(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Minggu, tanggal 3 Januari 2010, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP: 7064-1331 / 6050-1331)
buas22@yahoo.com
Bil 22:41-23:10 - “(22:41) Keesokan harinya Balak mengambil
Bileam dan membawa dia mendaki bukit Baal. Dari situ dilihatnyalah bagian yang
paling ujung dari bangsa Israel. (23:1) Lalu berkatalah Bileam kepada Balak:
‘Dirikanlah bagiku di sini tujuh mezbah dan siapkanlah bagiku di sini tujuh
ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan.’ (23:2) Balak melakukan
seperti yang dikatakan Bileam, maka Balak dan Bileam mempersembahkan seekor
lembu jantan dan seekor domba jantan di atas setiap mezbah itu. (23:3) Sesudah
itu berkatalah Bileam kepada Balak: ‘Berdirilah di samping korban bakaranmu,
tetapi aku ini hendak pergi; mungkin TUHAN akan datang menemui aku, dan
perkataan apapun yang dinyatakanNya kepadaku, akan kuberitahukan kepadamu.’
Lalu pergilah ia ke atas sebuah bukit yang gundul. (23:4) Maka Allah menemui
Bileam, lalu Bileam berkata kepadaNya: ‘Ketujuh mezbah itu telah kuatur, dan
kupersembahkan seekor lembu jantan dan seekor domba jantan di atas setiap
mezbah.’ (23:5) Kemudian TUHAN menaruh perkataan ke dalam mulut Bileam dan
berfirman: ‘Kembalilah kepada Balak dan katakanlah demikian.’ (23:6)
Ketika ia kembali, maka Balak masih berdiri di situ di samping korban
bakarannya, bersama dengan semua pemuka Moab. (23:7) Lalu Bileam mengucapkan
sanjaknya, katanya: ‘Dari Aram aku disuruh datang oleh Balak, raja Moab,
dari gunung-gunung sebelah timur: Datanglah, katanya, kutuklah bagiku Yakub,
dan datanglah, kutuklah Israel. (23:8) Bagaimanakah aku menyerapah yang tidak
diserapah Allah? Bagaimanakah aku mengutuk yang tidak dikutuk TUHAN? (23:9)
Sebab dari puncak gunung-gunung batu aku melihat mereka, dari bukit-bukit aku
memandang mereka. Lihat, suatu bangsa yang diam tersendiri dan tidak mau
dihitung di antara bangsa-bangsa kafir. (23:10) Siapakah yang menghitung debu
Yakub dan siapakah yang membilang bondongan-bondongan Israel? Sekiranya aku
mati seperti matinya orang-orang jujur dan sekiranya ajalku seperti ajal
mereka!’ (23:11) Lalu berkatalah Balak kepada Bileam: ‘Apakah yang
kaulakukan kepadaku ini? Untuk menyerapah musuhkulah aku menjemput engkau,
tetapi sebaliknya engkau memberkati mereka.’ (23:12) Tetapi ia menjawab:
‘Bukankah aku harus berawas-awas, supaya mengatakan apa yang ditaruh TUHAN
ke dalam mulutku?’”.
1)
Persiapan untuk pengutukan yang pertama.
a)
Balak membawa Bileam ke bukit-bukit Baal.
Bil
22:41 - “Keesokan
harinya Balak mengambil Bileam dan membawa dia mendaki bukit Baal. Dari situ
dilihatnyalah bagian yang paling ujung dari bangsa Israel”.
KJV:
‘that thence he might see the utmost part of the people’ (= supaya
dari sana ia bisa melihat bagian yang paling jauh dari bangsa itu).
RSV:
‘and from there he saw the nearest of the people’ (= dan
dari sana ia melihat yang terdekat dari bangsa itu).
NIV:
‘and from there he saw part of the people’
(= dan
dari sana ia melihat bagian dari bangsa itu).
NASB:
‘and he saw from there a portion of the people’
(= dan ia
melijat dari sana sebagian dari bangsa itu).
Keil
& Delitzsch: “But Balak conducted the soothsayer to Bamoth-Baal, not because it was
consecrated to Baal, but because it was the first height on the way to the
steppes of Moab, from which they could see the camp of Israel, or at all events,
‘the end of the people,’ i.e., the outermost portion of the camp. For
‘Balak started with the supposition, that Balaam must necessarily have the
Israelites in view if his curse was to take effect’ (Hengstenberg)” [= Tetapi
Balak memimpin petenung itu ke Bamoth-Baal / bukit-bukit Baal, bukan karena
tempat itu dipersembahkan kepada Baal, tetapi karena itu merupakan bukit pertama
pada jalan ke dataran-dataran Moab, dari mana mereka bisa melihat perkemahan
Israel, atau ‘akhir / ujung dari bangsa itu’, yaitu bagian yang paling jauh
dari perkemahan itu. Karena ‘Balak memulai dengan anggapan bahwa Bileam harus
melihat Israel supaya kutukannya bisa berhasil’ (Hengstenberg)].
Catatan:
kata BAMOTH artinya adalah ‘high places’ (= tempat-tempat tinggi / bukit-bukit).
Adam
Clarke: “As
he thought Balaam must have them all in his eye when he pronounced his curse,
lest it might not extend to those who were not in sight. On this account he took
him up into the high places of Baal” (= Karena ia
berpikir Bileam harus melihat mereka semua pada waktu mengucapkan kutuknya, atau
kutuk itu tidak akan mencapai mereka yang tidak terlihat olehnya. Karena itu ia
membawanya ke tempat tinggi dari Baal / bukit Baal).
Matthew
Henry: “Balak
takes Balaam in his chariot to the high places of his kingdom, not only because
their holiness (such as it was), he thought, might give some advantage to his
divinations, but their height might give him a convenient prospect of the camp
of Israel, which was to be the butt or mark at which he must shoot his envenomed
arrows” [= Balak membawa Bileam dalam keretanya
ke bukit-bukit dari kerajaannya, bukan hanya karena kekudusannya (bagaimanapun
juga), ia pikir / kira, bisa memberikan suatu manfaat pada tenungannya, tetapi
juga karena ketinggian mereka bisa memberinya suatu prospek yang baik sekali
tentang perkemahan Israel, yang merupakan obyek atau sasaran pada mana ia harus
menembakkan anak-anak panahnya yang berbisa].
Jamieson,
Fausset & Brown:
“‘That
thence he might see the utmost part of the people (qtseeh)’.
Hengstenberg interprets this, an end, a portion of them. But Gesenius, followed
by Kurtz, renders it, the uttermost - i.e., the whole people, even to the
extremities” (= ‘Supaya dari sana ia bisa melihat bagian yang paling jauh
dari bangsa itu’. Hengstenberg menafsirkan ini, suatu ujung, sebagian dari
mereka. Tetapi Genesius, diikuti oleh Kurtz, menterjemahkan ini, yang paling
jauh - yaitu, seluruh bangsa, bahkan sampai ujung-ujung yang paling jauh).
Pulpit
Commentary: “it was held necessary that the subject of the curse should be in
view. Balak desired to attain this object with as little risk as possible, and
therefore he took Balaam first of all to these heights, whence a distant and
partial view of Israel might be had” (= dianggap
perlu bahwa subyek dari kutuk itu harus bisa dilihat. Balak menginginkan untuk
mencapai tujuan ini dengan resiko sekecil mungkin, dan karena itu ia
pertama-tama membawa Bileam ke bukit-bukit ini, dimana suatu pandangan yang jauh
dan sebagian dari Israel bisa didapatkan).
Kalau
bagi Balak / Bileam, tempat itu sangat menentukan berhasil atau tidaknya
pengutukan yang dilakukan, maka di bawah ini kita melihat cerita yang sangat
kontras dengan hal itu.
Mat 8:5-13
- “(5) Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira
mendapatkan Dia dan memohon kepadaNya: (6) ‘Tuan, hambaku terbaring di rumah
karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.’ (7) Yesus berkata kepadanya:
‘Aku akan datang menyembuhkannya.’ (8) Tetapi jawab perwira itu kepadaNya:
‘Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah
kata, maka hambaku itu akan sembuh. (9) Sebab aku sendiri seorang bawahan,
dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit
itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang,
ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.’ (10)
Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang
mengikutiNya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak
pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel. (11) Aku berkata
kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama
dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, (12) sedangkan
anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di
sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.’ (13) Lalu Yesus berkata kepada
perwira itu: ‘Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.’
Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya”.
Yesus
mau datang ke rumah perwira itu, tetapi perwira itu tidak menganggap perlu Yesus
datang ke rumahnya dan bertemu dengan hambanya yang sakit / hampir mati itu. Ia
yakin / beriman bahwa tanpa bertemu / melihat hambanya, Yesus bisa mengabulkan
permohonan / doanya dan menyembuhkan hambanya itu. Dan Yesus memuji imannya
sebagai iman yang besar yang tidak pernah Ia jumpai di antara orang-orang Yahudi
/ Israel.
Penerapan:
kalau saudara berdoa, tempat tidak mempengaruhi jawaban doa. Tidak ada ‘tempat
suci’, apakah itu bukit doa, atau bahkan tanah Kanaan / Israel, atau gereja,
dimana doa yang dinaikkan di sana bisa lebih manjur dari pada di tempat lain!
Yang penting bukan tempat dimana saudara berdoa, tetapi suasananya (ketenangannya),
dan tujuan / motivasi / cara saudara berdoa, dan apa yang saudara doakan.
Di
Israel ada ‘tembok ratapan’, yang konon kabarnya merupakan bagian tembok
Bait Allah yang sengaja disisakan / tidak dihancurkan oleh Roma pada
penghancuran Yerusalem tahun 70 M. Mula-mula orang-orang Yahudi sering berdoa di
sana untuk mendoakan pemulihan Bait Allah, tetapi lalu orang-orang non Yahudi /
orang-orang Kristen mengikuti tradisi itu untuk juga berdoa di sana. Dan bahkan
kalau orang-orang Kristen ke sana, ada orang-orang yang titip doa, yang
dituliskan di secarik kertas dan lalu disisipkan di lubang-lubang yang ada di
tembok tersebut. Kegilaan yang bersifat takhyul ini sama sekali salah!
b)
Pemberian korban.
Bil 23:1-2
- “(1) Lalu berkatalah Bileam kepada Balak: ‘Dirikanlah bagiku di sini
tujuh mezbah dan siapkanlah bagiku di sini tujuh ekor lembu jantan dan tujuh
ekor domba jantan.’ (2) Balak melakukan seperti yang dikatakan Bileam, maka
Balak dan Bileam mempersembahkan seekor lembu jantan dan seekor domba jantan di
atas setiap mezbah itu”.
1.
Ketaatan Balak terhadap Bileam menunjukkan kepercayaannya terhadap Bileam.
Pulpit
Commentary: “Balak put his trust in Balaam because he was a prophet of the Lord,
and might be expected to use his influence to change the purposes of the Lord;
perhaps even to counterwork those purposes. How often do people seek the aid of
religion against God! How often do they seek for religious support and solace in
doing what they must know is contrary to the moral law of God!” (= Balak
meletakkan kepercayaannya pada Bileam karena ia adalah seorang nabi Tuhan, dan
bisa diharapkan untuk menggunakan pengaruhnya untuk mengubah rencana Tuhan;
mungkin bahkan untuk bekerja menentang rencana itu. Betapa sering orang-orang
mencari bantuan dari agama untuk menentang Allah! Betapa sering mereka mencari
dukungan dan penghiburan agamawi dalam melakukan apa yang mereka pasti tahu
merupakan sesuatu yang bertentangan dengan hukum moral Allah!).
Penerapan:
betul-betul merupakan sesuatu yang aneh dan menyedihkan bahwa sering sekali
orang-orang kafir lebih percaya dan taat kepada nabi-nabi palsu mereka,
dibandingkan dengan orang-orang Kristen kepada nabi-nabi asli mereka!
2.
Takhyul dalam persoalan bilangan.
Tentang
bilangan 7 yang diminta oleh Bileam sebagai jumlah dari mezbah, lembu dan domba,
Calvin mengomentari dengan berkata bahwa Allah memang menggunakan banyak
bilangan 7 dalam Alkitab, seperti Sabat adalah hari ke 7, jumlah lampu dalam
kemah suci adalah 7 (Kel 25:37), dan sebagainya. Tetapi ini lalu menyebabkan
banyak orang mempunyai kepercayaan yang bersifat takhyul terhadap bilangan 7 ini.
Calvin: “afterwards,
many strange superstitions were invented, and under this pretense Satan
cunningly deluded wretched men, by persuading them that secret virtues were
contained in this number seven. ... It is plain that Balaam was infected by this
fanciful notion, when he endeavours to draw down God by seven altars, and twice
seven sacrifices. Let us, however, learn from Balak’s prompt compliance,
that the superstitious neither spare expense, nor refuse anything which is
demanded by the masters of their errors”
(= belakangan, banyak takhyul-takhyul yang aneh
ditemukan, dan dibawah kepura-puraan ini, Iblis dengan licik menipu orang-orang
yang menyedihkan, dengan membujuk / meyakinkan mereka bahwa ada
kebaikan-kebaikan rahasia dalam bilangan 7 ini. ... Adalah jelas bahwa Bileam
dipengaruhi oleh pikiran / gagasan yang bersifat khayalan ini, pada waktu ia
berusaha untuk menarik Allah turun oleh 7 mezbah, dan 2 x 7 korban. Tetapi
hendaklah kita belajar dari ketundukan yang cepat dari Balak, bahwa takhyul
tidak menghemat pengeluaran, ataupun menolak apapun yang diminta oleh tuan-tuan
dari kesalahan-kesalahan).
Penerapan:
a. Jangan mempercayai bilangan apapun sebagai bagus atau buruk.
Contoh:
·
banyak orang yang menganggap 13 sebagai angka sial, sampai-sampai
bangunan-bangunan / hotel-hotel yang tinggi tidak mempunyai tingkat ke 13.
Demikian juga bilangan 4, atau yang mengandung angka 4 (seperti 14,24 dsb),
dianggap sial oleh banyak orang Tionghoa, karena angka 4 dalam bahasa Tionghoa (Hokkian)
adalah SI, yang juga berarti ‘mati’. Puncak Marina, misalnya, tidak
mempunyai lantai ke 4,13,14! Nomer flexi saya, yang sebetulnya tergolong cantik,
yaitu 71433334, dianggap buruk oleh teman saya, karena mengandung angka 4. Jelas
mereka tidak tahu dan tidak mempercayai kata-kata Paulus ‘mati
adalah keuntungan’
(Fil 1:21).
·
banyak orang kristen, yang kalau kematian keluarga, lalu mengadakan
bidston pada hari ke 3, ke 7, ke 40 dan sebagainya. Ini lagi-lagi jelas
merupakan tradisi yang berbau takhyul.
·
ada nomer-nomer HP yang bisa berharga puluhan juta rupiah, karena
dianggap merupakan nomer yang membawa hokgi / keberuntungan.
b.
Memang orang kafir mau membayar berapapun demi takhyul yang mereka
percayai, seperti membeli rumah kertas yang harganya sangat mahal untuk keluarga
yang mati, ataupun membayar biaya yang mahal untuk suhu / paranormal yang
memberi tahu mereka tentang hong sui / feng sui rumah mereka / tempat kerja
mereka.
3.
Pendirian mezbah maupun pemberian korban yang mereka lakukan tidak
mempunyai dasar Alkitab, dan bahkan bertentangan dengan Alkitab.
Bible
Knowledge Commentary: “Balaam
asked Balak to build... seven altars there where seven bulls and seven rams
could be sacrificed, a bull and a ram for each altar (cf. 23:14,29-30). There is
no biblical instruction or precedent for what Balaam did, so presumably the
sacrifices were part of a pagan ritual” [= Bileam
meminta Balak untuk membangun ... 7 mezbah di sana dimana 7 lembu jantan dan 7
domba jantan bisa dikorbankan, seekor lembu jantan dan seekor domba jantan untuk
setiap mezbah (bdk. 23:14,29-30). Tidak ada instruksi atau teladan Alkitab untuk
apa yang Bileam lakukan, jadi rupanya korban-korban itu merupakan bagian dari
upacara kafir].
Juga
mereka mempersembahkan persembahan dengan cara semaunya sendiri, yang sama
sekali tidak mengikuti cara-cara Tuhan (harus imam yang mempersembahkan, dsb).
Jamieson,
Fausset & Brown: “‘Build me here seven altars.’ ... It is evident from (Num.
23:4) that they were prepared for the worship of the true God, although in
choosing the high places of Baal as their site, and rearing a number of altars
(2 Kin. 18:22; Isa. 17:8; Jer. 11:13; Hos. 8:11; 10:1), instead of one only, as
God had appointed, Balaam blended his own superstitions with the divine worship.
The pagan, both in ancient and modern times, attached a mysterious virtue to the
number seven; and Balaam, in ordering the preparation of so many altars,
designed to mystify and delude the king” [= ‘Dirikanlah
bagiku di sini tujuh mezbah’. ... Adalah jelas dari Bil 23:4 bahwa mezbah itu
dipersiapkan untuk penyembahan terhadap Allah yang benar, sekalipun dalam
memilih tempat tinggi / bukit Baal sebagai tempat mereka, dan mendirikan
sejumlah mezbah (2Raja 18:22; Yes 17:8; Yer. 11:13; Hos. 8:11;
10:1), dan bukannya hanya satu mezbah seperti yang telah ditetapkan oleh Allah,
Bileam mencampur takhyulnya sendiri dengan ibadah / penyembahan ilahi.
Orang-orang kafir, baik pada jaman kuno maupun modern, melekatkan suatu kebaikan
yang misterius pada bilangan 7; dan Bileam, dalam memerintahkan persiapan begitu
banyak mezbah, merancang untuk menakjubkan dan menipu raja itu].
2Raja 18:22
- “Dan apabila kamu berkata kepadaku: Kami berharap kepada TUHAN, Allah
kami, - bukankah Dia itu yang bukit-bukit pengorbananNya dan mezbah-mezbahNya
telah dijauhkan oleh Hizkia sambil berkata kepada Yehuda dan Yerusalem: Di
depan mezbah yang di Yerusalem inilah kamu harus sujud menyembah!”.
Yes
17:8 - “ia tidak akan memandang kepada mezbah-mezbah buatan tangannya
sendiri, dan tidak akan melihat kepada yang dikerjakan oleh tangannya, yakni
tiang-tiang berhala dan pedupaan-pedupaan”.
Yer 11:13
- “Sebab seperti banyaknya kotamu demikian banyaknya para allahmu, hai
Yehuda, dan seperti banyaknya jalan di Yerusalem demikian banyaknya mezbah
yang kamu dirikan untuk membakar korban kepada Baal”.
Hos
8:11 - “Sungguh, Efraim telah memperbanyak mezbah; mezbah-mezbah itu
menjadikan mereka berdosa”.
Hos
10:1 - “Israel adalah pohon anggur yang riap tumbuhnya, yang menghasilkan
buah. Makin banyak buahnya, makin banyak dibuatnya mezbah-mezbah. Makin baik
tanahnya, makin baik dibuatnya tugu-tugu berhala”.
4.
Tujuan / motivasi dari persembahan korban itu.
Tujuan
/ motivasi dari pemberian banyak korban itu bisa terlihat secara implicit dari
kata-kata Bileam kepada Tuhan pada waktu ia bertemu dengan Tuhan dalam Bil 23:4.
Bil 23:4
- “Maka Allah menemui Bileam, lalu Bileam berkata kepadaNya: ‘Ketujuh
mezbah itu telah kuatur, dan kupersembahkan seekor lembu jantan dan seekor domba
jantan di atas setiap mezbah.’”.
Apa
maksud dari kata-kata Bileam itu?
a. Ia
membanggakan apa yang sudah ia persembahkan kepada Tuhan.
Banyak
orang kafir bangga atas upacara yang mereka adakan / lakukan bagi Tuhan, atas
apa yang telah mereka lakukan / persembahkan bagi Tuhan.
Padahal
sebetulnya Bileam tidak mengeluarkan apa-apa, karena Balaklah yang mengeluarkan
semua biaya. Banyak orang Kristen seperti Bileam, yang senang kalau ‘melakukan
sesuatu untuk Tuhan’, tanpa mengeluarkan biaya / pengorbanan, bahkan kalau
bisa, dengan mendapatkan suatu keuntungan! Ini merupakan salah satu ciri dari
nabi-nabi palsu.
Bandingkan
dengan ayat-ayat di bawah ini:
·
Yer 8:10
- “Sebab itu Aku akan memberikan isteri-isteri mereka kepada orang lain,
ladang-ladang mereka kepada penjajah. Sesungguhnya, dari yang kecil sampai yang
besar, semuanya mengejar untung; baik nabi maupun imam, semuanya melakukan
tipu”.
·
Yeh 34:2-4 - “(2)
‘Hai anak manusia, bernubuatlah melawan gembala-gembala Israel, bernubuatlah
dan katakanlah kepada mereka, kepada gembala-gembala itu: Beginilah firman Tuhan
ALLAH: Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri!
Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu? (3) Kamu
menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih,
tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. (4) Yang lemah tidak kamu
kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat
tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak
mereka dengan kekerasan dan kekejaman”.
·
Mikha 3:5
- “Beginilah firman TUHAN terhadap para nabi, yang menyesatkan bangsaku,
yang apabila mereka mendapat sesuatu untuk dikunyah, maka mereka menyerukan
damai, tetapi terhadap orang yang tidak memberi sesuatu ke dalam mulut mereka,
maka mereka menyatakan perang”.
·
Mikha 3:11
- “Para kepalanya memutuskan hukum karena suap, dan para imamnya memberi
pengajaran karena bayaran, para nabinya menenung karena uang, padahal mereka
bersandar kepada TUHAN dengan berkata: ‘Bukankah TUHAN ada di tengah-tengah
kita! Tidak akan datang malapetaka menimpa kita!’”.
·
Ro 16:17-18 - “(17)
Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap
mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan
perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka! (18) Sebab orang-orang
demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka
sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang
manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya”.
·
Tit 1:11
- “Orang-orang semacam itu harus ditutup mulutnya, karena mereka mengacau
banyak keluarga dengan mengajarkan yang tidak-tidak untuk mendapat untung
yang memalukan”.
·
2Pet 2:3
- “Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha
mencari untung dari kamu dengan ceritera-ceritera isapan jempol mereka.
Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan
tidak akan tertunda”.
·
Yudas 11-12 - “(11)
Celakalah mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain dan karena
mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam, dan
mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah. (12) Mereka inilah noda dalam
perjamuan kasihmu, di mana mereka tidak malu-malu melahap dan hanya mementingkan
dirinya sendiri; mereka bagaikan awan yang tak berair, yang berlalu ditiup
angin; mereka bagaikan pohon-pohon yang dalam musim gugur tidak menghasilkan
buah, pohon-pohon yang terbantun dengan akar-akarnya dan yang mati sama sekali”.
Bandingkan
kontrasnya dengan sikap Daud pada waktu mendirikan mezbah dan memberikan korban
dalam text di bawah ini.
2Sam 24:18-25
- “(18) Pada hari itu datanglah Gad kepada Daud dan berkata kepadanya:
‘Pergilah, dirikanlah mezbah bagi TUHAN di tempat pengirikan Arauna, orang
Yebus itu.’ (19) Lalu pergilah Daud, sesuai dengan perkataan Gad, seperti yang
diperintahkan TUHAN. (20) Ketika Arauna menjenguk dan melihat raja dengan
pegawai-pegawainya mendapatkannya, pergilah Arauna ke luar, lalu sujud kepada
raja dengan mukanya ke tanah. (21) Bertanyalah Arauna: ‘Mengapa tuanku raja
datang kepada hambanya ini?’ Jawab Daud: ‘Untuk membeli tempat
pengirikan ini dari padamu dengan maksud mendirikan mezbah bagi TUHAN, supaya
tulah ini berhenti menimpa rakyat.’ (22) Lalu berkatalah Arauna kepada Daud:
‘Baiklah tuanku raja mengambilnya dan mempersembahkan apa yang
dipandangnya baik; lihatlah, itu ada lembu-lembu untuk korban bakaran, dan
eretan-eretan pengirik dan alat perkakas lembu untuk kayu bakar. (23) Semuanya
ini, ya raja, diberikan Arauna kepada raja.’ Arauna berkata pula kepada
raja: ‘Kiranya TUHAN, Allahmu, berkenan kepadamu.’ (24) Tetapi berkatalah
raja kepada Arauna: ‘Bukan begitu, melainkan aku mau membelinya dari padamu
dengan membayar harganya, sebab aku tidak mau mempersembahkan kepada TUHAN,
Allahku, korban bakaran dengan tidak membayar apa-apa.’ Sesudah itu Daud membeli
tempat pengirikan dan lembu-lembu itu dengan harga lima puluh syikal perak. (25)
Lalu Daud mendirikan di sana mezbah bagi TUHAN dan mempersembahkan korban
bakaran dan korban keselamatan. Maka TUHAN mengabulkan doa untuk negeri itu, dan
tulah itu berhenti menimpa orang Israel”.
Penerapan:
renungkan! Saudara seperti yang mana?
b. Ia
menganggap Tuhan berhutang kepadanya sehingga harus memenuhi permintaannya.
Calvin: “he boasts of his seven altars, as if
he had duly propitiated God. Thus do hypocrites arrogantly trust that they
deserve well of God, when they do but provoke His anger”
(= ia membanggakan tujuh mezbahnya, seakan-akan ia
telah menyenangkan / berdamai dengan Allah dengan seharusnya. Demikianlah
orang-orang munafik dengan sombong percaya bahwa mereka patut menerima Allah
dengan baik, pada waktu mereka hanya melakukan hal-hal yang membangkitkan
kemarahanNya).
Bdk.
Mat 7:21-23 - “(21) Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan!
akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu
yang di sorga. (22) Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan,
Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu,
dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? (23) Pada waktu itulah Aku
akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu!
Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat
kejahatan!’”.
The
Bible Illustrator (OT):
“The
sacrifice was offered under the impression that the offering was meritorious on
the part of the offerers, and placed God under an obligation to them”
(= Korban itu dipersembahkan di bawah kesan bahwa
persembahan itu mempunyai jasa di pihak pemberi persembahan, dan menempatkan
Allah di bawah kewajiban kepada mereka).
Pulpit
Commentary: “BALAAM CLEARLY HINTED TO THE ALMIGHTY THAT,
AS HE HAD PROCURED MUCH HONOUR FOR HIM FROM BALAK, HE WAS EXPECTED TO DO WHAT
WAS POSSIBLE IN THE MATTER FOR HIM. Even so do men who are in truth irreligious,
although often seeming very much the reverse, give the Almighty to understand
(indirectly and unavowedly, but unmistakably) that they have done much, laid out
much, given up much for his honour and glory, and that they naturally look for
some equivalent. To serve God for nought (Job 1:9) does not enter into the
thoughts of selfish people; to them godliness is a source of gain (1 Tim 6:5),
if not here, then hereafter” [= Bileam
dengan jelas memberi isyarat kepada Yang Maha Kuasa bahwa, seperti Ia telah
mendapatkan banyak kehormatan bagiNya dari Balak, Ia diharapkan untuk melakukan
apa yang dimungkinkan dalam persoalan ini baginya. Demikian juga dilakukan oleh
orang-orang yang sebenarnya tidak religius, sekalipun sering kelihatan
sebaliknya, mengusahakan Yang Maha Kuasa untuk mengerti (secara tak langsung,
dan dengan tanpa dinyatakan, tetapi secara tak bisa salah) bahwa mereka telah
melakukan banyak, mengeluarkan banyak, mengorbankan banyak, untuk kehormatan dan
kemuliaanNya, dan bahwa mereka secara alamiah mencari sesuatu yang setara.
Melayani / beribadah kepada Allah tidak untuk mendapatkan apa-apa (Ayub 1:9)
tidak terlintas dalam pikiran dari orang-orang yang egois; bagi mereka kesalehan
adalah sumber keuntungan (1Tim 6:5), jika tidak di sini / dalam hidup ini, maka
dalam kehidupan yang akan datang].
Ayub
1:9 - “Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: ‘Apakah dengan tidak mendapat
apa-apa Ayub takut akan Allah?”.
1Tim
6:5 - “percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan
yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber
keuntungan”.
Catatan:
kata ‘ibadah’ diterjemahkan ‘godliness’ (= kesalehan) oleh KJV/RSV/NIV/NASB.
Pulpit
Commentary: “Balak and Balaam, however different their thoughts in other respects,
were agreed as to the necessity of the sacrifices, if the desired curse were to
be put in the prophet’s mouth. And so there was abundance of sacrificing.
Balak first makes spontaneous offerings, and then such as were specified by
Balaam. They felt that God was not to be approached in an irregular way or with
empty hands. As Balak thought of Balaam, so he thought of God. The
prophet was to be bought with riches and honours, and God was to be bought with
sacrifices of slain beasts” [= Balak dan Bileam,
betapapun berbedanya pikiran mereka dalam hal-hal lain, setuju berkenaan dengan
perlunya korban-korban, jika kutukan yang diinginkan akan diletakkan dalam mulut
sang nabi. Dan dengan demikian ada sangat banyak pengorbanan. Balak mula-mula
membuat persembahan secara spontan, dan lalu persembahan-persembahan yang
ditetapkan oleh Bileam. Mereka merasa bahwa Allah tidak boleh didekati dengan
cara yang tidak biasa atau dengan tangan kosong. Sebagaimana Balak berpikir
tentang Bileam, demikianlah ia berpikir tentang Allah. Sang nabi harus
dibeli dengan kekayaan dan kehormatan, dan Allah harus dibeli dengan
korban-korban dari binatang-binatang yang disembelih].
Ini
betul-betul merupakan suatu ketololan. Mereka anggap Allah bisa disogok / dibeli,
sehingga mengubah sikap dari pro Israel menjadi anti Israel, atau setidaknya
bersikap netral. Padahal dalam diri Balak maupun Bileam tidak ada iman maupun
ketaatan.
Penerapan:
hati-hati dengan pemikiran seperti ini. Kalau saudara sudah memberi persembahan,
atau melakukan hal-hal yang baik, jangan menganggap diri berjasa, ataupun
menganggap bahwa Allah berhutang budi kepada saudara, sehingga harus
mengabulkan keinginan saudara! Apapun yang saudara lakukan bagi Allah atau
berikan kepada Allah, sama sekali tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan
apa Allah telah lakukan bagi saudara atau berikan kepada saudara, yaitu
mengorbankan AnakNya yang Tunggal untuk mati di salib bagi dosa-dosa saudara!
Yesus
memberikan suatu perumpamaan tentang bagaimana seseorang harus bersikap kalau ia
sudah melakukan sesuatu untuk Tuhan.
Luk 17:7-10
- “(7) ‘Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak
atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia
pulang dari ladang: Mari segera makan! (8) Bukankah sebaliknya ia akan berkata
kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku
sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.
(9) Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan
apa yang ditugaskan kepadanya? (10) Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah
melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami
adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus
lakukan.’”.
Kalau
saudara membaca Mat 25:31-46 (perumpamaan tentang domba-domba yang dipisahkan
dari kambing-kambing pada penghakiman akhir jaman), maka saudara akan melihat
bahwa kambing tidak sadar kalau ia berbuat dosa, dan sebaliknya, domba tidak
sadar kalau ia berbuat baik.
Dan
kalau ada orang yang menganggap bahwa ‘seadanya’ korban / persembahan bisa
menyenangkan / memperkenan hati Allah, maka ia perlu membaca dan merenungkan
ayat-ayat di bawah ini.
·
Amsal 21:27 - “Korban
orang fasik adalah kekejian, lebih-lebih kalau dipersembahkan dengan maksud
jahat”.
·
Mikha 6:6-8 - “(6) ‘Dengan apakah aku akan pergi menghadap TUHAN
dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi? Akan pergikah aku
menghadap Dia dengan korban bakaran, dengan anak lembu berumur setahun? (7)
Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak?
Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku
karena dosaku sendiri?’ (8) ‘Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa
yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil,
mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?’”.
·
Yes 1:10-13 - “(10) Dengarlah firman TUHAN, hai
pemimpin-pemimpin, manusia Sodom! Perhatikanlah pengajaran Allah kita, hai
rakyat, manusia Gomora! (11) ‘Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?’
firman TUHAN; ‘Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan
dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan
kambing jantan tidak Kusukai. (12) Apabila kamu datang untuk menghadap di
hadiratKu, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak
pelataran Bait SuciKu? (13) Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh,
sebab baunya adalah kejijikan bagiKu. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat
atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena
perayaanmu itu penuh kejahatan”.
c)
Harapan Bileam untuk bertemu Tuhan terkabul; Tuhan datang menemui Bileam.
Bil 23:3-4
- “(3) Sesudah itu berkatalah Bileam kepada Balak: ‘Berdirilah di samping
korban bakaranmu, tetapi aku ini hendak pergi; mungkin TUHAN akan datang
menemui aku, dan perkataan apapun yang dinyatakanNya kepadaku, akan
kuberitahukan kepadamu.’ Lalu pergilah ia ke atas sebuah bukit yang gundul.
(4) Maka Allah menemui Bileam, lalu Bileam berkata kepadaNya: ‘Ketujuh
mezbah itu telah kuatur, dan kupersembahkan seekor lembu jantan dan seekor domba
jantan di atas setiap mezbah.’”.
Apakah
ini menunjukkan bahwa Allah berkenan dengan apa yang Bileam lakukan? Sama sekali
tidak! Perhatikan kata-kata Calvin di bawah ini.
Calvin: “And God met Balaam. ... however hateful
to God the impiety of Balaam was, this did not prevent Him from making use of
him in this particular act. This meeting
him, then, was by no means a proof of His favor, as if he approved of the
seven altars, and sanctioned these superstitions; but as He well knows how to
apply corrupt instruments to His use, so by the mouth of this false prophet, He
promulgated the covenant, which He had made with Abraham, to foreign and heathen
nations” (= Dan
Allah menemui Bileam. ... bagaimanapun kejahatan Bileam membangkitkan kebencian
Allah, ini tidak menghalangiNya untuk menggunakan dia dalam tindakan khusus ini.
Jadi, tindakanNya menemuinya sama sekali bukan merupakan bukti dari
kesenanganNya, seakan-akan Ia merestui tujuh mezbah itu, dan menyetujui
takhyul-takhyul ini; tetapi karena Ia tahu dengan baik bagaimana menerapkan
alat-alat yang jahat untuk penggunaanNya, demikianlah oleh mulut dari nabi palsu
ini, Ia mengajarkan perjanjianNya, yang telah Ia buat dengan Abraham, kepada
bangsa-bangsa asing dan kafir).
Dari
semua ini bisa disimpulkan bahwa suatu tindakan yang secara lahiriah
kelihatannya baik (seperti pendirian mezbah dan pemberian korban di sini),
bukannya menyenangkan Tuhan, tetapi justru membangkitkan kemarahan Tuhan, kalau
caranya, tujuannya / motivasinya salah!
Dalam
tahun yang baru ini, mari kita melakukan sebanyak mungkin hal-hal yang baik bagi
Tuhan, tetapi bukan hanya hal-hal yang baik secara lahiriah, tetapi yang juga
baik dalam caranya, tujuannya / motivasinya. Kiranya Tuhan memberkati saudara
sekalian.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : buas22@yahoo.com
e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali