( 4 )
terhadap buku
Frans Donald
12)Pada hal 38-39 dikatakan sebagai berikut: “Rasul
Paulus juga ternyata memberikan kesaksian yang bisa cukup mengagetkan para
pendeta dan pastur yang terlanjur mengklaim Yesus sebagai Allah. Paulus, rasul
Kristus itu mengatakan bahwa Allah yang dia sembah adalah Allah (Sesembahan)
dari Yesus. The
God and Father of our Lord Jesus Christ,
artinya Allah dan Bapa dari Tu(h)an kita Yesus Kristus (Efesus 1:3). Tu(h)an
Yesus adalah penguasa, pemilik, dan majikan kita, tetapi dia masih memiliki
Sesembahan atau Allah. Di kitab dan pasal yang sama ayat ke-17 kembali Paulus
menegaskan bahwa Allah yang mereka sembah adalah the
God of our Lord Jesus Christ,
‘Allahnya pimpinan kita Yesus Kristus.’ Pada suatu kesempatan, ketika
Penulis mengungkapkan ayat-ayat tersebut pada seorang pendeta Kristen, maka
pendeta Kristen itu menjawab demikian, ‘Iya, memang pada saat Yesus menjadi
manusia di dunia dia memiliki Allah, tetapi ketika diSurga dia adalah Allah
sendiri!’ Di antara saudara-saudari umat Kristen, barangkali banyak juga yang
memiliki kesamaan pendapat seperti pendeta tersebut, merasa yakin bahwa saat di
dunia Yesus Kristus manusia biasa, tetapi setelah berada di Surga ia adalah
Allah sendiri. Adakah landasan Alkitabiah untuk pendapat ini? Dari penyelidikan
kami, argumentasi tersebut terbukti keliru. Alkitab jelas mencatat bahwa saat di
Surgapun Yesus bukanlah Allah (Yahweh). Ayat kuncinya ada di Wahyu 3:2,12. Latar
ayat ini menunjukkan Yesus sudah di Surga, lalu ia menyampaikan wahyu kepada
Rasul Yohanes, Yesus Kristus saat itu berkata:
Bangunlah,
dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak
satupun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan AllahKu.
Barangsiapa
menang, ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci AllahKu, dan ia
tidak akan keluar lagi dari situ; dan padanya akan Kutuliskan nama AllahKu,
nama kota AllahKu, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari AllahKu,
dan namaKu yang baru.
Dari kedua ayat tersebut jelas sekali bahwa ternyata Alkitab menyatakan bahwa Yesus bukan Allah sejati, karena ia memiliki Allah, bukan?”.
Tanggapan Pdt. Budi Asali, M. Div.:
a) Saya tidak mengerti dari mana Frans Donald mengatakan bahwa kata ‘Allah’ berarti ‘sesembahan’. Saya sendiri berpendapat bahwa kata ‘Allah’ menunjuk pada jenis makhluk. Sama seperti kalau kita adalah manusia, Gabriel dan Mikhael itu adalah malaikat, dan moppy / bleki adalah anjing, maka YAHWEH itu adalah Allah. Jadi, kalau Yesus menyebut YAHWEH dengan sebutan ‘AllahKu’, itu tak menunjukkan bahwa Ia sendiri lebih rendah dari Allah, atau bahwa Ia sendiri bukan Allah. Sebutan ‘AllahKu’ menunjukkan kedekatan antara Dia dengan Allah Bapa. Kalau seseorang tak percaya kepada Allah, ia tidak bisa menyebut YAHWEH dengan sebutan ‘Allahku’.
b) Biarpun Bapa tak menyebut Yesus dengan sebutan ‘AllahKu’, tetapi Ia menyebutNya ‘Ya Allah’, yang menurut saya tak terlalu berbeda.
Ibr 1:8 - “Tetapi tentang Anak Ia berkata: ‘TakhtaMu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanMu adalah tongkat kebenaran”.
Kata ‘tentang’ seharusnya lebih tepat diterjemahkan ‘kepada’ seperti dalam terjemahan KJV.
KJV: ‘But unto the Son he saith, Thy throne, O God, is for ever and ever’ (= Tetapi kepada Anak Ia berkata, ‘TakhtaMu, ya Allah, adalah untuk selama-lamanya).
Kalau Frans Donald mengartikan kata ‘Allah’ sebagai ‘sesembahan’, bagaimana ia menafsirkan Ibr 1:8 ini, dimana Allah Bapa menyebut Yesus dengan sebutan ‘ya sesembahan’?
c) Saya tidak tahu apakah Frans Donald mengatakan kebenaran atau sekedar membual pada waktu ia menceritakan tentang percakapannya dengan ‘pendeta kristen’ itu. Kalau itu betul-betul terjadi, maka jelas bahwa pendeta kristen itu ngawur, karena ia membedakan Yesus Kristus pada saat di dunia dan pada saat di surga.
Memang sebelum Anak Allah itu berinkarnasi, Ia hanya Allah saja; Ia adalah 100 % Allah, dan 0 % manusia. Tetapi sejak inkarnasi dan seterusnya, Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, atau 100 % Allah, dan 100 % manusia. Frans Donald sendiri, sama seperti Saksi-Saksi Yehuwa, berpandangan bahwa setelah kematian dan kebangkitanNya, Yesus kehilangan kemanusiaanNya. Ini salah! Apa dasarnya mengatakan bahwa itu salah?
1. Yesus mengambil hakekat manusia / kemanusiaan yang sama dengan kita, kecuali dalam hal dosa.
Ibr 2:14-17 - “(14) Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; (15) dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. (16) Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani. (17) Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa”.
Ia tidak perlu menjadi manusia yang berdosa baru bisa disebut manusia, karena dosa bukanlah hakekat dari manusia. Pada waktu Adam itu masih suci, ia sudah adalah manusia.
Sekarang, kalau Yesus menjadi manusia yang sama dengan kita, maka manusia Yesus itu haruslah kekal. Tentu bukan kekal ke belakang / masa lalu, karena kita juga tidak demikian. Ada saat dimana kita tidak ada. Demikian juga dengan manusia Yesus. Tetapi kita kekal ke depan / masa yang akan datang. Kalau kita mati, kita tidak musnah, tetapi hanya pindah tempat (surga atau neraka). Jadi, kalau manusia Yesus itu sama dengan kita, manusia Yesus itu juga harus kekal ke depan / masa yang akan datang. Jadi, kematian, kebangkitan, dan kenaikanNya ke surga, sama sekali tidak membuang kemanusiaanNya. TubuhNya memang dimuliakan pada saat bangkit dan naik ke surga, tetapi tetap tubuh, dan Ia tetap adalah Allah dan manusia sampai selama-lamanya! Dan bahkan nanti kalau Yesus datang kembali kedua-kalinya, Ia datang sebagai Allah dan manusia dalam 1 pribadi!
2. 1Tim 2:5 - “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus”.
Kapan ayat ini ditulis? Jelas setelah Yesus naik ke surga. Tetapi Paulus tetap menyebutNya sebagai ‘manusia Kristus Yesus’.
Karena itu, kalau pada saat hidup di dunia ini Yesus berulangkali menyebut Bapa dengan sebutan ‘AllahKu’, lalu apa salahnya tetap menyebutNya demikian setelah Ia naik ke surga?
13)
Pada hal 39 dikatakan sebagai berikut: “Marilah
kita selidiki pernyataan Alkitab yang mengungkapkan bahwa Yesus Kristus bukanlah
Allah sejati. Semua ayat Alkitab ini harus dibuka dan dibaca dengan teliti:”.
Frans
Donald lalu memberikan banyak ayat, dan penjelasan dari sudutnya (hal 39-40),
yang akan saya berikan dengan tanggapannya dari pihak saya, mulai dari point no
13 ini sampai no 20.
Frans
Donald berkata:
“Yohanes
12:49-50. Yesus dengan tegas menyatakan bahwa ‘Bapa’ yang mengutus Yesus,
Dialah yang memerintah Yesus. Jelas Bapa dan Yesus adalah dua entitas yang
terpisah”.
Tanggapan
Pdt. Budi Asali, M. Div.:
Yoh
12:49-50 - “(49) Sebab Aku berkata-kata bukan dari diriKu
sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku
untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. (50) Dan Aku
tahu, bahwa perintahNya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan,
Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepadaKu.’”.
a)
Frans Donald mengatakan bahwa text ini menunjukkan bahwa Bapa dan Yesus
adalah dua entitas yang terpisah.
Saya
kira kata ‘entitas’ yang ia gunakan berasal dari kata bahasa Inggris ‘entity’,
yang kalau dilihat dalam kamus Webster’s New World Dictionary diartikan
sebagai ‘being’
/ ‘existence’
(= keberadaan).
Saya
sendiri lebih senang menggunakan istilah yang lebih umum digunakan dalam
theologia Kristen tentang hal ini, yaitu istilah ‘person’
/ pribadi.
Jelas
bahwa Bapa dan Anak / Yesus memang merupakan 2 pribadi (karena Mereka bisa
saling mengasihi, bicara, mengutus), tetapi bukan 2 pribadi yang terpisah.
Mereka berbeda (distinct),
artinya Yesus bukan Bapa, dan Bapa bukan Yesus. Tetapi Mereka tidak terpisah.
Alasannya, karena dalam Yoh 10:30 Yesus berkata ‘Aku
dan Bapa adalah satu’.
Jadi Mereka memang 2 pribadi, tetapi hanya satu hakekat.
b)
Ketundukan bukan secara hakiki, tetapi demi keteraturan.
Boleh
dikatakan dalam semua bagian Kitab Suci dimana Yesus kelihatannya lebih rendah
dari Bapa, maka kita harus menganggap bahwa Yesus di sana ditinjau sebagai
manusia, atau sebagai Allah yang merendahkan diri, atau sebagai Pengantara.
Tetapi dalam bagian ini, dimana ditunjukkan bahwa Bapa mengutus Anak, kita tidak
boleh menafsirkan seperti itu! Mengapa? Karena dua alasan:
1.
Pada saat diutus, Yesus masih di surga, dan belum mempunyai kemanusiaan.
2.
Ada bagian-bagian Kitab Suci yang lain yang menunjukkan bahwa Bapa / Anak
mengutus Roh Kudus (Yoh 14:26 15:26
16:7). Ingat bahwa Roh Kudus tidak pernah menjadi manusia.
Lalu harus diartikan bagaimana? Dalam doktrin Allah Tritunggal ada ketundukan tertentu dari Anak kepada Bapa, dan dari Roh Kudus kepada Bapa dan Anak. Ini disebut dengan istilah ‘economic subordination’, yang menunjuk pada ‘ketundukan demi keteraturan’.
Ketundukan ini tidak menunjukkan bahwa secara hakiki (ditinjau dari hakekatNya) Yesus memang lebih rendah dari Bapa. Ketundukan ini ada demi keteraturan dalam pekerjaan dari Allah Tritunggal di luar diriNya.
Illustrasi: Ini bisa dianalogikan dengan suatu keluarga. Di hadapan Allah, dan dari sudut hakekat, sebetulnya ayah, ibu, dan anak-anak setara.
Bahwa laki-laki dan perempuan adalah setara dari sudut hakekat, terlihat dari kata Paulus dalam Gal 3:28 - “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus”.
Kata-kata ‘tidak ada laki-laki atau perempuan’ maksudnya, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam pandangan Allah.
Tetapi demi keteraturan dalam keluarga, maka Tuhan memberi peraturan bahwa ayah adalah kepala keluarga, istri harus tunduk kepada suami, dan anak-anak harus tunduk kepada orang tua (Ef 5:22 Ef 6:1).
Demikian juga dalam Allah Tritunggal. Bapa, Anak dan Roh Kudus betul-betul setara kalau ditinjau dari sudut hakekat, karena hakekat Mereka hanya satu. Tetapi dalam beroperasi, ada ketundukan dari pribadi yang satu kepada pribadi yang lain.
Loraine Boettner: “This subordination of the Son to the Father, and of the Spirit to the Father and the Son, relates not to their essential life within the Godhead, but only to their modes of operation or their division of labour in creation and redemption. This subordination of the Son to the Father, and of the Spirit to the Father and the Son, is not in any way inconsistent with true equality” (= Ketundukan dari Anak kepada Bapa, dan dari Roh kepada Bapa dan Anak, berhubungan bukan dengan kehidupan hakiki mereka dalam diri Allah, tetapi hanya dengan cara beroperasi / bekerja atau pembagian pekerjaan mereka dalam penciptaan dan penebusan. Ketundukan dari Anak kepada Bapa, dan dari Roh kepada Bapa dan nak ini, tidak bertentangan dengan cara apapun dengan kesetaraan yang benar / sungguh-sungguh) - ‘Studies in Theology’, hal 119.
14)
Frans Donald mengatakan (hal 39):
“Yohanes
14:28. Yesus mengatakan ‘Bapa’ (Allah/Yahweh) lebih besar daripada Yesus,
artinya Yesus tidak setara dengan Allah”.
Tanggapan
Pdt. Budi Asali, M. Div.:
Yoh 14:28
- “Kamu
telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang
kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita
karena Aku pergi kepada BapaKu, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku”.
Ayat
ini, bersama-sama dengan Mat 24:36, merupakan senjata-senjata favorit dari para
Unitarian dan Saksi-Saksi Yehuwa, untuk membuktikan bahwa Yesus bukanlah Allah.
Mat 24:36
- “Tetapi
tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga
tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri.’”.
Dalam
Yoh 14:28 Yesus sendiri secara explicit berkata bahwa BapaNya lebih
besar dari pada Dia, dan dalam Mat 24:36 Yesus berkata bahwa Ia tidak tahu
tentang saat tibanya hari Tuhan / hari kedatanganNya yang keduakalinya. Apakah
ini membuktikan bahwa Yesus bukanlah Allah? Tidak, karena:
a)
Baik Yoh 14:28 maupun Mat 24:36 adalah ayat-ayat yang menunjukkan
kemanusiaan Yesus, dan kita tidak boleh menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan
kemanusiaan Yesus untuk membuktikan bahwa Ia bukan Allah.
Baik
Unitarian maupun Saksi Yehuwa mempercayai bahwa pada waktu Yesus menjadi
manusia, Ia kehilangan keilahianNya / ke-malaikat-anNya, sehingga Ia hanya
seorang manusia saja. Tetapi kekristenan mempercayai bahwa pada saat Yesus
menjadi manusia, Ia sama sekali tidak kehilangan keilahianNya, sehingga setelah
inkarnasi dan seterusnya, Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh
manusia.
Karena
itu dalam Kitab Suci ada banyak ayat yang menunjukkan keilahian Yesus, dan juga
ada banyak ayat yang menunjukkan kemanusiaan Yesus. Kita tidak boleh menggunakan
ayat yang menunjukkan keilahian Yesus untuk membuktikan bahwa Ia bukan manusia,
dan sebaliknya, kita juga tidak boleh menggunakan ayat yang menunjukkan
kemanusiaan Yesus untuk membuktikan bahwa Ia bukan Allah.
Tetapi
inilah yang justru selalu dilakukan oleh Unitarian / Saksi-Saksi Yehuwa. Mereka
selalu menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan kemanusiaan Yesus untuk
membuktikan bahwa Yesus bukanlah Allah.
Saya
akan membuktikan / menunjukkan kesalahan dan kebodohan dari cara berargumentasi
seperti ini dengan menggunakan suatu illustrasi.
Illustrasi:
Saya adalah seorang pendeta, tetapi pada saat yang sama saya juga adalah seorang
olahragawan. Kadang-kadang saya memakai toga dan memimpin Perjamuan Kudus,
sehingga saya terlihat sebagai pendeta. Tetapi kadang-kadang saya memakai celana
pendek, kaos, dan sepatu olah raga, sehingga saya terlihat sebagai olahragawan.
Tidak ada orang (kecuali orang yang idiot) yang pada waktu melihat saya memakai
toga, menganggap itu sebagai bukti bahwa saya bukan olahragawan, dan sebaliknya,
pada waktu melihat saya memakai pakaian olah raga, menganggap itu sebagai bukti
bahwa saya bukan pendeta!
Analoginya,
karena Yesus adalah Allah dan manusia, maka kita tak boleh menggunakan ayat-ayat
yang menunjukkan keilahian Yesus untuk membuktikan bahwa Ia bukan manusia, atau
menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan kemanusiaan Yesus (seperti Yoh 14:28
dan Mat 24:36 ini) untuk membuktikan bahwa Ia bukan Allah!
Juga
dalam ayat-ayat dimana ditunjukkan bahwa:
·
Yesus
berdoa.
·
Yesus lelah,
makan, beristirahat.
·
Yesus mati /
bangkit.
·
Yesus
dicobai.
maka
Yesusnya harus ditinjau sebagai manusia, bukan sebagai Allah.
b)
Sebelum inkarnasi, Yesus adalah 1 pribadi dengan 1 hakekat / nature,
dan karenanya pada saat itu, Ia hanya mempunyai 1 kesadaran / pikiran, yaitu
pikiran illahi.
Pada
waktu berinkarnasi Yesus mengambil human nature (= hakekat manusia)
sehingga Ia lalu menjadi 1 pribadi dengan 2 hakekat (hakekat manusia &
hakekat illahi). Karena itu, sejak inkarnasi Ia mempunyai 2 macam kesadaran /
pikiran, yaitu pikiran illahi dan pikiran manusia. Tetapi hanya salah satu saja
dari 2 pikiran / kesadaran itu yang timbul.
Kalau
pikiran illahi yang timbul, Ia berkata-kata sebagai Allah, sedangkan kalau
pikiran manusia yang timbul, Ia berkata-kata sebagai manusia. Kalau pikiran
ilahiNya yang timbul, Ia menjadi mahatahu; dan sebaliknya, kalau pikiran
manusiaNya yang timbul, Ia tidak mahatahu.
Baik
dalam Yoh 14:28 maupun Mat 24:36, yang timbul adalah pikiran
manusiaNya. Pada saat pikiran illahiNya yang timbul, Ia menyejajarkan diriNya
dengan Allah BapaNya (Yoh 10:30 dan Yoh 14:7-11), dan Ia menjadi
mahatahu (Mat 9:4 Mat 12:25
Yoh 2:24-25 Yoh 6:64).
15)
Frans Donald mengatakan (hal 39):
“Yohanes
17:3. Yesus dengan tegas mengatakan bahwa untuk bisa hidup kekal, manusia (kita)
harus ‘mengenal satu-satunya Allah yang
benar’ dan mengenal Yesus yang diutus Allah. Jadi untuk hidup kekal
tidak cukup hanya mengenal Allah saja, ataupun mengenal Yesus saja, tetapi harus
kenal keduanya, yaitu Allah yang benar (Yahweh) dan mengenal Yesus, utusan
Allah”.
Tanggapan
Pdt. Budi Asali, M. Div.:
Yoh 17:3
- “Inilah
hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah
yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus”.
Ini
juga merupakan salah satu ayat favorit dari Unitarian / Saksi-Saksi Yehuwa untuk
menyerang keilahian Kristus (dan sekaligus doktrin Allah Tritunggal), karena
dalam ayat ini Yesus berdoa / berbicara kepada Bapa, dan menyebut Bapa sebagai ‘satu-satunya
Allah yang benar’.
Mereka menganggap bahwa ayat ini membuktikan bahwa Yesus bukan Allah. Tetapi ini
lagi-lagi tidak benar.
a)
Calvin menganggap bahwa dalam ayat ini Yesus berbicara sebagai Allah yang
merendahkan diri menjadi Pengantara antara Allah dan manusia.
John
Calvin: “‘This
is eternal life, that they believe thee to be the one true God, and Jesus Christ
whom thou hast sent’ (John 17:3p.). For speaking in the person of the
Mediator, he holds a middle rank between God and man; yet his majesty is not
on this account diminished. For even though he emptied himself (Phil. 2:7), he
lost not his glory with the Father which was hidden to the world. Thus the
apostle in Heb., ch. 2, although he admits that Christ was for a short time
abased beneath the angels (vs. 7,9), does not hesitate at the same time to
declare him to be the everlasting God who founded the earth (ch. 1:10).
Therefore we must hold that, as often as Christ in this person of Mediator
addresses God, under this name of God is included his deity, which is also
Christ’s. ... to restrict the name ‘God’ to the Father, to the
exclusion of the Son, is neither lawful nor right”
[= Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya
Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus’ (Yoh
17:3). Karena berbicara dalam diri dari Pengantara, Ia mempunyai kedudukan di
tengah di antara Allah dan manusia; tetapi keagungan / kuasaNya tidak
berkurang karena hal ini. Karena sekalipun Ia mengosongkan diriNya sendiri (Fil 2:7),
Ia tidak kehilangan kemuliaanNya dengan Bapa yang disembunyikan dari dunia.
Karena itu, sang rasul dalam Ibr 2, sekalipun mengakui bahwa Kristus untuk waktu
yang singkat direndahkan di bawah malaikat-malaikat (ay 7,9), pada saat
yang sama tidak ragu-ragu untuk menyatakan Dia sebagai Allah yang kekal, yang
meletakkan dasar bumi (Ibr 1:10). Karena itu kita harus mempercayai bahwa, sesering
Kristus dalam diri dari Pengantara membicarakan Allah, di bawah nama / kata
Allah ini tercakup keilahianNya, yang juga adalah milik Kristus. ... membatasi
nama ‘Allah’ untuk Bapa, dan mengeluarkan Anak (tidak
mencakup Anak dalam istilah itu), adalah tidak sah dan tidak benar]
- ‘Institutes of
the Christian Religion’, Book I, Chapter XIII, no 26.
b)
Yoh 17:3 di atas tidak boleh ditafsirkan bertentangan dengan ayat
Kitab Suci yang lain, dan 1Yoh 5:20 mengatakan bahwa Yesus adalah ‘Allah
yang benar’.
1Yoh 5:20
- “Akan
tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan
pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam
Yang Benar, di dalam AnakNya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar
dan hidup yang kekal”.
Jadi,
kita tidak boleh menafsirkan kata-kata ‘satu-satunya
Allah yang benar’
dalam Yoh 17:3 itu sehingga berarti bahwa ‘Yesus
bukan Allah yang benar’.
c)
Pernyataan-pernyataan bahwa Allah itu esa / satu dalam Kitab Suci,
bertujuan:
1.
Untuk menentang polytheisme, bukan menentang keilahian Kristus (atau Roh
Kudus), atau doktrin Allah Tritunggal.
Kalau
Kitab Suci mengatakan bahwa Allah itu satu / esa, maka tujuannya adalah
menentang polytheisme (= kepercayaan kepada banyak allah / dewa), bukan untuk
menentang keilahian Kristus (ataupun doktrin Allah Tritunggal). Saya percaya
bahwa ini bukan hanya berlaku untuk Yoh 17:3 ini tetapi juga untuk semua
ayat lain yang menunjukkan bahwa Allah itu esa, seperti Ul 6:4, 1Kor 8:4,6
1Tim 2:5, Yak 2:19, dsb. Perlu diingat bahwa pada jaman itu semua agama
lain di luar Kristen dan Yudaisme, menganut polytheisme.
Bahwa
kata-kata ‘Allah itu esa / satu’ dalam Kitab Suci ditujukan untuk menentang
polytheisme, terlihat dari:
·
Ul 6:4
yang menyatakan bahwa TUHAN itu esa, disusul oleh Ul 6:14-15 - “(14)
Janganlah kamu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa
sekelilingmu, (15) sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu di
tengah-tengahmu, supaya jangan bangkit murka TUHAN, Allahmu, terhadap engkau,
sehingga Ia memunahkan engkau dari muka bumi”.
·
1Kor 8:4-6 -
“(4)
Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: ‘tidak ada berhala
di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa.’ (5) Sebab
sungguhpun ada apa yang disebut ‘allah’, baik di sorga, maupun di bumi - dan
memang benar ada banyak ‘allah’ dan banyak ‘tuhan’ yang demikian - (6)
namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari padaNya berasal
segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus
Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita
hidup”.
Ay 4
sudah mengkontraskan antara ‘berhala’ dan ‘tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa’.
Kontras itu lebih ditekankan lagi dalam ay 5-6, karena ay 5 berbicara
tentang berhala (yang disebut ‘tuhan’ atau ‘allah’ oleh banyak orang), sedangkan ay 6
berbicara tentang satu Allah dan satu Tuhan.
Adam
Clarke memberikan komentar tentang Yoh 17:3 ini dengan kata-kata sebagai
berikut: “What is said here of ‘the only true
God’ seems said in opposition to the gods whom the heathens worshipped; not in
opposition to Jesus Christ himself, who is called the true God by John, in 1
Epist. 5:20.” (= Apa yang dikatakan di sini tentang
‘satu-satunya Allah yang benar’ kelihatannya dikatakan untuk
mempertentangkan dengan allah-allah / dewa-dewa yang disembah oleh orang-orang
kafir; bukan untuk mempertentangkan dengan Yesus Kristus sendiri, yang disebut
‘Allah yang benar’ oleh Yohanes, dalam 1Yoh 5:20)
- hal 637.
2. Untuk menyatakan bahwa hakekat Allah hanya satu, bukan bahwa pribadi Allah hanya satu.
John Calvin: “when we hear ‘one’ we ought to understand ‘unity of substance’; when we hear ‘three in one essence,’ the persons in this trinity are meant” (= pada waktu kita mendengar ‘satu’ kita harus mengerti / menafsirkannya sebagai ‘kesatuan zat’; pada waktu kita mendengar ‘tiga dalam satu hakekat’, maka pribadi-pribadi dalam Tritunggal ini yang dimaksudkan) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XIII, no 5.
Mengapa kita harus menafsirkan seperti ini? Karena dalam Kitab Suci ada banyak hal yang menyatakan adanya kejamakan dalam diri Allah.
16)
Frans Donald mengatakan (hal 39):
“Yohanes 20:17. Di ayat ini sangat tegas, gamblang, dan jelas sekali Yesus menyatakan Bapanya adalah juga Bapa kita, Allahnya juga Allah kita. Yesus punya Bapa, Yesus punya Allah, jelas Yesus bukan Allah, sang Bapa atau Yahweh itu sendiri. memang Yesus sangat disayangi Allah (Yahweh) dan Yesus diangkat sebagai Anak yang sulung dan diberi kuasa (roh kudus) dan otoritas Allah (Matius 28:18), tetapi Yesus tetap bukan Allah”.
Tanggapan Pdt. Budi Asali, M. Div.:
Yoh 20:17 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudaraKu dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada BapaKu dan Bapamu, kepada AllahKu dan Allahmu.’”.
a) Kalau Frans Donald mengatakan bahwa Yesus bukan Bapa, maka saya setuju. Seperti sudah saya katakan, Mereka adalah dua pribadi, tetapi hanya satu hakekat.
b) Tetapi kalau dikatakan bahwa Yesus bukan Allah, lalu bagaimana dengan banyak ayat yang menunjukkan secara explicit bahwa Yesus adalah Allah? Itu sudah saya berikan pada pembahasan no 10 di atas, dan tidak akan saya ulang di sini.
c) Juga kalau Yesus dianggap oleh Frans Donald sebagai bukan Yahweh, lalu bagaimana dengan Yer 23:5-6?
Yer 23:5-6 - “(5) Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. (6) Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN (YAHWEH) - keadilan kita”.
Pertama-tama perlu diketahui bahwa text Perjanjian Lama ini merupakan nubuat tentang Yesus / Mesias. Bahwa ayat ini merupakan suatu nubuat tentang Yesus / Mesias, terlihat dari:
1. Gelar ‘Tunas adil bagi Daud’ dalam ay 5nya.
Bahwa gelar ini menunjuk kepada Yesus terlihat dengan jelas kalau kita membandingkannya dengan:
· Yes 4:2 - “Pada waktu itu tunas yang ditumbuhkan TUHAN akan menjadi kepermaian dan kemuliaan, dan hasil tanah menjadi kebanggaan dan kehormatan bagi orang-orang Israel yang terluput”. Baca kelanjutan dari ayat ini dan saudara akan melihat bahwa ayat ini merupakan nubuat tentang Mesias / Yesus.
· Yes 6:13 - “Dan jika di situ masih tinggal sepersepuluh dari mereka, mereka harus sekali lagi ditimpa kebinasaan, namun keadaannya akan seperti pohon beringin dan pohon jawi-jawi yang tunggulnya tinggal berdiri pada waktu ditebang. Dan dari tunggul itulah akan keluar tunas yang kudus!’”.
· Yes 11:1-3 - “(1) Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. (2) Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; (3) ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang”.
· Yes 53:2 - “Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya”. Baca kelanjutan dari ayat ini dan saudara akan melihat bahwa ayat ini merupakan nubuat tentang Mesias / Yesus.
· Zakh 3:8 - “Dengarkanlah, hai imam besar Yosua! Engkau dan teman-temanmu yang duduk di hadapanmu - sungguh kamu merupakan suatu lambang. Sebab, sesungguhnya Aku akan mendatangkan hambaKu, yakni Sang Tunas”.
· Zakh 6:12 - “katakanlah kepadanya: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Inilah orang yang bernama Tunas. Ia akan bertunas dari tempatnya dan ia akan mendirikan bait TUHAN”.
· Wah 5:5 - “Lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku: ‘Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya.’”. Baca kontext dari ayat ini dan saudara akan melihat bahwa ayat ini berbicara tentang Yesus. Juga gelar ‘singa Yehuda’ merupakan gelar dari Yesus (bdk. Kej 49:9-10).
· Wah 22:16 - “‘Aku, Yesus, telah mengutus malaikatKu untuk memberi kesaksian tentang semuanya ini kepadamu bagi jemaat-jemaat. Aku adalah tunas, yaitu keturunan Daud, bintang timur yang gilang-gemilang.’”.
2. Text itu mengatakan bahwa Ia akan menjadi raja yang bijaksana (ay 5b), dan dalam jamannya Yehuda akan dibebaskan, dsb (ay 6).
Kalau ini tidak menunjuk kepada Yesus, lalu menunjuk kepada siapa?
Kalau kita sudah tahu / yakin bahwa Yer 23:5-6 ini merupakan nubuat tentang Yesus, maka sekarang perhatikan bagian akhir dari text itu, dimana Yesus disebut sebagai ‘TUHAN keadilan’, dimana kata ‘TUHAN’ tersebut dalam bahasa Ibraninya adalah YAHWEH (sebetulnya YHWH).
Catatan: Perlu diketahui bahwa dalam Perjanjian Lama, kata ‘Tuhan’ berasal dari kata bahasa Ibrani ADONAY, sedangkan kata ‘TUHAN’ (semua dalam huruf besar) berasal dari kata bahasa Ibrani YAHWEH.
Perlu diketahui bahwa dalam Kitab Suci istilah bahasa Ibrani ‘ADONAY’ (= Tuhan / Lord) bisa digunakan untuk seseorang yang bukan Allah (Misalnya dalam Yes 21:8). Demikian juga dengan istilah bahasa Ibrani ‘ELOHIM’ [= Allah / God(s)], atau istilah bahasa Yunani ‘THEOS’ (= Allah), atau istilah bahasa Yunani ‘KURIOS’ (= Tuhan), bisa digunakan untuk menunjuk kepada dewa dan bahkan manusia dan setan (Misalnya: Kel 4:16 Kel 7:1 Kel 12:12 Kel 20:3,23 Hakim 16:23-24 1Raja 18:27 Maz 82:1,6 Kis 28:6 2Kor 4:4).
Tetapi
sebutan ‘YAHWEH’ (= TUHAN / LORD) tidak pernah digunakan untuk
makhluk lain selain Allah, karena YAHWEH adalah nama dari Allah!
Maz 83:19
- “supaya
mereka tahu bahwa Engkau sajalah yang bernama TUHAN, Yang Mahatinggi atas
seluruh bumi”.
NIV: ‘Let them know that you, whose name is the
LORD - that you alone are the Most High over all the earth’
(= Biarlah mereka mengetahui bahwa Engkau, yang namaNya adalah TUHAN - bahwa
Engkau saja adalah Yang Maha Tinggi atas seluruh bumi).
Tetapi
KJV/RSV/NASB menterjemahkan seperti Kitab Suci Indonesia.
KJV:
‘That men may know that thou, whose
name alone is JEHOVAH, art the most high over all the earth’
(= Supaya manusia bisa mengetahui bahwa Engkau sendiri yang namaNya adalah
Yehovah, adalah yang maha tinggi atas seluruh bumi).
RSV:
‘Let them know that thou alone, whose
name is the LORD, art the Most High over all the earth’
(= Biarlah mereka mengetahui bahwa Engkau saja, yang namanya adalah TUHAN,
adalah Yang Maha Tinggi atas seluruh bumi).
NASB: ‘That they may know that Thou alone, whose
name is the LORD, Art the Most High over all the earth’
(= Supaya mereka bisa mengetahui bahwa Engkau saja, yang namanya adalah TUHAN,
adalah Yang Maha Tinggi atas seluruh bumi).
C. H. Spurgeon:
“‘Jehovah’ is the incommunicable name
of God, and is never attributed to any but God” (= ‘Yehovah’ adalah nama Allah yang tidak bisa
diberikan, dan tidak pernah diberikan kepada yang lain kecuali Allah)
- ‘The Treasury of David’, vol 2, hal 430.
Herman Bavinck: “God’s ‘proper name par excellence’ is Jehovah: Ex. 15:3; Ps. 83:19; Hos 12:6; Is. 42:8. This name is, therefore, not used of any other than Israel’s God” (= Nama Allah yang sungguh-sungguh yang paling menonjol adalah Yehovah: Kel 15:3; Maz 83:19; Hos 12:6; Yes 42:8. Karena itu, nama ini tidak digunakan untuk yang lain dari Allah Israel) - ‘The Doctrine of God’, hal 107.
Louis Berkhof: “It is especially in the name Yahweh, which gradually supplanted earlier names, that God reveals Himself as the God of grace. It has always been regarded as the most sacred and the most distinctive name of God, the incommunicable name” (= Khususnya dengan nama Yahweh inilah, yang perlahan-lahan menggantikan nama-nama yang lebih awal, Allah menyatakan diriNya sendiri sebagai Allah kasih karunia. Nama itu selalu dianggap sebagai nama Allah yang paling keramat dan paling khusus / tersendiri, nama yang tidak bisa diberikan) - ‘Systematic Theology’, hal 49.
Dalam tafsirannya tentang nama YAHWEH dalam Yes 42:8, Albert Barnes mengatakan: “It is a name which is given to none but the true God, and which is everywhere in the Scriptures used to distinguish him from all others” (= Ini adalah nama yang tidak diberikan kepada siapapun kecuali Allah yang benar, dan yang dimana-mana dalam Kitab Suci digunakan untuk membedakan Dia dari semua yang lain) - hal 103.
Karena
itu, kalau dalam Yer 23:5-6 Yesus disebut dengan sebutan YAHWEH, maka
tidak bisa tidak hal ini menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah sendiri!
Charles
Haddon Spurgeon: “Jesus
Christ is the Lord our righteousness. There are but three words, ‘JEHOVAH,’
- for so it is in the original, - ‘OUR RIGHTEOUSNESS.’ He is Jehovah. Read
that verse, and you will clearly perceive that the Messias of the Jews, Jesus of
Nazareth the Saviour of the Gentiles, is certainly Jehovah. He hath the
incommunicable title of the Most High God. ... Oh, ye Arians and Socinians,
who monstrously deny the Lord who bought you and put him to open shame by
denying his divinity, read you that verse and let your blasphemous tongues be
silent, and let your obdurate hearts melt in penitence because ye have so foully
sinned against him. He is Jehovah, or, mark you, the whole of God’s word is
false, and there is no ground whatever for a sinner’s hope” (= Yesus Kristus adalah TUHAN kebenaran kita. Di sana ada tiga kata,
‘Yehovah’, - karena demikianlah dalam bahasa aslinya, - ‘Kebenaran
kita’. Ia adalah Yehovah. Bacalah ayat ini, dan engkau akan dengan jelas
mengerti bahwa Mesias dari orang-orang Yahudi, Yesus dari Nazaret, Juruselamat
dari orang-orang non Yahudi, jelas adalah Yehovah. Ia mempunyai gelar dari Allah
Yang Maha Tinggi yang tidak bisa diberikan kepada yang lain. ... O, kamu
penganut-penganut Arianisme dan Socinianisme, yang dengan hebat menyangkal Tuhan
yang membelimu dan mempermalukan Dia dengan menyangkal keilahianNya, bacalah
ayat itu dan hendaklah lidah-lidah penghujatmu diam, dan hendaklah hati-hatimu
yang bandel mencair dalam penyesalan karena kamu sudah berdosa dengan begitu
busuk / kotor terhadap Dia. Ia adalah Yehovah, atau, perhatikanlah, seluruh
firman Allah adalah salah, dan di sana tidak ada dasar apapun untuk pengharapan
orang berdosa)
- ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol 2,
hal 216.
d) Juga kalau Frans Donald mengatakan bahwa ‘Yesus diangkat sebagai Anak yang sulung’, itu jelas salah / sesat.
Mengapa? Karena Yesus adalah Anak yang kekal dari Allah. Karena itu tidak mungkin ada saat dimana Ia bukan Anak / belum menjadi Anak, dan juga tidak ada saat dimana Ia diangkat sebagai Anak Allah. Kalau ada saat dimana Ia diangkat sebagai Anak Allah, lalu apakah adanya Dia sebelum diangkat? Anak Setan?
Pada saat diutus, dimana Ia masih di surga, Ia sudah adalah Anak.
Gal 4:4-5 - “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat”.
Dan seandainya ada saat dimana Yesus itu belum merupakan Anak, maka perlu dipertanyakan juga kekekalan dari Kebapaan (Fatherhood) dari Allah. Kalau Ia tidak mempunyai Anak, Ia juga bukan Bapa! Jadi, apakah keBapaanNya tidak kekal?
17)Frans Donald mengatakan (hal 40):
“Mat
24:36 dan Markus 13:32. Di ayat ini jelas sekali bahwa ‘Anak’ (Yesus) dan
‘Bapa’ (Allah) adalah dua sosok yang berbeda. Waktu kedatangan Yesus kembali
ke dunia hanya diketahui oleh Bapa, bahkan Yesus sendiri tidak tahu. Jika Yesus
adalah Allah itu sendiri, ayat ini tentunya tidak akan ada. Sebagai Allah,
seharusnya dia tahu kapan dia harus datang. Namun, Ia mengaku tidak tahu. Jelas
Yesus bukan Allah (Yahweh)”.
Tanggapan Pdt. Budi Asali, M. Div.:
Ini sudah tercakup dalam pembahasan Yoh 14:28 di atas (lihat point no 14), dan karena itu tidak perlu saya ulang di sini.
18)
Frans Donald mengatakan (hal 40):
“Markus
14:34. Menjelang wafat, Yesus memanggil Allahnya, ‘Eloi, Eloi, lama
sabakhtani.’ Jika Yesus adalah Allah sendiri, mengapa dia memanggil dirinya
sendiri? Jelas Yesus bukanlah Allah (Yahweh)”.
Tanggapan
Pdt. Budi Asali, M. Div.:
Ini
juga sama dengan point no 14 dan 17 di atas. Pada waktu Yesus berdoa, seperti di
sini, dan juga dalam kasus-kasus lain, jelas Ia ditunjukkan sebagai manusia.
19)
Frans Donald mengatakan (hal 40):
“Kisah
7:55-56. Banyak pendeta yang mengatakan bahwa saat Yesus sudah di Surga dia
adalah Allah (Yahweh) sendiri. Benarkah demikian? Stefanus jelas melihat bahwa
di Surga Yesus berdiri di sebelah kanan Allah, jelas sekali Yesus bukan Allah
(Bapa/Yahweh)”.
Tanggapan
Pdt. Budi Asali, M. Div.:
Kis
7:55-56 - “(55) Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh
Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di
sebelah kanan Allah. (56) Lalu katanya: ‘Sungguh, aku melihat langit terbuka
dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.’”.
Lagi-lagi
kata-kata yang sama seperti yang sudah saya bahas dalam point no 12, khususnya
bagian c.
Sama
sekali tidak benar kalau setelah Yesus di surga, Dia bukan manusia lagi! Dia
tetap adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia sampai
selama-lamanya.
Dan
kalaupun Yesus ditinjau sebagai Allah, tak ada yang aneh kalau Ia berdiri di
sebelah kanan Allah. Mereka memang adalah 2 pribadi yang berbeda. Bapa bukan
nak, dan Anak bukan Bapa. Tetapi itu berbeda dengan mengatakan bahwa Yesus bukan
Allah / Yahweh.
20)
Frans Donald mengatakan (hal 40):
“Wahyu
3:2,12. Saat sudah di Surga dan memberi wahyu kepada Yohanes, Yesus sendiri
setidaknya lima kali berkata tentang Allahnya ‘... di hadapan Allahku’;
‘... bait suci Allahku’; ‘... nama Allahku’; ‘... nama kota
Allahku’; ‘... dari Allahku’”.
Tanggapan
Pdt. Budi Asali, M. Div.:
Ini
juga sudah dibahas dalam point no 12, dan tidak saya ulang di sini.
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : buas22@yahoo.com
e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali