jikalau seorang mendengar perkataanKu, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. (48) Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataanKu, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman..

 

Ro 2:12 - Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat..

 

D) Pandangan Orthodox.

 

Kitab Suci adalah Firman Allah secara obyektif. Jadi, apakah Kitab Suci itu diberitakan atau tidak, didengar oleh manusia atau tidak (bdk. Yeh 2:4-7), dimengerti atau tidak, ditaati atau tidak, Kitab Suci tetap adalah Firman Allah.

 

Yeh 2:4-7 - “(4) Kepada keturunan inilah, yang keras kepala dan tegar hati, Aku mengutus engkau dan harus kaukatakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH. (5) Dan baik mereka mendengarkan atau tidak - sebab mereka adalah kaum pemberontak - mereka akan mengetahui bahwa seorang nabi ada di tengah-tengah mereka. (6) Dan engkau, anak manusia, janganlah takut melihat mereka maupun mendengarkan kata-katanya, biarpun engkau di tengah-tengah onak dan duri dan engkau tinggal dekat kalajengking. Janganlah takut mendengarkan kata-kata mereka dan janganlah gentar melihat mukanya, sebab mereka adalah kaum pemberontak. (7) Sampaikanlah perkataan-perkataanKu kepada mereka, baik mereka mau mendengarkan atau tidak, sebab mereka adalah pemberontak.”.

 

Dan pada waktu manusia mendengar pemberitaan Kitab Suci, apakah ia merasakan Allah menggunakannya untuk berbicara kepadanya atau tidak, Kitab Suci itu tetap adalah Firman Allah. Inilah pandangan yang benar yang harus kita terima.

 

II) Bukti bahwa Alkitab adalah Firman Allah.

 

A) Pengakuan dari dalam Alkitab sendiri.

 

1)   Dalam Alkitab berulang-ulang dikatakan ‘Allah / Tuhan berfirman’.

 

Contoh:

 

Yer 1:2,4,7 - “(2) Dalam zaman Yosia bin Amon, raja Yehuda, dalam tahun yang ketiga belas dari pemerintahannya datanglah firman TUHAN kepada Yeremia. ... (4) Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: ... (7) Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: ‘Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.”.

 

2)   Dalam Alkitab berulangkali dikatakan bahwa Allah menyuruh orang menuliskan FirmanNya.

 

Contoh:

 

a)   Kel 34:27 - “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Tuliskanlah segala firman ini, sebab berdasarkan firman ini telah Kuadakan perjanjian dengan engkau dan dengan Israel.’”.

 

b)   Yer 30:1-2 - “(1) Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, bunyinya: (2) ‘Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tuliskanlah segala perkataan yang telah Kufirmankan kepadamu itu dalam suatu kitab.”.

 

c)   Yer 36:2-4,28,32 - “(2) ‘Ambillah kitab gulungan dan tulislah di dalamnya segala perkataan yang telah Kufirmankan kepadamu mengenai Israel, Yehuda dan segala bangsa, dari sejak Aku berbicara kepadamu, yakni dari sejak zaman Yosia, sampai waktu ini. (3) Mungkin apabila kaum Yehuda mendengar tentang segala malapetaka yang Aku rancangkan hendak mendatangkannya kepada mereka, maka mereka masing-masing akan bertobat dari tingkah langkahnya yang jahat itu, sehingga Aku mengampuni kesalahan dan dosa mereka.’ (4) Jadi Yeremia memanggil Barukh bin Neria, lalu Barukh menuliskan dalam kitab gulungan itu langsung dari mulut Yeremia segala perkataan yang telah difirmankan TUHAN kepadanya. ... (28) ‘Ambil pulalah gulungan lain, tuliskanlah di dalamnya segala perkataan yang semula ada di dalam gulungan yang pertama yang dibakar oleh Yoyakim, raja Yehuda. ... (32) Maka Yeremia mengambil gulungan lain dan memberikannya kepada juru tulis Barukh bin Neria yang menuliskan di dalamnya langsung dari mulut Yeremia segala perkataan yang ada di dalam kitab yang telah dibakar Yoyakim, raja Yehuda dalam api itu. Lagipula masih ditambahi dengan banyak perkataan seperti itu.”.

 

d)   Wah 1:11,19 - “(11) katanya: ‘Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia.’ ... (19) Karena itu tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini.”.

 

3)   Ro 3:1-2 secara jelas menyebutkan bahwa Alkitab (Perjanjian Lama) adalah Firman Allah (yang dipercayakan kepada orang Israel / Yahudi).

 

Ro 3:1-2 - “(1) Jika demikian, apakah kelebihan orang Yahudi dan apakah gunanya sunat? (2) Banyak sekali, dan di dalam segala hal. Pertama-tama: sebab kepada merekalah dipercayakan firman Allah.”.

 

Text ini menunjukkan bahwa Perjanjian Baru mengakui Perjanjian Lama sebagai Firman Allah.

 

4)   Kata-kata nabi / penulis Perjanjian Lama dianggap sebagai kata-kata Tuhan / Roh Kudus.

 

Contoh:

 

a)   Bandingkan Yes 7:13-14 dengan Mat 1:22-23.

 

Yes 7:13-14 - “(13) Lalu berkatalah nabi Yesaya: ‘Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? (14) Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.”.

 

Mat 1:22-23 - “(22) Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: (23) ‘Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel’ - yang berarti: Allah menyertai kita.”.

 

Mat 1:23 jelas merupakan kutipan dari Yes 7:14, tetapi kalau dalam Yes 7:13 dikatakan bahwa itu merupakan kata-kata nabi Yesaya, maka dalam Mat 1:22 dikatakan bahwa itu difirmankan Tuhan oleh / melalui nabi (Yesaya).

 

b)   Bandingkan Maz 95:7b-9 dengan Ibr 3:7-9.

 

Maz 95:7b-9 - “(7b) Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suaraNya! (8) Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, (9) pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatanKu.”.

 

Ibr 3:7-9 - “(7) Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: ‘Pada hari ini, jika kamu mendengar suaraNya, (8) janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun, (9) di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatanKu, empat puluh tahun lamanya.”.

 

Ibr 3:7 ini jelas mengutip kata-kata dalam Maz 95:7b. Tetapi kata-kata pemazmur itu dikatakan oleh Ibr 3:7 sebagai ‘dikatakan Roh Kudus’.

 

B) Bukti-bukti lain.

 

1)   Alkitab bisa bersatu dan harmonis, padahal Alkitab ditulis dalam jangka waktu 1500-1600 tahun, oleh kurang lebih 40 orang, yang:

 

a)   Hidup pada jaman yang berbeda.

Memang ada yang hidup sejaman, seperti Matius dengan Yohanes. Tetapi banyak juga yang hidup pada jaman yang berbeda seperti Musa, Daud, Yohanes, dan sebagainya.

 

b)   Mempunyai latar belakang yang berbeda (ada yang petani, gembala, nabi, nelayan, raja, dsb).

 

c)   Banyak yang tidak kenal satu sama lain.

 

Sekarang pikirkan: bagaimana mungkin 40 penulis ini, yang hidup pada jaman berbeda, dengan latar belakang yang berbeda dan banyak yang tidak saling mengenal, bisa menuliskan kitab-kitab, yang lalu bisa bersatu dan harmonis seperti Kitab Suci kita?

 

Illustrasi: Kalau saya memberikan 40 buku kepada 40 orang dan menyuruh mereka menuliskan suatu karangan sesuka hati mereka, maka hasilnya pasti tidak akan bisa dikumpulkan menjadi satu buku. Mengapa? Karena isinya pasti akan bertentangan satu sama lain, atau sama sekali tidak berhubungan satu sama lain.

Tetapi akan lain ceritanya kalau saya mengontrol / mengarahkan 40 orang itu, misalnya dengan menyuruh si A mengarang tentang mata manusia, si B tentang telinga manusia, si C tentang jantung manusia, si D tentang paru-paru manusia dst, maka besar kemungkinan hasilnya bisa dibukukan menjadi satu, menjadi buku biologi.

 

Jadi, kalau hasil dari 40 penulis Alkitab itu bisa dibukukan menjadi suatu buku yang bersatu dan harmonis, maka pastilah ada ‘Satu Orang’ yang menguasai / mengontrol dan mengarahkan ke 40 penulis tersebut. Dan siapakah yang bisa menguasai / mengontrol dan mengarahkan 40 orang yang hidup dalam jangka waktu 1500-1600 tahun? Hanya ada ‘Satu Orang’ yang  bisa melakukan hal itu, dan itu adalah Allah sendiri.

 

2)   Alkitab tidak bisa habis dipelajari.

Kalau saudara mempelajari buku lain, bagaimanapun tebalnya buku itu, maka pada suatu saat buku itu akan habis dipelajari dan saudara tidak akan bisa menambah pengetahuan apa-apa lagi dari buku itu. Tetapi Alkitab sudah dipelajari oleh jutaan manusia selama ribuan tahun, dan tidak ada seorangpun yang bisa tamat belajar Alkitab!

 

Ada yang mengatakan bahwa kalau buku lain itu seperti bak, yang sekalipun besar, tetapi kalau terus diambili airnya, maka airnya akan habis. Tetapi Alkitab seperti sebuah sumber, yang sekalipun terus diambili airnya, tidak akan pernah habis.

 

Kalau saudara belajar Alkitab, sekalipun makin lama saudara akan makin banyak mengerti tentang Alkitab, tetapi anehnya saudara akan melihat bahwa makin banyak juga hal-hal yang belum saudara mengerti tentang Alkitab.

 

Ini menunjukkan:

a)   Alkitab merupakan buku yang aneh sendirian, karena Alkitab adalah Firman Allah.

b)   Manusia tidak bisa mempelajari Alkitab secara tuntas, apalagi mengarangnya!

 

3)   Semua nubuat / ramalan dalam Alkitab terjadi dengan tepat.

 

Manusia bisa meramal dengan:

a)   Ilmu pengetahuan.

Misalnya: ramalan cuaca, ramalan akan terjadinya gerhana, ramalan dari dokter tentang umur seseorang (yang sudah sakit berat).

b)   Kuasa gelap.

Ini macamnya banyak sekali, seperti penggunaan jailangkung, cucing, ramalan dengan melihat garis tangan (guamia), dsb.

 

Tetapi ramalan-ramalan itu pasti kadang-kadang meleset. Ramalan dengan menggunakan ilmu pengetahuan sering meleset, baik sedikit atau banyak. Yang paling banyak meleset mungkin adalah ramalan cuaca! Saya sering mendengar ramalan yang diberikan melalui kuasa gelap, seperti jailangkung, dan saya tahu sendiri ada ramalan-ramalan yang tepat, tetapi saya juga tahu sendiri ada yang meleset!

 

Tetapi semua nubuat / ramalan dalam Kitab Suci terjadi dengan tepat.

 

Contoh:

 

1.   Yes 7:14 - “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.”.

 

Ada banyak ramalan murahan, yang memang kemungkinan untuk terjadi cukup besar. Misalnya kalau sekarang sedang musim hujan dan seseorang meramal nanti malam akan hujan. Atau seseorang yang meramal bahwa saudara akan mendapat problem dalam bulan ini. Ini banyak cocoknya, karena siapa yang bisa tidak mengalami problem dalam 1 bulan penuh?

 

Tetapi nubuat dalam Yes 7:14 ini sama sekali bukan ramalan murahan. Yesaya menubuatkan bahwa seorang perempuan muda (seharusnya ‘perawan’) akan mengandung dan sebagainya. Ini nubuat yang betul-betul tidak masuk akal, tetapi toh terjadi dengan tepat!

 

Bdk. Mat 1:20-23 - “(20) Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: ‘Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. (21) Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka.’ (22) Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: (23) ‘Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel’ - yang berarti: Allah menyertai kita.”.

 

Dan hebatnya nubuat ini diberikan sekitar 700 tahun sebelum kelahiran Kristus!

 

2.   Mikha 5:1 - “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagiKu seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.”.

 

Nabi Mikha menubuatkan tempat / kota kelahiran dari Kristus, juga pada sekitar 700 tahun sebelum kelahiran Kristus!

 

3.   Yes 53:3-7,9 - “(3) Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. (4) Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. (5) Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (6) Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. (7) Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. ... (9) Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya.”.

 

Bdk. Maz 22:2,8,9,16,17,19 - “(2) Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. ... (8) Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya: (9) ‘Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?’ ... (16) kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku. (17) Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku. ... (19) Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.”.

 

Dalam text dari Yes 53 dan Maz 22, penderitaan dan kematian Kristus dinubuatkan secara cukup terperinci, dan semua terjadi dengan tepat!

 

4.   Mat 24:2 - “Ia berkata kepada mereka: ‘Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak satu batupun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.’”.

 

Nubuat dari Yesus ini juga tidak masuk akal. Kalaupun ada gempa bumi dengan kekuatan 10 pada skala Richter, mungkinkah Bait Allah itu akan hancur sedemikian rupa sehingga tidak ada satu batu yang melekat pada batu yang lain? Rasanya tidak mungkin bukan? Tetapi ada orang yang mengatakan bahwa nubuat ini terjadi dengan tepat pada saat orang-orang Romawi menyerbu Yerusalem dan membakar Bait Allah. Lapisan emasnya meleleh dan masuk ke celah-celah batu, dan untuk mendapatkannya orang-orang lalu membelah batu-batu itu sehingga betul-betul tidak ada satu batu melekat pada batu yang lain!

 

Memang dalam Kitab Suci ada nubuat / ramalan yang belum terjadi, seperti nubuat tentang kedatangan Kristus untuk keduakalinya. Tetapi tidak ada satupun nubuat yang meleset.

 

Bandingkan 2 kelompok ayat di bawah ini:

 

1.   Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa hanya Allah yang bisa menubuatkan / meramalkan apa yang akan terjadi:

 

a.   Yes 41:26-27 - “(26) Siapakah yang memberitahukannya dari mulanya, sehingga kami mengetahuinya, dan dari dahulu, sehingga kami mengatakan: ‘Benarlah dia?’ Sungguh, tidak ada orang yang memberitahukannya, tidak ada orang yang mengabarkannya, tidak ada orang yang mendengar sepatah katapun dari padamu. (27) Sebagai yang pertama Aku memberitahukannya kepada Sion, dan Aku memberikan orang yang membawa kabar baik kepada Yerusalem.”.

 

b.   Yes 42:9 - “Nubuat-nubuat yang dahulu sekarang sudah menjadi kenyataan, hal-hal yang baru hendak Kuberitahukan. Sebelum hal-hal itu muncul, Aku mengabarkannya kepadamu.’”.

 

c.   Yes 43:12 - “Akulah yang memberitahukan, menyelamatkan dan mengabarkan, dan bukannya allah asing yang ada di antaramu. Kamulah saksi-saksiKu,’ demikianlah firman TUHAN, ‘dan Akulah Allah.”.

 

d.   Yes 45:21 - “Beritahukanlah dan kemukakanlah alasanmu, ya, biarlah mereka berunding bersama-sama: Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari padaKu! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!”.

 

e.   Yes 46:9-10 - “(9) Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, (10) yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan,”.

 

f.    Yes 48:5 - “maka Aku memberitahukannya kepadamu dari sejak dahulu; sebelum hal itu menjadi kenyataan, Aku mengabarkannya kepadamu, supaya jangan engkau berkata: Berhalaku yang melakukannya, patung pahatanku dan patung tuanganku yang memerintahkannya.”.

 

2.   Ayat-ayat dimana Allah menantang dewa-dewa / allah-allah lain / berhala-berhala dan nabi-nabi palsu mereka untuk menubuatkan / meramalkan apa yang akan terjadi:

 

a.   Yes 41:22-23 - “(22) Biarlah mereka maju dan memberitahukan kepada kami apa yang akan terjadi! Nubuat yang dahulu, beritahukanlah apa artinya, supaya kami memperhatikannya, atau hal-hal yang akan datang, kabarkanlah kepada kami, supaya kami mengetahui kesudahannya! (23) Beritahukanlah hal-hal yang akan datang kemudian, supaya kami mengetahui, bahwa kamu ini sungguh allah; bertindak sajalah, biar secara baik ataupun secara buruk, supaya kami bersama-sama tercengang melihatnya!”.

 

b.   Yes 43:9 - “Biarlah berhimpun bersama-sama segala bangsa-bangsa, dan biarlah berkumpul suku-suku bangsa! Siapakah di antara mereka yang dapat memberitahukan hal-hal ini, yang dapat mengabarkan kepada kita hal-hal yang dahulu? Biarlah mereka membawa saksi-saksinya, supaya mereka nyata benar; biarlah orang mendengarnya dan berkata: ‘Benar demikian!’”.

 

c.   Yes 44:7 - “Siapakah seperti Aku? Biarlah ia menyerukannya, biarlah ia memberitahukannya dan membentangkannya kepadaKu! Siapakah yang mengabarkan dari dahulu kala hal-hal yang akan datang? Apa yang akan tiba, biarlah mereka memberitahukannya kepada kami!”.

 

d.   Yes 45:21 - “Beritahukanlah dan kemukakanlah alasanmu, ya, biarlah mereka berunding bersama-sama: Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari padaKu! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!”.

 

e.   Yes 47:13-15 - “(13) Engkau telah payah karena banyaknya nasihat! Biarlah tampil dan menyelamatkan engkau orang-orang yang meneliti segala penjuru langit, yang menilik bintang-bintang dan yang pada setiap bulan baru memberitahukan apa yang akan terjadi atasmu! (14) Sesungguhnya, mereka sebagai jerami yang dibakar api; mereka tidak dapat melepaskan nyawanya dari kuasa nyala api; api itu bukan bara api untuk memanaskan diri, bukan api untuk berdiang! (15) Demikianlah faedahnya bagimu dari tukang-tukang jampi itu, yang telah kaurepotkan dari sejak kecilmu; masing-masing mereka terhuyung-huyung ke segala jurusan, tidak ada yang dapat menyelamatkan engkau.”.

 

f.    Yes 48:14 - “Berhimpunlah kamu sekalian dan dengarlah! Siapakah di antara mereka memberitahukan semuanya ini? Dia yang dikasihi TUHAN akan melaksanakan kehendak TUHAN terhadap Babel dan menunjukkan kekuatan tangan TUHAN kepada orang Kasdim.”.

 

Jelas bahwa hanya Tuhan yang bisa menubuatkan masa depan, berhala tidak bisa. Dan memang, Kitab Suci agama lain mana yang mempunyai nubuat-nubuat seperti dalam Kitab Suci kita? Kitab Suci agama lain dipenuhi dengan ajaran, tetapi tidak ada nubuat! Nubuat-nubuat yang digenapi secara sempurna dalam Kitab Suci kita ini, merupakan keunggulan Kitab Suci kita, dan membuktikan bahwa Kitab Suci kita memang adalah Firman Allah.

 

4)   Alkitab tahu bahwa bumi ini bulat, dan tidak disangga oleh tiang-tiang, jauh sebelum manusia mengetahuinya (Yes 40:22  Ayub 26:7).

 

Yes 40:22a - “Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi”.

 

Ayub 26:7 - “Allah membentangkan utara di atas kekosongan, dan menggantungkan bumi pada kehampaan.”.

 

Dulu manusia beranggapan bahwa bumi ini datar seperti meja. Manusia baru mengetahui bahwa bumi ini bulat pada abad 15, tepatnya pada tahun 1492 (Columbus). Tetapi hal itu ternyata sudah tertulis dalam Kitab Yesaya (abad 7 S.M., atau lebih dari 2000 tahun sebelum Columbus!), dan bahkan dalam kitab Ayub yang lebih kuno lagi sudah dikatakan bahwa bumi tidak digantung atau disangga tiang-tiang (sekelilingnya kosong)! Dari mana penulis-penulis Alkitab itu mengetahui hal itu? Pada saat itu tidak ada seorang manusiapun yang tahu tentang hal itu. Jelas bahwa mereka mengetahui hal itu dari Allah!

 

5)   Alkitab tetap terpelihara sampai sekarang padahal:

 

a)   Alkitab adalah buku yang paling kuno. Tidak ada buku yang setua Alkitab. Kitab Kejadian sudah berusia 3500 tahun!

 

b)   Banyak orang menyerang Alkitab untuk menghancurkannya.

Ada serangan yang bersifat fisik, yang menghancurkan manuscript-manuscript / naskah-naskah Alkitab, dan ada serangan yang berupa ajaran-ajaran sesat, yang menyerang ajaran-ajaran Alkitab, supaya manusia tidak mempercayainya. Tetapi ternyata, Alkitab tidak bisa musnah, sebaliknya makin populer!

 

Misalnya:

 

Seorang bernama Tom Paine menulis buku yang berjudul ‘The Age of Reason’ yang menyerang Alkitab, dan ia meramalkan bahwa bukunya akan laris di seluruh dunia sedangkan Alkitab hanya akan dijumpai di museum. Tetapi kenyataannya, sekarang Alkitab bisa dijumpai dimana-mana dan buku ‘The Age of Reason’ itu yang hanya bisa dijumpai di museum.

 

Mirip dengan itu, seorang yang bernama Voltaire mengatakan: 100 tahun setelah kematianku, Alkitab hanya akan ada di museum. Tetapi ternyata 100 tahun setelah kematiannya, tempat dimana ia mengucapkan kata-kata itu jatuh ke tangan ‘Geneva Bible Society’, dan ruangan itu diisi penuh dengan Alkitab dari lantai sampai langit-langitnya.

 

Tetap terpeliharanya dan makin tersebarnya Alkitab, sekalipun diserang selama ribuan tahun, menunjukkan secara jelas bahwa Allah melindungi buku karanganNya itu!

 

6)         Alkitab bisa ‘berbicara’ kepada kita!

Kesaksian:

 

a)   Pada waktu saya dipanggil Tuhan, keluarga saya mengatai saya sebagai gila, karena meninggalkan I.T.S. tingkat V untuk menjadi hamba Tuhan.

Ternyata pada saat teduh bersama dengan keluarga, ayat yang diambil oleh buku saat teduhnya adalah dari Kis 26:24.

 

Kis 26:24 - “Sementara Paulus mengemukakan semuanya itu untuk mempertanggung-jawabkan pekerjaannya, berkatalah Festus dengan suara keras: ‘Engkau gila, Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila.’”.

 

Dan lalu renungannya berkata: ‘Orang kristen sering dianggap gila oleh dunia, tetapi sebetulnya bukan orang kristen yang gila, tetapi dunialah yang gila’. Saya betul-betul terharu melihat bagaimana Tuhan berbicara membela saya melalui Alkitab / firmanNya!

 

b)   Yes 40:27-31  Yes 41:8-10 berbicara kepada saya pada waktu Sekolah Theologia di Amerika.

 

Pada saat itu saya baru di Amerika belum sampai 1 bulan, dan problem saya bukan main banyaknya. Satu teman saya menghibur saya dengan membacakan kedua text ini.

 

Yes 40:27-31 - “(27) Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: ‘Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?’ (28) Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertianNya. (29) Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. (30) Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, (31) tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”.

 

Yes 41:8-10 - “(8) Tetapi engkau, hai Israel, hambaKu, hai Yakub, yang telah Kupilih, keturunan Abraham, yang Kukasihi; (9) engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumi dan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu: ‘Engkau hambaKu, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau’; (10) janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kananKu yang membawa kemenangan.”.

 

Pada waktu teman saya itu membacakan ayat-ayat Kitab Suci ini, saya betul-betul merasa seolah-olah Tuhan ada di depan saya dan berbicara kepada saya. Kata-kata dari Alkitab itu sangat mengena, dan khususnya Yes 41:9a itu sangat cocok karena saya adalah orang Indonesia yang saat itu berada di Amerika. Dan selama 3 tahun saya sekolah di Amerika, berulang kali pada saat dalam penderitaan, saya membaca ulang text ini dan berulang kali juga Tuhan menghibur dan menguatkan saya. Ia memang berbicara menggunakan Alkitab yang adalah FirmanNya!

 

 

 

-bersambung-


 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : buas22@yahoo.com

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali